
Sudah 20 menit sejak mereka tiba di mall. Nabilah dan William masih saling melotot satu sama lain seolah-olah mereka ingin membakar wajah masing-masing. Gracia dan Agra menjadi frustasi dengan perilaku mereka berdua.
Setelah berputar-putar di mall, mereka kembali memutuskan untuk makan di sebuah restoran
"Nabilah! Makannya jangan terlalu cepat! tegur Agra, melihat Nabilah yang langsung menelan makanannya tanpa mengunyah.
"Sungguh tidak beradab. Memalukan." ucapnya William sinis.
"Pikirkan urusanmu sendiri dan makan sapi sialanmu, vampir! Kau bahkan tidak perlu makanan yang dimasak! "balas Nabilah berteriak, mencibir daging sapi rebus yang sedang William makan. Sepertinya kalimat itu menarik perhatian dari beberapa orang.
"Shhhhh !! Apa kau ingin semua orang tahu? tegur Gracia pada Nabilah.
"Maaf aku mengatakan ini Agra, tapi kau harus belajar bagaimana untuk menjinakkan binatangmu ini." ucap William sopan.
"Kenapa kau tidak-" ucapan Nabilah segera dipotong oleh Agra.
"Nabilah sayang, dia benar. Kamu harus belajar bagaimana memilih Kata-kata mu saat bicara. Dan tolong makan makananmu dengan benar. "
"Kalau begitu suapi aku ... " Nabilah membuka mulutnya lebar.
Agra mencubit wajah Nabilah gemas, kemudian menyuapinya. Hal itu menimbulkan tatapan jijik dari William dan Gracia.
"Kau tahu, aku lebih suka adegan sebelumnya daripada adegan sekarang." ujar Gracia melihat Agra dan Nabilah yang tenggelam dalam dunia indah mereka sendiri tanpa memperdulikan yang lain.
William kemudian memulai obrolannya dengan Gracia. "Gre, apa kamu keberatan jika kita pergi kencan sendiri lain waktu?"
Gracia terkejut dengan pernyataan William yang tiba-tiba.
'E-Eh? Kencan? S-Sendiri? Aku dengan senang hati melakukannya, tapi aku terlalu malu untuk mengatakannya. ' pikir Gracia.
"Katakan saja, Gre." Agra tiba-tiba
tersenyum.
"Eh? Apa yang kau bicarakan? " Tanya Gracia, mencoba untuk bertingkah bodoh.
"Kau ingat aku punya kelebihan?" ujar Agra sambil menunjuk ke dahinya sendiri.
"B-Berhenti membaca pikiran orang lain!" teriak Gracia jadi salah tingkah.
"Jadi, apa jawabanmu, Gre?" Tanya William lagi.
__ADS_1
"A-aku rasa tidak masalah." Jawab Gracia lembut dan malu-malu.
"Itu bagus! Aku ingin memanfaakan setiap waktu denganmu sebelum terlambat. " ucap William.
"Apa maksudmu sebelum terlambat?" Tanya Gracia tampak bingung.
"O-Oh.. Tidak ada. Aku hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu. Itu saja. " William tersenyum.
Tapi senyum itu tampak tidak alami. Seolah-olah ada kesedihan di dalam senyum itu.
"Yah, kita sudah selesai di sini, jadi ayo kita pergi." ucap Nabilah sambil menarik Agra menjauh dari restoran, meninggalkan Gracia dan William untuk membayar tagihan.
Gracia dan William berhasil menyusul ketika mereka melewati sebuah timezone.
"Wah, zona waktu! Ayo kita masuk!" usul Nabilah.
Sebuah mesin punch meter menarik perhatian Nabilah. "Gra, ayo kita main itu ". Ucap Nabilah sambil menunjuk ke punch meter.
"Baiklah. Tapi tolong tahan kekuatan mu, Bil. " ucap Agra memperingatkan.
"Kenapa kamu tidak duluan, William?" saran Gracia.
"115kg !? Wow! Kamu bahkan nyaris tidak menekannya sama sekali! Kamu luar biasa, William! " Gracia memuji William sambil bertepuk tangan. Bukan hanya itu, perbuatan William juga menarik perhatian dari seorang anak berusia 5 tahun yang berdiri menatap William dengan wajah kagum.
Seringai jahat tiba-tiba muncul di wajah Nabilah. Nabilah berjalan menuju anak kecil itu dan berjongkok. "Hei, nak. Apa kau ingin melihat sesuatu yang sangat menakjubkan?" Dan tentu saja, anak itu mengangguk. Nabilah kemudian berjalan menuju mesin punch meter.
"Erm.. Gre, aku pikir aku punya perasaan buruk tentang ini." William mengerutkan kening.
