
"Ka Virza! Gre mohon! Selamatkan William!' dengan mata berkaca-kaca, Gracia berteriak sambil mencengkeram tangan Virza yang saat ini tengah bergegas membawa William ke ruang gawat darurat.
"Kakak akan coba yang terbaik, Gre. Tunggu di luar." Virza memerintahkan perawat untuk menghentikan mereka ikut memasuki ruang gawat darurat.
"Silakan tunggu di luar. Kalian tidak boleh masuk. Dr Virza perlu berkonsentrasi. " Kata salah satu perawat yang mencegah Gracia dan Agra untuk pergi lebih jauh.
Langkah pertama Virza meletakkan tangannya di dada William dan perlahan-lahan ditekan beberapa kali sebelum meluncur ke bawah sedikit untuk memeriksa luka yang diterima oleh Shani. "Ya tuhan.. sepuluh tulang rusuknya patah. Aku belum pernah menemukan seseorang yang dipukuli hingga seperti ini. Dia juga kehilangan banyak darah. ini benar-benar serius."
"Dr. Virza, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya salah satu perawat panik.
"Ambilkan unit Defibrillator ke sini. Aku akan melakukan CPR untuk saat ini. " Virza berkata sambil mulai melakukan CPR pada William lagi dan lagi, tapi tidak ada respon dari William.
"William, tolong bangunlah!" Virza berteriak pada William sambil terus melakukan CPR.
Tak lama, para perawat kembali dengan unit Defibrillator. "Dr Virza, ini dia."
"Baiklah. Naikkan hingga 300V. Clear! " Virza menempelkan bantalan defib di dada William, membuat tubuhnya tersentak sedikit.
"Dokter, tidak ada respon!" Salah satu perawat mulai panik.
"Naik kan ke 600V! Ayo, William! Bangun!" Virza berteriak didepan wajah William saat ia menempelkan bantalan defib di dada William untuk ke sekian kali.
"Masih tidak ada respon, dokter!" ujar salah satu dari perawat.
"William, Ayo! Tolong jangan buat aku gagal! Naikkan tegangannya lagi !! " teriak Virza.
Di luar Ruang Gawat Darurat
Gracia sedang menangis dalam pelukan Agra.
"Aku tidak mau William pergi .." Gracia bergumam sambil menangis.
Viera kemudian berjalan menuju Gracia untuk menghiburnya, "Jangan khawatir. Virza adalah seorang dokter yang hebat. Kamu harusnya yang paling tahu tentang kakakmu. Kamu harus percaya padanya."
"Kak Vi benar, Gre. Kita harus percaya dengan kemampuan kak Virza." ucap Agra.
Sesaat kemudian, Jeje dan Nabilah tiba di rumah sakit. "Bagaimana kabarnya?" Tanya Nabilah cepat.
Gracia segera berdiri dari kursinya dan berjalan menuju Nabilah kemudian memberikan Nabilah sebuah tamparan di wajahnya. Suara tamparan yang bergema di koridor.
"Gracia!" Semua orang terkejut dengan tindakan Gracia.
"Kau tidak punya hak untuk bertanya tentang kondisi William !! Dia seperti ini karena kau manusia serigala! " seru Gracia menjerit. Nabilah memalingkan wajahnya, tidak ingin menatap mata Gracia.
"Gre, itu bukan salah Nabilah. Jika William tidak di rumahku waktu itu, aku pasti sudah mati. William menyelamatkanku. " jelas Agra.
"Benar. Ini semua salah serigala Alpha. Nabilah tidak ada hubungannya dengan hal ini." ucap Jeje.
Kaki Gracia terasa begitu lemas untuk tetap berdiri hingga ia jatuh terduduk di lantai, menutupi wajahnya dan menangis lagi. Nabilah mengepalkan tangannya kemudian berbalik, bermaksud untuk pergi. Agra segera meraih tangan Nabilah, "Bil, tinggallah. Gracia hanya sedang emosi saat ini. Itu saja."
"Itu benar, Nabilah, sekarang duduk ..' perintah Jeje sambil mendorong Nabilah ke kursi dan mendudukkannya.
