
Sejak subuh Yuli sudah bangun karena tidak sabar untuk memulai kegiatan pertamanya bekerja dengan bibinya, tidak lupa ia juga menyiapkan sarapan untuk paman dan bibinya, dirumah bibinya yang besar memang tidak ada pembantu, bibinya terbiasa melakukan pekerjaan rumah sendiri karena Bi Anah berpikir tidak terlalu memerlukan jasa pembantu kalau hanya untuk dua orang dirumah, ya anak Paman dan bibi satu-satunya tengah berkuliah diluar kota.
Bi Anah keluar dari kamar dan kaget melihat Yuli tengah menyajikan makanan dimeja makan.
"Waaah, kau bangun jam berapa? jam segini sudah menyiapkan sarapan, tidak usah repot-repot, kau kan tamu, seharusnya bibi yang menjamumu"
"tidak apa-apa Bi, aku terbangun pagi-pagi sekali karena takut kesiangan dihari pertama, ternyata masih terlalu subuh jadi daripada aku tidur lagi dan kebablasan, lebih baik aku menyiapkan sarapan"
"wah kamu semangat sekali" bibi tersenyum
"baiklah bibi akan mandi dulu, setelah sarapan nanti kita akan berangkat bersama"
Selesai sarapan Yuli dan Bi Anah berangkat bersama menuju salah satu rumah makan Bibi.
20 menit kemudian sampailah mereka ditempat yang dituju, sebuah rumah makan yang tidak terlalu besar namun terlihat bersih dan nyaman, letaknya strategis karena dekat dengan perkantoran, dari pagi pun sudah terlihat banyak pelanggan yang datang.
"Wah ramai ya pelanggannya bi" Yuli tampak kagum dengan keberhasilan rumah makan bibinya
"iya, kalau jam makan siang akan lebih ramai, mungkin nanti kamu akan sedikit kerepotan, tapi semoga kamu cepat terbiasa ya"
"Mba Marni, sini sebentar" Bi Anah manggil seseorang dikejauhan
"iya bu"
"ini perkenalkan, keponakanku, mulai hari ini ia akan membantu disini, aku berencana akan mempercayakan salah satu rumah makan milikku padanya, jadi kau ajari dia ya"
"baik bu"
"nah Yuli, belajarlah pada mba Marni, bibi masih harus berkeliling, jadi bibi tinggal dulu ya"
"iya, bi"
Bi Anah berjalan meninggalkan rumah makan, setelah sosok Bi Anah tak terlihat, Mba marni mulai menyapa Yuli
"aku akan jelaskan beberapa, lainnya sambil berjalan saja ya, kalau ada yang tidak kau mengerti, kau bisa tanya-tanya padaku"
"ah iya maaf kalau saya merepotkan"
"Semoga betah ya" Mba marni tersenyum
Mba marni mengajak Yuli berkeliling sambil menjelaskan segala sesuatu tentang rumah makan bibinya. Yuli terkagum-kagum melihat tutur bicara Mba Marni yang lembut, menjelaskan dengan baik dan terasa akrab, melihat wajahnya mungkin ia berumur 30 tahunan, terasa seperti kakak bagi Yuli, selain baik wajahnya juga cantik natural dengan kulit sawo matangnya.
"nah jadi yang terutama terhadap pelanggan itu keramaahan kita dalam melayani, kebersihan dirumah makan, dan resep, jangan sampai resep kita ubah ketika pelanggan sudah suka, ada yang kurang mengerti?" tanya Mba marni pada Yuli
"secara garis besarnya aku sudah mengerti"
"baiklah, sebentar lagi jam ramai pengunjung, sebaiknya kau membantu melayani dulu"
Tak lama kemudian pengunjung mulai berdatangan, saat Yuli tengah sibuk mencatat pesanan pengunjung, ada seseorang yang menyapanya
"pegawai baru ya?" seorang pria berkulit putih, menyapa Yuli
"iya" Yuli tersenyum
"baru lulus sekolah?" pria itu tersenyum
senyumnya sungguh manis terlihat seperti orang yang baik
"iya"
"Yuli ini keponakannya Bu Anah" Mba Marni menjelaskan sambil mengantar pesanan
__ADS_1
"ooh keponakannya Bu Anah"
Setelah mencatat pesanan, Yuli kembali kedapur
"dia itu pak Riko, salah satu langganan disini, rumah makan ini punya banyak pelanggan, sudah biasa yang namanya pelanggan itu terkadang saling mengobrol dengan pelayan disini, itu prinsip keramahan yang tadi aku jelaskan, jadi kamu jangan canggung ya" Mba mirna menjelaskan pada Yuli.
Yuli mengangguk
...----------------...
Satu bulan kemudian, dijam ramai pengunjung, seperti biasa Yuli membantu mencatat pesanan pelanggan
"kau keliatan pucat, sakit ?" Riko memgang kening Yuli
"engga kok mas, cuma semalem kurang tidur" Yuli tersipu malu
"oh kalu begitu istirahat saja, kan masih banyak orang disini yang bisa menggantikanmu mencatat pesanan, dari pada pingsan, aku tidak mau jika disuruh menggendongmu ya"
"ih teganya" Yuli cemberut
Semenjak Yuli bekerja dirumah makan Bibinya, Riko selalu menyapa Yuli, mengajaknya mengobrol dan bercanda, memberikan perhatian-perhatian kecil untuk Yuli, membawakan minuman atau jajanan untuk Yuli, perhatian dari Riko membuat Yuli memiliki perasaan yang lebih untuk Riko
"Oh iya, ini untukmu" Riko menyodorkan sebuah paper bag
"apa ini mas?"
