Paradox

Paradox
Chapter 4 : heist mission


__ADS_3

"Jeje, bangun!" Sebuah suara bergema di telinga Jeje.


"Eeeeemmm." Jeje hanya mengulet diatas


tempat tidurnya.


"Bangun, Jeje!" Kali ini, Jeje merasa seseorang memukul lengannya keras dan akhirnya ia membuka matanya.


"Apa sih, Virza?" Jeje bertanya dengan suara parau.


"Viera hilang!"


"Apa !!" Pernyataan Virza membuat Jeje langsung melompat turun dari tempat tidurnya.


"Bagaimana bisa dia hilang!?"


Virza menggeleng "Entahlah, saat aku bangun dia sudah tidak ada. Ku cari di semua tempat juga tidak ada. "


"Kira-kira kemana dia pergi? Terlalu berbahaya untuknya pergi keluar sendirian." Virza mulai khawatir.


"Tunggu! Jangan - jangan dia pergi untuk menyerahkan diri? " Tebak Jeje.


"Tidak! Tidak mungkin? Kita sudah berjanji saling melindungi, dan dia bilang tidak akan pergi!"


"Nah itu lah masalahnya. Dia pasti berpikir cara melindungimu adalah menyerahkan diri, agar para zombie tidak datang dan menyakitimu lagi" kata Jeje.


"Kita harus menyelamatkannya. Jeje, tolonglah!" Virza mulai memohon padanya.


"Virza! Menyelamatkan Viera berarti harus masuk ke sarang zombie. Itu sangat berbahaya." Jeje mencoba memberi pengertian, namun Kinal tetap kekeh dengan Keinginannya. Bahkan ia mulai berlutut didepan Jeje sambil memegangi tangannya.


"Aku tidak peduli dengan bahaya, aku akan tetap menolongnya. Apapun resikonya! "


Tak tahan melihat rengekan Virza, Jeje pun akhirnya mengangguk.


"Baiklah. Aku akan membantumu. Aku tahu


lokasi sarang mereka, jauh di gorong-gorong


kota ini. Tapi karena ini sarang zombie, kita


tidak bisa datang tanpa persiapan apapun."


"Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Kita butuh senjata. " Ucap Jeje singkat.


"Bukannya kamu punya banyak senjata? "Jeje menggeleng. "Itu tidak cukup. Kita butuh sesuatu yang lebih ampuh dari sebuah pistol berpeluru perak saja. "


"Lalu, dimana kita bisa mendapatkan senjata seperti itu?"


...***...


"Kak Virza! Kakak serius ada markas organisasi rahasia di tempat seperti ini?"


Sebuah suara terdengar di telinga Virza yang tengah duduk di sebuah bangku pinggir jalan. Dari balik kaca mata dan sebuah koran ditangannya, pandangan nya terus tertuju pada sebuah bangunan berlantai 2 didepannya. Bangunan yang terlihat cukup tua berada diantara gedung lain yang lebih tinggi dan baru.


Virza tidak menjawab pertanyaan itu. Sejujurnya ia pun tidak sepenuhnya yakin. Ia kembali teringat dengan percakapannya dengan Jeje pagi tadi.


"Ingat yang aku ceritakan tentang bekas pertarungan? Sebenarnya memang ada sebuah organisasi rahasia yang khusus menangani makhluk-makhluk gaib. Namanya Helsing!"


"Helsing?"


"Iya. Mereka lah yang membasmi para makhluk gaib yang mengancam manusia. Sekaligus menjaga keberadaan makhluk gaib tetap jadi rahasia." Jelas Jeje


Virza mengangguk paham "Hmm... Terus apa hubungannya dengan menyelamatkan Vi. Apa kita akan meminta bantuan pada mereka?"


Jeje menggeleng "Tidak. Aku ingin kamu masuk kesana dan mencuri sesuatu."


"APA!! Kamu gila ya, Je?" Virza menatap Jeje tidak percaya.


