Paradox

Paradox
Chapter 22 : The greatness of the vampire Ace


__ADS_3

"Apa?!" Mata Nabilah melebar begitu terkejut melihat pukulannya dihentikan dengan sangat mudahnya.


"Ace manusia serigala ya? Aku mendengar banyak berita bahwa kaulah yang mengalahkan Steven. " ucap Enzy, masih mencengkeram kepalan tangan Nabilah. Nabilah mencoba untuk melepaskan tinjunya dari cengkeraman Enzy, tetapi tidak berhasil.


"Bagaimana bisa kekuatan manusia serigala tidak cukup untuk melepaskan diri dari cengkeraman vampire!?" tanya Virza terkejut.


Enzy kemudian menyeringai pada Nabilah. "Aku mulai meragukan berita itu. Pukulan steven jauh lebih kuat dari ini. Tidak mungkin steven bisa kalah oleh orang sepertimu! " Aura berwarna ungu yang menyelimuti lengan Enzy menjadi lebih gelap di saat Enzy memperketat cengkeramannya pada kepalan Nabilah, membuatnya berteriak kesakitan, sebelum akhirnya mendaratkan tendangan berkecepatan tinggi yang mengirim Nabilah menerjang pohon jauh dibelakangnya.


Pada saat yang sama, Virza melepaskan sebuah tembakan dari pistolnya ke arah Enzy. Menyadari hal itu, Enzy justru hanya berdiri diam tanpa bermaksud untuk menghindarinya sama sekali. Aura ungu masih menyelimuti lengan Enzy saat ia mengangkat tangannya untuk menangkap peluru itu. Kemudian ia membuka kepalan tangannya untuk memperlihatkan peluru perak yang kini telah hancur.


"Apa !?" Adegan peluru perak virza yang ditangkap dengan tangan kosong, tentu saja sangat mengejutkan.


Enzy menyeringai lagi. "Peluru perak? Asal kau tahu, perak tidak mempan padaku. "


Kali ini, aura ungu di lengan Enzy menghilang dan berpindah ke kedua kakinya. Mereka semua hanya melihat Enzy menghentakkan kaki ke tanah, namun dalam sekejap Enzy sudah tepat di depan Virza. Virza bahkan tidak punya waktu untuk bereaksi saat tendangan berkecepatan tinggi milik Enzy sudah mengenai tubuhnya, membuatnya terdorong beberapa meter.


Virza mengangkat wajahnya yang tertunduk dan tersenyum miring pada Enzy yang menatapnya dengan wajah terkejut. Berkat serum zombie yang ia minum, ia jadi tidak mudah merasakan sakit meski mendapatkan pukulan yang sangat keras sekalipun. Juga memiliki pertahanan yang kuat. Meski begitu, ia masih lah setengah manusia, kekuatan ketahanannya tidak seperti zombie asli.


Virza kemudian menarik keluar pedangnya dan melompat ke arah Enzy dan mengayunkan pedangnya pada Enzy. Enzy langsung berkelit ke samping dan menghentakkan kaki ke tanah lagi. Seperti sebelumnya, dalam sekejap Enzy sudah berada didepannya dan memberikan tendangan berkecepatan tinggi lagi yang berhasil membuat Enzy terbang beberapa meter dan berakhir menabrak pohon.


Viera memanfaatkan kesempatan ini untuk melompat ke arah Enzy dan mencoba menggigitnya. Enzy yang terlalu fokus pada virza, jadi tidak menyadari keberadaan Vi yang sudah berada didekatnya sambil membuka mulut lebar-lebar, menampilkan deretan gigi tajamnya. Enzy berhasil menggeser kepalanya ke samping, sehingga gigi tajam Vi hanya menyerempet pipinya saja dan meninggalkan bekas luka. Enzy segera melompat ke belakang untuk menjaga jarak dari Viera.


