Paradox

Paradox
Chapter 5 : training


__ADS_3

"Kak, tolong kasih tahu Gre. Sebenarnya apa yang sedang kakak lakukan? Siapa mereka dan untuk apa kakak mencuri benda-benda itu?"


Gracia menatap Virza yang tengah


mengemudi dengan penuh rasa ingin tahu.


Virza menghela nafas. "Ok. Kakak akan kasih tahu. Terserah kamu percaya atau pun tidak." Virza menjeda ucapan sejenak.


"Organisasi itu bernama Helsing. Organisasi rahasia yang khusus menangani makhluk-makhluk gaib. Lalu kenapa kakak mencuri benda-benda itu, karena kakak butuh itu semua untuk menyelamatkan teman kakak yang di tawan oleh dewa zombie." Gracia melongo mendengar penuturan Virza.


"Kakak tidak lagi mabok atau pakai narkoba kan? Makhluk gaib? Dewa zombie? Tidak ada hal seperti itu. Itu semua cuma ada di film dan anime yang sering Gre tonton." Virza menggeleng memaklumi ketidak percayaan adiknya itu. Kalau saja ia tidak melihat dan bertemu langsung dengan salah satu dari mereka, ia pun akan berfikiran sama dengan adiknya.


"Kakak bertemu bahkan terluka oleh sekelompok zombie kemarin. " ucapnya mengangkat lengan baju sebelah kanannya, memperlihatkan balutan perban disana. Virza menoleh pada Gracia setelah tidak ada lagi sanggahan darinya.


Mobil van putih berisikan kakak beradik itu memasuki pekarangan sebuah rumah. Setelah menghentikan mobil virza beralih menatap Gracia.


"Gre. Kakak butuh satu bantuan lagi dari kamu."


"Bantuan apa?" tanya Gracia.


"Mencari sebuah informasi." Jawab Virza.


"Ah.. mencari informasi ya? Serahkan saja kepada si hebat Gracia hahaha! " seru Gracia dengan sombongnya.


Virza hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya. "Tapi gak gratis loh kak!" tambah Gracia.


Virza memicingkan matanya. "Sama kakak sendiri perhitungan banget sih."


"Hehe, Iya dong kak. Soalnya ini kan masuk kedalam kerjaan Gre sebagai pencari informasi, jadi ya harus bayar."


"Oh jadi gitu. Berarti kalau kamu sakit, terus kakak yang ngobatin kamu, kamu juga harus bayar dong." Virza tersenyum miring melihat ekspresi Gracia.


"Ih kak Virza mah gak sayang sama adek sendiri." Keluh Gracia. Virza tertawa mengacak rambut Gracia.


"Kakak cuma bercanda. Lagian kakak sudah sering suruh kamu buat cari pekerjaan yang layak, bukan? Jangan sia-siain otak kamu cuma buat main-main doang."


"Gre lebih suka gini kak. Bebas." Virza menghela nafas pasrah mendengar jawaban Gracia yang tidak pernah berubah.


"Ya udah, kakak mau pergi dulu. Kamu jangan lupa bantuin kakak cari informasi nya. "


"Siap kak!" seru Gracia memberi hormat. Virza tersenyum lalu keluar dari mobil itu berpindah ke mobil miliknya sendiri.


Virza kembali ke rumah Jeje setelah mengantar Gracia pulang. Tanpa mengetuk, Virza langsung masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ruangan lab milik Jeje.


Didalam ruangan itu terlihat Jeje sedang berkutat dengan berbagai alat percobaan di depannya.


"Ya!"

__ADS_1


Jeje mengalihkan wajahnya dari microscop didepannya dan menoleh pada Virza yang berjalan mendekatinya.


"Ah Virza. Bagaimana, berhasil? " Virza mengangguk lalu menyerahkan sebuah pedang padanya.


"Ini yang kamu dapat? Haah sayang sekali" Jeje menghela nafas kecewa.


"Memang kenapa?"


Jeje mengangkat pedang itu hingga depan dada.


"Ini pedang pemotong."


Virza menatap bingung "Maksudnya? Bukankah semua pedang sama saja."


Jeje menggeleng. "Yang kita bicarakan adalah Helsing. Organisasi pemburu yang sudah berdiri dari abad ke 19. Semua yang ada disana tidak mungkin biasa saja. Mereka memiliki berbagai macam pedang hebat, seperti pedang pemotong ini, pedang api,


pedang peledak dan kurasa masih banyak lagi. Aku berharap kamu mendapatkan pedang peledak atau semacamnya, karena itu sangat efektive jika kita melawan sebuah pasukan. Sementara pedang ini, meski terbuat dari perak yang sudah pasti efektif untuk mengalahkan zombie, kamu harus mengerahkan tenaga ekstra karena harus mengalahkan mereka satu persatu." Jelas Jeje.


Virza menunduk kecewa "Maaf, tapi aku tidak sempat untuk memilih. Lagipula hanya ada pedang itu disana."


"Ya sudah jangan dipikirkan."


"Terus serum ini buat apa?" Virza mengangkat botol kecil berisi cairan berwarna biru di tangannya.


Jeje mengambil botol itu "Ini adalah serum zombie."


"Kamu serius?"


"Yang ku tahu serum ini hasil percobaan untuk meniru ketahanan tubuh yang luar biasa milik zombie dengan mengambil sample langsung dari zombie. Untuk efek sampingnya sendiri aku tidak tau, karna ini belum pernah di uji. Jadi sebaiknya jangan digunakan jika tidak dalam keadaan terdesak." Ucap Jeje menyerahkan botol itu kembali.


