
Setelah pembelajaran selesai dan bel berikutnya berbunyi yang artinya seluruh pembelajaran untuk hari ini selesai.
Seluruh murid segera membereskan alat-alat tulisnya untuk segera pulang.
Sementara semua murid lainnya sudah pulang, menyisakan Kazuta seorang diri di kelasnya yang sedang mengikuti ujian remidi harian.
Setiap harianya Kazuta selalu tidak pernah absen, untuk mengikuti remidi di kelasnya.
Ini mungkin akibat aksi bulying yang ia terima dari temannya.
Yang akhirnya menjadikannya sulit bersosialisasi dengan teman sekelasnya.
"Hmm, Kau ini selalu saja yang aku temui disetiap kali ujian remidi." Ucap kiyomi si guru pengawas ujian remidi hari ini.
"Apa kau tidak pernah belajar setiap harinya?" Tanya bu kiyomi dengan ekspresi lemas.
"Sebenarnya aku sudah belajar, namun..." Ujar Kazuta.
"Namun apa?" Tanya bu kiyomi kembali.
"Jika aku bilang yang sebenarnya karena aku sering di buly, maka teman-temanku akan lebih keras lagi terhadapku." Anggapan Kazuta tentang teman-temannya.
"Ada apa, Kazuta?" Tanya bu kiyomi sekali lagi.
"Tidak, mungkin karena aku memang sudah bodoh dari lahir." Membuat alasan yang terdengar terlalu ambigu.
"Hmm, kau tahu tidak ada itu yang namanya bodoh sejak lahir atau semacamnya."
"Jika kau berusaha lebih keras lagi maka tidak akan ada yang namanya tidak mungkin." Ujar bu kiyomi mencoba meluruskan perkataan Kazuta.
"Jadi guru berpirik kalau aku hanya kurang belajar saja?" Tanya Kazuta kepada bu kiyomi.
"Yah kau benar, akhirnya kau mengerti juga." Jawab bu kiyomi dengan ekspresi tersenyum.
Tiba-tiba tidak terasa waktu ujian pun sudah selesai. Saatnya untuk yandi memberikan hasil jawabanya kepada guru dan pulang kerumah.
Di saat ia hendak meninggalkan sekolah, ia berpapasan dengan aiko.
"Kukira kau murid pintar aiko, ternyata kau juga ikut remidi?" Tanya Kazuta sambil tersenyum kecil terhadapnya.
"Tidak! kau sudah salah paham, aku pulang terlambat bukan karena remidi, tapi aku masih disuruh bu kiyomi untuk mebereskan barang-barangnya." Ujar aiko menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
"Oh, jadi maksudmu kau membantu bu kiyomi kemari?" Tanya Kazuta lagi.
"Jadi murid teladan memang beda ya."
"Diluar dari sifat kerasnya, sebenarnya aiko adalah murid yang pintar dan juga baik hati." Ucap kazuta dalam hatinya.
"Anu, aiko berjuanglah." Kazuta mencoba memberi semangat.
"Emm, apa yang kau bicarakan?" Tanya Aiko pada Kazuta.
"Ahh, tidak ada." Jawab Kazuta dengan nada suara yang agak lambat.
Merekapun berpisah satu sama lain dan Kazuta pun melanjutkan perjalannya kembali untuk pulang. Sesampainya ia di depan rumah, ia merasa kaget karena ada seseorang gadis misterius yang berusia tidak jauh dengannya dari tadi terus menerus menatap ke rumahnya dan bahkan sampai mengiranya sebagai orang gila yang teropsesi terhadap bagian dari dalam rumahnya.
Kazuta mencoba mendekatinya dengan perasaan was-was. Dan mencoba berkomunikasi dengannya.
"Permisi...! apa ada yang saya bantu, kau sudah menatap rumahku dari tadi."
"Jadi kukira kau sedang mencari seseorang yang tinggal dirumahku ini." Ujar Kazuta mencoba memberitahu.
"Apa kau pemilik rumah ini?" Tanya gadis misterius itu.
"Iya, ada apa." Jawab Kazuta sambi mengangguk.