"Aku juga." balas Gracia, juga mengerutkan keningnya.
"Nabilah! Kamu tidak akan me- " sebelum Agra bisa menyelesaikan kalimatnya, Nabilah sudah memberikan pukulan berkekuatan penuh membuat seluruh mesin itu jatuh ke belakang dan hancur. Nabilah segera meraih tangan Agra dan kabur dari TKP, meninggalkan William dan Gracia untuk memberi penjelasan pada petugas, dan juga pada anak kecil yang mulutnya tengah terbuka lebar.
Tanpa mereka sadari, Nabilah dan Agra sudah kabur hingga sampai di taman. "Ha ha ha !! Akhirnya, kita bisa berduaan." ucap Nabilah masih tertawa.
"Kamu harus minta maaf pada mereka, Bil. Kamu dan William harusnya saling berteman. tegur Agra.
Nabilah hendak menjawab ketika melihat orang-orang berteriak dan melarikan diri.
"Apa yang terjadi? Kenapa semua orang lari?". Tanya Gaby.
Taman pun kini sudah kosong.
__ADS_1
"Aku akan mengeceknya." Nabilah kemudian berjalan ke depan diikuti Agra di belakangnya, saat itulah terlihat ada 21 makhluk menjijikan dan berjalan pincang sambil mengerang.
Mata Nabilah terbuka lebar. "Zombie?! Kenapa ada Zombie di tempat seperti ini!"
Seorang wanita berlari ke arah mereka.
"Wahh!! Tolong aku!!" seru wanita itu yang kini bersembunyi di belakang tubuh Nabilah.
"Ada apa?" tanya Nabilah.
"Mereka mengejarku." jawabnya.
"Apa? Kenapa bisa mereka mengejarmu?"
"Udah nanya nya nanti saja. Kalahkan mereka dulu." Nabilah menghela nafas kembali menatap para zombie.
Heh. Baiklah.
Agra mendekat "Kamu yakin akan baik baik saja?" Tanya Agra cemas.
"Yah, aku bisa menganggap ini sebagai latihan. Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku bertarung. Ini bisa jadi pemanasan. "Nabilah menyeringai sebelum mulai maju menyerang.
Nabilah berlari menuju salah satu zombie dan memukul wajahnya dengan keras. Zombie itu hanya mengerang dan berusaha memberikan pukulan pada Nabilah. Nabilah segera berkelit ke samping dan melompat mundur.
"Wow! Ternyata melawan Zombie memang sulit! Pukulan tadi sudah hampir kekuatan penuh ku!".
Beberapa dari zombie mulai berjalan menuju Nabilah dan mencoba serangkaian serangan. Nabilah berhasil menghindari serangan kemarahan mereka dan mendaratkan tendangan di salah satu wajah zombie. Itu tampaknya tidak banyak berpengaruh. Para zombie kemudian melanjutkan mengayunkan tangan dan serangan kemarahannya memaksa Nabilah untuk terus menghindar dan jadi sedikit panik. Salah satu zombie berhasil meraih Nabilah dan disematkan ke bawah. Zombie itu membuka mulut lebar - lebar tepat didepan wajah Nabilah hendak menggigitnya, Nabilah panik akhirnya segera berubah menjadi bentuk serigala dan menendang zombie itu pergi dengan kaki belakangnya.
Zombie lainnya melanjutkan upaya mereka untuk menggigit Nabilah, namun dengan cepat ia mengelak dari semua serangan mereka. Serangan Zombie tampaknya tidak melambat sama sekali.
"Mereka terus saja menyerang. Mereka bahkan tidak kelelahan sama sekali! " keluh Nabilah mulai terengah-engah.
Nabilah mencoba membalas lagi dan lagi, tetapi tidak berhasil. Para zombie terus bangun lagi. Nabilah kemudian melihat satu zombie mencoba menyergapnya dari belakang, ia pun menepisnya menggunakan ekor, mengirimnya terbang ke pohon. Nabilah tidak menyadari ada zombie lain yang sudah menyambar ke tubuhnya.
"Sial! Aku membiarkan penjagaanku turun!"
Perlahan-lahan Zombie semakin mendekatkan taringnya ke tubuh Nabilah, seolah-olah waktu berjalan dengan lambat. "Nabilah!!!!" Agra menjerit.
Sebuah tendangan berkecepatan tinggi tiba-tiba muncul dari samping dan melemparkan zombie itu sejauh 20 meter, membuat Nabilah sedikit terkejut.
Didepannya berdiri seorang pria dengan rambut halus hitam pendek, memberi Nabilah kedipan mata dan berkata, "Guardian of the Night, siap melayani Anda."
__ADS_1