
Kau mendengarku sebelumnya,
Namun kau mendengarku lagi.
Lalu aku hilang,
Sampai kau memanggilku lagi.
Jadi, apakah aku?" Ikha tersenyum penuh percaya diri.
Virza dan Jeje terus memberikan jawaban masing-masing lagi dan lagi, tapi tidak ada satu pun yang benar. Setelah tak terhitung usaha mereka berdua, kini hanya tinggal Jeje yang masih berusaha menjawab dan mulai memberikan jawaban aneh seperti alien, ibumu, nasi goreng, cumi-cumi dan seterusnya. Sementara Virza kini hanya berdiri diam dengan mata tertutup. Kemudian, dia akhirnya membuka matanya.
"Gema." Ucap Virza pada akhirnya.
"Jawaban yang benar." Ikha menganggukan kepalanya terkesan dengan kecerdasan Virza.
"Wow, Virza. Ternyata gelar doktermu tidak cuma nama. Kau memang pintar! " puji Jeje. Virza tidak membalas, hanya tersenyum bangga. Namun itu tidak lama. Virza menatap Ikha tajam.
"Nah kami menang. Sekarang tunjukkan di mana Vi berada!"
"Yah, kau berdiri di atas tubuhnya sekarang." ucap Ikha santai.
"Apa yang kau bicarakan?" Virza bertanya dengan kening berkerut.
Ikha kemudian menggerakan jari telunjuknya ke atas. Tanah di bawah mereka berdua mulai bergemuruh. Mereka segera melompat menjauh dan melihat sebuah sangkar perak muncul dari tanah dengan Vi berada di dalamnya, terengah-engah dan menjerit kesakitan.
"Vi!" Keduanya berteriak pada waktu yang sama.
"P-per.. g-gi.. dari s-sini..." Vi menjawab dengan suara begitu lemah.
"Tidak! kami tidak akan pergi tanpamu." Ujar Virza dengan suara keras.
"Biarkan dia keluar, dasar kau Zombie bodoh!" teriak Jeje.
Ikha lalu mengangguk. "Ok. Aku akan membiarkannya keluar.
"E-Eh?" Mereka berdua kini menunjukan ekspresi bingung.
__ADS_1
"Tapi hanya jika kalian mampu memenuhi persyaratan dari ku. Seperti yang ku katakan tadi, aku suka permainan. Ayo kita mainkan permainan hidup dan mati, dengan kalian berdua sebagai pemain dan Viera sebagai penonton. Kalahkan sekitar 300 pasukanku yang tersisa, dan dia akan keluar dari sangkar." Ujar Ikha menjelaskan.
"Kami menerima tantanganmu." Ucap Virza yakin. Jeje pun mengangguk.
Ikha kemudian bertepuk tangan.
"Bagus. Sangat bagus.. aku suka kalian. Kalian sangat menghiburku. Tapi .. Jika kalian tidak mampu melawan pasukanku, nasib kalian sudah jelas. Menjadi makanan zombie."
"Bagaimana kita bisa yakin jika kau akan menepati janjimu?" Tanya Jeje.
"Aku hanya ingin melihat seberapa jauh teman-teman bodoh Vi akan lakukan hanya demi menyelamatkan dirinya." Kata Ikha.
"K-ku m-mohon p-pergilah..." Vi berkata dengan sangat lemah.
"Tidak. Kami akan membawamu kembali! ". teriak Virza.
"Kalau begitu, jangan buang-buang waktu lagi dan biarkan permainan dimulai." Ikha menjentikkan jari sekali. Muncul sebuah singgasana terbuat dari kumpulan tulang di belakangnya. Ikha duduk di singgasananya, lalu tanah dibawah singgasananya meninggi, mengangkat singgasananya dan bergeser sedikit menjauh. Tanah dibawah sangkar perak juga mengalami hal yang sama, hingga kini sangkar tempat Vi di kurung berada di samping singgasana Ikha.
Ikha kemudian menggenggam tangan dua kali. Pasukan Zombie segera mengerang dan kembali menyerang mereka lagi.
"Kita lanjutkan pesta ini lagi!" Teriak Jeje semangat.
"Mereka terus saja datang! Aku mulai benar-benar lelah melakukan ini!" Jeje berteriak kesal. Sudah puluhan peluru yang ia habiskan, namun tampak seolah-olah jumlah zombie tidak menurun sama sekali.
"Hei, Virza! Aku akan menggunakan senjata utamaku sekarang! Pasti kan kau menjauh dari ku!" Jeje memperingatkan Virza sebelum ia menyarungkan kedua senapan semi-otomatis nya, lalu meraih senjata berukuran cukup besar di punggungnya.
"Tidak kusangka tiba saatnya aku menggunakannya. Sejak membelinya aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk menggunakan assault rifle ini." seru Jeje sudah menggenggam assault rifle nya dengan kedua tangan.
"WUHUUU!!! HAHAHA" teriak Jeje yang terus menembaki zombie secara acak.
