
Di dalam gorong-gorong kota. Virza dan Jeje berjalan menelusuri gorong-gorong yang sudah entah berapa lama dan seberapa jauh mereka berjalan.
"Tempat ini bau sekali." keluh Virza menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangan.
"Yah, kita berada di puluhan meter dibawah kota. Di sekitar kita semua lembab, jadi mudah berbau. Cobalah untuk tidak memperdulikan hal seperti itu." saran Jeje terus berjalan tanpa terpengaruh dengan keadaan sekitar.
"Ok, Jeje. Sekarang ke arah mana?" tanya Virza saat mereka sampai di pertigaan.
"Aku tidak tahu. " jawab Jeje singkat. Virza menatap Jeje tidak percaya.
"Bagaimana bisa kamu tidak tahu? Bukannya kamu bilang tahu dimana sarang zombie berada? Kamu bilang pernah masuk sarang Zombie." teriak Virza kesal.
"Iya, tapi yang aku tahu gorong-gorong ini lah sarang mereka, mereka berada di bawah kota terdalam. Jujur saja aku belum pernah turun sampai sedalam ini."
Virza mengerang putus asa lalu mulai berjalan mondar mandir sambil berfikir.
"Percuma saja kamu seperti itu, Nal. Sekarang pilihan kita hanya mencoba keberuntungan. Kanan atau Kiri? " Jeje menunggu Virza berkata. yang masih diam hingga ia
"Kita coba Kanan. "
Keduanya lalu memilih jalan ke kanan. Setelah beberapa lama berjalan, mereka akhirnya sampai di ... jalan buntu.
Keduanya saling tatap lalu menghela nafas bersamaan.
"Sepertinya kita harus kembali dan memilih jalan satu nya." ucap Jeje mulai berjalan pergi. Namun tidak dengan Virza.
Virza berjalan mendekati tembok dan merabanya.
"Tembok ini terasa aneh ... dan aku merasa mendengar suara angin dari balik tembok ini. " ujar Virza. menempelkan telinga nya ke tembok.
"Bagaimana kamu tahu?"
Virza menoleh "Meski baru umur segini, aku sudah berpengalaman menjalani operasi bedah. Terbiasa dengan ketenangan dalam proses operasi membuat pendengaranku menjadi tajam."
Jeje mengangguk mengerti dengan profesi Virza yang sebagai dokter terkenal meski diusia yang masih terbilang muda. Jeje kemudian ikut mengamati tembok itu.
"Tembok ini seperti berongga. Mungkin tembok ini adalah pintu masuknya. Ayo kita coba mendorong tembok ini. "saran Jeje.
__ADS_1
Kemudian keduanya mencoba mendorong dinding itu bersama-sama, hingga dinding itu mulai bergeser terbuka dengan sendirinya. Kini terlihat dunia yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Tempat itu sedikit berkabut dan ada batu nisan di mana-mana, seolah-olah mereka berada di tengah-tengah kuburan. Kuburan tak berujung dengan jumlah batu nisan yang tak terhitung. Terlihat beberapa sosok yang berjalan pincang di dalam kabut. Keduanya lalu melihat sebuah rumah besar di atas bukit di dekatnya.
"Sepertinya itu tempat tinggal dewa Zombie." ujar Jeje.
"Berarti seharusnya Vi berada di dalam rumah itu. Ayo kita pergi."ucap Virza. Belum lama mereka berjalan, terlihat puluhan zombie berjalan menuju mereka dari arah kabut.
Zombie-zombie mulai mengerang keras dan semakin keras saat menatap ke arah keduanya. Sepertinya para zombie sudah merasakan kehadiran mereka. Tidak hanya itu, Zombie-zombie lain mulai merangkak keluar dari dalam tanah. Mereka semua menjerit sebelum berjalan bergerombol ke arah mereka seperti kumpulan semut.
"Mereka banyak sekali. Menurutmu mereka ada berapa?" tanya Virza.
"Entahlah. Perkiraanku lebih dari 500." jawab Jeje.
"Bagaimana Virza, mau lanjut? Ada kemungkinan kita tidak selamat saat melawan mereka semua?"
Virza tidak menjawab pertanyaan Jeje. Tatapannya masih tertuju pada ratusan zombie didepannya. Dilihat rumah besar di belakang zombie.
"Diluar Sana banyak yang menjuluki ku "The Hands of God' karena aku mampu melakukan operasi yang memiliki tingkat keberhasilan hanya 20%. Selain itu ada juga yang menjuluki ku sebagai dokter gila, Karena aku terbilang nekat saat menjalani operasi. Sebenarnya aku bukan gila ataupun nekat, tapi aku selalu tertantang untuk melakukan hal yang menurut orang lain itu mustahil. Jadi ini akan menjadi tantangan baru untukku." jelas Virza. terserum miring.
Jeje pun tersenyum "Ternyata kita sama - sama suka melakukan hal gila. Yah, sepertinya malam ini akan panjang. "Jeje sudah menggenggam senjata semi-otomatis nya di kedua tangan.
...***...