"kenang-kenangan, agar kau tidak kesepian, minggu depan aku akan pindah kerja keluar kota"
"apa? kenapa mendadak sekali?"
"hmmm sebenarnya tidak mendadak sih, sudah direncanakan sejak bulan kemarin, tapi aku baru sempat memberitahumu"
Yuli tampak murung
"kapan? berapa lama?"
"mungkin setelah satu tahun"
Perasaan Yuli sangat sedih, ketika sehari saja ia tidak melihat Riko, perasaannya menjadi tidak menentu, ia tidak bisa membayangkan jika selama setahun ia tidak bisa melihat Riko
"Mas pulang kerja jam berapa? aku mau bicara"
"jam 5, mau bicara apa sih anak kecil?" Riko mengusap rambut Yuli
"pokoknya jam 5 aku tunggu"
"iya nanti jam 5 aku kesini lagi"
jam yang dijanjikan pun tiba, Riko menemui Yuli dirumah makan
"mas kita ngobrol di bangku belakang ya, disini banyak orang"
Riko mengikuti keinginan Yuli dan berjalan menuju belakang rumah makan, disitu terdapat pohon yang rindang dengan bangku dibawah nya
"mas beneran mau pergi ya?"
Riko tertawa kecil "memangnya aku terlihat sedang berbohong?"
"aku ga mau mas pergi"
"duh kasihan, kesepian ya" Riko mencubit pipi Yuli
__ADS_1
"iya" jawab yuli menunduk
Riko terdiam memandang Yuli
"aku,, aku menyukaimu mas, aku mencintaimu, aku tidak bisa jika harus jauh darimu, hatiku terasa sesak walau hanya sehari tak melihatmu, aku menyukaimu mas"
"tapi Yuli,, aku hanya menganggapmu sebagai adik"
"tapi perhatian dan sikap mas selama ini padaku tidak terlihat seperti itu"
"maaf jika sikapku membuat dirimu salah paham, tapi aku benar-benar hanya menganggapmu sebagai adik, perhatian yang kuberikan tidaklah lebih dari perhatian seorang kakak kepada adiknya"
"tapi bagaimana dengan perasaanku ini? hatiku sakit, cinta ini sudah tumbuh, perasaanku padamu bukanlah perasaan seorang adik terhadap kakaknya" Yuli meneteskan air mata
"maafkan aku, aku tidak bisa membalas perasaanmu, aku tidak punya perasaan itu padamu, dan lagi aku sudah mempunyai istri dan anak, maafkan aku sudah membuatmu salah paham"
Yuli sangat terkejut dengan kenyataan ya diungkapkan Riko, karena selama kenal dan saling mengobrol, Riko memang tidak pernah membahas istri ataupun anaknya
"sekali lagi maafkan aku sudah membuatmu salah paham, aku harap kau bisa segera melupakannya, aku pamit pulang"
Riko pergi meninggalkan Yuli yang masih menangis
...----------------...
Keesokan harinya dirumah makan, Yuli bingung bagaimana harus bersikap jika bertemu Riko, kejadian kemarin sungguh membuat hatinya kacau, ketika tengah sibuk dengan hati dan pikirannya, terlihat Riko dan teman-temannya datang kerumah makan
Yuli bingung apa yang harus ia lakukan, menyapa duluan atau harus bagaimana?
Yuli menghampiri meja Riko dan menanyakan pesanan, Yuli mencatat satu persatu pesanan sambil sesekali melihat Riko, tetapi Riko memalingkan wajahnya dan tidak sekalipun melihat ke arah Yuli.
perasaan sakit apa ini? kenapa ia memalingkan wajah seolah ia membenciku? seoalah aku telah membuat kesalahan besar, memangnya rasa cinta yang aku punya ini salah? jika aku bisa memilih kepada siapa aku harus jatuh cinta, aku mungkin tidak akan mau jatuh cinta pada pria beristri, tapi ada perasaan yang begitu kuat didalam hati ini, walaupun kau sudah menolakku, tapi rasa ini tidak bisa hilang begitu saja
Yuli membalikan badan dan pergi menuju dapur sambil menahan rasa sakit dihatinya
semenjak itu sikap Riko selalu seperti itu setiap bertemu Yuli, ia memalingkan wajah dan tak mengatakan satu patah kata pun.
Dirumah makan Yuli jadi sering melamun, Yuli semakin tidak tahan dengan perasaan yang begitu menyiksanya, dia menyesali pernyataan cintanya, jika ia tidak mengatakannya, mungkin,,
tiba-tiba ada bisikan ditelinga Yuli
akan kubantu jika kau perintahkan aku, dalam sekejap mata kau akan mendapatkan yang kau mau dan tidak akan merasakan sakit hati lagi
Yuli kaget dan teringat dengan pemberian neneknya
Yuli langsung menghampiri Riko yang terlihat akan beranjak dari rumah makan, yuli menarik tangan Riko dan menatap matanya sambil dalam hati membaca bacaan yang neneknya ajarkan
Riko terdiam menatap Yuli
apakah berhasil? kenapa dia diam saja? apakah ilmu yang diberikan nenek bekerja?
dalam hati Yuli merasa khawatir
"ada apa menarikku?" tanya Riko dingin
tidak bekerja ya? tidak berhasil?
" ah anu, mmmmm, kembalian, iya kembalian, sudah dikasih belum?" Yuli gugup mencari alasan
"sudah" jawab Riko datar
"ah aku kira belum, jadi maaf sudah mengganggu"
__ADS_1
Yuli segera bergegas kembali kedapur
aaaah, apa yang aku lakukan, ternyata tidak berhasilkan? kenapa aku harus mempermalukan diri sih