"Kau tau. Aku ini Dokter, bukan pencuri! Itu tidak mungkin!"


"Lalu apa yang Akan kamu lakukan, hah?!" nada suara Jeje cukup tinggi. Virza tidak


menjawab.


"Langsung pergi ke sarang zombie tanpa persiapan ataupun senjata? Itu namanya bunuh diri. Kamu justru akan membuat Vi sedih."


Virza mengusap kasar wajahnya sendiri. "OK, Akan aku lakukan! Tapi dimana tempat organisasi itu dan apa yang harus aku curi?"


"Bagus. Aku suka tekadmu. Organisasi itu berada di sebelah barat kota, tersembunyi di bawah tanah."


"Menurut Jeje ada disini." singkat. ucap Virza.


"Kakak kok bisa-bisanya percaya dengan omongan orang yang baru kak Virza kenal! Kalo orang itu jahat terus ngarahin kakak ke dalam jebakan gimana?" terdengar suara di


Telinganya memarahinya.


"Kamu tidak usah khawatir, kakak percaya kok sama Jeje. Sekarang lanjutkan saja tugas kamu."


Terdengar helaan nafas pasrah "Iya Iya. Lagian kakak mau ngapain sih pake acara menyusup ke dalam organisasi rahasia itu?"


"Kamu akan tahu nanti" balas Virza.

__ADS_1


Kemudian suasana menjadi hening. Tidak berselang waktu lama, tiba-tiba terdengar kekehan dari balik earphone di telinga nya. Kinal penasaran akhirnya bertanya "Ada apa? Kenapa kamu tertawa sendiri?"


Bukannya menjawab, suara kekehan itu justru semakin kencang.


"Hihihi sepertinya teman kakak itu benar. Ternyata ada sistem jaringan kuat yang melindungi tempat itu." jawab nya Kemudian.


"Bisa kamu tembus?"


"Jangan meremehkan kemampuan si jenius Gracia ya. Semakin susah sistem-nya, semakin bersemangat aku untuk membobolnya." seru gadis itu penuh kebanggaan. Virza tersenyum senang mendengarnya.


"Baiklah. Kakak harap cepat ya."


"Beri Gre 2 menit."


Suara gadis bernama Gracia atau Gre kembali tak terdengar.


Didalam mobil van yang terparkir sekitar 100 meter dari tempat Virza berada, seorang gadis duduk didepan beberapa layar sekaligus sibuk mengetik program yang terlihat begitu rumit.


"Gimana? Ini udah 2 menit." pandangannya tidak lepas dari layar meski suara Virza mulai terdengar dari alat yang terpasang ditelinganya.


"Sedikit lagi kak ... Yap OK!! " Gre berseru senang dan mengangkat kedua tangannya ke atas sebagai tanda kemenangan.


"Berhasil?"


"Pasti dong kak. Gracia gitu haha .." Virza hanya menggeleng mendengar Gracia tertawa.


"Ok. Sekarang bagaimana aku masuk ke dalam?"


"Simple kak. Gedung 2 lantai di depan kakak itu cuma kamuflase, markas sebenarnya ada dibawah gedung itu. Kakak cukup berjalan biasa saja kesana layak nya penghuni tempat itu, biar Gre yang awasi kakak lewat cctv. Lewatin aula lalu belok ke lorong sebelah kiri, nanti akan ketemu lift." Virza mengangguk - angguk mendengar penjelasan Gracia.


"Inget kak, usahakan jangan membuat kontak dengan orang di sana. Bersikaplah senatural mungkin."


"Ok. " singkat Kinal dan mulai mengikuti semua arahan Gracia.


"Jangan mendongak keatas kak, banyak cctv yang merekam kakak." saran Gre saat melihat Virza sudah berada di depan gedung lewat tampilan di layar dan sempat menatap kamera.


Sepanjang perjalanan Virza mencoba


berjalan santai dan tidak menarik perhatian. Virza berhasil melewati aula dan akhirnya berbelok ke lorong di sebelah kiri. Jalan nya terhenti didepan sebuah lift.


