
Setelah keluar dari gorong-gorong, ternyata matahari sudah mulai terbit. Tidak terasa mereka melakukan pertarungan semalaman. Saat ketiganya sampai di rumah Virza, sudah ada Gracia yang baru saja turun dari mobil.
"KAKAK!!!" Gracia langsung memeluk Virza erat. Tidak lama keduanya memisahkan diri. Pandangan Gracia kini tertuju pada Dua wanita di belakang Virza.
"Mereka siapa kak? " bisik Gracia. Virza menyadari kebingungan adiknya langsung menarik Gracia untuk mendekati mereka.
"Ini temen kakak yang kakak ceritakan kemarin. Namanya Jeje." ujar Virza menunjuk Jeje. Jeje mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
"Jeje." ucapnya singkat. Gracia lalu menyambut uluran tangan Jeje.
"Aku Gracia kak."
Virza kemudian menarik wanita di samping Jeje. "Dia seharusnya kamu tahu kalo kamu berhasil mendapatkan apa yang kakak minta."
Gracia memicingkan mata menatap kakaknya. "Ya, aku berhasil mendapatkannya. Tapi apa maksudnya aku harusnya tahu, sementara orang yang kakak cari itu udah meninggal lama kak... atau mungkin dia cucunya ya, mirip banget soalnya." Gracia melirik Viera yang sedang tersenyum manis padanya.
Virza hanya tersenyum dengan kebingungan Gracia. "Kakak sempat bilang kan, kakak akan menyelamatkan teman kakak dari dewa zombie ... dan teman yang kakak selamatkan adalah dia. Namanya Viera. Kamu boleh percaya atau tidak, dia adalah zombie... dan akan jadi kakak ipar kamu."
Mulut Gracia menganga mendengar penjelasan Virza. Jujur saja dia masih belum percaya dengan cerita kakaknya kemarin tentang zombie dan sekarang dia bertemu langsung? Terlebih lagi dilihat dari mana pun, sosok didepannya ini seorang wanita cantik, sangat tidak mungkin kalau dia zombie. Tidak ada kesamaan sedikitpun dengan zombie yang biasa ia lihat di film.
"Kakak tidak lagi bercanda kan?" Virza menggeleng. Gracia beralih menatap Vi.
"Kalau Kak Vi beneran zombie, kenapa dia tidak terlihat seperti di film atau anime yang sering aku tonton?" tanya Gracia lagi.
"Ada dua jenis zombie. Zombie normal seperti yang sering kamu lihat di film, ada juga zombie khusus yang bisa berfikir dan bertingkah layaknya manusia. Nah, aku adalah zombie khusus. " jelas Vi pada Gracia.
Gracia menggeleng pelan "Dunia ini sangat gila. Aku masih tidak bisa menerima semua ini. Lalu apa maksud kakak dengan dia akan jadi kakak ipar aku?"
"Karena aku cinta padanya. Sekarang dia kekasihku." ucap Virza tersenyum. Sementara Gracia jatuh terduduk diatas bangku teras rumah Virza. Ia semakin pusing dengan semua pernyataan kakaknya.
“Udah, jangan usah terlalu difikirkan. Sekarang mana pesanan kakak. "
Gracia mengambil sebuah amplop coklat besar dari dalam mobil dan menyerahkannya pada Virza.
"Nah Vi, aku punya sesuatu untukmu." ucap Virza menyerahkan amplop itu pada Viera.
"Apa ini?" Tanya Vi.
"Yah, aku sendiri belum tahu. Bukalah dan kamu akan tahu." ucap Virza tersenyum.
Vi mengeluarkan isi amplop yang ternyata sebuah kumpulan file. Mata Vi melebar shock melihat sampul file tertulis "Biografi Viera levania 1950-1970"
"A-Apakah i-ini ..." Vi kehilangan kata-katanya saat air mata mulai mengalir di pipinya.
"Aku meminta bantuan Gracia untuk mencari semua ini." Kata Virza.
Tangis Vi akhirnya pecah dan langsung memeluk Virza erat. "V-Virza ... K-kamu menemukan ini untukku..." Virza mengangguk dalam pelukan mereka.
