Paradox

Paradox
Chapter 15 : bet


__ADS_3

Pertempuran-pun berlanjut. Salah satu zombie mencoba untuk meraih William, ia melompat dan menggunakan bahu zombie sebagai pijakan hingga berada di belakang lalu memberikan dua pukulan kuat pada punggung dan mematahkan lengan secara bersamaan. Lalu ia melompat ke zombie lain, meluncur diantara kakinya kemudian memberikan pukulan kuat pada bagian belakang, mematahka tulang punggungnya.


"Aku sudah 4!" Nabilah menggeram.


"Aku 5. Sepertinya kau masih satu langkah di belakangku, Nabilah. Kenapa kau tidak mulai berlatih bagaimana cara mendengkur seperti kucing dari sekarang. " Jawab William dengan tenang.


Merasa kebanggaan dihancurkan, Nabilah mulai mengamuk lagi, merobohkan setiap zombie yang ia lihat. Dia meraih dua Zombie dengan kedua tangan dan membenamkan mereka berulang kali ke tanah, mematahkan semua tulang di tubuh mereka tanpa ampun kemudian melemparkannya ke zombie lain. Tanpa jeda, Nabilah segera melompat ke tempat jatuhnya zombie, meraih kepalanya dan menghancurkannya ke tanah sebelum melompat tinggi 30 kaki ke udara dan kembali di atas zombie, menghancurkan zombie itu sepenuhnya. Bersyukur Nabilah mengamuk, ia mampu mengejar kecepatan kilat William sampai akhirnya ..


"Aku 10!" Keduanya berteriak pada waktu yang sama. Keduanya menatap mata masing-masing, kemudian melihat zombie terakhir berjalan pincang 50 meter dari tempat mereka berada, sebelum akhirnya menatap kembali mata masing-masing. Tanpa ragu-ragu, William terbang menuju zombie terakhir, tapi itu tidak akan menjadi begitu mudah dengan Nabilah yang justru melompat ke arah William dan meraih kakinya.


"Tidak secepat itu, kelelawar!" Nabilah kemudian melemparkan William ke arah pohon di dekatnya. William memanfaatkan kekuatan lemparan Nabilah dan memutar tubuhnya hingga bisa berpijak di batang pohon dengan kakinya, lalu mendorongkan tubuhnya kembali ke tempat Nabilah. William sampai di tempat Nabilah dan membalasnya dengan sebuah pukulan yang mengirim Nabilah terbang jauh setidaknya 20 meter. Dengan kecepatan nya William menyusul Nabilah dan mencoba memberikan tendangan kuat. Namun Nabilah mampu membaca gerakannya dan menahannya dengan mengangkat kedua lengannya. Tendangan William cukup kuat hingga mampu mendorong Nabilah beberapa langkah kebelakang.


"Apa hanya itu semua yang bisa kau lakukan? Nenekku bahkan masih bisa menahan seranganmu! " Nabilah tersenyum sinis, lalu dia berlari menuju William dan melancarkan tendangan yang mengirim William terbang 20 meter kembali ke tempat asal.


"Inilah yang disebut dengan tendangan yang sebenarnya! Ingat itu dengan baik!" "ejek Nabilah pada William.


"Apa yang mereka lakukan !?" keluh Agra menatap frustrasi.


"Pertama mereka berselisih, lalu mereka bekerja sama, lalu mereka bersaing satu sama lain dan sekarang mereka saling berkelahi?" ucap Gracia.


"Cepat selesaikan! Hanya tinggal satu yang tersisa!" Teriak Jeje.


Setelah mendengar itu, keduanya memisahkan diri dari perkelahian mereka dan berlari cepat ke arah zombie terakhir pada waktu yang sama. Dalam waktu singkat, mereka berdua sudah di depan zombie. Nabilah mengangkat cakarnya sementara William mengangkat tinjunya.


"Ini milikku!" Keduanya berteriak ketika mereka mencoba untuk mengayunkan cakar dan tinju mereka masing-masing.


Namun tiba-tiba, suara tembakan bergema di taman, membuat zombie terakhir jatuh ke belakang, dan langsung tewas karena peluru perak yang bersarang di kepalanya.


Nabilah kemudian menoleh ke belakang "Siapa yang melakukannya?" Nabilah menggeram kesal.


