Paradox

Paradox
Chapter 18 : alpha, Beta, and ace


__ADS_3

Setelah sekitar 10 menit berjalan tanpa henti, tanpa sadar Agra kini sudah berada jauh di dalam hutan. Kaki nya tidak mampu lagi untuk berjalan, hingga akhirnya ia pun jatuh ke tanah dan terengah-engah. Agra lalu meraih ponselnya untuk menelepon Nabilah, tapi karena dia di tengah hutan, tentu saja tidak ada sinyal. Dia kemudian bangkit berdiri, mencoba mencari jalan keluar dari hutan agar bisa mendapatkan sinyal. Pada saat itu lah, terdengar sebuah suara memanggilnya. "Yah, Yah, tidak ku sangka begitu mudahnya untuk menemukanmu."


Agra berbalik dan melihat sosok lycan dengan bulu emas dan mata merah menyeringai memperlihatkan gigi-gigi tajamnya. "K-kau! Bagaimana kau menemukanku di sini?" Tanya Agra terkejut.


"Kami manusia serigala memiliki penciuman yang sangat tajam. Selama aku pernah bertemu sebelumnya, aku akan selalu bisa melacak bau mu sampai kapanpun. " ucap Steven mencibir.


"A-Apa yang terjadi dengan William? Apa yang kau lakukan padanya ?!" teriak Agra ketakutan.


"Oh, vampir itu? Yah, dia cukup memberi perlawanan padaku, tapi dia masih terlalu lemah untuk bisa mengalahkanku. Mungkin aku bisa mengatakan bahwa aku baru saja mengakhiri penderitaannya. " Steven menyeringai, sementara Agra melebarkan matanya mendengar pernyataan itu.


"A-Apa ?! Kau sebaiknya tidak melakukan sesuatu yang buruk padanya! "


"Memangnya kenapa kalau aku melakukannya? Apa yang akan kau lakukan? Kau hanya manusia lemah. Apa yang bisa kau lakukan kepada manusia serigala, apalagi serigala Alpha? " geram Steven sambil melangkah lebih dekat dan lebih dekat ke Agra. Agra juga, mundur ke belakang selangkah demi selangkah sampai kakinya tersangkut oleh cabang pohon, membuatnya jatuh ke tanah.


"TOLONG! SESEORANG TOLONG!! " Agra berteriak sekeras yang ia bisa, berharap seseorang mendengar.


"Berteriaklah sepuasmu! Kau berjalan sendiri jauh ke dalam hutan. Tidak ada seorang pun di sini yang akan mendengar teriakanmu!" geram Steven yang sudah berdiri di depan Agra, menjangkaukan cakarnya untuk meraih leher Agra.


"Kami mendengarnya!" Sebuah teriakan terdengar dari belakang Steven, tepat saat Viera muncul di belakangnya dan mendaratkan gigitan di bahu kanan Steven kemudian mengoyaknya dengan seluruh kekuatannya. Steven menggeram kesakitan sebelum akhirnya meraih Vi lepas dan membantingnya ke tanah. Steven terhuyung ke belakang jatuh berlutut merasakan bahu kanannya yang sekarang pendarahan tanpa henti.


"Sialan, gigitan itu hampir membuat bahu kananku lepas! Dengan gigitan seperti itu, kau pasti zombie!" Steven mengumpat kesal.


"Memangnya kenapa kalau iya? Apa yang akan kau lakukan? Kau hanya serigala kecil lemah. " ucap Vi sinis menirukan Steven.


"Sialan !!" Steven berusaha untuk melompat ke arah Vi, tapi lebih dulu terdengar suara tembakan yang memaksanya menghindar dari target dan menghindari peluru pada saat yang sama. Virza muncul di belakang Steven, mengayunkan pedangnya ke bawah dan berhasil mengenai bahu kanan Steven lagi, membuatnya menggeram kesakitan untuk kedua kalinya. Steven kemudian mengayunkan cakarnya ke belakang, mencoba untuk memukul Virza tapi dapat dihindari dengan mudah. Tanpa di sadari, sebuah tembakan meluncur lagi kearah nya, membuatnya melompat ke belakang.


