
"Terima kasih Tuhan, kalian datang tepat waktu!" Agra bernafas lega dengan kehadiran William dan Gracia yang tiba-tiba.
"Loh, ka Jeje?!" Gracia menatap kaget wanita yang berdiri di samping Agra.
"Gracia. " balas Jeje singkat.
"Kalian saling kenal?" tanya Agra. Keduanya mengangguk bersamaan.
"Dia temennya ka Virza. Ka Jeje kok bisa ada disini?"
"Ceritanya sedikit rumit Gre." ucap Jeje menjawab pertanyaan Gracia.
Sementara di tempat pertarungan "Pergilah, vampir! Aku tidak butuh bantuan apa pun darimu!" seru Nabilah.
"Seperti itukah perkataan dari serigala yang hampir saja digigit oleh zombie! Kau seharusnya berterima kasih padaku! Aku baru saja menyelamatkan hidupmu! " balas William terdengar marah.
"William, hati-hati!" Gracia tiba-tiba berteriak.
Nabilah melihat zombie hendak meraih William dari samping, segera menggunakan kaki belakangnya untuk menendang William pergi dengan keras. Tentu saja zombie itu kehilangan target, namun tendangan itu mengirim William terbang lebih dari 20 meter.
"Kau harus berterima kasih padaku. Aku menyelamatkan hidupmu. " ucap Nabilah sinis.
William mengerang kesakitan sebentar, kemudian berdiri dan membersihkan punggungnya kemudian memelototi Nabilah. "Kau melakukannya dengan sengaja! Kau kan bisa menendang zombie nya, bukan aku!"
"Memang kenapa kalau aku melakukannya dengan sengaja? Apa yang akan kau lakukan? Memanggil batman? " Nabilah menjawab dengan sinis.
"Kalian berhenti berdebat! Mereka bangun lagi! " seru Agra.
"Pulang dan tidur saja sana, vampir! kelelawar seharusnya nokturnal! " ucap Nabilah.
"Tidak akan. Aku hanya mengikuti keinginan Gracia untuk membantu, jika tidak! Aku tidak sudi melakukan ini! " ucap William marah.
"Jadi tidak perlu kau lakukan. Lagipula kau tidak akan membantuku apa pun dan kau malah mengganggu pertempuranku. Minggir saja sana! " ucap Nabilah sambil terus menyerang zombie, menghindari gigitan mematikan mereka dan menendang mereka pergi sampai William mengganggu lagi dengan tendangan ke zombie yang menyerang Nabilah.
"Sudah kubilang untuk pergi dari sini! Apa kau tuli?" protes Nabilah.
"Kau tidak bisa melakukan ini sendirian! Melawan Zombie terlalu sulit! Jika kau ingin mati cepat, lakukan saja! Aku TIDAK PEDULI! Tapi cobalah berpikir tentang Agra sejenak. Bagaimana jika kau benar-benar teluka parah oleh zombie? Siapa lagi yang akan berada di sampingnya untuk melindunginya, hah? Coba kau pikirkan bagaimana perasannya? JADI BERHENTILAH BERTINDAK SEMAUNYA SENDIRI DAN MENYOMBONGKAN DIRI UNTUK SEKALI SAJA !!" William berteriak keras pada Nabilah.
Nabilah teringat lalu menoleh pada Agra.
"Nabilah, kumohon .. aku tidak ingin kehilanganmu.." ucap Agra.
Setelah beberapa saat berpikir, Nabilah akhirnya menyerah dengan pernyataan William. "Baiklah baiklah! Kita akan bekerja sama. Tapi jangan memperlambatku, atau kau akan mati, kelelawar!'
William akhirnya tersenyum dan berkata, "Kau membaca pikiranku."
__ADS_1
"Sekarang ayo kita lakukan!" Nabilah berteriak dan keduanya melompat menyerang bersama-sama. Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka, Nabilah dan William benar-benar setuju satu sama lain. Keduanya bertarung berdampingan, saling menjaga punggung masing-masing. Kerja sama tim mereka hampir... sempurna. Siapa sangka team berisi vampir dan manusia serigala bisa bekerja sama begitu baik? Dengan kecepatan William dan kekuatan Nabilah, mereka berhasil menangkis serangan zombie dengan lebih efisien dari pada hanya Nabilah saja. Namun, setelah tak terhitung pukulan pada zombie, masih tidak tampak akan melambat sama sekali.
William sudah terengah-engah. "Wow.. Zombie-zombie ini seperti tak terkalahkan! "
Nabilah pun mengangguk, "Belum lagi daya tahan mereka yang tak terbatas!" ia juga terengah-engah.
Gracia, yang menonton bersama dengan Agra dan Jeje dari jauh, memegang kepalanya keras. "Ayo, Gracia! Berpikir! Pikirkan sebuah cara!"
"Cepat hubungi Virza!" seru Jeje.
Gracia mengangguk langsung mengambil teleponnya. Tidak menunggu lama, panggilannya dijawab.
"Halo?"
"Kak, kakak dimana sekarang?" tanya Gracia.
"Ada di rumah sakit."
"Kakak cepat datang ke taman kota tidak jauh dari rumah sakit kakak." Ucap Gracia cepat.
"Ada apa? Kenapa suaramu terdengar panik?"
"Ada bahaya kak. Kakak cepat.. " belum selesai Gracia berkata, Jeje segera merebut telponnya.
"Tidak usah bertanya. Cepat datang kesini!" ucap Jeje sedikit berteriak.
"Dan jangan lupa bawa pedang dan senjatamu."
Jeje langsung menutup telponnya tanpa menunggu respon Virza, lalu mengembalikan telepon milik Gracia.
"Ini buruk. Hanya ada satu cara untuk mengalahkan mereka. Yaitu menggunakan kelemahan dari zombie! " keluh Nabilah.
