Paradox

Paradox
Chapter 16 : Team Omega


__ADS_3

Ditengah obrolan, tiba-tiba seseorang muncul di depan meja mereka. "Apa kabar, Nabilah."


"Sonia!?" seru Nabilah dengan ekspresi kaget.


"Tidak perlu sekaget itu juga, kan?"


balasnya.


"Datang satu ekor lagi!"


Ucapan sinis William membuat Sonia menoleh padanya. "Pria muda, bau mu seperti..."


"Seperti vampir maksudmu?" ucap William cepat.


Sonia segera menatap Nabilah. "Kau bergaul dengan vampir sekarang?"


"Enak saja. Tentu saja aku tidak sudi bergaul dengan kelelawar itu. Aku di sini karena pacarku. " jelas Nabilah.


Sonia lalu menatap Agra dan tersenyum. "Jadi kau yang bernama Agra."


Agra tersentak kaget lalu menjawab "B-Bagaimana kau tahu namaku?"


"Sebelum itu, izinkan aku memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama ku Sonia Gandhi, serigala Beta. " ujar Sonia memperkenalkan diri.


"Tolong jangan memulai pertengkaran denganku. Aku sudah cukup lelah dengan Nabilah saja. Aku tidak tahan jika menghadapi satu lagi." William mencoba memperingatkan Sonia.


"Jadi Sonia, apa yang kamu lakukan di sini? Kamu tidak bermaksud menyelesaikan perintah yang kamu terima, kan?" Tanya Nabilah dengan kening berkerut.


"Perintah apa?" Tanya Virza.


Sonia kemudian duduk sendiri di kursi kosong dan menjelaskan. "Yah, awalnya aku mendapat perintah dari serigala Alpha untuk melenyapkan Agrata."


Mendengar pernyataan itu, semua orang berdiri dari kursi mereka kecuali Nabilah. Jeje dengan cepat meraih pistol yang dibawa Virza dan menodongkannya pada Sonia.


"Tunggu. Tolong biar kan aku menyelesaikan penjelasanku. " ucap Sonia cepat.


"Setelah mendengar pernyataan mu? Aku tidak berpikir begitu." Virza sedikit menarik pedang dari tajam. sarungnya dan menatap Sonia


"Hei hei. Santai dan duduklah. Biarkan dia menyelesaikannya. " ucap Nabilah meyakinkan.


Setelah semua orang duduk kembali, Sonia akhirnya melanjutkan. "Tadi aku bilang awalnya aku mendapat perintah untuk melenyapkan Agrata, tapi aku tidak akan melakukannya. Aku akhirnya sedikit beradu pendapat dengan Alpha karena itu. "


"Seluruh klan kami pernah beradu pendapat dengan Alpha sebelumnya. Bahkan, tidak satupun dari kami menyukainya sebagai pemimpin sama sekali. Dia seperti seorang diktator. Alasan kenapa kalian semua masih mematuhinya karena kalian semua terlalu takut untuk melawannya. Kalian harus belajar untuk mandiri. Lihatlah aku. Bebas dari kediktatoran! " ucap Nabilah.


"Aku mengerti apa maksudmu, Nabilah. Itulah sebabnya sekarang aku berada disisimu. Aku ingin mandiri juga. Jadi, aku tidak akan menyerang gadis itu. Jangan khawatir. " jelas Sonia.


Lalu apa yang kamu lakukan di sini? Tanya Nabilah.


"Aku di sini untuk memperingatkanmu, Nabilah. Alpha sudah mengirimkan Team Omega dan mereka sekarang sedang menuju ke sini. " Jawab Sonia.


Nabilah tiba-tiba mulai tertawa. "Team Omega? Maksudmu team nya Violeta? Mereka itu lemah! Pada dasarnya hanya Violeta satu satunya yang memiliki kemampuan dalam team. Yang lain hanya sampah!"


"Kau tampaknya cukup percaya diri tentang hal ini, Nabilah." ucap Jeje.


"Yah, ku rasa bahkan Virza bisa membunuh mereka cukup dengan pisau bedah nya." ucap Nabilah sebelum tertawa lagi.


