Pedang Suci

Pedang Suci
Penyihir Tulen


__ADS_3

Kami pada akhirnya berhasil menemukan lokasi iqbal berada saat ini, lalu aku pun segera menuju lokasi yang diberikan oleh Ken padaku menggunakan kekuatan sihirnya.


***


(30 menit sebelum Kazuta mengetahui lokasi Iqbal)


Iqbal dan teman-temannya sedang menuju kelas 2-A yang nampaknya kelas tersebut merupakan kelasnya Aiko.


"Tok..! Tok...!"


Iqbal mengetuk pintu hanya untuk memastikan ada murid didalam kelas.


"Hmm....! Sepertinya dia masih berada di kelasnya."


Iqbal menyuruh teman-temannya untuk masuk terlebih dahulu, sedangkan ia mamastikan keadaan sekitar kelas.


Salah satu murid laki-laki dari kelas 2-E yang melihat adanya murid dari kelas lain masuk, ingin bermaksud menanyakan tujuan mereka datang ke kelasnya, "Apa yang ingin kalian lakukan pada jam istirahat, datang ke kelas ini?"


Melihat kondisi kelas pada saat itu sepi, dan hanya ada 2 orang murid termasuk Aiko di dalamnya yang sedang membaca sebuah buku. Mereka langsung tanpa basa-basi menghajar murid laki-laki yang tadi menanyai mereka.


Setelah selesai menghajar murid laki-laki itu hingga sampai membuatnya pingsan. Mereka lalu menghampiri aiko yang saat itu sedang duduk di bangkunya, mencoba memaksanya dengan menyeretnya dan membuatnya pingsan.


"Apa yang akan kita lakukan padanya boss?" Ucap salah satu dari teman iqbal.


"Bawa dia ketempat biasanya dan kirimkan surat ini pada Kazuta." Memberikan secarik surat kepada temannya untuk diberikan pada Kazuta.


"Jika kazuta sampai tidak datang tepat waktu, kita bisa lakukan apa saja padanya."


"Kali ini kupastikan, dia juga merasakan rasa malu yang kurasakan."


Kemudian Iqbal dan teman-temannya pergi ke tempat yang telah direncanakan sebelumnya. Sementara salah satu temannya yang lain bertugas mengantarkan surat kepada Kazuta.


***


Aku yang pada saat itu hendak menuju tempat iqbal saat ini, tiba-tiba dihentikan oleh salah satu dari temannya yang langsung menarik lenganku.


"Hei...! Tunggu dulu!"


"Ini...! Aku ada surat untukmu dari boss."


"Jika kau terlambat sedetik saja, boss akan menikmati pestanya sendirian loh!" Setelah mengatakan itu, ia langsung pergi meninggalkanku.


Aku sama sekali tidak paham dengan apa yang ia katakan dan memutuskan untuk membaca isi surat yang diberikannya.

__ADS_1


Setelah membaca isi dari surat tersebut, akhirnya aku mulai mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Aku langsung meminta pada ken untuk membantunya mengalahkan Iqbal, karena aku tahu iqbal pasti memiliki strategi licik untuk menjebakku.


"Baiklah, aku mengerti!"


Aku segera melanjutkan perjalananku menuju ke tempat, dimana iqbal sudah mengungguku saat ini.


Pada akhirnya aku sampai di tempat yang iqbal tulis didalam surat tadi, yang ternyata tempat itu merupakan rumah tua yang lokasinya tak jauh dari sekolahku. Aku bersusah payah untuk datang ke tempat ini, mengingat waktu istirahat tinggal 30 menit lagi ditambah lokasinya yang berada di luar sekolah.


"Apa dia sudah benar-benar gila, memintaku untuk menemuinya di area luar sekolah pada jam istirahat."


"Aku sampai-sampai meminta bantuan ken untuk memindahkanku ke tempat ini menggunakan Sihir Teleportasi."


Aku sama sekali tidak memiliki waktu yang banyak banyak untuk meladeni mereka.


"Kri…ek!" (Suara pintu terbuka).


Aku mencoba membuka pintu rumah itu, namun sepertinya pintunya sudah terlalu tua hingga menimbulkan bunyi yang sangat keras pada saat membukanya, sampai-sampai suaranya dapat terdengar oleh siapapun yang berada didalam rumah tua itu.


Aku berhasil masuk kedalam rumah tua itu, tanpa adanya gangguan maupun jebakan dari iqbal. Masuk lebih dalam, melawati semua lorong yang ada, hingga membuka paksa pintu-pintu yang ada pada rumah itu. Namun aku sama sekali tidak menemukan keberadaan satu orang pun yang berada disana.


