
Pada akhirnya aku menerima skorsing berupa membersihkan toilet pria dari guru BK. Mereka meberikan hukuman yang berbeda dari yang sebelumnya kali ini kepadaku. Sepertinya mereka sudah bosan melihat hukumanku yang hanya beridiri menghormati tiang bendera, mereka berpikir untuk memberikanku hukuman yang lebih berat dari biasanya agar dapat membuatku jera.
Aku pun membersihkan setiap sudut ruangan toilet dengan segera, agar aku bisa cepat masuk ke kelas untuk mengikuti pembelajaran. Setelah sekitar 30 menit aku membersihkan setiap ruangan toilet, Pada akhirnya aku selesai membersihkan sumuanya.
"Aahh.......!" (Kelelahan).
Aku memutuskan untuk segera kembali ke kelas setelah selesai merapikan semua peralatan pembersih yang sudah kupakai. Sesampainya didepan kelas aku melihat Bu Kiyomi sedang mengajar materi pembelajaran saat ini kepada para murid-muridnya di kelasku.
"Gawat, aku lupa kalau saat ini giliran Bu Kiyomi yang mengajar!" Aku sadar kalau aku masuk saat ini juga aku bakal terkena tambahan hukuman oleh Bu Kiyomi karena terlambat di waktu pembelajarannya. Tidak hanya itu juga teman-temanku di kelas yang melihatku dihukum di hadapan mereka, pastinya akan membully dan mengejekku.
Jadi aku memutuskan untuk menunggu dikantin sekolah sampai pembelajaran bu kiyomi selesai.
"Wah...! Dari pada aku harus menerima hukuman lagi".
"Mending aku nungguin dikantin sampai pelajaran Bu Kiyomi habis."
Aku memutuskan pergi ke kantin untuk membeli beberapa cemilan setelah lelah menjalankan hukuman dari guru BK.
"Kring......." Setelah sekitar 1 jam menunggu di kantin, akhirnya bel tanda pelajaran Bu Kiyomi telah usai. Aku pun bergegas membereskan camilanku yang berserakan, lalu dengan segera menuju ke kelas. Tapi di saat aku berjalan menuju kelas, aku secara tak sengaja berpapasan dengan Bu Kiyomi yang saat itu baru saja meninggalkan kelas.
"Ahhh.......!" Terkaget-kaget melihat Bu Kiyomi yang baru saja keluar dari dalam kelas, walaupun pelajarannya sudah habis sekitar 30 menit.
"Hmm....Kazuta! Dari mana saja tadi, kenapa kau baru saja datang?"
"A-anu....! Aku tadi sedang, membantu Pak Kiori membawakan bukunya ke ruangan guru." Mencari-cari alasan sambil memalingkan wajahnya dari arah Bu Kiyomi.
"Hmm....benarkah! Tapi kenapa aku tidak melihat di jam pelajaran pertama tadi?"
"Ehhh! A-anu!" Bicara terbata-bata sambil memikirkan kata-kata untuk di buat alasan.
"Hmm....! Sebenarnya ibu sudah tau kok, kalau kamu terlambat ke sekolah."
"Tapi karena kemarin kau sudah mengundang ibu ke perayaan dan juga kamu sudah menyelesaikan hukuman skorsingmu. Jadi untuk sekarang ibu akan menghampiriku."
"Namun kalau kau melakukan kesalahan yang sama lagi, maka lain lagi ceritanya!"
"I-iya bu! Terima kasih." Setelah mendapat pengampunan dari Bu Kiyomi, aku lalu pergi ke kelasku untuk melanjutkan pembelajaran selanjutnya.
Sesampai di dalam kelas, Iqbal yang duduk di bangku yang berada tepat di depanku tiba-tiba menjulurkan kakinya ke sela-sela tempat duduku yang membuatku sampai terjatuh.
"hmm! Dasar cupu!"
Sebenarnya aku cukup kesal dengan perilakunya padaku selama ini, namun aku menunggu waktu yang tepat tuk menujukkan kemampuanku yang sesungguhnya padanya.
"Cih....!"
Lalu aku kembali ke tempat dudukku untuk menerima pembelajaran selanjutnya.
*****
"Kring......." Bel tanda istirahat telah berbunyi, para murid-murid di kelasku pun banyak yang keluar menyisakan aku seoarang diri di dalam kelas.
Sudah selama 3 tahun ini di sma, aku selalu hidup sendiri di dalam kelas tanpa memiliki 1 orang temanpun yang bisa kuajak bicara maupun sebaliknya. Lebih parahnya lagi aku selalu menjadi bahan rudungan maupun bullyan oleh teman-temanku di kelas.
__ADS_1
Namun entah kenapa hari ini, Iqbal dan yang lainnya tidak menggangguku selama jam pelajaran berlangsung.
"Aku heran! Mengapa hari ini mereka tidak menggangguku?"
"Mereka hanya menggangguku sekali tadi, selebihnya mereka hanya diam saja dan tak melakukan apapun padaku."
"Padahal mereka biasa nya lebih dari ini."
