Paradox

Paradox
Chapter 12 : two races


__ADS_3

Aku terbangun di tempat tidur ku dan merasakan kekasihku masih tertidur lelap memeluk tubuhku. Wajahnya terlihat sangat damai dan menggemaskan saat tidur. Sulit di percaya seorang gadis cantik sepertinya bisa berubah menjadi serigala. Kecuali sikap, tentu saja. Dia bisa sangat berantakan jika sedang kumat. Melihat tidurnya yang begitu lelap, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya. Kudekatkan wajah ku kemudian mengecup bibirnya beberapa kali. Membuatnya sedikit terusik.


"Nabilah, waktunya bangun." Aku terus memberinya ciuman di bibir dan pipinya, membuatnya terbangun dari tidurnya.


Dia akhirnya membuka matanya dan tersenyum, "Selamat pagi, Agra."


Aku tersenyum melihat dia begitu lucu sekarang. "Selamat Pagi, Nabilah. Ayo bangun, hari ini kamu ada shooting acara tv pagi."


Dia menggeleng cemberut dan kembali menutup matanya "Aku malas bangun." dia mencoba menutupi kepalanya dengan selimut, tapi dengan cepat ku tahan.


"Jangan begitu, managermu sudah menelphone terus sedari tadi." perkataanku sepertinya tidak didengar. Dia masih saja mengeratkan cengkraman tangannya pada selimut.


Kesal. Aku pun bangun terduduk dan menarik selimutnya kasar, hingga menampakkan tubuh polos kami berdua. Yah kalian tahu, kami sama-sama tidak mengenakan apa pun setelah kegiatan malam kemarin.


Semenjak aku mengetahui jati dirinya, kami justru semakin dekat. Kami memutuskan untuk tinggal bersama dirumahku. Bahkan kami sudah melakukan .. emm kalian tahu lah.


Tampaknya ini tidak berhasil. Dia hanya memutar tubuhnya hingga tengkurap bahkan tanpa membuka mata.


"Oh. Kalau kamu tidak mau bangun, aku tidak akan mengijinkanmu bertemu dengan temanku. Dan nanti malam kamu tidur disofa." ancamku. Nah, kali ini berhasil. Dia langsung bangkit dan menatapku memohon.


"Yah jangan!! Aku ingin bertemu temanmu. Aku juga tidak mau tidur tanpamu."


"Makanya, sekarang kamu bangun dan pergi bekerja. Kita akan bertemu disana." dia hanya mengangguk pasrah. Saat aku hendak turun dari tempat tidur, Nabilah meraih pergelangan tanganku.


"Agra ..." Dia menutup matanya dan mengerutkan bibirnya menginginkan ciuman selamat pagi.


Aku tertawa melihat tingkah manisnya ketika meminta ciuman pagi. Aku mendekat dan mencium bibirnya singkat.


"Nah. Sekarang kamu mandi " perintahku.


"Oke." Dia berkata dengan gembira sambil melompat dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Sementara aku kembali mengenakan pakaianku dan keluar kamar untuk membuat sarapan.


...***...


Aku berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumah ku, lalu naik dan turun tangga. Panik. Aku tidak bisa diam.


"Di mana William? Dia terlambat. Katanya dia akan mampir ke sini dulu sebelum berangkat. Bagaimana jika dia tidak jadi ikut? Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya?" Banyak pertanyaan mulai muncul di kepala ku saat ini hingga akhirnya ..


Ting!


Tong!


Bel berbunyi aku bergegas menuju pintu masuk dan membukanya. Itu William. Begitu Tampan dan sempurna seperti biasa. Rambutnya. Matanya. Wajahnya. Setiap bagian tubuhnya .. terutama bibirnya. Semua membuatku ingin mendekap tubuhnya dan .. Argh! Berhenti berpikir seperti itu, otak! Jangan menghancurkan sel-sel otakku dengan hal kotor!


"Terima kasih Tuhan kamu sampai juga! Apa yang membuatmu begitu lama? Aku pikir sesuatu yang buruk terjadi padamu." Aku bertanya dengan nada khawatir.