Tiba-tiba gadis misterius itu mengeluarkan dua buah senjata yang mirip sebuah pedang kayu, yang satu berwarna putih sedangkan yang satunya lagi berwarna hitam.
"Bisakah kau perlihatkan tanganmu padaku."
Mendengar hal tersebut kazuta pun terkejut.
"Eh..! Ada apa." Ujar Kazuta.
Dia lalu menyuruhku untuk memegang nya secara bergantian, dia lebih dulu menyuruhku memegang pedang kayu berwarna putih. Aku tidak merasakan ada efek yang ditimbulkan dan pedang itu sama sekali hanyalah pedang kayu biasa, namun ketika gadis misterius itu menyuruhku untuk memegang pedang kaya berwarna hitam ada sesuatu yang berubah. Tiba-tiba pedang kayu itu yang semula hanyalah pedang kayu biasa yang padat memancarkan aura hitam yang sangat pekat dan lansung berubah bentuk menjadi pedang sungguhan berwarna hitam.
__ADS_1
Gadis misterius itu berkata, "Tidak kuduga." Ujar gadis misterius tersebut dengan ekspresi terkejut.
"Ehh anu! Ada apa dengan pedangnya kenapa pedangnya bisa tiba-tiba berubah bentuk menjadi pedang asli?" Tanya Kazuta dengan perasaan terheran-heran terhadap pedang yang sedang dipegang.
"Sebenarnya, aku sedang mencari penerus dari senjata-senjata sihir ini." Ujar gadis misterius itu kepada Kazuta.
"Penerus, berarti sebelumnya sudah ada yang memakai benda ini." Jawab Kazuta.
"Ya memang, senjata-senjata sihir ni sebelumnya memiliki tuan." Ujar gadis itu menanggapi perkataan kazuta.
"Lalu kemana mereka sekarang?" Tanya Kazuta.
Gadis misterius itupun menjawab, "Mati."
"apa, kenapa?."
"ada suatu kejadian yang tidak bisa diukur oleh nalar manusia."
"diluar, nalar?"
"Ya, perang antar pengguna sihir terkuat di dunia." ucap gadis misterius.
"lalu, ada hubungan apa perang tersebut dengan benda-benda sihir ini."
"hubungannya sangat besar, senjata-senjata tersebut dulunya adalah senjata milik orang-orang terpilih tersebut.yang sudah mengubah arah jalan pepeperangan tersebut." ucap gadis misterius.
"lalu, ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan." ucap Kazuta.
"apa itu?."
"apa perbedaan senjata yang berwarna hitam ini dengan senjata putih yang kau pegang itu." ucap Kazuta.
"hmm,kalau itu mudah saja."
"tadi kau melihat aura hitam di pedang kayu yang kau pegang itu sebelumnya ia berubah menjadi pedang asli kan." ucap gadis misterius itu.
"iya benar, lalu?."
"senjata yang kau pegang itu memiliki sistem sihir kegelapan."
"sebelumnya aku cukup terkejut karena tidak menyangka orang sepertimu bisa terpilih oleh senjata itu." ucap gadis misterius tersebut.
"hmm...! aku seperti seorang yang suram saja. sampai dia berkata begitu."
"lalu apa nama pedang ini."
"oh, untuk itu pemilik sebelumnya belum memberinya nama."
"dia sepertinya orang yang tidak tertarik sama sekali dengan nama sebuah pedang."
"kau bisa mamberinya nama untuk pertama kali dan menjalin kontrak dengan senjata itu."
"apa, benda se keren ini sama sekali belum memiliki nama."
"wah.. aku akan menjadi orang pertama yang akan memberinya nama, ini keren sekali."
"kalau begitu."
"ah..aku lupa sesuatu."
"aku kan sama sekali tidak memiliki sihir, mana bisa aku menjalin kontrak dengan senjata ini."
"tenang saja, siapa pun orang yang terpilih oleh senjata itu pasti orang tersebut memiliki sihir dasar."
"meskipun, aku tidak yakin itu akan bekerja pada orang seperti dirimu." ucap gadis tersebut(menyindir).
"mukmin aku rasa tingkat keberhasilanmu dalam menerapkan ilmu sihir hanya 1 persen banding 99 persen kegagalan."
