Paradox

Paradox
Chapter 3 : farewell


__ADS_3

"Oh, namaku Jeje."


"Jeje ya. Aku Virza dan dia Vi. Terima kasih ya sudah menolong kami." Jeje tersenyum meraih uluran tangan dari Virza.


Jeje melihat kearah luka di lengan Virza "Ah sebelum berkenalan lebih lanjut, sebaiknya obati lukamu dulu. Meskipun tidak berubah, luka dari zombie mudah sekali infeksi dan itu cukup berbahaya."


Virza mengangguk. Jeje dan Vi


bersama-sama membawa Virza kedalam mobil milik Virza. Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan sebuah rumah besar megah yang terlihat seperti sebuah kastil.


"Wow. Ini dimana?" tanya Virza. Mereka sudah berada didepan pintu.


Jeje membuka pintu perlahan "Rumahku. Kalian aman disini." Virza dan Vi cukup tercengang melihat desain arsitekstur dalam rumah itu. Warna cat dinding, perabot dan lainnya semua bernuansa klasik dengan gaya eropa kuno.


Tidak berhenti disitu, Virza dan Vi kembali tercengang saat Jeje membawa mereka masuk ke dalam sebuah ruangan berukuran besar yang terlihat seperti sebuah laboratorium.


Tabung berisi benda-benda aneh seperti sebuah sirip, sebuah tentakel gurita hingga tabung berisi sebuah bola mata tertata rapi disebuah lemari rak kaca. Diatas meja tertata berbagai macam alat percobaan. Bukan hanya itu, di dinding ruangan tergantung berbagai macam senjata dari panah, crossbow, pisau hingga senapan api.


Setelah mendudukan Virza di sofa, Jeje mengambil kotak P3K dan mulai mengobati lengan Virza.


"Ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa berurusan dengan zombie?" tanya Jeje membereskan peralatannya setelah selesai mengobati Virza.


"Dari yang ku tahu, zombie yang menyerang kalian itu zombie pelacak. Mata mereka yang buta membuat penciuman dan pendengaran mereka jadi lebih tajam. Biasanya muncul hanya jika sedang mencari seorang target." Jeje kembali mendekati Virza dan Vi yang duduk bersebelahan. Mereka tampak saling tatap dengan wajah bingung. Kemudian keduanya menoleh pada Jeje.


"Jeje, kenapa kamu bisa tau banyak tentang zombie? Kamu bahkan tahu kelemahan zombie. Dan juga apa-apaan dengan semua ini." tanya Virza melihat sekeliling ruangan.


"Oh, aku seorang peneliti supernatural. Aku tertarik dan mempelajari semua tentang hal-hal supernatural. Dari Makhluk-makhluk gaib, hantu, Vampir, wearwolf hingga zombie. Kebanyakan benda-benda yang ada di dalam tabung itu berasal dari tempat yang dikabarkan muncul makhluk tak biasa atau biasa disebut monster.


"Kau mendapatkannya sendiri?"


Jeje mengangguk "Yap, jika ada kabar tentang makhluk gaib biasanya aku akan datang untuk melihat langsung. Sayangnya aku tidak pernah berhasil melihatnya langsung. Saat sampai disana biasanya makhluk itu sudah menghilang. Dan juga, meski samar aku masih bisa melihat sedikit tanda-tanda bekas pertarungan disana. Disana lah aku biasanya menemukan benda-benda itu."


"Bekas pertarungan, Apakah ada yang lebih dulu datang dan membunuh makhluk itu?" tanya Vi.


"Kemungkinan begitu." keduanya kompak mengangguk. Jeje kembali ke pertanyaan awal.


"Oiya, kalian belum jawab pertanyaanku tadi. Kenapa kalian bisa berurusan dengan Zombie?"


Virza menatap Vi dan menggenggam tangannya. "Vi, please. Apa yang terjadi sebenarnya?"


Vi mendesah panjang sebelum ia mulai menjelaskan. "Seperti yang Jeje bilang, mereka memang zombie pelacak. Mereka buta tapi bereaksi sangat kuat pada suara dan bau karena mereka memang khusus


dilatih untuk melacak benda-benda atau makhluk tertentu. "


"Dan untuk kasus ini ... yang sedang mereka lacak adalah aku. " Ucap Vi kemudian.