"Sekarang yang bisa kita lakukan adalah berdoa agar Virza mampu menyelamatkan hidup William." ucap Viera.
Setelah beberapa jam, Virza akhirnya keluar dari ruang gawat darurat dengan wajah pokernya. Makna di balik ekspresi wajahnya tidak terbaca. Begitu muncul di pintu, semuanya langsung mengerumuni Virza.
"Aku sudah mencoba yang terbaik." ucap Virza dengan wajah tanpa ekspresi.
Semua benar-benar terkejut dengan pernyataan Virza, bahkan Gracia kembali menangis. Nabilah menghampiri Virza dan meraih bahunya. "Apa maksudmu kau sudah mencoba yang terbaik? Kalau begitu berusaha lagi lebih keras!'
Tiba-tiba, Virza menunjukkan ekspresi bingung, "Tunggu, tunggu ... Apa yang kau bicarakan? Kenapa kalian semua menangis?
"Apa maksud kakak kenapa? Kakak tidak bisa menyelamatkan William! " Teriak Gracia.
Virza pun menghela napas. "Kalian benar-benar berpikiran stereotip pada dokter bedah, kan? Setiap dokter bedah mengatakan 'Aku sudah mencoba yang terbaik' itu berarti bahwa pasien tidak selamat, aku benar? Tapi itu sudah pasti tidak berlaku untuk si hebat Dr. Virza! Jika Dr Virza mengatakan dia sudah mencoba yang terbaik, itu berarti pasien berhasil diselamatkan! "
Setelah menyeka air matanya, Jeje langsung memukul kepala Virza. "Jangan lakukan lelucon bodoh di saat seperti ini! Ini tidak lucu!"
"Hei.. Itu bukan lelucon. Itu salah kalian yang berpikiran stereotip. Jangan salahkan aku. " ucap Virza membela diri sambil menggosok kepalanya yang dipukul Jeje.
"I-Itu berarti William selamat?" Tanya Gracia girang.
__ADS_1
Virza menganggukkan kepalanya.
"Ya."
Setelah mendengar pernyataan Virza, semua buru-buru mencoba masuk ke ruang gawat darurat, sebelum lebih dulu dihentikan oleh Virza. "Stop!Stop! Kalian tidak bisa masuk ke ruang gawat darurat. Kondisinya mungkin stabil sekarang, tapi aku belum melakukan operasi padanya. Aku masih harus memperbaiki tulang rusuk nya seperti semula. Setelah aku selesai, dia akan di pindahkan ke ruang rawat. Setelah itu, baru kalian bisa mengunjunginya. Datang lagi besok."
***
Virza baru saja keluar dari ruang rawat William ketika ia melihat empat orang sudah menunggu di luar. Virza tersenyum pada mereka, "Sekarang kalian bisa mengunjunginya, tapi dia belum bangun. Cobalah untuk tidak berisik."
Gracia adalah orang pertama yang terburu-buru masuk ke ruangan. Dia meraih kursi dan duduk di samping tempat tidur lalu meraih tangan William. "William, tolong bangunlah. Kemudian ajak aku berkencan. Kau sudah janji padaku, kan?"
Vi sudah berdiri di samping Gracia dan memeluknya. "Aku yakin dia mendengarmu, Gre."
Tiba-tiba, terdengar sebuah teriakan muncul dari pintu ruang rawat William dan terbuka kasar."William! William! Kamu baik-baik saja?
Jawab aku, William! " Seorang gadis muncul dan berlari menuju samping William dan meraih tangannya.
Semua yang ada disana begitu terkejut hingga tidak bisa bereaksi apa-apa. Gadis itu kemudian berlari menuju Virza dan memegang bahunya, "Apa kau dokter? Bagaimana keadaannya? " Tanya gadis itu sambil menunjuk William.
Masih dalam keadaan terkejut, Virza akhirnya menjawab pertanyaannya. "Err .... Dia dalam kondisi stabil sekarang. Ini hanya masalah waktu sebelum dia bangun. "
Gadis itu menghela napas keras, "Terima kasih Tuhan.. Itu berita bagus. Terima kasih banyak, Dokter. "
Virza kemudian menjawab dengan nada bingung, "Err.. Terima kasih kembali."