"Kliding.....! Ding-Ding....!" Tiba-tiba aku mendengar suara, seperti suara bola yang sedang mengglinding di salah satu ruangan. Aku pun mengikuti arah dari sumber suara itu, yang nampaknya suaranya berasal dari salah satu kamar yang tidak jauh dari pintu masuk tadi.


"Hmm....bukankah! Tadi aku sudah memeriksa kamar ini, ya!"


Aku pun membuka pintu kamar itu untuk yang kedua kalinya, setelah masuk aku melihat sebuah bola karet yang berada di dekat sebuah lemari besar. Aku mencoba meminta bantuan ken mengunakank sihir pendeteksinya. Tetapi ken berkata bahwa ia tidak bisa lagi menemukan iqbal menggunakan sihirnya karena adanya semacam penghalang sihir yang menyelimuti setiap sudut ruangan di rumah ini.


"Penghalang Sihir....?"


"Apa maksudmu, Ken?"


"Aku sama sekali tidak bisa melihat lokasi iqbal saat ini, karena sepertinya rumah ini telah dipasang semacam mantra penghalang agar penggunanya tidak dapat ditemukan." Ujar ken menjawab pertanyaan dariku.


"Bukankah roh sekuat dirimu seharusnya mampu, menangani sihir semacam ini."


"Hmm....aku juga tidak tahu!"


"Kazuta, hati-hati! Aku merasakan sihir yang sangat kuat sedang mengarah kemari?" Dengan penuh peringatan kepadaku.


"Hmm....apa yang kau...!"


"Prak..!Prak...!" Tiba-tiba aku mendengar langkah kaki seseorang sedang berjalan menghampiriku dari arah pintu. Orang itu semakin mendekat dan lebih dekat lagi hingga akhirnya berada tepat di depan pintu.


"Kri...ek!" Suara pintu terbuka.

__ADS_1


"Welcome...! Kazuto....!" Terdengar suara yang sangat keras memanggil namaku, yang ternyata orang tersebut tak lain adalah Iqbal.


"Iqbal.....!"


"Apa kau bingung mencariku."


"Haa-Haa......!"


"Sangat menyedihkan sekali, sudah kuduga orang cupu sepertimu tidak akan mampu menandingi kekuatan sihirku!' Sambil menunjukkan ekspresi tertawa padaku karena kekuatan yang dimiliki olehnya.


"Aku sama sekali tidak ingin berlama-lama berada di tempat kotor ini!"


"Karena itu, sekarang cepat serahkan aiko padaku...!"


"Ata…u!" Terhenti bicara karena aku sadar kemampuan sihirku saat ini masih belum bisa mengalahkan penyihir tulen seperti Iqbal, mungkin pada waktu itu ia hanya beruntung bisa menang darinya. Namun untuk sekarang aku berpikir bahwa Iqbal pasti sudah menyiapkan sihir barunya yang lebih kuat lagi dari sebelumnya, apalagi ia memiliki darah seorang ahli sihir yang pastinya pertarungan ini akan sangat berat bagiku yang masih baru mengenal sihir.


"Atau apa, anak cupu!"


"Sebenarnya aku ingin beradu sihir denganmu, tapi sepertinya itu tidak akan seru karena pemenangnya sudah terlihat dengan sangat jelas !"


"Tapi tunggu! Tidak ada salahnya kalau kau kujadikan kelinci percobaanku untuk sihir yang baru kukembangkan ini!"


"Lagipula waktu itu kah sudah membuatku malu dihadapan teman-temanku, karena kalah dari orang cupu sepertimu!"


"Bersiaplah! Kau menerima pembalasan dariku."


Iqbal kumudian mengeluarkan senjata pedang putih legendaris dan mulai membacakan mantra sihirnya.


"Aktifkan Roh Pedang Putih : Kumohon pada roh putih yang menerangi segala alam, keluarkanlah petir yang dapat menghancurkan seluruh musuhku!."


Tiba-tiba keluarlah sihir bertipe petir yang memiliki tingkat level sangat kuat diarahkan kepadaku.


"Sial! Tidak akan sempat untuk kabur !"


"Awas....! Kazuta....!" Teriak Ken.


Hendak kabur dari sihir itu, namun ternyata sudah terlambat sihir itu sudah berada tepat didepanku.


"Matilah…."


"Bomb....! Chriittt....!" Suara ledakan disertai lengkingan suara petir menyambar seluruh ruangan dirumah itu hingga hancur.


*****

__ADS_1


__ADS_2