"Kak Vi dulunya seorang aktris terkenal ketika masih hidup. Kakak meninggal dalam kecelakaan mobil. Ternyata, kakek aku dan kak Virza adalah dokter yang menangani kakak pada saat itu." jelas Gracia melihat keduanya masih hanyut dalam pelukan.
Virza melepas pelukan lalu menatap Viera. "Maaf saat itu dia tidak bisa menyelamatkan hidup mu."
Vi menarik Virza dan menciumnya penuh gairah, membuat Gracia menatap kaget dengan kejadian yang tiba-tiba itu. Jeje yang sedari awal hanya diam bersandar pada mobil Virza mendekati Gracia dan menutup matanya. "Anak kecil dilarang melihat."
Gracia menampik tangan Jeje dan memalingkan wajah dari pemandangan didepannya. "Aku udah 20 tahun tahu. Bukan anak kecil." ucapnya cemberut.
Vi melepaskan ciumannya dan tersenyum hangat. "Jika kakekmu berhasil menyelamatkan ku waktu itu, aku tidak akan pernah bertemu denganmu."
Virza meraih kedua tangan Viera dan menggenggamnya lalu bertanya "Vi, saat aku tidur sebelum kepergianmu.. Aku mendengar kamu mengatakan bahwa kamu jatuh cinta padaku. Apa itu benar? "
Vi mengangguk lucu.
Virza tersenyum melihatnya lalu kembali berkata. "Vi, kamu mungkin sudah mendengar pengakuanku .. tapi aku ingin mengungkapkannya lagi ... Vi, sejak pertama kali melihatmu terbaring di meja operasi, entah kenapa aku sudah mulai tertarik padamu. Meski kebersamaan kita singkat, tapi aku sudah yakin bahwa aku juga jatuh cinta padamu.. Mau kah kamu menjadi kekasihku dan hidup denganku selamanya?
Vi mendaratkan sebuah ciuman singkat lalu mengalungkan kedua tangannya dileher Virza.
"Aku mau"
***
__ADS_1
Seorang wanita cantik bertubuh mungil dan berambut panjang berjalan memasuki bangunan dua lantai yang terbilang cukup tua dibandingkan gedung lain yang lebih tinggi dan baru. Sepanjang jalannya ia tersenyum dan menyapa ramah setiap orang yang ia temui.
Namun ia merasakan ada yang janggal. Semua orang yang melihatnya tampak terkejut kemudian sedikit gugup dan ketakutan. Ketika berjalan di lorong, seorang wanita berkulit sedikit gelap keluar dari pintu tepat didepannya. Wanita itu kaget menatap orang didepannya dan segera berbalik hendak kembali masuk kedalam. Belum sempat ia memutar handle, wanita bertubuh mungil sudah memanggilnya.
"Rachel!" panggilnya dengan suara lembut namun tegas.
Wanita bernama Rachel itu berbalik menatap wanita yang kini tersenyum di buat-buat pada nya "Eh ibu ketua. Selamat pagi Bu!! Kapan balik Bu?!! " Sapanya canggung.
"Tidak perlu formal seperti itu."
"Hehe, Iya kak Andela." balasnya singkat tapi terdengar gugup. Andela yang melihat kegugupan Rachel
sama seperti semua orang yang ia temui, ia jadi curiga.
"Ada apa? Kenapa semua orang hari ini sangat aneh? Apa ada sesuatu yang salah denganku?"
"Eh!??... Tidak kok tidak. Kak Andela selalu sempurna dan bersinar selalu, hehe. " canda Rachel.
"Rachel! Aku tidak bisa ya dibohongin. Melihat tingkah kalian semua, aku tahu ada yang tidak beres saat aku pergi!" suara Andela mulai meninggi.
Rachel tertunduk ketakutan dengan nada tegas Andela. Ia menghela nafas lalu berbicara.
"Kak Andela janji tidak marah ya?" Andela mengangguk. "S-sebenarnya .. K-kita baru saja.. K-kecurian .. '
Suasanapun hening..
"APA!!"
Suara Andela menggelegar di lorong itu. Bahkan terdengar hingga kedalam beberapa ruangan di sepanjang lorong.
"Bagaimana bisa markas rahasia Helsing bisa dimasuki oleh seorang pencuri? Selama puluhan tahun belum ada yang pernah bisa melewati keamanan kita tanpa ketahuan." kepala Rachel nenunduk saat Andela mengomel marah.