"Apa kamu berharap aku untuk terbang ke sini dan mengambil resiko mengungkap keberadaanku? Tentu saja aku tidak akan melakukan itu. Jadi aku naik taksi untuk ke sini, dan aku terjebak macet."


Aku memukul dahi ku sendiri. Kenapa aku begitu bodoh, tidak menyadari alasan ini. Masuk akal jika dia lama sampai kesini. Lihat apa yang kau lakukan pada ku, otak? Kau sudah membuatku terlihat bodoh di depan William.


"O-Oh .. Benar juga. Nah, sekarang mau langsung pergi? " Tanyaku


Dia menggeleng "Err .. Aku pikir tidak bisa, Gre."


"E-Eh? Kenapa? Tapi- " belum selesai ucapan ku tapi sudah dipotong nya.


"Sebelum berangkat aku punya satu saran untukmu, sebaiknya kamu lihat apa yang kau pakai sekarang."


Aku bingung dengan apa yang ia maksud hingga aku melihat ke bawah. Astaga, aku masih mengenakan piyama. Mungkin aku terlalu khawatir apakah William akan datang atau tidak hingga aku lupa ganti baju.


"Ah. M-Maaf. Aku akan ganti sekarang. Dan kemudian kita akan pergi. "


"Santai saja Gre. Aku akan menunggumu di luar."


Ku dengar teriakan disertai kekehan darinya saat aku berlari menaiki tangga.


Agra berada di sebuah cafe, duduk sendirian di meja outdoor menunggu seseorang. Tidak lama datang dua orang gadis ke meja nya. Agra berdiri memeluk singkat salah satu gadis yang lebih pendek dari gadis lain.


"Agra!!.. Kangen!! Lama kita tidak ketemu." Gracia menatap Agra dengan wajah berseri-seri.


"Iya. Kamu sih, pacaran sama komputer terus. Setiap di ajak ketemu tidak bisa."

__ADS_1


"Eh, ngaca dong! Memang kamu tidak sibuk terus sampai susah buat di telpon doang." balas Gracia cemberut.


"Hehe"


Agra hanya terkekeh singkat. Kemudian ia menatap bingung Gracia yang melihat ke segala arah, seperti mencari sesuatu.


"Ngomong-ngomong, bukannya kamu sudah punya pacar ya? Kok tidak diajak?"


"Dia ada shooting pagi. Nanti nyusul kok." Jawab Agra tersenyum. Lalu pandangannya tertuju pada seorang pria yang berada di samping Gracia.


"Eh kamu datang dengan siapa?" Gracia menepuk dahinya sendiri. Terlalu asik bernostalgia membuatnya lupa akan keberadaan William.


"Oiya sampai lupa. Gra, kenalin ini temen aku, namanya William." ucap Gracia memperkenalkan.


William tersenyum lalu mengulurkan tangannya "Hai, aku William."


Agra membalas dengan senyum juga, lalu meraih tangan William. Namun tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah. Beberapa saat Agra terdiam menatap William. Hal itu membuat Gracia bingung, lalu menegurnya.


"Gra?"


Agra tersadar lalu kembali tersenyum. "Ah ya, aku Agra. Wah, Ganteng temen kamu Gre. Pacar?" Agra menatap Gracia dengan senyum jahilnya.


Wajah Gracia langsung memerah mendengarnya "Eh??! Bukan bukan. Kita cuma berteman kok" elaknya.


"Tapi kamu ada perasaan kan?"


"T-tidak. Kata siapa?" Gracia menjawab dengan gugup dan memalingkan wajahnya.


"Lalu kenapa kamu salah tingkah begitu. Pasti ada sesuatu." goda Agra lagi.


"Emmm... ah sudahlah, aku mau pesan makan. Lapar." tidak bisa menjawab, akhirnya Gracia memutuskan untuk mengalihkan topik dengan pergi memesan makanan. Sementara Agra tertawa melihat tingkah Gracia. Begitupun William, yang hanya tersenyum melihat mereka.