"Ya. Sayang sekali kita tidak memiliki sesuatu yang berbahan perak ataupun senjata malaikat. Meskipun kita tidak bisa menyentuhnya juga. Tapi jika seperti ini terus, aku takut kita akhirnya kehabisan semua stamina kita. " Jawab William.
"Kalian, dengar! Kita sudah menelepon kakaknya Gracia! Dia memiliki pedang yang mampu mengalahkan zombie, dan sekarang sedang menuju kesini. Jadi usahakan kalian bisa bertahan sedikit lebih lama hingga dia sampai! " teriak Jeje.
"Sepertinya kita tidak punya pilihan selain bertahan sampai kakaknya Gre datang dan berharap stamina kita tidak terkuras sebelum dia datang." Kata William.
"Aku benci harus setuju denganmu, tapi untuk saat ini tidak ada pilihan lain selain menunggu bantuan. Meskipun aku tidak mengenalnya sekalipun." Nabilah mengangguk setuju dengan pernyataan William.
William melihat Nabilah terengah-engah akhirnya bertanya, "Ada Sudah lelah? Nabilah?"
"Itu mau mu! Aku bahkan sama sekali tidak terlihat lelah! Lihat aku! " Nabilah berkata sambil menerkam para zombie, menanduk kemudian berputar menyabet mereka menggunakan ekor dan pantat, membuat mereka terjatuh kesegala arah.
"Masih keras kepala seperti biasa." William tersenyum dan bergabung dengan Nabilah untuk bertarung lagi.
__ADS_1
Tanpa kenal lelah, keduanya terus mencoba menyerang dengan kekuatan penuh, tapi tetap tidak berhasil. Tidak ada yang bekerja pada mereka. Sudah begitu banyak pukulan dan tendangan mereka lakukan, namun para zombie tetap kembali bangkit lagi. Pada saat yang sama, mereka juga harus mencegah zombie pergi menuju Gracia dan Agra. Keduanya menghindari semua serangan kemarahan dari zombie dan akhirnya saling memunggungi satu sama lain.
"Sialan! Apa mereka tidak memiliki kelemahan selain perak atau senjata malaikat? Ini semua semakin mengganggu!" Keluh Nabilah.
Tiba-tiba, Gracia berteriak, "Aku punya ide! Mereka memiliki kelemahan! Tidak harus perak atau senjata malaikat! "
"Apa itu?" Tanya William.
"Punggung mereka! Coba patahkan tulang punggung mereka! Kemudian serang kaki mereka! Mereka mungkin tidak merasa sakit, tapi akan membatasi gerakan mereka! Manusia tidak akan bisa bergerak ketika tulang punggung dan anggota tubuh mereka rusak! Setidaknya ini akan cukup
memperlambat mereka hingga kak Virza sampai! " jelas Gracia.
"Wow! Itu menakjubkan, Gre!" William mengangguk, terkesan dengan kecerdasan Gracia.
“Jadi, tulang punggung mereka ya? Ini akan mudah.” Nabilah tersenyum lalu berubah menjadi bentuk lycan nya.
"Kau terdengar cukup percaya diri, Nabilah." William menyeringai.
"Kau terdengar sangat ketakutan, vampir." Jawab Nabilah mengejek.
"Jadi, kita mulai?" ucap William sambil Pembicaraan leher dan jari.
"Waktunya bermain, baby! "Nabilah menggeram senang kemudian keduanya berlari maju bersama-sama.
Nabilah memberikan pukulan penuh amarahnya pada salah satu zombie, lalu meluncur ke belakangnya dan melanjutkan dengan sebuah pukulan kuat di bagian belakang Zombie yang langsung mematahkan tulang punggung Zombie itu hingga jatuh ke bawah, zombie itu mencoba merangkak sebelum akhirnya Nabilah
mematahkan kedua tangan dan kaki nya juga, mencegahnya untuk bergerak lagi. Sudah pasti, para zombie tidak merasakan sakit sama sekali. Tapi itu cukup untuk mencegah pergerakan zombie seperti prediksi Gracia.
"Wow. Dia benar! Ternyata IQ 140 nya bukan omong kosong belaka." Yah, meski dengan nada angkuhnya, tapi sepertinya Gracia sudah mendapatkan rasa hormat dari Nabilah. Merasa bangga dengan dirinya sendiri, Nabilah beralih ke William untuk membual.
"Aku sudah mengalahkan satu."
Mata Nabilah melebar, William berdiri menampar kedua tangannya untuk membersihkannya dari debu dengan tiga zombie menggeliat dan mengerang di tanah di sekitarnya. William kemudian menoleh ke arah Nabilah dan tersenyum. "Lucu sekali, Nabilah."
"Jangan terlalu bangga kau!" teriak Nabilah sedikit malu karena kalah, bahkan saat dalam bentuk lycan nya.
"Tentu lycan jauh lebih kuat daripada vampir dalam pertempuran. Tapi dalam hal kecepatan? Aku tidak berpikir begitu." William lalu tersenyum sinis.
"Ok, kalau begitu. Ayo kita bersaing dan lihat siapa yang bisa mengalahkan Zombie lebih banyak." seru Nabilah menantang William.
"Aku minta maaf tapi aku takut kau akan kalah, Nabilah" William tersenyum penuh percaya diri.
“Ayo kita buat taruhan kalau begitu. Jika kau kalah, kau harus menjadi budak-ku selamanya!” usul Nabilah.
"Deal. Dan jika aku menang, kau akan mendengkur seperti kucing dan berlutut di depan ku, setiap hari selama sisa hidupmu." balas William.
__ADS_1
Nabilah menyeringai dan setuju. "Taruhan yang bagus! Laksanakan!"