"Maaf kak. Aku curiga ini tidak sendirian."
“Maksudnya?”
"Sepertinya dia memiliki rekan dengan kemampuan IT tinggi hingga mampu membobol sistem keamanan kita. Kami sudah berusaha menangkapnya saat dia kabur. Tapi kita kehilangan jejak. Bahkan salah satu Agent kita terluka saat mengejarnya."
"Sebuah serum zombie yang belum pernah di uji coba pada manusia dan pedang lama kakak yang dipajang di lab."
"Serum zombie? untuk apa pencuri itu mengambilnya." gumam Andela. Rachel hanya menggeleng tidak tahu.
"Jadi sekarang bagaimana kak?"
"Vanka!!
Bukannya menjawab pertanyaan Rachel, Andela justru berteriak memanggil seseorang. Tak lama seorang wanita keluar dari ujung lorong.
"A-iya Kak!!"
Vanka mendekati Andela dan Rachel dengan perasaan gugup.
"Kamu kumpulkan semua Agent. Baik divisi penelitian, pertahanan atau pun pemburu." perintah Andela.
"B-baik kak!"
Tanpa berkata apa-apa lagi Melody langsung berjalan pergi. Terlihat beberapa orang yang tadi mengintip dari balik jendela dan ujung lorong segera membubarkan diri, melihat Andela berjalan kearah mereka.
***
"Eh, ada apaan ya. Kok kita semua sampai dikumpulin gini." tanya salah satu Agent yang kini sudah berkumpul di aula pada teman di samping nya. Yang di tanya malah menggeleng.
"Entahlah. Sepertinya masalah pencurian lusa kemarin."
"Ada bu Andela!"
Seketika suasana hening saat wanita bertubuh mungil berjalan ke depan aula. Andela berdiri menghadap semua Agent Helsing yang sudah berkumpul.
"Mungkin kalian sudah tahu lusa kemarin ada pencuri yang berhasil masuk ke dalam markas kita. Ini pertama kalinya terjadi. Sistem keamanan kita cukup tinggi, tapi pencuri ini tetap bisa masuk. Jadi kemungkinan dia memiliki rekan yang sangat hebat hingga bisa membobol sistem kita... " perkataan Andela terhenti saat salah seorang mengangkat tangan.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Maaf bu, sebenarnya apa yang di curi?"
"Sebuah pedang lama yang di panjang di ruangan lab dan sebuah serum zombie."
"Serum Zombie!?" semua tampak terkejut. Sepertinya ini pertama kalinya mereka mendengar tentang serum itu.
"Apa serum itu berbahaya?"
Andela menggeleng "Aku sendiri tidak tahu. Serum itu adalah percobaan untuk mereplika kekuatan zombie. Seperti yang kalian tau, zombie memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa. Mereka bisa menahan beban hingga 20 ton, kurang dari itu zombie tidak merasakan sakit sama sekali. Dengan serum itu kita harap bisa menciptakan super Hunter." jelas Andela.
"Kayak kapten Amerika ya."
"Iya, para petinggi pasti suka nonton film Marvel tuh."
"Yang dibelakang jangan ribut." Andela bersuara saat terdengar bisik bisik dari kerumunan dibelakang.
"M-maaf." ucap keduanya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan. Apa kita akan menangkap pencuri itu dan mengambilnya kembali? " tanya seseorang dibarisan paling depan. Seorang gadis tinggi berambut panjang, memiliki wajah cantik namun tegas. Ditambah sebuah titik hitam di dagu kanannya.
Andela menggeleng dan tersenyum padanya "Ku rasa tidak perlu. Serum itu belum pernah diuji pada manusia. Semua percobaan pada hewan berakhir kematian. Karena itu saya menghentikan percobaan ini. Jika saja dia memakainya sendiri, hanya ada dua kemungkinan. Tubuhnya bisa menerima serum itu hingga dia jadi setengah zombie, atau sebaliknya dia akan ... mati."
Semua cukup kaget mendegarnya, tidak disangka harga untuk sebuah kekuatan besarnya adalah kematian.