Setelah kembali membawa makanannya dan William, Gracia terus berusaha untuk menghentikan aksi jahil Agra yang terus menggodanya. Lalu mereka saling mengobrol dan bercanda. William dengan cepat bisa akrab dengan Agra.


Tengah asik mengobrol, tiba-tiba muncul seorang wanita yang tanpa permisi langsung mengecup pipi Agra.


"Hai sayang!! Muahh" Agra yang terkejut pun memukul lengan orang itu sambil memarahinya.


"Hehe biarkan saja."


Agra menghela nafas pasrah lalu menoleh pada Gracia. "Ah! Aku ingin memperkenalkan sahabatku, Gracia. Dan temannya William."


"Aku Gracia."


"Nabilah." balasnya singkat. Lalu dia beralih pada orang di samping Gracia, seketika wajahnya berubah kesal.


"Kau??!" seru Nabilah pada William yang hanya diam dengan wajah datar.


"Tceh, tidak kusangka akan bertemu penghisap darah hari ini." ucap Nabilah dengan nada halusnya sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


"Heh, kau pikir aku mau datang jika tahu akan bertemu serigala menjijikan." balas William datar pula.


"Apa kau bilang?" Nabilah melotot mendengarnya.


"Tunggu! Tunggu! Jangan bilang.." seru Gracia membuat semua orang menoleh padanya.


"Iya, Gre. Dia seorang manusia serigala." Jawab William bahkan tanpa melihat Nabilah.


"Dan kau adalah Vampir, William. Sudah ku duga." ucap Gaby kemudian.


William menatap Agra bingung. "Sudah menduga? Apa maksudnya?"


"Yah, sebenarnya pekerjaanku bukan hanya sebagai model, tapi juga seorang peramal. Aku lahir dengan sebuah kelebihan. Aku bisa membaca pikiran orang dan juga kadang-kadang melihat ke masa depan. Aku juga bisa mengakses mimpi buruk seseorang." Jawab Agra.


"Jadi sejak awal kau sudah membaca pikiranku?" Agra mengangguk dengan pertanyaan William.


"Sudah sering ku ingatkan, Gra. Jangan sembarangan membaca pikiran orang. Setiap orang memiliki sesuatu yang tidak ingin diungkapkan." Tegur Gracia.


Agra hanya mengangkat bahunya. "Jangan salahkan aku, kemampuan ini selalu bekerja dengan sendirinya setiap bersentuhan dengan seseorang. Hanya Nabilah satu-satunya yang tidak bisa ku baca pikirannya."


"Bagaimana bisa?" Tanya William. Agra hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.

__ADS_1


"Jadi, dia pacarmu?" tanya Gracia.


"Benar. Nabilah ini pacarku. Kami sudah berpacaran selama dua bulan. " ucap Agra sambil tersenyum pada Nabilah.


"Apa dia meninggalkan bulu nya di tempat tidur mu?" Tanya William bercanda dan segera di jawab dengan tatapan marah dari Nabilah.


"Ada masalah jika aku meninggalkan bulu di tempat tidur? atau kau ada masalah denganku? Katakan saja dengan jelas." Nabilah bertanya sambil menggeram.


"Aku hanya bertanya. Kau lah yang mencari masalah denganku. " William menjawab dengan suara sedikit keras.


Nabilah menggeram marah dan hendak bangun dari duduknya sebelum Agra lebih dulu menahannya. "Nabilah. Kita di sini untuk beteman, bukan mencari musuh. Tetap tenang dan tetap di sampingku, ok?" Agra mengelus punggung Nabilah. Nabilah kembali tenang namun menatap William tajam.


"Kalian tampak serasi. Dia sangat penurut padamu, Gra." ucap Gracia. Agra tersenyum, kemudian menoleh pada Nabilah.


"Yah, itu karna aku memberinya cukup perhatian. " mendengar pernyataan Agra, sikap Nabilah tiba-tiba berubah total. Tanpa malu ia memeluk Agra dan menenggelamkan wajahnya di dada Agra seperti seekor kucing pada majikannya. Hal itu membuat William mendengus melihatnya.