Aku pun memutuskan untuk keluar, karena mungkin barangkali mereka menungguku di luar dan akan membawaku ke gudang tua itu lagi.
Namun setelah ku cek disekitaran halaman mereka sama sekali tidak ada disana, Lalu aku dikejutkan oleh suara yang entah dari mana asalnya.
"Oii....! Kazuta!"
"Kau bisa mendengarku tidak."
Setelah aku cek sumber asal suaranya, ternyata sumber suaranya berasal dari salah satu benda yang kubawa yaitu sebuah permata berwarna hitam yang ada di dalam saku bajuku.
"Sejak kapan, aku menyimpan permata hitam ini di dalam saku bajuku."
"Oii.....!" Permata itu tiba-tiba berbicara dengan sangat keras, pada saat aku melihatnya.
"Hee......!"
"Jangan-jangan kau! Ken!"
"Iya-iya lah, dasar Kazuta bodoh." Dengan sesuai rasa kesalnya ia menjawab pertanyaanku.
"Mengapa sekarang kau tiba-tiba berubah menjadi sebuah permata?"
Terdengar seperti sedang menghela nafas. "Haa.....ini semua gara-gara kecerobohan darimu, kenapa kau bisa-bisanya lupa membawaku waktu tadi pagi."
"Apa....! Jam tangan!" Aku langsung melihat tangan kananku yang biasa selalu kupakaikan jam tangan.
"Sial, aku benar-benar lupa tadi pagi tidak membawamu Ken."
"Aku, benar-benar minta maaf Ken!" Sambil menggaruk-garuk kepalaku.
"Ahh....aku sudah terbiasa dengan kebiasaanmu yang satu ini."
Lalu aku menanyakan pada ken bagaimana ia bisa akhirnya di dalam sakuku, setelah tertinggal dirumah tadi pagi.
"Hmm.....ceritanya panjang, jadi intinya aku merubah diriku menjadi permata."
"Lalu ada seorang gadis yang menemukanku dan membawaku sampai ke sini."
"Lalu ia menggunakan sihirnya untuk mengirimku hingga sampai kepadamu."
"Aku sangat terkejut dengan gadis itu, karena dia sangat mahir dalam hal menggunakan sihir."
"Aku yakin , gadis itu pasti Sarah yang sudah mengirim Ken padaku menggunakan sihirnya." Aku terkejut mendengar cerita dari Ken, yang nampaknya sarah sangat mahir dalam menggunakan sihir.
"Mungkin kapan-kapan, aku akan meminta sarah untuk mengajarkanku ilmu sihir."
__ADS_1
"Apa kau bisa membantuku, Ken?"
"Tentang apa! Jika itu tentang membantu menyelesaikan soal ujianmu."
"Maaf ya! Aku tidak bisa." Jawab ken menyinggung prilaku Kazuta yang terkadang meminta bantuan pada ken untuk menyelesaikan soal ujiannya.
"Tentu saja tidak!"
"Sebenarnya, aku ingin mengetahui keberadaan Iqbal serta teman-temannya?"
"Memangnya kenapa dengan mereka." Ken bertanya mengapa Kazuta sampai harus meminta bantuan dari dirinya hanya untuk mencari anak-anak yang selalu jahat pada Kazuta.
"Aku sama sekali tidak peduli dengan mereka, hanya saja aku khawatir dengan Aiko."
"Mereka bisa saja menyakiti Aiko, hanya karena ingin membalas dendam terhadapku."
"Alasanmu masuk akal juga."
"Baiklah akan ku cari lokasi mereka, menggunakan sihir pelacak."
"Hebat...!" Senang mendengarkan ucapan Ken karena memiliki kemampuan sihir yang banyak dan terbilang sangat efektif.
"Pelacak....."
"Jenis sihir apa lagi itu?"
"Jenis sihir yang dapat melacak seseorang tentunya!"
"Yah! Jika itu aku paham." Dengan ekspresi terdiam dan hanya bengong mendengar ucapan Ken.
"Maksudku penjelasan tentang sihirnya!"
"Oh...!"
"Lebih jelasnya, aku akan perlihatkan padamu sekarang!"
" Sihir pendeteksi Aktifkan: Lakukan."
"Apa hanya itu mantra dari sihirnya." Heran karena teknik bacaan sihirnya sangat sederhana.
"Dasar bodoh! Aku ini roh, tanpa mengucapkan mantra apa pun aku sudah bisa melacak keberadaannya." Menipu Kazuta yang menyangka bahwa Kenen sedang mengucapkan mantra sihirnya.
"Ha...!"
"Jadi mantra sihir yang tadi itu, kau menipuku ya." Kazuta dengan ekspresi yang sangat kesal.
"Yah.... itu tergantung, jika aku hanyalah roh mungkin aku tidak memerlukan bacaan mantra apa pun untuk mengeluarkan sihir."
"Namun mantra ini sangat dibutuhkan olehmu, sang pengguna sihir itu sendiri!"
Aku akhirnya sedikit demi sadikit memahami tentang dunia sihir dan juga cara penggunaannya melalui Ken.
*****
__ADS_1