"Tunggu .. Siapa kau? Apa kau kenalannya?" Tanya Viera.
Gadis itu tertegun sejenak "Oh, aku keluarganya!"
"Keluarga? Berarti kau juga seperti dia?." seru Nabilah. Gadis itu melihat padanya datar, kemudian melihat jam tangan nya.
"Oh.. Aku terlambat. Aku akan datang dan mengunjunginya lagi lain waktu. Bye, semua. "Dia mendekati William dan mencium keningnya singkat sebelum pergi. Semua orang di ruangan itu benar-benar harus memproses situasi yang baru saja terjadi disana selama lebih dari 5 menit.
"Oi, apa apaan itu?" ucap Nabilah menggeram.
"Dia siapa sih?" Tanya Viera.
"Jika benar dia Keluarga William. Berarti dia juga bukan manusia."
ucap Kinal.
"Dia Vampir." tebak Agra dan dibalas dengan anggukan oleh Virza.
"Tapi aku tidak mencium sesuatu yang aneh dari dia." ujar Nabilah.
"Ya jika kita ingin tahu, kita hanya harus menunggu William bangun dan bertanya langsung padanya tentang gadis misterius itu. Dia tampak sangat mencurigakan. " ucap Gracia.
***
William akhirnya membuka matanya dan mendapati dirinya terbaring di tempat tidur rumah sakit. Dia kemudian memandang sekeliling ruangan dan melihat Nabilah berdiri bersandar di dinding. Melihat William sadar, Nabilah berjalan mendekati tempat tidurnya dan duduk di kursi. Nabilah kemudian mengeluarkan paket darah dan menyerahkannya pada William. William mengambil paket darah dari tangan Nabilah dan mendudukkan dirinya.
"Kau masih hidup?" Tanya Nabilah.
"Apa kau buta?" Jawab William dengan nada lemah.
"Minumlah. Itu akan memberimu tenaga." Nabilah mengatakannya dengan nada yang paling monoton. William lalu tersenyum pada Nabilah dan melanjutkan meminum paket darahnya.
"Hei, ini rasanya enak. Dari mana kau mendapatkan darah ini?" Tanya William sambil terus mengisap paket itu.
"Dari Steven." Pernyataan itu membuat William segera melontarkan semua yang sedang ia hisap sekarang, membuat Nabilah tertawa terbahak-bahak.
William kemudian menggosok lidahnya penuh semangat dan bertanya "Kau memberiku darah manusia serigala ?!!! Menjijikan "
"Kau harus melihat ekspresi wajahmu tadi. Baru saja kau bilang rasanya enak. Aku hanya bercanda. Aku mendapatkannya dari Virza. " Nabilah akhirnya menjawab setelah dia berhenti tertawa.
"Tidak lucu membiarkan vampir menghisap darah manusia serigala." ucap William. Nabilah kembali tertawa.
William kemudian melanjutkan, "Jadi, apa yang terjadi pada Steven?"
"Sonia dan aku mengurusnya. Dia tidak akan bisa bermain-main dengan kami untuk beberapa waktu. " Jawab Nabilah.
__ADS_1
William mengangguk. "Itu bagus. Bagaimana dengan Agra? Apa dia terluka?"
"Tidak. Kami berhasil datang tepat waktu. Kau sudah melindungi Agra."
"Yah, aku tidak bisa membiarkan Steven menyakiti seorang pria muda bersalah, bukan?"
"Aku mengerti, tapi dengan hidupmu? Dari apa yang Virza katakan pada kami, kau bisa meninggal akibat luka itu. Sepertinya kau bertahan untuk waktu yang cukup panjang melawan Steven. Harus ku akui aku sangat terkesan."
"Jika aku tidak melakukan pekerjaan dengan baik, kau pasti akan mendatangiku dengan sikap liar mu dan menumpahkan semua bulu mu itu padaku."
Mendengar pernyataan William, Nabilah segera mengepalkan tangannya dan menunjukkannya pada William, "Jika kau tidak berbaring di tempat tidur sekarang, aku akan menghajarmu. Tapi, aku tidak ingin diomeli oleh Virza. Dan juga, aku tidak suka melawan orang cacat."
