
"Karena ... aku mencintainya. " ucap Virza, dengan suara sedikit pelan namun masih bisa didengar jelas. Mata Vi melebar mendengar pengakuan Virza.
"Virza ". guman Viera menatap Virza yang menunduk.
"Kau apa?" seru Ikha.
Virza menegakkan tubuhnya dan menatap pada Viera. "Aku cinta pada mu Vi! Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu menderita sendirian lagi." teriak Virza. Vi yang mendengarnya semakin menangis.
Virza melirik pada Jeje yang juga terengah-engah, sesekali menembak zombie tapi sudah tidak beruntun seperti sebelumnya. Kembali ia menatap Vi yang sedang menangis. Ia memejamkan mata sebentar lalu tangan kirinya masuk ke saku jaket dan mengeluarkan sesuatu.
Jeje yang melihat Virza akhirnya bersuara "Kamu yakin akan menggunakannya?"
Virza mengangguk "Tidak ada jalan lain." Ucapnya singkat.
Virza menatap botol kecil di tangannya. Ada perasaan ragu juga takut pada dirinya, namun terdengar isakan tangis dari wanita yang ia cintai, membuatnya membulatkan tekat. Setelah tutupnya terlepas, Virza langsung menenggak habis cairan biru pada botol itu.
Hening. Tidak ada yang terjadi setelah Virza meminum serum itu. "Tidak ada perubahan apa pun. Apa serum ini tidak bekerja." ujar Virza heran. Jeje, Vi bahkan Ikha pun Tidak mengatakan apa-apa.
Tapi tiba-tiba wajah Virza mengeras. Tangan kirinya mencengkram baju tepat didadanya. Virza jatuh berlutut dan mulai mengerang kesakitan.
"VIRZA!!??" teriak Vi dan Jeje bersamaan.
"Virza, hoi! Apa yang terjadi?" tanya Jeje kawatir. Ia ingin mendekat, namun Zombie di sekitar nya membuatnya tertahan. Ia hanya bisa menatap khawatir pada Virza yang masih mengerang dan berteriak kesakitan.
Berbeda dengan di tengah-tengah pertempuran, gadis yang bertarung di bagian luar terlihat mudah mengalahkan zombie. Dengan santai ia menebas setiap zombie yang dapat ia jangkau. Hingga terdengar sebuah teriakan memilukan dari bagian tengah membuat pergerakan zombie berhenti lalu kembali ke kerumunan.
Bingung dan penasaran ia mengeluarkan sepasang sayap dengan warna berbeda, hitam dan putih. Gadis itu melayang mendekat hingga bisa melihat apa yang terjadi disana. Cukup lama ia melayang dalam gelap menyaksikan semua yang terjadi. Ia tersenyum kemudian terbang pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah beberapa saat, Virza yang tadi mengerang kesakitan kini berdiri diam dengan kepala menunduk. Ia tidak bergeming bahkan saat salah satu zombie mendekat dari belakang dan menggigit bahu nya, ia masih tetap diam tidak bergerak.
__ADS_1
Virza mengangkat wajahnya dan melirik tajam wajah busuk zombie yang menggigitnya. Dengan gerakan cepat ia menusukan pedang di tangan kanannya menembus wajah zombie itu. Gigitannya terlepas, Virza menarik paksa pedangnya hingga wajah zombie itu terbelah.
Virza hanya menatapnya tajam lalu beralih pada zombie lain. Ekspresi Virza kini begitu dingin, bahkan setelah mendapatkan gigitan zombie yang seharusnya bisa membuatnya tewas. Namun kini ia seperti tidak merasakan sakit apa pun.
Ikha tampak sangat tertarik dengan perubahan Virza dan mulai bertepuk tangan dan tertawa. "Ini sangat menarik dan menghibur. Nah, selanjutnya apa yang akan terjadi!"
Setelah perubahan yang terjadi, Virza seolah mendapatkan kekuatan tambahan. Virza kini sangat menakutkan, menebas zombie tanpa ekspresi dan rasa sakit saat mendapatkan serangan balik. Jeje meski bingung dengan perubahan Virza tapi tidak ingin bertanya dan ikut membantu mengalahkan semua zombie.
Waktu telah bergulir, pertempuran memasuki babak akhir. Hanya ada 10 zombie tersisa. Virza menebaskan pedangnya, menjatuhkan 5 Zombie sekaligus. Dilanjut tembakan beruntun dari Jeje merobohkan sisanya.
Jeje lalu jatuh terduduk, terengah-engah. "K-kita berhasil..." gumamnya lelah. Sementara Virza masih berdiri dan juga terengah-engah. Tapi dari ekspresi wajahnya, ia sudah kembali seperti sebelumnya.
Jeje langsung bangun dan berdiri disamping Virza ketika mendengar Ikha bertepuk tangan gembira.