"Gre. Ada pemindai telapak tangan. "


"Aku tahu kak. Kakak taruh aja telapak tangan kakak disana." Virza menurut. Setelah pemindaian singkat, muncul tulisan di layar diatas kotak pemindai 'Access accepted. Welcome Agent Aliando'


"Agent Aliando? Nama yang bagus" ucap Virza lirih, hanya ada suara kekehan sebagai jawaban.


Pintu lift terbuka, Virza segera masuk kedalam. Lift kembali terbuka di lantai bawah. Terlihat lorong panjang dengan beberapa ruangan disepanjang lorong itu.


"Aku sudah di dalam. Sekarang tunjukin jalan ke ruang lab atau penelitian dan semacamnya.'


"Ada di lantai itu kak. Jalan terus sampai persimpangan belok kanan. Pintu pertama disebelah kiri."


Virza sampai didepan ruang yang dimaksud. Dilihat dari jendela ruangan itu sedang tidak berpenghuni. Virza masuk kedalam dan langsung menggeledah setiap tempat.


"Sebenarnya apa sih yang kakak cari?" tanya Gracia yang melihat Virza sedang mengecek sebuah lemari.


"Cari sebuah botol kecil berisi cairan berwarna biru. Tertulis 'ZX5301' pada botol


itu.


"Cuma itu? Kamu bilang aku butuh senjata, kenapa malah cairan aneh? "protes Virza pada Jeje.


"Asal kamu tahu, itu bukan cairan sembarangan."


"Lalu apa?"


Jeje menggeleng "Kamu akan tahu Setelah mendapatkannya. "


Virza mendesah kesal. "Ambil juga sebuah pedang dari sana. Kamu butuh itu. " tambah Jeje.


Virza terus mengecek setiap botol yang ada di dalam lemari kaca. "Kakak tidak tahu persis apa, tapi kata Jeje ini sangat aku butuhkan." Jawab Virza mengeluarkan dan mengangkat sebuah botol kecil berisi cairan berwarna biru.


"Hahhh percuma deh kalo Gre nanya, kak Virza juga jawabnya cuma seperti itu. Kalo sudah sebaiknya kakak cepat keluar dari sana.


Virza memasukan botol itu kedalam saku jaketnya, kemudian pandangannya tertuju pada sebuah dinding.


"Tunggu sebentar. " Virza menuju cepat kearah dinding dan meraih sebuah pedang yang di pajang di dinding. Kemudian membungkusnya dengan kain hitam yang ia temukan.


Virza segera keluar dari ruangan itu. Belum lama ia berjalan, dari arah berlawanan ia berpapasan dengan seorang wanita yang membawa sebuah minum cup ditangannya.


Virza segera menundukan wajahnya dan berjalan sedikit lebih cepat. Sementara wanita itu sempat berhenti dan berbalik menatap Virza yang akhirnya menghilang dipersimpangan lorong.


Beberapa saat wanita itu terdiam hingga akhirnya ia mengangkat bahunya dan melanjutkan perjalanannya. Wanita itu memasuki ruang lab kemudian duduk di salah satu bangku berhadapan dengan layar komputer. Tidak berselang lama seorang wanita lain yang bertubuh lebih kecil memasuki ruang lab juga.


Wanita lebih kecil berjalan melewati wanita lain hingga pandangannya tertuju pada lemari kaca.


"Hel, kamu pindahin serum itu?"


Wanita di depan komputer berbalik dengan wajah bingungnya hingga akhirnya balik bertanya. "Serum apaan sih?"


"Serum yang kita kembangkan itu loh, yang belum kita uji." jawab Wanita kecil.


"Oh yang itu. Tidak. Aku tidak pernah pindahin serum itu."

__ADS_1


"Terus kenapa sekarang tidak ada?" tanya wanita itu lagi menunjuk lemari kaca di samping nya dengan salah satu space tampak kosong. Wanita pertama sontak bangun dan mendekati lemari.