"Kau melawan Steven setelah dia cacat olehku."
"Itu berbeda. Aku hanya melakukan balas dendam. "
William lalu tersenyum dengan pernyataan Nabilah, "Dan untuk siapa sebenarnya kau membalas dendam?"
"Siapa lagi? Tentu saja untuk Agra. " Jawab Nabilah.
William mencibir "Nabilah, kenapa kau tidak bilang saja padaku bahwa kau membalas dendam untukku."
"Ah tenggorokanku sakit, aku tidak bisa bicara. " ucap Nabilah yang dengan konyolnya berpura pura memegangi lehernya. Sementara William tertawa dengan pernyataan dan tingkah Nabilah.
"Yang pasti, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih sudah melindungi Agra" William menjawab dengan tersenyum.
"William!!!" Tiba-tiba, Gracia menerobos masuk dan segera berlari menuju William dan memeluknya erat-erat.
"Ouch! G! Jangan terlalu erat. Masih sakit." seru William.
"Kau membuatku sangat khawatir. Kupikir aku kehilangan dirimu .. " air mata Gracia mulai mengalir di pipinya lagi.
"Sekarang aku sudah bangun, kan? Jadi, berhentilah menangis. " William mengusap air Gracia.
William kemudian melanjutkan, "Ayo kita pergi kencan setelah aku keluar?" William mengangguk gembira dan penuh semangat.
"Bagaimana kalau Kita semua pergi kencan bersama-sama!" saran Virza yang baru saja masuk kedalam ruangan, disusul Viera dan Agra.
"Tidak mau! Kakak jangan mengganggu kencan kami. Kami hanya ingin berdua." tolak Gracia cepat dengan bibir cemberut. William hanya tersenyum melihatnya.
"Hei, William. Beberapa hari yang lalu, ada seorang gadis aneh datang mengunjungimu. ucap Virza.
William mengernyit dengan pernyataan Virza. "Seperti apa dia?"
"Keren !!" seru Agra hanya untuk mendapatkan tatapan tajam dari Nabilah. Agra tersenyum sebagai Jawaban.
"Yah, dia memang terlihat keren dan sedikit tampan. Juga tubuhnya lumayan tinggi." Lanjut Viera yang akhirnya mendapatkan hal yang sama dari Virza.
"Dan dia mencium keningmu." Gracia mengatakannya sambil mulutnya cemberut.
"Apa dia mengatakan siapa dia?" Tanya William lagi.
"Dia bilang dia keluargamu. Jika benar, berarti dia juga vampir sepertimu. " ucap Virza.
"Tapi anehnya, aku tidak mencium sesuatu yang aneh darinya." tambah Nabilah.
William kemudian berpikir, 'Keren, agak tampan. Tubuhnya tinggi. Mencium keningku. Bilang dia keluargaku. Nabilah tidak bisa mengendus apa-apa. Ini hanya satu orang yang mungkin..'
William akhirnya berkata dengan keras, "Yah, kalian benar. Dia memang vampir. Tapi kami bukan keluarga, lebih tepatnya kami berteman sudah sangat lama. Jadi dia sudah seperti keluargaku."
"Tunggu, teman kok mencium keningmu?"
Gracia kembali membahas hal itu.
"Gracia, apa hanya itu saja yang kau pedulikan?" Tanya Agra.
"Kami sudah bertarung bersama untuk waktu yang sangat lama sebelumnya. Dan dia sangat perhatian padaku. Itu saja. "Jawab William.
"Jika benar dia vampir. Kenapa aku tidak bisa mencium baunya? Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Kau tahu kan penciuman manusia serigala sangat tajam." tanya Nabilah bingung.
William lalu menatap wajah bingung mereka semua kemudian menjawab, "Dia adalah satu-satunya vampir dalam sejarah yang dapat menyalurkan dan mengubah aura vampir kapan pun dia suka. Dia juga bisa menyembunyikan aura vampirnya sepenuhnya, membuatnya tidak terdeteksi oleh makhluk Supernatural lain ..."
__ADS_1
"Vampir Ace, Enzy."