"Terus bagaimana caranya aku menolong Vi?"


"Pilihanmu hanya pedang ini, tapi kamu harus berlatih menggunakannya terlebih dahulu. Tenang saja, aku akan melatihmu" Virza mengangguk.


...***...


Dihalaman belakang rumah Jeje, Virza masih sibuk berlatih menggunakan pedang yang ia curi dari Helsing. Dengan arahan Jeje - meski Jeje sendiri tidak menggunakan pedang, ia cukup tahu cara menggunakan pedang dengan benar - Virza sudah lumayan menguasai cara penggunaan pedang. Jika dibandingkan sore kemarin saat baru mulai, Virza begitu kaku saat mengayunkan pedangnya. Mencengkram kuat gagang pedangnya dengan kedua tangan. Namun sekarang, Virza bahkan hanya butuh satu tangan saja.


5 jam penuh Virza terus melatih diri mengayunkan pedangnya agar terbiasa. Puluhan pohon berukuran cukup besar sudah tumbang ke tanah karena jadi objek sasaran Virza melatih kemampuan pedangnya. Memang benar apa yang dikatakan Jeje, meski terlihat seperti pedang pemotong biasa, pedang yang di genggam oleh Virza ternyata memiliki kekuatan yang sangat besar. Batang pohon besar di potongnya hanya dengan satu kali tebasan. Tentu saja, Zombie akan sangat mudah untuk dikalahkan.


"Istirahat dulu Za." ujar Jeje yang mengetahui Virza belum beristirahat sejak pagi tadi.


"Hanya dalam sehari, kemampuanmu sudah cukup baik. Ditambah daya tahan tubuhmu juga cukup bagus." puji Jeje


"Sepertinya nanti malam kita bisa langsung berangkat." tambahnya.


Jeje duduk di teras belakang rumahnya, meraih sebuah minuman isotonik lalu meminumnya hingga tersisa setengah. Virza tersenyum mendengar pujian Jeje lalu duduk di samping Jeje dan melakukan hal yang sama seperti yang Jeje lakukan.

__ADS_1


Untuk beberapa saat keduanya saling diam. Hanya ada suara tarikan nafas lelah dari Virza yang sedang mengatur nafas.


"Ya."


"Hm?" Virza akhirnya bersuara yang hanya dibalas dengan 'hm' oleh Jeje.


"Sebenarnya dari kemarin ada yang ingin aku tanyakan."


"Apa?" Jeje menoleh pada Virza.


"Kenapa kamu bisa tertarik dengan supernatural dan bisa tau banyak sekali tentang supernatural. Ok, aku tahu kamu peneliti. Tapi pasti ada alasannya dan bagaimana mungkin kamu bisa tau begitu banyak." ujar Virza mengungkapkan semua


keingintahuannya.


"Kamu tau anak indigo?"


"Tahu. Jadi kamu.." Virza menatap Jeje lekat, sementara Jeje mengangguk singkat.


"Ya, sejak lahir aku sudah bisa melihat


hal-hal yang orang biasa tidak bisa lihat. Jika kebanyakan anak indigo takut bahkan berharap tidak memiliki kemampuan itu, aku justru menerima dengan senang hati. Kesukaanku pada dunia supernatural membuatku mempelajari semua yang berhubungan dengan dunia itu. Dari berpetualang ke dalam hutan angker bahkan masuk ke sarang zombie. Itu lah kenapa aku tahu dimana sarang zombie berada. Bukan hanya itu, aku juga mencuri informasi dari orang-orang yang bekerja di organisasi helsing, termasuk senjata yang aku miliki." jelas Jeje panjang lebar.


"Tapi kenapa sampai segitunya?" tanya Virza lagi.


"Waktu kecil aku punya seorang sahabat, dan aku tahu dia bukan manusia. Suatu hari tiba-tiba dia menghilang. Sejak saat itu aku mencari tahu semua tentang dunia supernatural, berharap suatu hari nanti bisa menemukan nya." Jeje terlihat sendu saat mengatakannya. Virza jadi tidak enak hati telah menanyakannya.


"Kamu tidak tahu dia dari ras apa?"


Jeje menggeleng "Tidak. Waktu itu aku belum tahu tentang hal semacam itu."


"Ya, semoga nanti kamu berhasil menemukan sahabat kamu itu ya." Virza meletakkan satu tangannya diatas bahu Jeje dan mengusapnya lembut. Mencoba untuk


menghiburnya. "Terima kasih za." Jeje tersenyum sebagai balasan.


Setelah beberapa saat diam.


"Hah, sebaiknya kita lanjutkan latihannya." Virza berdiri meraih pedang yang ia letakan disampingnya lalu berjalan kembali ke halaman.


Malam harinya Virza dan Jeje telah siap berangkat untuk menyelamatkan Viera.


Jeje mengenakan kemeja putih dibalut jaket kulit berwarna hitam, serta celana panjang hitam. Dua sarung berisi senapan semi-otomatis menggantung pada sabuknya di kanan kiri pinggang. Satu sarung pisau terikat di paha kanan. Lalu sebuah tas kecil berisi amunisi berada di pinggang kanan belakang. Ditambah sebuah Senapan berukuran cukup besar berada di punggungnya.


Sementara Virza hanya mengenakan kaos hitam yang dibalut jaket berwana hitam juga, serta celana panjang berwarna putih.


Tangan kirinya menggenggam pada sarung pedangnya.


Jeje menoleh pada virza disebelahnya.

__ADS_1


"Siap?" Virza mengangguk. Lalu keduanya berjalan keluar dari rumah Jeje.


__ADS_2