Dilihatnya seorang pria berpakaian kemeja kerja dibalut pakaian putih panjang khas seorang dokter berjalan santai mendekati Nabilah dan William. Di tangan kanannya tergenggam sebuah pistol, sementara tangan kirinya menggenggam sebuah sarung pedang.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Dan apa apaan dengan wujud menyeramkan itu?" Seru Virza menunjuk wujud Nabilah.


Nabilah menggeram pada Virza, William hanya diam tapi menatapnya dingin. Tidak memperdulikan tatapan kesal mereka, Virza beralih menusuk semua zombie yang tergeletak ditanah dengan pedangnya, membuat mereka benar-benar tewas.


"Zombie Itu sudah dalam jangkauanku. Jadi aku yang menang!" Nabilah menggeram pada William.


"Siapa pun pasti tahu, kalau aku lah yang lebih dulu meraihnya" balas William.


"Kalian berdua! Sekarang bukan saatnya untuk berdebat!" tegur Agra mendekati mereka disusul Gracia di sampingnya.


"Tapi Agra ... aku yang terlebih dulu." Nabilah mengucapkannya sambil cemberut... Masih dalam bentuk lycan nya.

__ADS_1


"Tolong jangan bertingkah lucu dalam bentuk lycanmu. Itu benar-benar menakutkan." William menunjukkan ekspresi jijik.


Nabilah berubah kembali kebentuk manusia kemudian melotot pada William dan berkata, "Aku akan menganggap ini dengan seri. Tapi ini belum berakhir, vampir!"


"Jika kau berpikir bisa mengalahkanku, maka jangan ragu untuk menantangku lagi kapan saja." Jawab William santai.


"Kak Virza!" Gracia menghambur kedalam pelukan Virza yang sudah mendekati mereka. Menarik perhatian ketiga lainnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Dan makhluk apa kalian?" Virza menatap Nabilah dan William.


"Kau sendiri siapa Hah? Karena kau, aku jadi kehilangan targetku! " Nabilah menggeram kesal.


"Ini kakakku. Kak Virza. Dia pernah bertarung melawan 400 pasukan zombie dan memiliki pedang yang mampu mengalahkan zombie. Karena itulah aku ditemukan."


Mata Nabilah dan juga William terbuka lebar begitu mendengar pernyataan Gracia. 400? Mereka yang makhluk gaib saja hanya mengalahkan masing-masing 10 zombie. Sementara manusia didepannya mampu mengalahkan 400 zombie.


"Kalian belum menjawab pertanyaanku. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Virza lagi.


"Kami tidak tahu pasti. Tapi wanita itu sepertinya tahu. Dia mendatangiku dan Nabilah dan meminta tolong mengalahkan zombie-zombie itu." ujar Agra menunjuk tempat dimana Jeje berada.


Virza menoleh kemudian menghampirinya.


"Jeje? Jelaskan apa yang terjadi?" tanya Virza dengan nada tegas. Sementara Jeje hanya tersenyum canggung padanya.


Mereka berenam kini duduk dibangku taman dibawah sebuah pohon besar yang rindang.


"Em.. Kak Virza. Benarkah kau pernah


mengalahkan ratusan Zombie sendirian?" tanya William memulai percakapan. Virza menggeleng "Tentu saja tidak. Aku melakukannya berdua dengan Jeje. "Jawab Virza menunjuk Jeje.


"Apa kau benar-benar manusia? Bagaimana bisa manusia mengalahkan zombie sebanyak itu?" tanya Nabilah tidak percaya.


"Yah, kalian boleh menganggapku sebagai manusia, boleh juga menganggapku sebagai setengah zombie. Karena serum yang ku minum membuatku memiliki kekuatan zombie." jelas Virza. Keduanya kembali melebar kan mata bahkan mulut mereka.


"Dan kalian siapa? Dengan wujud seperti itu, aku yakin kalian bukan manusia. " William dan Nabilah saling tatap lalu mengangguk.


"Baiklah. Biar aku yang pertama memperkenalkan diri. Namaku William. Seorang vampir darah kerajaan." ujar William memperkenalkan dirinya.


"Wow! Seorang keturunan Count Dracula? Ini sangat menarik. "Jeje tampak tertarik pada William.


"Eh? Count Dracula? Aku pikir itu mitos! " Tanya Virza terkejut.