"Maksudmu dewa zombie mengutus zombie-zombie ini keluar ke permukaan hanya untuk melacakmu?" tanya Jeje memastikan. Vi hanya mengangguk.

__ADS_1


"Tapi kenapa bisa dewa zombie mengejar seorang manusia? "tanya Jeje lagi.


Vi menutup matanya dan menghela napas panjang sebelum akhirnya berbicara. "Aku sebenarnya buronan."


Jeje dan Virza benar-benar terkejut dengan pernyataannya. "EH ?!"


"Untuk alasan apa ?!" tanya Virza kemudian.


"Kami zombie tidak diperbolehkan untuk mempertahankan ingatan kami dari sebelum kematian. Semua kenangan kami disimpan dalam item yang dikenal sebagai Memory Orb. Itu disimpan di bawah keamanan yang tinggi langsung di bawah pengawasan dewa zombie. Sementara terinfeksi khusus lain tampaknya tidak peduli tentang masa lalu mereka, aku hanya


terlalu ingin tahu tentang kisah hidupku." Ucap Vi menjelaskan.


"Tunggu!!" keduanya menoleh.


"Kami? Terinfeksi khusus? Jangan bilang kalo kau.." Jeje tak melanjutkan ucapannya.


Vi mengangguk "Ya, aku adalah zombie terinfeksi khusus dan aku mencoba untuk mencurinya dari dewa zombie. Setiap usaha untuk mencuri Memory Orb akan dihukum dengan penyiksaan abadi."


"Apa maksudmu penyiksaan abadi?" tanya Virza.


"Setelah tertangkap, kami harus menghabiskan seluruh keabadian ini dikurung dalam sangkar yang terbuat dari perak. Itu adalah hukuman yang paling menyiksa. " Pernyataan ini membuat Jeje menelan ludah ngeri.


"Itu mengerikan, zombie lemah terhadap perak." Ucap Jeje yang diangguki oleh Vi.


"Aku hampir saja tertangkap oleh mereka, tapi aku berhasil melarikan diri. Aku harus menangkis sekitar 200 terinfeksi normal sendirian. Untungnya gigitanku cukup kuat untuk menyakiti zombie lain. Dengan gigitanku, aku jadi memiliki kesempatan untuk melarikan diri, dan aku melarikan diri sejauh yang aku bisa. Aku akhirnya kehilangan jejak mereka setelah satu jam non-stop berjalan dan berakhir di dekat rumah sakit. Saat itulah aku bertemu dengan makhluk yang menyerangku dengan sabitnya."


"Hehh, ternyata masalahmu sangat rumit Vi" keluh Jeje pada Vi yang menunduk.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?"


Jeje menggeleng "Tidak ada yang bisa kita lakukan, Za. Maafkan aku. Pelacak ini akan selamanya melacak Vi."


"Untuk keselamatanmu sendiri, kau harus meninggalkan Vi. " tambah Jeje dengan nada menyesal.


"NO! Aku tidak akan meninggalkan Vi menderita sendirian lagi! Aku tidak akan meninggalkannya! " teriak Virza penuh keyakinan.


Setelah terdiam beberapa saat, Jeje akhirnya bersuara. "Baiklah. Kalau kalian mau, untuk sementara kalian bisa tinggal disini. Tempat ini cukup luas, lagipula aku hanya tinggal sendiri disini. Juga aku punya berbagai macam senjata jikalau mereka menemukan kalian. "


"Terima kasih banyak, Je. Padahal kita baru saja kenal, tapi kamu udah banyak menolong kami." Virza sedikit membungkukkan badannya.


"Aku juga minta maaf telah merepotkanmu." Vi berdiri dan ikut membungkuk 90 derajat.


"Tidak apa-apa, Vi. Sudah seharusnya kita saling membantu meskipun setiap makhluk itu berbeda. " Jeje tersenyum pada Vi.