Letusan beruntun yang dihasilkan senjatanya mampu menumbangkan zombie dengan jumlah besar dalam waktu singkat. Virza tentu saja langsung menghindarkan diri dari jangkauan serangan Jeje yang membabi buta.
"Wow! Senjatamu keren Je!" ujar Virza memuji. Jeje tersenyum mendengarnya.
Akan tetapi, Bahkan setelah Jeje menggunakan senjata terkuatnya, jumlah zombie memang menurun sedikit, tapi itu tidak cukup sama sekali. 300 Zombie tetap terlalu besar untuk seorang manusia.
Ikha duduk di singgasananya dan menoleh singkat pada sangkar Viera disebelahnya.
__ADS_1
"Teman-temanmu cukup kuat, Vi. Aku benar-benar terhibur oleh mereka. " Ikha berkata dengan penuh semangat. "Ah! Sepertinya kita kedatang tamu lagi. Apakah dia temanmu juga?!"
...***...
Di gorong-gorong gadis berambut pendek masih mengejar iblis tersisa. Hingga iblis itu berhenti terbang tepat didepan tembok. Sepertinya itu jalan buntu. Tanpa membuang kesempatan, gadis itu melayangkan sabit nya pada iblis itu. Dengan mudah iblis itu dikalahkan.
"Hah! Dasar iblis rendahan. Sangat lemah." keluh gadis itu. Lalu pandangannya tertuju ke samping. Seketika ia tercengang melihat sesuatu didepannya. Sebuah tembok terbuka memperlihatkan tempat yang sedikit berkabut dengan batu nisan di mana-mana. Terlihat ratusan zombie membelakangi nya. Sepertinya sedang mengerubungi sesuatu. Kemudian terlihat kepulan asap dan suara rentetan senjata jauh di tengah kumpulan zombie.
"Sepertnya ada yang sedang bertarung. Ikutan ah... kurang puas lawan 3 iblis lemah tadi. " guman gadis itu mulai melangkah mendekati kumpulan zombie sambil memanggul sabitnya di bahu kanan.
Menyadari kehadiran gadis itu, sebagian zombie berbalik dan menuju gadis itu. Gadis itu lalu berlari kemudian mengayunkan sabitnya, mengirimkan gelombang energi yang langsung merobohkan puluhan zombie sekaligus. Ada yang mati dan ada sebagian yang bangkit lagi. Yang bangkit lagi kembali menyerang gadis itu, ditambah beberapa zombie lain di belakangnya.
Gadis itu tersenyum dan tertawa "Hahaha.. Memang sangat hebat ketahanan tubuh zombie."
Gadis itu sedikit meregangkan otot lehernya dan tersenyum miring, lalu kembali menyerang.
...***...
Kembali ke tempat Virza dan Jeje bertarung. Serangan dari assault rifle Jeje memang hebat, mampu menumbangkan banyak zombie dalam waktu singkat. Namun, berbeda dengan saat menggunakan senjata kecil 1 yang memungkinkannya bergerak cepat, senjatanya kini membuat gerakan dan pertahanan Jeje jadi longgar. Beberapa kali ia kesulitan menghindar dari Serangan yang datang dari belakang. Alhasil kini tubuh Jeje sudah banyak terdapat luka dari cakaran zombie. Ditambah amunisi juga mulai menipis. yang dimiliki
Hal yang hampir sama dialami oleh Virza. Setelah ratusan kali tebasan pedang yang ia lakukan, kini ia mulai merasa dirinya bergoyang-goyang. Stamina nya sudah benar-benar terkuras. Berbagai luka pun sudah ia terima di tubuhnya. Meskipun stamina nya menurun, Virza tidak mau menyerah sama sekali.
"Aku tidak akan menyerah! Aku akan menyelamatkan Vi !! "teriak Virza.
"H-hentikan! K-kumohon ... pergi d-dari s-ini!!" dengan suara lemahnya Vi berucap sambil menangis melihat orang yang ia cintai sudah penuh luka.
"Tidak akan!!" Virza berteriak lagi.
kini ia mulai merasa dirinya bergoyang-goyang. Stamina nya sudah benar-benar terkuras. Berbagai luka pun sudah ia terima di tubuhnya. Meskipun stamina nya menurun, Virza tidak mau menyerah sama sekali.
"Aku tidak akan menyerah! Aku akan menyelamatkan Vi !! "teriak Virza.
"H-hentikan! K-kumohon ... pergi d-dari s-ini!!" dengan suara lemahnya Vi berucap sambil menangis melihat orang yang ia cintai sudah penuh luka.
"Tidak akan!!" Virza berteriak lagi.
"Aku penasaran .. Kenapa manusia sepertimu sampai melakukan hal sejauh ini yang bahkan bisa merenggut nyawa?" tanya Ikha heran.
__ADS_1
Virza terdiam beberapa saat. Terlihat ragu untuk menjawab.
"Karena ... aku mencintainya. "