"Kau lupa Virza, kita semua mitos." Jawab Nabilah.

__ADS_1


Virza tersenyum canggung, sementara William melanjutkan "Apa Kalian tahu tentang Guardian of the Night sebelumnya?" Tanya William. Ada yang menggeleng ada juga yang mengangguk.


"Yah.. Itu aku." Kata William.


"Seseorang yang memakai topeng dan melawan kejahatan di malam hari, kan? Yah pantas saja selama ini tidak ada yang mengetahui identitasnya, seorang vampir sangat cepat. " ucap Jeje paham.


"Nah, sekarang giliranku. Aku Nabilah stellaria. Kalian bisa memanggilku Nabilah. Seperti yang kalian lihat, aku manusia serigala. Seorang Ace dalam klanku!" Nabilah mengatakannya dengan bangga.


"Ah, aku sedikit penasaran. Apa kau akan berubah pada saat bulan purnama?" Tanya Gracia. Nabilah mendengus "Heh, ternyata kau tidak sepintar yang kupikir. Kau pasti cuma membual tentang memiliki IQ 140. Dimana pengetahuanmu tentang manusia serigala, hah? Atau mungkin kau menghabiskan terlalu banyak waktu dengan kelelawar kotor ini hingga otakmu terkontaminasi otak kelelawar? " ucap Nabilah menunjuk William.


William segera berjalan ke depan Nabilah dan meraih kerah bajunya. "Aku tidak keberatan kau berbicara kasar padaku, tetapi aku tidak akan membiarkanmu berbicara seperti itu pada Gracia!"


"Kau ingin berkelahi? Katakan saja! " seru Nabilah menantang William.


"Jangan menggodaku, serigala!" ucap William memperingatkan.


"Hey! Berhentilah berdebat. Bagaimana bisa kalian masih bertengkar padahal kalian sudah bertarung bersama?" Virza mendorong keduanya agar menjauh satu sama lain.


"Kak Virza benar, Nabilah. Gracia adalah sahabatku dan William adalah temannya. Jadi mulai sekarang kalian juga harus berteman." ujar Agra menarik Nabilah duduk.


"Tapi Agra ... aku .. " Nabilah tidak jadi meneruskan ucapannya melihat tatapan Agra padanya. Nabilah pun menghela nafas pasrah. William hanya diam kembali duduk di samping Gracia.


"Nah sepertinya masalah kalian sudah beres, sekarang Jeje! Kenapa kau dikejar oleh para zombie. Dewa zombie tidak mungkin melepas mereka ke tempat terbuka tanpa alasan?" tanya Virza.


Jeje sempat ragu untuk menjawab, kemudian ia berkata. "Aku kembali masuk ke sarang zombie dan mencoba mencuri memori orb. " Jawab Jeje ragu-ragu.


"APA?!" Virza melebarkan matanya.


"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Harusnya kamu sudah tahu apa yang terjadi pada Viera setelah mencoba mencurinya?" omel Virza.


"Iya, aku tahu. Tapi kamu juga tahu aku bagaimana. Rasa penasaranku pada hal supernatural sangat tinggi. Setelah mendengar cerita Vi tentang memori orb, itu membuatku penasaran. Akhirnya aku nekat datang kesana." ucap Jeje membela diri.


Virza menghela nafas kasar kemudian terdiam. Sementara keempat orang lainnya hanya diam tidak mengerti.


"Tapi kenapa kamu tidak melawan mereka sendiri dan malah lari, Je? Kita pernah bertarung bersama. Kemampuanmu sangat hebat melawan mereka." tanya Virza.


"Aku sudah melakukannya. Tapi yang ku lawan disana ada ratusan, ditambah ada terinfeksi khusus yang memimpin. Aku kehabisan peluru. Jadi terpaksa aku lari."


"Hah dasar kamu ini. Apa tidak bisa kamu kurangi rasa keingin tahuanmu itu?"


Jeje menggeleng "Mau bagaimana lagi. Pada akhirnya aku kalah dengan rasa penasaranku."


"Ya sudahlah. Nanti biar aku minta Vi agar bicara dengan dewa zombie. Semoga saja dia mau mengampunimu tanpa ada permainan lagi." ucap Virza kemudian.

__ADS_1


“Apa kabar, Nabilah.”


__ADS_2