
Sudah 5 hari sejak aku bertemu dengannya, dan kini dia tinggal di rumahku. Dia tampak seperti tidak punya tempat tinggal. Jadi aku menawarkannya tinggal. Entah bagaimana, bahkan sebagai zombie, Vi tampak tidak seperti itu sama sekali. Dia lucu dan cantik juga. Entah kenapa aku merasa sedikit tertarik padanya. Ah, sebaiknya kita tidak membahas tentang itu untuk saat ini. Aku tidak ingin mulai memikirkan hal-hal aneh di pagi-pagi seperti ini. Nah, hari ini aku akan mengajaknya jalan-jalan. Kebetulan sekali hari ini aku libur dari rumah sakit. Sebenarnya ini karna janjiku yang tiba-tiba ku ucapkan ketika dia bilang jarang sekali datang ke kota. Tidak, aku tidak menyesali janji itu. Justru aku senang melihatnya begitu bahagia. Sepertinya memang ada
yang salah dengan diriku ini.
"Hah!! Apa yang harus ku pakai? " Teriakku frustrasi tidak tahu apa yang harus ku pakai. Padahal ini hanya jalan-jalan saja.
"Virza. Menurutmu mana yang harus aku pakai?" Tanya Vi.
Begitu aku berbalik, aku melihat Vi memegang dua buah pakaian terusan. Astaga! Dia telanjang.
Aku segera berbalik menyembunyikan wajahku yang sudah memerah. "V-vi! Pakaianmu! Biasanya orang akan memilih pakaian mereka dulu sebelum melepaskan yang dipakai, kau tahu?"
"Ups.. aku lupa. Sudah kebiasaan ku. " Vi tertawa. "Jadi mana yang harus aku pakai?"
"Pilih yang sebelah kiri." Jawab ku asal, masih tidak bisa berbalik dan menatapnya.
"Baiklah!" Dia langsung pergi ke kamar mandi.
Tapi masih ada satu hal yang mengganggu ku. Melihat bekas luka besar di dadanya masih membuatku trauma. Dia bilang dia diserang oleh seorang gadis dengan sayap hitam dan putih di punggungnya, memegang sabit biru besar. Hmm... Aku tidak pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya.
***
Tubuh virza menegang dan menjerit keras setiap kali muncul adegan kejutan dari layar besar didepannya. Ya, kini virza dan Vi berada di dalam bioskop menyaksikan film horor. Melihat virza yang ketakutan, Vi pun tertawa dan akhirnya menggenggam tangan virza. Virza...virza...gak ada harga dirinya sebagai cowok loh!
"V-vi?" Virza sedikit terkejut dengan sentuhan yang tiba-tiba dari Vi.
"Tidak apa-apa, virza. Tidak usah takut. Aku di sini bersamamu, bukan? " Vi memberi virza senyuman hangat.
Virza tidak bisa menahan senyumnya sama sekali. Tangannya terasa begitu hangat, meskipun tangan Vi sedingin es. Hatinya pun memanas dengan tangan keduanya yang saling bertautan sepanjang film diputar. Meskipun itu film horor, virza jadi cekikikan sendiri tanpa fokus pada film. Vi merasa senang dengan sikap virza yang lucu. Begitu film selesai, virza menyadari posisinya sekarang masih menggenggam tangan Vi, ia pun segera melepaskannya. "Em-Yah, filmnya selesai. A-ayo kita pergi."
Virza berjalan berdampingan dengan Vi, masih tampak malu-malu dengan yang baru saja terjadi. Keduanya menyusuri jalan di dalam tempat perbelanjaan dimana mereka berada. Mampir di setiap toko hanya sekedar melihat-lihat.
"Virza, aku ingin makan es krim." Kata Vi sambil menunjuk ke arah sebuah toko es krim yang tidak begitu jauh dari tempat mereka berada sekarang.
"Baiklah. Aku akan membelikanmu satu. " Kata virza lembut. Vi tersenyum berjalan lebih dulu menuju toko es krim diikuti virza.
"Virza, cobalah." Vi menawari virza es krim di tangannya saat mereka berjalan lagi. Virza dengan senang hati menerima suapan es krim dari Vi. Pada saat virza memajukan wajahnya untuk menjilat es krim, Vi menarik es krimnya hingga keduanya menjilat satu es krim bersamaan. Wajah mereka cukup dekat, hingga bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
Virza menarik wajahnya yang sudah berubah merah karna malu, sementara Vi hanya tersenyum puas saja. Melupakan adegan tadi, Virza kembali mengajak Vi berjalan.
Virza dan vi berada di taman saat terdengar teriakan disusul orang-orang berlarian dari arah belakang.
"Apa yang terjadi? Kenapa semua orang kabur?" Tanya Virza. Mereka menoleh pada taman yang kini sudah kosong. Terlihat 5 tubuh mengerikan penuh luka membusuk berjalan tertatih kearah mereka.
__ADS_1
Mata Virza melebar. "Zombie?!"