"Good job!! Kalian semua hebat!! Woooooo !!!!! "Ikha berteriak aneh.
"Baiklah. Sekarang biarkan Viera keluar. " pinta Virza.
Virza kemudian mengulurkan tangannya pada Viera. "Ayo, Vi. Ayo kita pulang."
Ikha segera melompat ke arah lengan Virza, mencoba untuk memotongnya dengan tangannya sebelum Jeje berhasil menarik nya mundur.
"Hei! Kau tidak menepati janjimu! "Teriak Jeje marah.
"Aku bilang aku akan membiarkan dia keluar dari kurungan. Aku tidak pernah mengatakan dia bisa pergi. " Kata Ikha.
"Kau menipu kami!" Teriak Virza.
Vi kemudian memandang mereka. "Tidak apa-apa. Aku tidak ingin menimbulkan masalah lagi untuk kalian berdua. Pergilah"
__ADS_1
"Vi, kamu tidak bisa melakukan ini kepada kami. Kami pergi sejauh ini untuk menyelamatkannu! Kau sudah dengarkan pengakuan Virza. Dia sudah rela melakukan apa pun hanya untuk menyelamatkan mu. Dia rela menjadi buronan dari Helsing hanya agar memiliki senjata untuk menyelamatkanmu. Dia rela hampir mati berkali-kali. Hanya demi dirimu Vi! Dia sangat mencintaimu!" Jeje berteriak panjang lembar.
Virza dan Vi kini saling tatap dalam diam. Virza menatap Vi dengan penuh harap. Sementara Vi menatap Virza dengan wajah berlinang air mata.
"Vi, kumohon. Kembalilah bersamaku. Aku sangat mencintaimu." ucap Virza lembut.
Setelah merenung untuk beberapa saat, Ikha akhirnya berkata "Adegan ini cukup mengharukan. Kalian memang sangat menarik. Baiklah, bagaimana kalau kita lakukan satu pertandingan final."
"Katakanlah!" ucap Virza cepat.
"Vi. Aku akan member mu kesempatan untuk pergi. Tapi ini semua tergantung pada pilihan yang akan kau buat. Jadi saat ini, Vi yang akan jadi pemain, dan kalian berdua menjadi penonton. " ujar Ikha. Vi mengangguki usulan Ikha.
"Kau memiliki dua pilihan, Vi. Pilihan pertama, kau akan diizinkan untuk pergi dari tempat ini, tetapi kau tidak akan mendapatkan kembali salah satu kenangan berhargamu. Pilihan kedua, aku akan memberikan kembali semua kenangan yang selama ini kau cari tetapi kau harus tinggal di sini selama-lamanya. Tentukan pilihanmu. " ucap Ikha menjelaskan.
Vi kemudian tersenyum pada Ikha. "Ikha, aku pikir kau sudah membuat kesalahan di sini. Sejak awal tidak ada yang namanya dua pilihan. Selalu hanya ada satu pilihan. Sejak aku bertemu Virza dan Jeje, aku sudah berpikir banyak. Mereka bersedia untuk pergi sejauh ini hanya untuk menyelamatkan zombie lemah seperti ku. Mereka mempertaruhkan nyawa untuk datang ke sini dan bermain dengan permainan kecil milikmu. Dan harus aku akui, aku juga mencintai Virza. Bersamanya lah aku akan menjalani masa depan. Siapa yang butuh kenangan? " Vi menoleh pada Virza dan tersenyum.
Ikha lalu tersenyum dan mengangguk paham. "Baiklah, kalau begitu. Aku pikir ini perpisahan."
Vi kemudian membungkukkan badan.
"Terima kasih, Tuanku. Suatu saat kita akan bertemu lagi."
"Erm.. Tunggu .. Kau mengampuni kami begitu saja? Setelah kami membunuh semua tentaramu." Tanya Jeje.
"Apa? ini? Ini hanya sebagian kecil dari jumlah zombie yang aku miliki. Aku masih memiliki jutaan zombie yang mengintai dalam kabut di sana. " Kata Ikha sambil menunjuk daerah berkabut di belakangnya.
"Ayo kita pulang, Vi." ajak Virza mengulurkan tangannya. Viera tersenyum lalu meraihnya. "Aku akan memperkenalkanmu pada adikku. Kau pasti menyukainya."
Vi mengangguk. Kini mereka berjalan bersama dan bergandengan tangan menuju pintu keluar. Jeje mengejar keduanya hingga berjalan disamping mereka.
__ADS_1
Ikha memandang mereka keluar melalui dinding dan tersenyum puas. "Vi.. Sepertinya akhirnya kau menemukan sesuatu yang lebih penting daripada kenangan berhargamu. Semoga beruntung di dunia luar. "