Sementara itu seorang gadis berambut pendek mulai masuk kedalam gorong-gorong kota setelah merasakan hawa jahat dari tempat itu. Tidak lama terlihat 3 makhluk menyeramkan dengan tubuh seluruhnya hitam gelap di tambah sepasang sayap seperti kelelawar.
Merasakan kehadirannya, makhluk itu terbang menyerang. Melayangkan cakar tajamnya pada gadis itu. Dengan tenang gadis itu menghindari nya lalu melompat menjauh.
Gadis itu menjulurkan tangan nya ke depan, lalu muncul cahaya biru yang bersinar tepat di telapak tangannya. Saat cahaya biru itu menghilang, tangannya kini menggenggam sebuah sabit besar berwarna biru dengan gagang hitam panjang.
"Tidak kusangka akan bertemu iblis di tempat seperti ini. Yah lumayan untuk menghiburku karena sejak pagi aku belum bertemu makhluk gaib satu pun." gadis itu tersenyum miring menatap ketiga iblis didepannya.
Ketiga iblis itu mengerang marah lalu kembali menyerang gadis itu, namun dengan mudah dihindari. Selanjutnya gadis itu pun menyerang balik.
Pertarungan itu berlangsung cukup cepat dengan hasil terbunuhnya dua dari tiga. Melihat kedua rekannya mati, iblis terakhir melarikan diri kedalam gorong-gorong.
"Oh, mau lari ya. Tapi maaf, aku tidak akan membiarkan iblis lari atau pun hidup." ucap gadis itu mulai mengejarnya.
...***...
__ADS_1
"Virza, ingat! Mereka mungkin tidak memiliki kekuatan, tapi gigitan mereka sangat mematikan! Cobalah untuk tidak sampai tergigit. Satu gigitan, selesai sudah hidupmu! " ujar Jeje mengingatkan sambil terus menembak kepala para zombie.
Berbeda dengan Virza, ia berlari dan menebas leher zombie didepannya lalu zombie di sampingnya. Satu zombie mendekat dari belakang, Virza berbalik dan menebasnya.
Virza dan Jeje masih terus menyerang setiap zombie yang mendekat sambil berusaha bergerak maju hingga bisa lebih dekat dengan rumah besar yang jadi tujuan mereka. Namun jumlah zombie sepertinya tidak pernah habis. Satu tumbang yang lain muncul lagi dari dalam tanah. Terus mengalir seperti kumpulan semut. Keduanya mulai kewalahan menghadapi mereka semua.
"Mereka terus saja bermunculan! Jumlah mereka tidak terhitung" keluh Jeje.
"Aku benci mengatakan ini, tapi aku mulai merasa lelah." Kata Virza mulai terengah-engah.
"Bertahanlah, Virza! Kita tidak bisa berhenti di sini! " Ucap Jeje mengingatkan.
"Iya, tapi gerakanku semakin melambat."
Kemudian tiba-tiba, semua zombie berhenti bergerak begitu terdengar tepuk tangan berasal dari rumah itu. Seorang sosok hitam terlihat berjalan keluar dari rumah. Pasukan zombie mulai menyingkir memberikan jalan bagi sosok itu. Wajahnya tidak terlihat karena terhalang kabut tebal, ditambah tempat itu memang minim penerangan. Hingga saat jarak tinggal beberapa meter sosok itu mulai terlihat keluar dari kegelapan.
"Apa !? Kau dewa zombie? Tampak tidak meyakinkan untuk seorang dewa. " ucap Jeje tidak percaya.
"Ah.. Ku Ingatkan saja, kau pasti tidak akan suka melihat wujud asli ku yang sebenarnya." ucap Ikha mengingatkan. "Mau melihatnya?"
Jeje menggeleng cepat sedikit melangkah mundur. Sementara Virza malah melangkah maju dengan tangan kiri memegangi lengan kanan yang sedikit gemetar karena lelah.
"Hei! Kembalikan, Viera. Lepaskan dia! "teriak Virza tanpa rasa takut.
"Kenapa aku harus melepaskannya. Memangnya siapa kalian?" tanya Ikha.
"Kami teman-teman Vi. Kami datang ke sini untuk menyelamatkannya. " Jelas Jeje.
Ikha menatap kedua orang didepannya.
"Sepertinya Viera memiliki beberapa teman-teman yang baik, ya? Aku tidak pernah berpikir salah satu dari teman-temannya mengambil risiko untuk datang ke sini hanya untuk menyelamatkannya. Aku harus mengatakan bahwa aku benar-benar terkesan dengan kalian berdua. Dua orang manusia mampu mengalahkan sekitar 100 pasukanku. " ujar Ikha sambil tersenyum.
"Jangan banyak berbicara. Beritahu kami dimana Viera sekarang! " Virza menggeram marah. Mendengar gertakan Virza, Ikha justru tertawa dan menggeleng.
"Kau pikir aku akan memberitahu kalian keberadaannya begitu saja? Kau tahu, aku menyukai permainan. Jadi, aku akan memberikan teka-teki. Jika kalian mampu menjawab, maka aku akan mengatakan kepada kalian di mana Viera berada. " ucap Ikha menjelaskan.
"Deal!" seru Virza menerima tantangan itu.
__ADS_1