"Sebelum aku pergi ke kantin, serum itu masih ada. Aku cuma pergi 15 menit, tidak mungkin ada yang min.. AH!! Tadi aku berpapasan dengan seorang pria di dekat pintu lab. Kalau aku tidak salah ingat, aku belum pernah melihatnya disini. "


Tanpa menunggu respon dari temannya, ia langsung menuju komputernya. Sementara wanita lain hanya diam melihat temannya berkutat dengan komputernya sambil mengomel.


"Ada yang aneh dengan server jaringan kita. " gumamnya singkat, lalu ia beralih memeriksa kamera pengawas.


"SIAL!!" seru wanita itu segera menekan sebuah tombol di samping microphone kecil.


"SIAPA PUN, HENTIKAN PRIA BERKACA


MATA YANG MEMBAWA PEDANG! " Suara wanita itu menggema di seluruh markas.


Sementara orang yang dimaksud kini sudah berada diluar gedung. Virza tentu saja mendengar suara yang menggema di setiap tempat itu, tapi ia berusaha untuk tetap tenang dan terus berjalan santai.


"Hei tunggu!"


Virza berhenti berjalan ketika seorang pria berpakaian serba hitam yang berjaga didepan pintu menegurnya. Virza tetap diam, sementara pria itu mulai mendekatinya. Jarak mereka tinggal beberapa meter lagi, tiba-tiba Virza berlari menyebrangi jalan. Tidak peduli dengan banyaknya mobil dan motor yang berlalu dijalanan kota.


Pria itu tentu saja terkejut dengan tindakan nekat Virza, namun ia segera mengejarnya dibantu oleh beberapa pria lain.


Virza tetap berlari menerobos keramaian jalanan meski beberapa kali ia hampir saja tertabrak mobil yang sedang melintas. Suara klakson dan makian sama sekali tidak ia pedulikan. Ia berlari menelusuri trotoar jalan dengan beberapa pria berpakaian hitam terus mengejarnya.


"Sekarang gimana kak?" tanya Gracia dari balik earphonenya.


"Kakak tidak tahu... Terpaksa kita gunakan rencana cadangan. "jawab virza masih terus berlari.


"Rencananya apa?"


"Lari!" seru virza singkat. Pandangannya tertuju pada sebuah motor yang masih menyala terparkir di pinggir jalan.


"Aku pinjam sebentar! " seru virza langsung menaiki motor itu dan menarik gasnya penuh, meninggalkan sang pemilik motor yang sedang membeli minuman berteriak marah padanya.


Virza tersenyum senang setelah menempuh jalan lumayan jauh, namun dengan cepat senyumnya hilang saat ia menoleh sebuah mobil berisi pria - pria tadi sedang mengejarnya. Virza kembali menarik penuh gasnya hingga motor yang ia kendarai melaju sangat cepat melewati kendaraan lain.


"Kakak pakai motor siapa?" tanya Gracia dengan suara keras.


"Orang."


"OMG KAK. ITU NAMANYA KAKAK NYURI. KAKAK UDAH BERURUSAN DENGAN ORGANISASI ANEH, SEKARANG KAKAK AKAN BERURUSAN DENGAN POLISI! "


Virza mengerang mendengar sebuah teriakan tepat di telinganya. "Aduh Gre, itu urusan nanti. Sekarang tugas kamu bantu kakak lepas dari orang-orang itu."


Gracia menghela nafas pasrah lalu bersuara.


"Terserah kakak lah."


Sementara Virza sibuk menghindari kejaran orang-orang berpakaian hitam, Gracia sibuk mengamati peta di layar komputernya. Ada tanda biru yang bergerak didalam peta itu.


"Lurus terus ada kemacetan. 100 meter didepan belok ke kanan lewat gang kecil." instruksi Gracia pada virza.


Tanpa bicara Virza mengikuti arahan Gracia. Jarak 30 meter ujung gang sudah terlihat. Sayangnya arus sebelah kanan cukup padat. Kinal mempercepat laju motornya hingga tepat tinggal 5 meter Virza langsung memotong jalan membuat kepanikan dan insiden mengerem mendadak dari beberapa mobil.


