PELET PENAKLUK

PELET PENAKLUK
Ritual


__ADS_3

Sekumpulan anak-anak tengah bermain disebuah tanah lapang dengan pepohonan yang besar dan rimbun di sekelilingnya, tak berjarak jauh dari lapangan sebuah hutan yang penuh dengan kemisteriusan nampak mengawasi anak-anak yang tengah asik bermain, anak-anak itu terlihat seumuran, kisaran 11 dan 12 tahun, mereka tengah bermain permainan yang sedang digemari di kampung mereka, gobak sodor, permainan sederhana yang hanya dengan menggaris beberapa kotak di tanah dan beberapa orang yang menjaga di garis masing-masing kotak sudah membuat wajah anak-anak di hiasi tawa lepas nan bahagia, hidup di desa memamg tidak seperti di kota, permainan tradisional sederhana sudah menjadi hiburan terbaik untuk anak-anak.


Tak terasa perlahan matahari sudah mulai terbenam, anak-anak mulai membubarkan diri, berlarian menuju rumah masing-masing, begitu juga dengan yuli, anak yang berkulit sawo matang dan berparas manis itu pun kembali kerumahnya, iya bergegas karena tidak sabar untuk melepas dahaga dan laparnya, karena dari tadi pagi perutnya yang kecil tidak terisi makanan ataupun minuman karena perintah dari neneknya, neneknya menyuruh Yuli untuk berpuasa.


Sesampainya dirumah Yuli langsung mencari neneknya


"neeek, neneeeek, , aku sudah boleh makan kaaaaan, aku lapar"


nenek keluar dari dapur membawa piring dan gelas, Yuli tidak sabar dan langsung duduk dimeja makan


Yuli hanya tinggal berdua dengan neneknya, sejak lima tahun yang lalu ibunya bekerja merantau menjadi TKW, sedangkan ayahnya telah bercerai dengan ibunya dan telah mempunyai keluarga baru, nenek Yuli tidak mengizinkan Yuli tinggal dengan Ayahnya, karena khawatir ibu tiri Yuli tidak dapat menerima Yuli.


Yuli menatap bingung piring yang disodorkan neneknya


"kok cuma nasi nek? lauknya tidak ada ya?"


nenek hanya tersenyum


Yuli tiba-tiba merasa bersalah

__ADS_1


"nenek tidak ada uang ya untuk beli lauk? Yuli akan bantu nenek ya cari uang"


nenek tersenyum lagi


"sudah dimakan nasinya, nanti keburu dingin"


nenek mengelus kepala Yuli


"nanti malam ikut nenek ya"


Yuli terlihat menyantap nasi dengan lahap


Malam telah tiba, dan bulan terlihat bulat sempurna.


Yuli tengah belajar dikamarnya, ditemani lampu minyak yang terpancar redup, tiba-tiba nenek masuk dan menghampiri yuli yang sedang belajar, terlihat nenek mambawa kantong plastik hitam.


"apa itu nek?" tanya yuli penasaran


"Yuli, ayo ikut nenek"

__ADS_1


terlihat nenek tidak berniat menjawab pertanyaan yuli


"baik nek"


Yuli mengikuti nenek dari belakang tanpa banyak bertanya.


Mereka keluar rumah hanya ditemani sebuah obor, memang didesa Yuli belum terjamah listrik, jadi untuk penerangan hanya mengandalkan lampu minyak, itulah yang membuat berjalan malam hari cukup tidak nyaman.


Yuli dan nenek berjalan semakin menjauh dari rumah, melewati persawahan dengan susah payah, tak terasa mereka telah tiba didepan hutan. Gelapnya hutan membuat Yuli mulai takut dan memeluk neneknya. Perlahan mereka memasuki hutan, angin yang cukup besar seakan menyambut mereka, suara gemerisik daun dan ranting yang diterpa angin, membuat suara-suara yang cukup membuat bulu kuduk merinding, didalam hutan benar-benar hingga sesekali Yuli tersandung akar-akar pohon yang menjalar ditanah, tapi nenek berjalan dengan sangat lancar tanpa halangan seolah sudah benar-benar tahu seluk beluk hutan, setelah berjalan cukup jauh, sampailah Mereka disebuah pancuran, tempat yang agak terbuka di tengah kelilingan pepohonan besar membuat sinar bulan dapat masuk dan memberikan sedikit penerangan, gemericik air di kesunyian hutan membuat jantung Yuli berdesir, Yuli melihat ke arah pancuran, itu terlihat seperti sebatang bambu besar yang menampung kucuran air dari celah-celah batuan besar yang sedikit tertutup tanaman menjalar.


"duduk"


nenek menyuruh Yuli duduk disebuah batu besar tepat dibawah pancuran.


Yuli memang takut, tapi ia tidak banyak bertanya dan menuruti perintah nenek. Yuli agak kesulitan naik ke atas batu karena kondisinya cukup licin tertutup lumut, ia hampir terpeleset tapi dengan sigap menahan dengan kedua tangannya, tapi lututnya terantuk batu dengan keras, ia meringis kesakitan dan melihat nenek seolah meminta pertolongan, tapi nenek hanya diam dan menatap tajam ke arahnya tanpa berkedip.


nenek membuka plastik hitam yang ia bawa dari rumah, isinya membuat banyak pertanyaan di benak Yuli, kembang tujuh rupa dan minyak yang berbau menyengat, baunya membuat nuansa semakin menyeramkan, kemudian nenek mulai memandikan Yuli dengan air pancuran dan kembang tujuh rupa serta minyak yang tadi ia bawa, sambil mulutnya terus berkomat-kamit mengucapakan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Yuli nenek mengguyur semua badan Yuli, tercium bau bunga dan minyak menempel di tubuh Yuli.


Yuli tidak mengetahui bahwa Neneknya tengah mempersiapkan dengan matang proses pemindahan ilmu turun temurun keluarganya, persiapan awal yang dimulai dari puasa mutih yang dilakukannya tadi siang, hingga proses akhir dengan memandikannya dipancuran hutan tengah malam dengan bunga dan minyak yang berbau mistis, Yuli benar-benar tidak tahu bahwa ilmu yang akan diberikan oleh neneknya itu akan berpengaruh besar pada kehidupannya dimasa depannya.

__ADS_1


__ADS_2