Steven kini berdiri menatap tajam Virza dan Jeje. Viera mendekati keduanya.


"Untung saja Vi datang disaat yang tepat, membawa mobil Virza. Jadi kita bisa pergi dengan cepat. Dan juga, alat pelacak yang ku pinjam dari organisasi Hellsing ini sangat membantu, karena bisa melacak setiap makhluk gaib yang pernah di temui sebelumnya. Inilah sebabnya kenapa kami bisa melacakmu sampai di sini. " Jeje berkata dengan bangganya sambil menunjukkan alat ditangannya.


"Pinjam? Kau tidak meminta ijin, jadi kamu mencuri nya, Jeje." Virza berkata dengan senyum jahilnya.

__ADS_1


"Oi, jangan mengataiku, Virza! Kau sendiri juga mencuri pedang itu!" balas Jeje. Virza memalingkan wajahnya, mengabaikan pernyataan Jeje. Sementara Vi hanya diam tersenyum.


"Oi, kalian ini berisik sekali!" sebuah teriakan terdengar dari belakang. Nabilah dan Sonia muncul dan bergabung dengan mereka.


"Kau benar-benar hampir menipu kami, Steven! Untungnya kami sampai di sini tepat waktu!" Nabilah menatap marah pada Steven.


Steven kemudian melotot ke arah Nabilah dan Sonia "Sonia, sekarang aku mencopot posisimu sebagai Beta! Sekarang kau akan dicap sebagai pengkhianat bersama dengan Nabilah!" Teriak Steven.


"Aku tidak peduli dengan keputusanmu itu! Kami akan mengakhiri aturanmu!" balas Sonia.


"Agra, di mana kelelawar itu?" Tanya Nabilah.


"Kau benar-benar peduli dengan vampir itu, Nabilah? Kau aib bagi manusia serigala! Jangan khawatir tentang vampire itu. Aku sudah memastikan bahwa dia tidak akan bangun lagi. " ucap Steven kemudian tertawa.


"Apa ?!" seru Virza, Jeje dan Viera pada saat yang sama.


Setelah hening sejenak, Nabilah akhirnya bersuara "Kalian! Bawa Agra pergi dari tempat ini. Virza, kau dokter kan? Pergi ke rumah Agra, cari kelelawar dan bawa ke rumah sakit."


"Aku akan tinggal di sini dan membantu." ucap Jeje.


"Tidak! Ini adalah masalah manusia serigala. Kau tidak perlu mengganggu. Aku akan menghadapinya bersama Sonia. " ucap Nabilah.


"Kalau begitu setidaknya biarkan aku berdiri di pinggir dan menonton. Jika sesuatu yang buruk terjadi, aku akan siap membantu." ucap Jeje bersikeras. Ia berjalan santai sekitar 10 meter kemudian berdiri bersandar pada sebuah pohon dan melipat kedua tangannya didada.


"Meski pun kalian melawanku bertiga, kalian tetap tidak akan bisa mengalahkanku!" geram Steven.


"Kau terlalu sombong, Steven!" seru Sonia.


Sonia lalu tersenyum pada Nabilah, "Kau memiliki beberapa teman yang hebat, Nabilah."


"Yah, begitulah. Meski aku baru bertemu mereka hari ini. Tapi mereka cukup baik."

__ADS_1


"Aku akan menghancurkan kalian berdua!" Teriak Steven.


"Dan aku akan menurunkanmu dari posisi serigala Alpha!" balas Nabilah berteriak. Nabilah dan Sonia langsung berubah menjadi bentuk lycan mereka dan melompat menyerang bersama-sama.