Virza berhasil lolos dari mobil pengejar karena mereka tidak bisa ikut berbelok dan masuk kedalam gang. Namun perasaan lega nya tidak berlangsung lama saat 3 motor kini menggantikan mobil mengejarnya. Virza kembali mempercepat lajunya kemudian berbelok ke sebelah kiri kembali ke jalan raya dengan 3 motor tersebut terus mengejarnya.


"Hentikan dia apa pun yang terjadi. Jika perlu tembak saja."


Sebuah instruksi diterima oleh ketiga pengendara motor. Dengan tangan kiri mereka mengeluarkan pistol dan mengarahkannya pada virza. Satu tembakan pertama cukup mengagetkan Virza serta pengendara lain di sekitar nya.


Tembakan pertama hanya mengenai aspal, begitu juga dengan tembakan selanjutnya. Virza berhasil menghindari setiap tembakan dengan meliuk-liukan motornya. Dengan tembakan tidak berhasil, para pengejar menghentikan tembakan dan mempercepat laju motornya. Salah satu motor berhasil menyusul dan memepet Virza dari samping. Dengan satu kaki Virza mendorong motor itu hingga terjatuh.


Dua motor lain terus mengejarnya hingga masuk kedalam gang. Hingga sampai diujung gang keduanya kebingungan karena tidak melihat Virza.


“Ke arah mana dia?” tanya salah satu pengejar.


"Entahlah. Kita berpencar! " ucap pengejar lain. Akhirnya keduanya mengambil arah yang berlawanan.


Wanita yang tadi memberikan instruksi masih berada di ruang lab menatap layar komputer. Di belakangnya berdiri wanita lain tanpa bersuara.


"Lapor, kita kehilangan jejaknya!"


Wanita itu menggebrak meja kesal mendengar Laporan dari para pengejar itu.


"Sekarang gimana Hel?" tanya wanita di belakangnya dengan nada cemas.


"Aku juga tidak tahu Cil. Jika Ketua tahu, semua bisa kena masalah. " balasnya yang juga terlihat cemas.


...***...


Sementara itu di dalam sebuah garasi yang cukup luas tidak jauh dari tempat pengejar tadi berhenti, Virza menghentikan motornya disebelah mobil van putih. Gracia turun dari mobil dan menghampiri Virza.


"Kak Virza gila ya. Kakak hampir saja mati hanya karena mencuri cairan dan pedang bodoh ditangan kakak!" omel Gracia pada Virza yang baru saja turun dari motor.


"Ditambah mencuri motor orang. AAHH GRE TIDAK MAU JADI ADIK SEORANG KRIMINAL!! GRE TIDAK MAU MASUK PENJARA!! "teriak Gracia dengan lebaynya.


Virza mencengkram kedua pundak Gracia


untuk menenangkannya.


"Hei Hei DENGERIN KAKAK. Semua akan baik-baik saja OK? Biar kakak yang urus. Sekarang sebaiknya kamu bantu kakak mencari tahu pemilik motor ini dari pelat nomornya. Nanti kakak akan suruh orang untuk mengembalikannya. Kamu bisa kan?" Gracia mengangguk.


"Untuk sekarang kakak antar kamu pulang. Kakak masih ada urusan. "Gracia hanya mengangguk lalu berjalan kembali ke mobil.

__ADS_1


"Oiya, ini tempat siapa?" tanya Virza setelah duduk di bangku kemudi.


"Punya teman sekolah Gre dulu. Dia udah kasih ijin kok, kakak tenang aja. Motor itu aman disini. " jawab Gracia dengan mata tertuju pada laptop dipangkuannya. Dengan satu pencet pada salah satu di keyboard laptopnya, pintu garasi terbuka dengan sendirinya ke atas. Setelah mobil mereka keluar, pintu itu kembali tertutup.


__ADS_2