"Nyaris saja .." ucap Enzy sambil menyeka darah dari bekas luka di pipinya. Enzy kembali menghentakan kaki ke tanah dan langsung berada di depan Vi kemudian segera melepaskannya pukulan berkecepatan tinggi ke dada Vi. Berbeda dengan Virza, Vi yang zombie asli memiliki pertahanan yang sangat tinggi, hingga tidak terpengaruh oleh pukulan kuat dari Viny. Vi menyeringai lalu mencoba meraih lengan Enzy agar bisa mendaratkan gigitan padanya. Enzy yang menyadarinya, segera melompat pergi menjauh dari Vi lagi.


"Serangan fisik tidak bekerja padaku." jelas Vi sambil menyeringai pada Enzy.


Enzy kemudian tersenyum pada Viera. "Jadi, kau zombie, ya? Yah ini akan sangat menyakitkan jika terkena gigitanmu. Selain itu, aku selalu ingin mencoba kekuatanku untuk melukai zombie. Aku akan menjadikanmu yang pertama!" Lengan Enzy kini diselimuti oleh aura berwarna merah keunguan yang tampak lebih pekat dibandingkan sebelumnya.


"Ayo serang aku dengan semua yang kau miliki!" tantang Vi.


"Tidak, kak Vi! Jangan menantangnya!" William mencoba memperingatkan, namun terlambat. Enzy sudah melompat ke arah Vi dan mendaratkan pukulan yang sangat kuat ke arah dada Vi, membuatnya terlempar menuju batu besar di belakangnya dan meledakkannya. Vi jatuh berlutut dan batuk darah.


Vi kemudian menyambar dadanya. "I-Ini sangat menyakitkan ..."


Enzy menatap mereka bertiga yang sedang mencoba berdiri lalu berteriak lantang, "Aku sudah memperingatkan kalian semua. Aku tidak pernah ingin bertarung! Tapi kalian memaksaku untuk melakukan ini!"

__ADS_1


Tidak ingin menyerah begitu saja, mereka bertiga segera kembali berdiri dan menyerang Enzy bersamaan.


Enzy pun menggeleng, "Dasar keras kepala!" ucapnya sebelum membuka mulut dan melepaskan suara ultrasonik yang langsung menghentikan gerakan mereka semua. Mereka mengerang sambil menutupi telinga mereka yang terasa begitu menyakitkan. Nabilah yang memiliki tingkat pendengaran tinggilah yang paling menderita.


"Enzy, kumohon hentikan !! Aku akan pulang denganmu! " teriak William. Mendengar pernyataan William, Enzy segera menghentikan raungan ultrasonik nya.


Sementara yang lain masih belum pulih dari suara berdering yang bergema di telinga mereka, William berjalan mendekati Enzy dan berkata, "Aku akan pulang denganmu, tapi setidaknya biarkan aku menjelaskan ini kepada teman-temanku."


Enzy membelai wajah William. "Baiklah. Aku akan menunggumu di istana. " ucap Enzy sebelum terbang pergi.


Yang lain akhirnya mendapatkan kembali tenaga mereka untuk berdiri dan berjalan menuju William.


"Apa-apaan itu !?" teriak Nabilah.


"Bagaimana bisa dia begitu kuat dan cepat?" Tanya Virza.


"Dan apa itu sesuatu berwarna ungu yang menyelimuti lengan dan kakinya?" tanya Virza lagi.


William lalu menghela napas dan menjawab. "Aura ungu yang menyelimuti lengan dan kakinya adalah aura vampir nya. Sudah kukatakan sebelumnya bahwa dia adalah satu-satunya vampir dalam sejarah yang bisa menyalurkan aura vampir nya sesuai kehendaknya sendiri. Setiap bagian tubuhnya yang dilapisi dengan itu akan meningkat dalam pertahanan, kekuatan dan juga kecepatan. Warna auranya tergantung pada jumlah konsentrasi yang ia terapkan. Semakin gelap warnanya, semakin cepat dan kuat dia. Dia mampu memanfaatkan penyaluran aura vampir nya secara penuh, ia bahkan melampaui ratu kami dalam hal kekuatan. Tapi tentu saja, Ratu kami bukanlah orang yang suka melawan. "


William lalu menggeleng, "Steven dan Enzy sudah sering bertarung tak terhitung jumlahnya. Steven tidak pernah menang bahkan dalam bentuk tertingginya."


Semua orang terdiam mendengar pernyataan ini.


