Pedang Suci

Pedang Suci
Pengintaian


__ADS_3

Rumah tua itu pun hancur, hingga hanya menyisakan puing-puing reruntuhannya saja, akibat dari efek serangan sihir yang dilancarkan oleh iqbal.


***


"Haha......"


"Dasar lemah! Hanya dengan sekali seranganku saja dia sudah menjadi debu."


"Inilah hukuman bagi orang yang telah membuatku terhina, didepan teman-temanku!" Mengembalikan wujud pedangnya mejadi sebuah gelang yang ia kenakan ditangannya.


Datang teman-temannya yang sedang menghampirinya.


"Bagaimana boss pertarungannya, beres?" Tanya salah satu temannya.


"Hmm....! Memusnahkan seekor lalat kecil seperti dia tidaklah sulit bagi orang sepertiku!"


"Bagaimana dengan aiko, apa dia sudah sadar?" Dengan nada memerintah temannya, untuk memastikan keadaan sandra.


Salah satu temannya menjawab, lalu berkata, "Belum, dia masih pingsan sejak tadi."


"Hmm....! Pastikan salah satu dari kalian awasi dia, aku akan masuk ke kelas dulu."


"Aku akan kembali kesana pada saat saat pulang sekolah nanti"


"Pastikan tidak boleh ada yang menyentuhnya selain diriku!" Dengan sedikit senyuman diwajahnya.


"Oke boss....."


"K**ring......" Bunyi bel masuk.


Iqbal kembali ke kelasnya untuk melanjutkan lagi pembelajarannya di sekolah, meninggalkan salah seorang temannya yang ditugaskannya untuk menjaga aiko selagi ia berada di sekolah.


***


"A**rgh......" Suara Kazuta yang sedang merintih kesakitan karena terkena serangan sihir.


"Kau tidak apa-apa, Kazuta?" Tanya ken kepada seorang pria yang sekujur tubuhnya penuh dengan darah.


"Ciihh....!"


"Ini gawat, jika aku tidak menolongnya dengan cepat. Hidupnya bisa dalam bahaya."


Tiba-tiba muncul seorang gadis berpakaian kuning datang mendekati mereka berdua.


"Kau gadis yang waktu itu mengirimku pada kazuta!"

__ADS_1


"Siapa kau...!"


"Maaf karena belum memperkenalkan diriku sebelumnya padamu, wahai roh pedang hitam!"


"Perkenalkan namaku sarah, panggil saja aku sarah." Ternyata gadis itu tidak lain adalah sarah.


"Sarah....!" Ucap ken yang masih dalam wujud permata hitam yang digenggam Kazuta.


"Haa! ap yang telah terjadi pada Kazuta." Terkejut dengan kondisi Kazuta yang dipenuhi oleh darah disekujur tubuhnya.


"Kau sebaiknya tidak perlu banyak bicara, saat ini kondisinya sedang kritis."


"Jadi kumohon! Bantulah dia secepat mungkin."


Mendengarkan apa yang dikatakan oleh roh pedang hitam sarah pun langsung bergegas melakukan pertolongan pertama kepada Kazuta menggunakan sihir penyembuhannya.


Sarah lalu menempatkan tangannya pada dada dan mulai metabolism mantra sihir penyembuhan miliknya, "Pandora Absolute Healing." Seketika luka-luka yang ada di badan Kazuta mulai menghilang.


Sarah berfikir, bahwa lebih baik untuk membawa kazuta ke rumah. Agar bisa ia kembali pulih dan dapat beristirahat setelah menerima luka yang sangat parah akibat sihir.


***


Aku akhirnya sadar dan telah menemukan dirinku sudah berada di kamarku. Tubuhku masih terasa berat, lalu aku mendapati bahwa luka-luka yang sudah diterimaku telah hilang. Aku memutuskan untuk mencari ken, namun setelah mencarinya di setiap ruangan yang ada pada kamar, aku masih belum menemukannya. Aku berfikir kalau ken telah tertinggal di tempat pertarungaku tadi dengan iqbal.


"Apa kau sedang mencari ini?" Ujar sarah, sambil memegang permata yang sebenarnya merupakan perubahan wujud ken.


"Ah....! iya benar, dari mana kau menemukannya?" Tanya Kazuta, hendak mendekati sarah untuk mengambil permata itu.


"Hmm....! Aku menemukannya tak jauh dari kau pingsan tadi?" Ujar sarah, sambil memalingkan wajahnya dari Kazuta.


"Jadi kau yang telah menyelamtkanku dan telah menyembuhkan lukaku tadi." Ujar Kazuta, dengan ekspresi tersenyum menghadap pada sarah.


"Kau tak usah terlalu memujiku begitu, aku juga tak sengaja menemukanmu telah pingsan."


"Lalu, kanapa kau bisa tiba-tiba tergeletak pingsan sampai berlumuran darah tadi!" Ujar sarah, merasa khawatir dengan kondisi Kazuta yang sampai berlumuran darah.