"ha...kau sedang menghinaku ya."
"tidak kok, aku hanya berbicara fakta." ucap gadis itu(sambil berbicara pelan).
"itu sama saja."
"terus, apa yang akan kau lakukan."
__ADS_1
"mencobanya atau menyerah begitu saja seperti seorang pengecut."
"hmm, bagaimana ini tingkat keberhasilannya hanya satu persen."
"persetan dengan bualannya dia pasti cuma bercanda."
"kalau tidak ku coba mana mungkin aku tau itu akan berhasil ata tidak."
"Baiklah.., aku akan mencobanya?." ucap Kazuta.
"Baiklah, sekarang pegang senjata itu dan bayangkan bentuk apa yang ingin kau gunakan."
"lalu, jika kau berhasil kau akan bertemu dengan sosok roh pedang itu."
"tunggu-tunggu, aku akan bertemu dengan roh pedang ini katamu." ucap Kazuta.
"ya, setiap senjata sihir tingkat tinggi pasti memiliki sosok roh pelayan di dalamnya."
"kau pasti bercanda."
"aku akan bertemu dengan hantu,
maksudmu?." ucap Kazuta.
"itu bukan hantu, itu roh pelayan bodoh. perbedaannya terbilang sangat jauh kau tahu." ucap gadis misterius itu.
"ha...bukan kah sama saja."
"kau ini, biar ku beritahu roh adalah sosok yang memiliki kekuatan sihir maha dahsyat dan siapapun yang berhasil mengikat kontrak dengannya pasti akan memiliki kemampuan sihir tingkat tinggi dibandingkan pengguna sihir lainnya."
"sedangkan hantu, kau tau sendiri kan bodoh. dia hanya menakutimu saja."
"jika kau sudah paham, cepat lakukan sana."
"B-baik..?."
Kazuta pun mulai mencoba membayangkan bentuk senjata itu menjadi sebuah senjata pedang yang pernah ia lakukan sebelumnya.Ia berkonsentrasi secara penuh agar tidak terjadi kesalahan pada sihirnya.
"oke.. sekarang aku harus membayangkan benda ini menjadi sebuah pedang."
"sebenarnya pedang kayu itu tidak hanya bisa berubah bentuk menjadi sebuah pedang saja, melainkan bisa berubah bentuk menjadi senjata yang kau inginkan." ucap gadis misterius.
"Benarkah...."
"iya....tapi dari yang kulihat yang kau pikirkan hanya bentuk pedang saja."
"apa tidak ada hal lain yang kau pikirkan selain sebuah pedang." ucap gadis misterius.
"maaf...tidak ada."
"tunggu, bagaimana aku berkonsentrasi jika kau ngajak aku ngobrol terus." ucap Kazuta.
lalu saat Aku tengah bertengkar dangan gadis misterius itu, tiba-tiba pedang yang tengah ia genggam mengeluarkan aura hitam, dan secara cepat merubahnya menjadi sebuah pedang hitam panjang.
"woah...keren, akhirnya aku berhasil." ucap kazuta.(dengan ekspresi senangnya).
"ha...mengejutkan." ucap gadis misterius itu dengan ekspresi datar.
"Bagaimana aku berhasil kan, kau pasti terkejut karena aku bisa." ucap Kazuta.
"hmm...mustahil padahal dia sama sekali tidak memiliki kriteria sebagai ahli sihir, tapi kenapa dia berhasil merubah senjata sucinya."
"Baiklah urusanku disini sudah selesai,aku masih ada urusan lain yang harus kulakukan." ucap gadis misterius itu.
"tunggu...aku masih belum mengetahui namamu." ucap Kazuta.
"tolong beritahu aku namamu."
"dengan berjalannya waktu, kau pasti akan mengetahui namaku nanti."
"aku akan menantikan aksimu dengan menggunakan senjata itu Kazuta troyard."
lalu gadis misterius itu menghilang dengan sangat cepat menggunakan sihirnya.
tanpa mengetahui namanya, Aku berjanji akan menemui gadis itu lagi dan mengetahui tentang identitasnya yang sebenarnya.
__ADS_1