"Tunggu. Lalu apa yang kalian persiapkan, William? Kenapa dia bersikeras untuk membawamu pulang?" tanya Gracia.


William kemudian berjalan mendekati Gracia dan meraih bahunya. "Itulah yang selalu ingin ku beritahukan padamu, Gre. Aku sebenarnya sudah bertunangan dengan Enzy. Pernikahan kami akan dilakukan dua hari dari sekarang. Maafkan aku. "


"EH !!!! ????" Semua benar-benar terkejut dengan pernyataan William kecuali Gracia. Gracia menatap kebawah dalam diam, tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.


"Gre, kamu baik-baik saja?" Agra berjalan mendekati Gracia dan mencoba mengajaknya bicara, tetapi hanya di jawab dengan diam oleh Gracia.


"William, kita sudah membicarakan hal ini. Lihatkan Bagaimana perasaan Gracia sekarang. " ucap Agra pada William.


"Tadinya kupikir aku akhirnya memiliki sedikit rasa hormat padamu, kelelawar. Tapi sepertinya aku salah. Bahkan aku tidak akan bermain-main dengan perasaan orang lain seperti ini. " geram Nabilah.

__ADS_1


"William, aku tahu kau memiliki perasaan yang sama pada Gracia. Jadi, kau harus menentukan pilihan agar bisa bersama Gracia." ucap Agra.


"Aku ... Tidak bisa. Aku berutang nyawa pada Enzy tak terhitung jumlahnya. Aku tidak tega melakukan hal ini padanya juga. " balas William.


"Jangan bilang kau setuju untuk menikahinya hanya karena ia menyelamatkan hidupmu berkali-kali?" Tanya Virza.


William pun menggeleng. "Tentu saja tidak. Aku memiliki perasaan pada Enzy juga. Dia sudah memperlakukanku dengan sangat baik selama ini. "


"Tapi kau lebih mencintai Gracia, William. Aku tahu itu. Kau tidak bisa menyangkal fakta itu." ucap Agra.


"Maaf, Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan. Pernikahan ini sudah direncanakan, aku tidak bisa menghancurkan kehormatan Enzy. Meskipun Enzy sangat baik selama ini, dia tidak akan mentolerir gangguan yang terjadi pada hari pernikahan. Kalian sudah melihat sendiri apa yang bisa dia lakukan, bukan? " ucap William menatap mereka semua.


"Jadi ... Kau tidak mengundang kami ke pernikahanmu?" Tanya Vi.


"Aku bahkan tidak bisa meski aku ingin. Tempat itu akan penuh oleh vampir. Maafkan aku. "Jawab William.


"Kami mengerti." Vi mengangguk paham.


"Pernikahan akan dilaksanakan di mansion Enzy di atas bukit hantu, sebelah timur kota. " ucap William. Pernyataan itu tiba-tiba menarik minat dan perhatian Gracia.


William kemudian memeluk Gracia erat. "Terima kasih untuk semuanya, Gre. Aku sangat menikmati semua kebersamaan kita. Maafkan aku. "


"Tidak apa-apa, William... aku mengerti." Gracia menjawab dengan mata berkaca-kaca.


William melepaskan diri dari pelukan Gracia dan kembali berucap, "Aku harus pergi sekarang. Enzy menungguku di rumah nya, di atas bukit hantu, sebelah timur kota.


Kalimat itu menarik perhatian Gracia lagi. Gracia mengerutkan kening pada pernyataan William. Hingga akhirnya William meluncur terbang meninggalkan tempat itu.


"Gre, kamu baik-baik saja?" Tanya Virza khawatir.


"Aku sedikit lelah, kak. Aku mau pulang sekarang. Tolong biarkan Gre sendiri dulu." Gracia berkata sambil berjalan sendiri ke halte bus dan meninggalkan tempat itu.


"Jadi, apa sekarang?" Tanya Nabilah.


"Ini suasana yang sangat rumit." ucap Agra.

__ADS_1


"Ku harap Gracia baik-baik saja. Ini hari yang panjang. Ayo kita pulang. " Vi mendesah keras mengusap pundak Virza.


__ADS_2