"Nabilah, ini serius." ucap Sonia datar.


Nabilah segera berhenti tertawa dan mendesah. "Violet sekarang berpihak penuh pada Alpha. Itu karena Alpha baru-baru ini telah mengubah kepribadiannya. Sekarang dia seperti budak setia Alpha."


"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Gracia.


"Benar. Jadi, Gracia dan Agra kalian pulang duluan. Mereka bisa sampai di sini kapan saja. Kau juga, kelelawar. Jangan mengganggu. Lebih baik kau pulang dan tidur saja sana. Ini masih siang hari." Nabilah mengatakan sambil menggerakkan tangannya bermaksud mengusir William.


"Virza dan Jeje juga. Ini bukan hal yang bisa dihadapi manusia." lanjut Nabilah.


Jeje mendengus. "Heh. Kau lupa siapa kami? Melawan zombie itu lebih sulit daripada manusia serigala."


"Benar. Kau tadi bilang sendiri aku


bahkan bisa mengalahkan mereka cukup dengan pisau bedah saja." lanjut Virza menambahkan.


"Hee.. Kata kata dari orang yang bahkan melarikan diri dari zombie? "Nabilah tersenyum mengejek pada Jeje.


Jeje tersentak dengan ekspresi canggung. "Oi Oi. Tadi itu karna aku kehabisan peluru. Sementara sekarang aku sudah mendapatkannya." Jeje mengangkat pistolnya.

__ADS_1


"Lebih baik jika banyak orang dari pada kau sendirian, Nabilah. " ucap Virza. Nabilah akhirnya mendesah pasrah.


"Baiklah, baiklah."


Agra segera menautkan lengannya pada lengan William. "Yah, karena Nabilah memintamu untuk pulang, itu berarti kau tidak benar-benar diperlukan di sini. Jadi, kenapa tidak datang ke rumahku sekarang dan ngobrol? "


Nabilah segera berubah pikiran. "Baiklah. Kau tetap tinggal di sini, kelelawar. Kau tidak harus pergi. "


"Ayo lah, Nabilah! Kalian bertiga sudah cukup untuk menghadapi Team Omega itu, karena kamu bilang mereka lemah. Aku hanya akan sedikit mengobrol dengan William, itu saja. " pinta Agra.


"Baiklah! Tapi pastikan ketika aku pulang, kelelawar itu sudah tidak ada." ucap Nabilah memperingatkan.


Gracia, Agra dan William pun pergi meninggalkan tempat itu.


"Sonia, kau tetap disini juga? Apa kau tidak takut dicap sebagai pengkhianat?" Tanya Nabilah.


"Sekarang aku di sisimu, Nabilah." jelas Sonia. Saat itulah 4 perempuan muncul di depan mereka.


"Yah, Nabilah, sudah seminggu sejak kita terakhir bertemu. Kau tampaknya sudah siap menyambut kunjungan kami. Sepertinya seseorang membocorkan informasi ini. Kau bahkan membawa beberapa teman untuk bermain bersama. Yah, aku membawa timku untuk bermain juga. "Ucap Violeta.


"Ini kah Team Omega? Benarkah mereka bisa bertarung? Mereka terlalu lucu." Jeje tertawa melihat anggota team Violet yang terlihat lucu seperti anak-anak.


"Sonia! Kau mengkhianati kami juga?" teriak Violeta.


"Aku tidak mengkhianati siapa pun! Aku hanya berdiri sendiri! Kau juga harus, Violet. Aku tahu kau tidak pernah menyukai Alpha. " ujar Sonia.


"Diam! Di mana pria itu, Nabilah? "Teriak Violet.


"Dia tidak di sini. Jika kau ingin berburu, lawan kami dulu! " balas Virza berteriak juga.


Violet menyeringai, "Baiklah, kalau begitu. Ayo kita pergi ke tempat yang lebih tenang untuk bertarung."


Mereka kemudian menuju sebuah bangunan kosong yang letaknya cukup jauh dari taman. Itu adalah tempat yang sempurna untuk pertempuran.


"Bagaimana kalau kita bertarung dalam tim, Nabilah?" usul Violet.