"Sebenarnya maksudku mengumpulkan kalian disini hanya untuk memperingatkan kalian, agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi nantinya. Tapi, jika suatu saat kalian bertemu dengannya, saya harap kalian bisa menangkapnya. Kalian mengerti !?"
"Mengerti bu!!" seru semua bersamaan.
"Baiklah, kalian boleh bubar." semua mulai membubarkan diri.
"Semua, kecuali kamu! " Andela menunjuk wanita didepan yang tadi bertanya. Kini di aula hanya ada mereka berdua.
"Dimana pasanganmu?" tanya Andela.
Wanita itu menggeleng "Kakak tahu sendiri kelakakuannya seperti apa." jawabnya asal yang langsung diangguki Andela.
"Ya sudah, biarkan saja. Sekarang kamu ikut kakak."
Wanita itu berjalan mengikuti Andela menuju ruangannya.
...***...
Malam sudah semakin larut, tapi Gracia masih berjalan sendirian di jalanan yang cukup sepi. Gracia berniat pulang setelah bertemu dengan klien yang menggunakan jasa nya untuk mencari informasi. Ia tidak membawa mobil sendiri karena mobilnya baru saja masuk bengkel. Sebenarnya ia sudah mencoba mencari angkutan umum hingga yang online. Namun sialnya tidak mendapatkan satu pun.
"Hahh. Ini lah kenapa aku males kalo ketemu langsung dengan klien. Akhirnya jadi seperti ini." Gracia bergumam kesal sepanjang jalan. Sesekali menendang batu kecil yang ia lihat di jalan.
Sial lagi untuknya, satu batu yang ia tendang mengenai sebuah tong sampah yang berada di dekat 5 orang yang sedang berkumpul. 5 orang itupun menoleh kearah Gracia. Mereka berdiri dan mendekati Gracia.
Gracia berjalan mundur, ketakutan. Pasalnya dilihat dari pakaian kelima orang itu dan juga beberapa botol minuman keras tergeletak di tempat mereka berkumpul tadi, Gracia bisa menyimpulkan mereka bukan orang baik-baik. Dugaannya mereka preman.
"M-maaf. " ucap Gracia saat mereka berada didepannya.
"Hehehe, tidak usah takut cantik. Kita ini baik, jadi kita maafin. Iya gak teman-teman. 'preman lain mengangguki ucapan salah satu preman tadi.
"Bener banget. Cantik kok malem - malem gini pulang sendirian? Gimana kalo kita anterin?" Gracia menggeleng cepat.
"Ayo dong, kita gak akan macem-macem kok. Cuma ngajak senang-senang aja hehehe. "
Kelima preman itu terus merayu dan menggoda Gracia, Namun Gracia terus mencoba pergi. Akhirnya mereka marah dan memaksa Gracia ikut bersama mereka. Gracia meronta saat dibawa kedalam sebuah bangunan tua. Kemudian ia dihempaskan kebawah dan langsung ditindih oleh salah satu mereka.
Gracia memejamkan mata sambil terus meronta. Tiba-tiba ia merasakan tidak ada lagi orang yang menindihnya. Penasaran, ia pun membuka matanya.
Gracia terkejut. Kelima preman yang mengganggunya kini tergeletak tak sadarkan diri di sekitar sosok tinggi berpakaian hitam. Sosok itu menggunakan sebuah topeng. Rambutnya yang panjang dan halus membuatnya yakin bahwa dia perempuan. Orang bertopeng itu mendekat dan berjongkok didepan Gracia.
"Kamu tidak apa-apa?" suaranya begitu lembut untuk orang yang mampu mengalahkan 5 preman sendirian. Gracia terpana menatap mata hitam sosok itu di balik topengnya. 'Matanya indah.' gumam Gracia dalam hati.
Dengan gugup Gracia mengangguk. Dilihatnya sosok itu berdiri dan mengulurkan tangan padanya. Sedikit ragu, Gracia menerima uluran tangan yang membantunya berdiri.
__ADS_1
"Baguslah. Sebaiknya kamu cepat pulang. Ini sudah terlalu malam." Gracia hanya mengangguk dengan ucapan sosok itu.
"Baiklah. Aku pergi dulu." Dengan cepat sosok itu berlari meninggalkan Gracia yang masih mematung. Setelah sadar Gracia langsung pergi meninggalkan para preman yang tergeletak.