Vurza menatap Vi yang hanya terdiam melihat mereka. "Mereka terinfeksi normal."
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Virza mulai ketakutan. Sementara zombie - zombie itu semakin dekat pada mereka.
Tubuh Vi sedikit gemetar, namun kemudian berlari menuju mereka.
"Virza, lari! Aku akan menahan mereka."
Virza sedikit menjauh karena sadar tidak bisa berbuat sesuatu, sementara Vi langsung memukul wajah zombie terdepan lalu meraih lengan zombie lain dan memberikan sebuah gigitan kuat pada pundak zombie itu hingga dagingnya terkoyak, membuatnya roboh dan mengerang.
Belum selesai datang zombie lain yang mencoba meraihnya, namun Vi berhasil menghindar dan melompat ke belakang.
Dua zombie sekaligus berjalan menuju Vi dengan mengayunkan tangannya. Mencoba melancarkan serangan beruntun. Vi berhasil menghindar dengan memukul mereka, namun mereka selalu kembali menyerang.
Sibuk dengan tiga zombie didepannya, Vi tidak menyadari ada zombie lain sudah menyambar ke tubuhnya.
"Ah, sial."
Vi memutar tubuhnya hingga bisa menahan kepala zombie itu untuk menancapkan gigitan di pundaknya.
"Aaaaaa!!"
Tangan kirinya memegangi lengan kanannya yang sepertinya terluka. Terlihat dari noda merah yang tampak dari balik telapak tangannya. Sementara zombie itu semakin menundukan diri dengan tangan terulur kedepan guna meraihnya.
Vi memukul zombie yang tengah ia tahan didepannya dan segera bergerak menuju Virza. Baru dua langkah sudah muncul zombie lain dari arah kanan dan kirinya. Tendangan diluncurkan pada zombie kanan, sayangnya zombie di kiri berhasil mencengkeram lengan dan pundaknya hingga gerakannya terhenti.
Sementara itu Virza yang hanya bisa ketakutan dan menutup matanya erat-erat. Zombie tadi sudah hampir menggigitnya. Hanya tinggal beberapa cm saja mulut zombie dari pundak Virza, hingga...
Dor!!
Vi menoleh dan terdiam melihat zombie didepan Virza perlahan jatuh menindih Virza. Virza yang mulai membuka matanya langsung menyingkirkan zombie itu dan bergeser menjauh.
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Belum pulih keterkejutannya, Vi kembali di kejutkan dengan tumbangnya keempat zombie yang tadi menyerangnya.
__ADS_1
'Perak' pikir vi melihat zombie mati hanya dengan satu tembakan. Kembali teringat sesuatu, ia tersentak dan segera berlari.
"Virza!! " teriaknya khawatir.
Dilihatnya ternyata Virza tidak sendiri. Ada seorang gadis berpakaian hitam berwajah cantik tapi terlihat dingin dengan model rambut pendek sepundak tengah membantu Virza yang meronta.
"Aaaaa tidaaaakkkk."
Virza berteriak memegangi luka di lengan kanannya.
"Virza! tenang Virza" Vi coba menenangkan tapi Virza masih saja berteriak histeris.
"Hey tenang lah. "Ucap gadis misterius baru saja menyelamatkan Virza dan Vi. yang
Tuk!
"Aduh, kok dijitak sih" Keluh Virza mengelus kepalanya.
"Soalnya kau lebay. Kau tidak akan berubah jadi zombie cuma karena luka cakaran zombie. " balas gadis itu.
"Eh!? Benar kah?" Ditolehkan wajahnya pada Vi dan diangguki olehnya.
"Tapi di film Resident Evil kalo kena luka dari zombie langsung berubah jadi zombie." Ungkapnya polos. Gadis misterius itu mengangkat sebelah alisnya.
"Umurmu berapa sih?" tanya gadis itu.
"tapi kelakuan seperti anak kecil, tidak bisa bedain film dengan kenyataan."
"Lah ini kan juga fiksi. "
Si gadis misterius itu hanya bisa menghela nafas kesal, sementara Vi hanya tersenyum mendengar penuturan Virza.
"Terserah kamu saja lah. Lagian ya, di Resident Evil zombie tercipta karna virus, jadi mudah menular karna luka. Sementara dalam artian sebenarnya zombie itu mayat yang dihidupkan kembali, jadi kamu harus mati dulu agar jadi zombie."
"Dia bener Virza. Luka cakaran zombie tidak akan membuatmu berubah jadi zombie. Bahkan kalau pun kamu terkena gigitan zombie tapi kamu masih hidup, kamu tidak akan berubah." " jelas Vi.
"Dan juga, semua mayat yang menjadi zombie, semua atas kehendak Dewa zombie. Tanpa kehendaknya, mayat hanya lah mayat." tambah Vi.
"Oh jadi gitu." Virza mengangguk mengerti lalu tersenyum kepadanya.
Virza lalu menoleh pada gadis misterius itu.
"Oiya, kamu siapa ya?" Gadis misterius itu tersentak.
__ADS_1
"Oh, namaku ... '