"Violet, kau tidak serius dengan pertarungan team, kan? Semua orang tahu anggota team mu lemah. "Nabilah tersenyum mengejek.


"Diam kau, Nabilah! Kita lihat saja!" Teriak Violet.


"Aku duluan." Virza menawarkan diri.


Seorang gadis pendek bertubuh sedikit tambun melangkah maju lalu berubah menjadi serigala berbulu coklat dan berjalan ke arah Virza lalu tertawa."Seorang manusia.. Sepertinya kau bisa jadi makananku setelah ku hancurkan tubuhmu!"


Virza hanya menjawab dengan senyuman. Serigala itu kemudian melompat ke arahnya, mencoba untuk memukulkan kakinya pada Virza. Dengan gerakan cepat Virza mengelak ke samping dan menarik keluar pedangnya dari sarungnya. Virza kemudian mengayunkan pedangnya garis miring mengenai punggung serigala. Meninggalkan luka sayatan yang cukup panjang dan dalam pada punggungnya. Serigala melolong kesakitan saat darah terus mengalir tanpa henti dari punggungnya yang terluka. Ia kemudian roboh ke lantai, tak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah. Mulut Violet melongo melihat adegan itu.


"Sebagai seorang dokter, harusnya kau mengobati bukan melukai, Virza." Kata Nabilah.


"Yah, saat ini di rumah sakit tidak banyak yang harus ku obati. Jika dia datang ke rumah sakit dalam keadaan hidup, mungkin aku akan mengobatinya. " Virza berkata dengan santai.


"Dasar dokter gila! "keluh Jeje, tapi Virza hanya mengangkat bahunya acuh.


"Grace! " seru Haruka lagi.


Kali ini seorang gadis yang bertubuh tidak jauh beda dengan Angel maju dan langsung berubah menjadi serigala berbulu kuning.


"Kali ini biar aku yang maju, Nabilah." Sonia berjalan santai dengan kedua kedua tangan di dalam saku.


Nabilah mengangguk. "Terserah kau saja. Tapi sebaiknya kau kontrol kekuatanmu."


"Yah, aku tahu. Dia terlalu lemah."


Mendengar hal itu, serigala berubah marah lalu menerkam ke arah Sonia. "Jangan sombong kau!"


Tanpa perlu berubah, Sonia berlari cepat hingga tiba-tiba sudah berada di samping serigala itu, kemudian menendangnya sangat keras hingga serigala terlempar menabrak dinding.


Haruka menggeram marah. Kali ini, ia mendorong seorang gadis bertubuh tinggi kurus untuk maju.


"Kau Selanjutnya, Feni!"


Gadis itu langsung berubah menjadi serigala berbulu hitam. Sementara itu Jeje juga berjalan maju. Serigala itu tertawa melihat Jeje. "Seorang manusia lagi!? Kau pasti bercan.."


Jeje segera membungkam serigala itu dengan dua tembakan yang tepat mengenai kedua kakinya, membuatnya jatuh ke lantai, tidak mampu berdiri lagi. "Wow, kau benar, Nabilah. Mereka lemah." Seru Jeje cukup terkejut. "I-Itu tidak adil! Dia bahkan belum bersiap!" protes Violet.


Selanjutnya, Nabilah berjalan ke depan sambil meretakkan jari dan mengukurnya. "Tinggal kita saja, Violet."

__ADS_1


Violet melihat jam tangannya dan mulai menyeringai keji. "Ini sudah satu jam. Sepertinya aku tidak perlu bertarung sama sekali. Perburuan sesungguhnya telah dimulai.


Nabilah segera menerkam Violet, menjepitnya ke bawah. "Apa yang kau bicarakan, Violet? Alpha mengirim team mu untuk berburu! "


Violet tiba-tiba tertawa. "Oh, kau salah Nabilah. Teamku hanya umpan untuk membawa mu dan teman-temanmu menjauh dari gadis itu. " Mata Nabilah melebar ngeri dengan pernyataan Violet.


"Apa !? Aku tidak tahu tentang hal itu!" Sonia mulai bersuara.