"Sudah larut. Sebaiknya kalian istirahat." Ucap Jeje mulai meninggalkan Virza dan Vi berdua.


Sepeninggal Jeje, Vi kembali duduk di samping Virza namun tidak mampu menatap wajah Virza, merasa bersalah. "Maaf, Virza. Aku tidak pernah bermaksud menyebabkan masalah untukmu. "

__ADS_1


Virza tiba-tiba mengelus lembut rambut panjang Vi, membuat wajahnya memerah. "Apa yang kamu bicarakan, Vi? Kamu tidak harus minta maaf. Kita teman, kan? Teman harus ada untuk satu sama lain ketika mereka dibutuhkan. "


Vi menunduk tersenyum mendengarnya, meski dengan senyum yang di paksakan.


Akhirnya, setelah hari yang panjang, kini semua telah bersiap untuk beristirahat.


...***...


Virza dan Vi masih berada dirumah Jeje. Keduanya menikmati waktu bersama dengan mendengarkan lagu yang diputar dari radio.


"Emm Virza." Vi memulai percakapan.


"Ada apa, Vi?" Tanya Virza.


"Jika suatu saat aku pergi, Apa kamu akan merindukanku?"


"Apa yang kamu bicarakan?".


"Jawab jujur, Virza."


Virza kemudian membelai wajah Vi. " Tentu saja aku akan merindukanmu. Tapi itu tidak akan terjadi, ok?"


Vi kemudian tersenyum dan menghela napas lega. "Senang mendengarnya."


Waktu berlalu dan kini sudah pukul 03:00 pagi. Semua orang sudah tertidur kecuali Vi. Dia diam-diam menyelinap keluar dari tempat tidurnya, dan keluar dari rumah. Setelah beberapa menit berjalan, dia berhenti di sebuah lorong gelap.


"Vi! Kau akhirnya setuju untuk bertemu denganku. Kau cukup licin juga seperti ular. Aku mulai merindukanmu. " tiba-tiba sebuah suara bergema di lorong gelap itu.


"Tuanku." Kemudian dia menundukkan kepalanya ke dalam.


"Aw, ayolah, Vi. Aku mengenalmu selama 48 tahun. Panggil aku Ikha." Sang Dewa Zombie akhirnya menunjukkan dirinya.


"Ikha! Zombie-zombie kamu sudah menyakiti orang-orang yang tidak bersalah!" Ucap Vi.


"Salahkan kebodohanmu sendiri, Vi. Jika kamu tidak kabur dari rumah, aku tidak akan membiarkan mereka keluar. Mereka berlima hanya peringatan, Vi. Kamu tidak akan bisa menebak berapa banyak yang bisa aku keluarkan." Ucap Ikha memperingatkan.


"Anda tidak perlu mengeluarkannya lagi! Saya akan pulang dengan Anda!" Ucap Vi dengan suara keras.


"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran, Vi? Kamu cukup keras kepala sebelum ini. Ah.. Sepertinya kamu telah mendapat beberapa teman baik. Kamu tidak ingin menyakiti mereka, sehingga kau memutuskan untuk menyerahkan diri. " Vi tetap diam mendengarnya.


"Sepertinya aku benar tentang itu. Yah, itu keputusan yang bagus untuk menyerahkan diri. Nah sekarang, aku akan memberikan setengah jam untuk mengucapkan selamat tinggal kepada teman berhargamu itu. Setelah kamu selesai, temui aku lagi di sini. Aku akan membawamu pulang untuk menerima hukumanmu. " Jelas Ikha.


Setelah itu Vi kembali ke rumah Jeje. Untuk setengah jam penuh, Vi hanya duduk di samping tempat tidur Virza, menatapnya yang tertidur.


"Hei, Virza. Sepertinya aku telah jatuh cinta padamu." Vi mengatakannya dengan air mata yang mengalir di wajahnya.


"Itulah sebabnya aku harus meninggalkanmu. Aku tidak bisa mengambil resiko pada hidupmu hanya untuk keegoisanku sendiri."

__ADS_1


Vi kemudian membungkuk dan mencium dahi Virza.


"Selamat tinggal, Virza."


__ADS_2