"Tadi, aku menerima pesan dari seseorang yang kukenal dikelasku bahwa, temanya telah membawa seorang gadis yang kukenal ke sebuah rumah tua, tak kau dari sekolahku."


"Namun setelah aku tiba disana, ternyata dia telah menjebakku dan telah memindahkan gadis yang kukenal itu ketempat lain!"


"Lalu ia tiba-tiba saja, menyerangku dengan sihirnya dari belakang." Ucap Kazuta.


"Bukankah kau juga memiliki senjata sihir yang sangat kuat, mengapa kau tidak menggunakannya?" Tanya sarah, dengan ekspresi yang agak kesal.


"Haa..! Jika bicara saja sih memang mudah, tapi dia memiliki senjata sihir yang sangat kuat, sampai-sampai ken tidak bisa mendeteksi hawa keberadaannya?" Ujar Kazuta, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada waktu saat pertarungan.

__ADS_1


"Mungkinkah itu pedang sihir putih yang kubawa?" Ujar sarah, sambil mencocokan pernyataan yang dikatakan oleh Kazuta dengan pedang sihir putih yang pernah ia bawa sebelumnya.


"Kau benar, pada saat itu aku melihat kalau pedangnya berwarna putih dan pada saat ia mengeluarkan sihirnya tiba-tiba pada waktu yang bersamaan, pedang itu memancarkan aura cahaya yang sangat menyilaukan." Ujar Kazuta.


"Tak salah lagi, Itu pasti senjata sihir putih!"


Lalu setelah pembicaraan yang sangat panjang dengan sarah, aku pun berfikir untuk melanjutkan tujuan utamaku yaitu pergi untuk menemukan aiko.


"Kau ingin pergi kemana!" Ujar sarah.


"Tentu saja untuk menemui orang itu." Ujar kazuta, dengan langkah kaki yang sangat cepat keluar dari ruangan itu.


"Oi...! tunggu." Ujar sarah, bergegas pergi mengejar Kazuta.


Setelah ku melihat pukul berapa sekarang, tak kusangka tinggal 15 menit lagi hingga waktu murid untuk pulang dari sekolah tiba.


"Astaga! Ternyata saharian ini, aku bolos sekolah?" Ujar Kazuta, dengan nada suara lemah.


Akhirnya aku berniat untuk tetap pergi ke sekolah hanya untuk mengikuti gerak-gerik iqbal pada saat ia keluar dari sekolah.


Sesampainya di sekolah aku mencat tempat aman yang tak terlihat oleh orang lain pada saat keluar, aku memutuskan untuk menyamar manjadi pelanggan disebuah kedai makanan tak jauh dari area sekolah.


Tak butuh waktu lama, bel terakhir pun berbunyi semua murid-murid yang ada disekolah berhamburan keluar dari gerbang sekolah.


Aku yang sedang menyamar dengan bantuan sihir tipe pengintai milik ken, berhasil mengidentifikasi lokasi iqbal dengan cepat, Aku pun segera mengikuti semua pergerakan iqbal sejak ia keluar dari sekolah tanpa disadari olehnya.


"Kali ini kupastikan, dia tidak mengetahui keberadaanku, walau dengan sihir sekalipun." Ujar kazuta, kata-kata yang keluar dari pikirannya.


Aku terus mengikutinya hingga sampailah disebuah apartemen mewah.


"Haa...! Ngawur, ngapain ia sampai-sampai menyimpan aiko di apartemen yang sangat mewah?"


"Aku tidak ketahuan kan, ken?" Ujar kazuta, merasa curiga akan dirinya sendiri.


"Aku sudah pastikan, dia gak akan merasakan kehadiranmu, walupun ia menggunakan sihir dari pedang itu!"


"Bukankah! Aku sudah katakan tadi, jika sihir penyamaran adalah keahlianku?" Ujar ken, percaya diri akan kemampuan yang ia miliki.


"Tapi, entah kenapa aku masih tetap khawatir akan kemampuan iqbal?"


Aku memutuskan untuk mempercayai ken dan melanjutkan pengamatanku terhadap iqbal masuk kedalam apartemen mewah yang memiliki 11 lantai itu.


Aku membuntutinya dari belakang, hingga sampai lantai teratas apartemen. Aku sedikit curiga dengan gelagatnya yang terkadang tiba-tiba berubah seperti halnya ia tersenyum tanpa sebab saat menaiki lift hingga berbicara sendiri saat memasuki lorong apartemen.


Aku juga menaruh kecurigaan yang besar sejak awal aku mengikutinya dari pintu masuk, tidak biasanya iqbal pergi seorang diri ke sebuah apartemen, karena yang kutahu tentang dirinya adalah dia selalu mengajak serta teman-temanya jika sedang hendak pergi ketempat-tempat seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2