"Itu karena Alpha sudah menduga pengkhianatanmu. Jadi kau tidak diberitahu tentang rencana ini. Sekarang sudah terlambat untuk menyelamatkan gadis itu. jelas Violet tersenyum sinis.


"Kau menipu kami! Itulah alasan kenapa kau bersikeras dengan pertarungan team, untuk membuang-buang waktu kami di sini! "Nabilah menggeram marah.


...***...


"Jadi, Agra, kau mengundangku ke sini untuk mengobrol tentang tips fashion, kan? Apa yang ingin kau tahu?" Tanya William.


"Yah... Sebelum itu, ayo kita membahas tentangmu dulu. " ucap Agra.


"Aku? Apa yang harus dibahas tentangku, Orang bodoh?"


"Kau merahasiakan sesuatu, bukan?"


Pada saat ini, William tampak bingung dengan pernyataannya. "Maaf, aku tidak mengerti apa maksudmu, Agra"


"William, kau tidak bisa berbohong padaku. Aku bisa melihat melalui pikiranmu. Kau tahu apa yang aku bicarakan. "


William terdiam menatap lantai, tidak ingin menatap mata Agra. Agra kembali berbicara. "Jadi apa yang akan kau lakukan dengan Gracia, William?"


"Aku .. aku tidak yakin tentang hal ini."


"Kau harus menjelaskan hal ini kepadanya sebelum terlambat. Kau tahu bagaimana perasaannya padamu, kan? Dia menyukaimu."


"Ya. Aku sadar dengan perasaannya terhadapku. Ini lah alasan kenapa aku tidak yakin apa yang harus dilakukan."


"William, Gracia sudah seperti saudara bagiku. Aku tidak ingin melihatnya terluka karena ini. Kau harus bertindak cepat.


"Jangan khawatir, Agra. Beri aku sedikit waktu untuk memberitahukannya. "


"Baiklah. Aku senang kau akan melakukannya, William." Agra mengangguk.


"Aku mau ke toilet sebentar." ujar William sambil berjalan sendiri ke toilet.


Begitu Agra memasuki toilet, terdengar gedoran keras di pintu masuk disusul suara teriakan ketakutan di luar pintu. "Tolong! Biarkan aku masuk! Biarkan aku masuk! Seekor serigala mengejarku! "


Tanpa ragu-ragu, Agra bergegas menuju pintu dan membukanya. Seorang pria muda kemudian bergegas masuk ke dalam rumah dan membanting pintu tertutup lalu menguncinya. Ia jatuh terduduk di lantai, terengah-engah dan menggigil ketakutan. Agra membantunya berdiri dan menuntunnya menuju sofa lalu mendudukkannya.


"Siapa namamu? Apa yang terjadi?" Tanya Agra.


"N-Nama k-ku Steven juhandar..


Aa-ada serigala m-mengejar k-ku..." Pria itu menjawab masih dalam keadaan pembekuan.


"Jenis serigala Apa?" Tanya Agra lagi.


"Dia memiliki bulu emas dengan mata merah menyala." Jawab pria itu.


"Bulu emas? Mata merah? Kurasa Nabilah pernah mengatakannya padaku tentang ini. Ini pasti serigala Alpha. Baiklah. Tetaplah disini, kau akan aman. " ucap Agra pada gadis itu yang masih menggigil ketakutan. Tiba-tiba telepon Agra berdering.


"Agra! Kamu dimana? Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu terluka?" suara panik Nabilah terdengar dari sisi lain telepon.


"Tidak. Aku di rumah sekarang. Tapi aku membiarkan seorang gadis masuk ke dalam rumah."


"Kamu melakukan apa !?"


"Dia bilang ada serigala berbulu emas dan mata merah mengejarnya. Aku pikir itu adalah serigala Alpha."


"Siapa namanya?"


"Dia bilang Maulidya Djuhandar."


Nabilah tiba-tiba terdiam sejenak. "Di mana kelelawar, Gaby?"


"Dia di toilet sekarang."


"Baiklah. Gaby, aku ingin kau keluar dari rumah sekarang."

__ADS_1


"Tapi serigala Alpha ada di luar!"


"Gaby! Maulidya Djuhandar adalah serigala Alpha!"


__ADS_2