"Bagaimana denganmu, William? Kau harus menunjukkan kasih sayang pada Gracia juga." gurau Agra, membuat wajah Gracia memerah.


William tersenyum dengan pernyataan Agra dan mengacak-acak rambut Gracia. "Aku sudah melakukannya."


Wajah Gracia langsung berubah semerah tomat setelah mendengar pernyataan itu.


"Hoo kau terlihat seperti tikus kecil berwarna merah!" goda Nabilah pada Gracia.


"B-Berhenti menggodaku!" Gracia berseru keras. William terkikik senang melihat tingkah malu Gracia, kemudian mengacak-acak rambutnya lagi.


Agra yang sedang melihat kedekatan William dan Gracia, tiba-tiba bersuara. "Hei, William. Apa kau mau datang ke rumahku dan mengobrol sedikit kapan-kapan? "


"Yah tidak masalah. Tapi untuk tujuan apa? " Tanya William.


"Kulihat kau memiliki selera fashion yang sangat bagus. Jadi aku mungkin ingin memintamu untuk memberikan sedikit saran atau mungkin pendapat tentang fashion." Jawab Agra.


"Seorang model meminta saran dari vampir? Itu sesuatu yang menarik. " ucap Gracia.


"Tidak ada yang sempurna, Gre. Selain itu, tidak ada salahnya kan untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda dari biasanya, benarkan Nabilah?" Tanya Agra. Nabilah tetap diam karena dia sedang sibuk memelototi wajah William. Hingga Nabilah akhirnya bersuara.


"Agra, aku tidak ingin ada makhluk penghisap darah hanya berdua denganmu di rumah. Aku tentu saja tidak bisa untuk tidak khawatir.


William menyeringai "Ada apa, Nabilah? Jangan khawatir. Aku tidak melakukan tindakan barbar seperti mencuri pacarmu. Aku bukan manusia serigala."


"Apa kau bermaksud mengatakan bahwa manusia serigala mencuri pacar orang lain?" Nabilah memelototi William.


"Tidak. Aku hanya mengatakan bahwa manusia serigala itu barbar. " William menjawab sambil tersenyum miring.


"Hentikan, kalian berdua! Kenapa sih dari tadi kalian ribut terus?" Tanya Gracia heran.


"Yah, Nabilah yang mulai. Agra mengundangku ke rumahnya dan aku hanya menerima tawaran itu. Dia sendiri yang mengajak ribut." jelas William sambil menunjuk jarinya pada Nabilah.


"Berani-beraninya kau menunjuk jari kelelawarmu pada wajahku! Tentu saja aku akan khawatir, jika ada makhluk berbahaya di rumah pacarku! " balas Nabilah berteriak.


"Kau sendiri juga binatang berbahaya, tapi kau tetap bisa berada di rumah pacarmu. Jadi ku lihat tidak ada masalah meski ada vampir di sana juga. " ucap William.


"Bukan itu intinya!" Nabilah berteriak lagi.


"Nabilah! Aku mengundang William saja untuk sedikit mengobrol. Kenapa kau begitu cemburu?" Tanya Agra.


"A-Apa maksudmu cemburu? S-Siapa yang cemburu?" ucap Nabilah tergagap.


"Bahkan untuk orang yang tidak berotak jenius sepertiku, pasti bisa tahu kau sedang cemburu, Nabilah. Kau tidak pandai untuk berbohong." timpal Gracia.


"Jenius katamu?" Nabilah tersenyum remeh.


Gracia mengangguk bangga "Hm, asal kau tau saja. Aku memiliki IQ 140, hebatkan?"


"Omong kosong." balas Nabilah tidak


percaya.


"Ya sudah kalau tidak percaya." Gracia hanya mengangkat bahu acuh.


"Nah, sekarang. Karena kita sudah berkumpul, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja ke mall. Dengan begitu kita mungkin bisa jadi lebih akrab!" Saran Agra yang disetujui oleh pasangan GreWill. Nabilah meski enggan akhirnya hanya pasrah mengikuti keinginan Agra.

__ADS_1


__ADS_2