Sonia dan Nabilah mencoba serangkaian pukulan dan tendangan pada saat yang sama, tetapi berhasil diblok oleh Steven. Setelah beberapa saat terus memblok serangan, Steven berhasil menemukan celah untuk melompat ke belakang mereka berdua dan memberikan tendangan ganda pada keduanya, membuat mereka terlempar cukup jauh. Sonia kembali berdiri dan balas menyerang Steven dengan serangan cakar nya tapi masih tidak berhasil. Steven berhasil mencengkeram kedua lengan Sonia dan menyeringai. "Kau lemah, Sonia!" hina Steven sebelum akhirnya memberikan serangan kepala pada Sonia, membuatnya mundur beberapa langkah. Belum cukup dengan itu, Steven memberinya pukulan yang mengirimnya terbang 20 meter.


Tepat saat itu, Nabilah melompat menuju Steven dan mencoba dengan pukulan, tapi gerakan nya bisa dibaca dengan mudah oleh Steven yang kemudian mengelak ke samping, membuat Nabilah kehilangan target. Steven meraih ekor Nabilah dan melemparnya menuju tempat Sonia berada dan menabraknya. Keduanya pun terjatuh ke tanah.


"Dia terlalu kuat!" Nabilah menggeram. Luka di bahu kanan Steven menarik perhatian Sonia.


"Nabilah, kita coba menyerang bahu kanannya. Sepertinya dia terluka cukup parah oleh gigitan zombie dan serangan pedang perak. " usul Sonia.


"Ide bagus, Sonia." Nabilah menyeringai pada Sonia, kemudian keduanya berlari menyerang bersama-sama. Sonia mengayunkan cakarnya ke arah wajah Steven, tapi bisa dihindari dengan mudah. Hal itu memberikan Nabilah kesempatan untuk mendaratkan tinjunya pada perut Steven dengan kekuatan penuh. Steven terdorong mundur, meraih perut nya dan menggeram kesakitan.


"Apa? Itu aneh. Kenapa Steven sangat kesakitan pada perutnya? Ku pikir hanya bahu kanannya yang terluka. " tanya Sonia bingung.


Tiba-tiba Nabilah tertawa mengejek pada Steven "Jadi, sepertinya kelelawar benar-benar mampu memberikanmu cukup pukulan, ya? Aku harus mengakui bahwa aku sedikit terkesan padanya."


"Jangan mengejekku!" Steven berteriak sambil menerkam Sonia dan memberikan tendangan pada perutnya yang mengirimnya menabrak pohon. Dilanjutkan dengan mengayunkan cakarnya pada Nabilah. Nabilah berusaha untuk menghindari semua serangan mematikan itu, tapi pada akhirnya salah satu cakar Steven berhasil mendarat di wajah Nabilah, membuatnya terdorong mundur. Steven menggunakan kesempatan itu untuk meraih leher Nabilah dan membantingnya ke tanah dengan keras hingga ia batuk darah. Steven kemudian memukul wajah Nabilah berkali - kali, membuatnya menjerit kesakitan di setiap pukulan yang diterima. Tiba-tiba, Sonia sudah muncul di samping Steven dan mendaratkan tendangan yang membuat Steven terlempar beberapa meter.


Sonia mengulurkan tangannya pada


Nabilah. "Kau baik-baik saja?"


"Yah." Nabilah kembali berdiri dengan bantuan Sonia.


Steven kemudian mencibir keduanya. "Kalian berdua tidak pantas menyandang gelar Ace dan Beta dengan kemampuan kalian yang lemah seperti itu!"


"Nah, jika itu menurutmu, seharusnya kau tidak memilih kami sejak awal." balas Nabilah terdengar mengejek. Merasa dihina dengan pernyataan Nabilah, Steven segera melompat bermaksud menyerang mereka berdua. Nabilah dan Sonia, keduanya berdiri diam tanpa niat untuk menghindar.


Tepat sebelum cakar Steven mencapai wajah mereka, Sonia berteriak,

__ADS_1


"Sekarang!"


__ADS_2