
Pagi hari di hotel, Yuli terlihat cemas dan kurang tidur
Mas Riko sampai pagi begini handphonenya masih belum aktif, apa kau sedang bersenang-senang Mas? kurang ajar, aku kau biarkan sendirian di hotel, kau enak-enakan bersama Rina di sana
terdengar pintu diketuk
mas Riko?
Yuli bergegas membuka pintu
"pagi" sapa Vendi
"oh pagi" Yuli menjawab dengan sedikit kecewa
"Aku kemari karena disuruh Riko, aku bawakan ini untukmu" Vendi menyodorkan plastik yang berisi banyak makanan
"terimakasih"
"kau kan belum terlalu tahu daerah sekitar sini, jadi kalau perlu apa-apa kau bisa hubungi aku"
"ah, sekali lagi terimakasih, tapi apa kau tahu kira-kira kapan mas Riko akan datang kemari?"
"entahlah, dia tidak memberi tahuku, dia hanya bilang untuk mengurus segala keperluanmu selama disini"
"oh begitu" suara Yuli terdengar lemah
"oke aku berangkat kerja dulu, jika ada yang kau butuhkan telepon saja aku"
Yuli mengangguk
Vendi beranjak pergi
didalam kamar Yuli meletakkan kantong plastik penuh makanan tadi di atas meja, ia merebahkan diri diatas tempat tidur dan menghela nafas panjang, Tiba-tiba sekujur tubuhnya mulai memanas, nafasnya mulai memburu, tubuhnya bergetar
efek samping pelet ini muncul lagi, aku harus menahannya
Yuli berguling-guling di kasur berusaha menahannya, wajahnya mulai memereh
sial! kapan mas Riko akan menemuiku
...----------------...
Rina mencium tangan Riko, Riko membalas dengan kecupan di kening
"aku berangkat kerja dulu ya, mungkin aku akan pulang lebih malam, jadi kau dan anak-anak tidak usah menungguku, pastikan jangan tidur larut ya, kesehatanmu dan anak-anak penting"
"terimakasih ya mas sudah jadi kepala keluarga yang baik, walaupun kau selalu sibuk dengan pekerjaan sampai kau pulang malam pun kau tidak pernah mengeluh, yang kau khawatirkan selalu kami" Rina memeluk Riko, Riko kembali mencium kening Rina
"aku berangkat ya" Riko beranjak pergi
Rina melambaikan tangan
saat di mobil Riko mengaktifkan handphone, lebih dari seratus panggilan tak terjawab dan Puluhan pesan masuk dari Yuli, Riko bergegas menelepon Yuli, tidak membutuhkan waktu lama Yuli langsung mengangkatnya
"Mas Kau dimana? kapan kau kemari?" Yuli hampir menangis
"iya sayang, aku akan pulang kerja lebih cepat untuk menemuimu"
"aku merindukanmu mas, apa kau tidak merindukanku? oh tentu saja karena ada Rina disampingmu, kau pasti sudah melupakanku" Yuli terdengar sinis
"mana mungkin aku melupakanmu, aku akan secepatnya menemuimu, istirahat nanti aku akan kesana"
"aku tunggu, awas jika kau bohong"
telepon ditutup
...----------------...
Yuli menanti dengan gelisah, ia melihat jam didinding menunjukan pukul 12.15
kenapa mas Riko belum datang? hotel ini dan kantornya kan tidak terlalu jauh, apa ia membohongiku?
terdengar suara pintu diketuk, Yuli bergegas menghampiri pintu dan membukanya
__ADS_1
"Mas Riko" Yuli langsung memeluk sosok yang ia rindu
Riko membalas memeluk dengan hangat
"ayo masuk dulu, malu dilihat orang" kata Riko sambil mengelus rambut Yuli dengan lembut
Yuli mengangguk dan berjalan masuk sambil terus menempel pada Riko seakan tak mau lepas
tubuh Yuli kembali memanas, sekujur tubuhnya mulai merasa gerah, Yuli menarik Riko menuju tempat tidur ia sudah tidak bisa menahan gairahnya, Yuli merwbahkan diri di tempat tidur dan mulai membuka bajunya, Riko dengan gemas membenamkan wajahnya didada Yuli, Yuli mendesah, ia menarik Riko dan menjatuhkannya dikasur, posisi berbalik, kini Yuli sudah berada diatas Riko
"kenapa semalam kau tidak kemari mas? apa kau sudah melupakanku?" kata Yuli sambil membuka kancing baju Riko satu persatu
"kau tahu betapa aku rindu dan membutuhkanmu?" sekarang tangan Yuli beralih ke ikat pinggang Riko, membukanya dengan perlahan
"katakan mas apa kau sudah melupakanku?" Yuli mencium bibir Riko dengan sedih
Riko melepaskan ciuman Yuli dan memegang lengan Yuli dengan kedua tangannya
"Yuli, aku benar-benar sangat mencintaimu, mana mungkin aku melupakanmu, tak sedetikpun aku melupakanmu, kau selalu dalam pikiranku, wajahmu selalu ada dipelupuk mataku, bahkan ketika aku dan Rina sedang..." Riko menghentikan perkataan yang seharusnya tidak ia katakan
"sedang apa mas? lanjutkan!" terlihat amarah dimata Yuli
"se.. sedang.. mengobrol" Riko terbata-bata
"bohong" tangan Yuli mengepal
"kau tidur dengannya?" Amarah Yuli mulai memuncak
"bukan aku yang.. Rina yang memulainya, aku tidak mungkin menolak"
"kenapa?" Yuli menatap tajam mata Riko
Riko memalingkan wajahnya dan berkata dengan lirih
"karena aku masih suaminya"
PLAK
"kalau begitu jadilah suaminya selamanya" ucap Yuli dengan suara bergetar
"pergi dan tinggalkan aku" teriak Yuli
Yuli mulai menjauh dari Riko
"a.. aku minat maaf, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi"
"semua janjimu bohong, ketika menikah denganku kau bilang akan meninggalkan istrimu, tapi sekarang kau malah tidur dengannya" Yuli berteriak sambil menangis
"aku memang akan menceraikannya, tapi aku butuh waktu, sebentar lagi, bersabarlah"
"jika kau tidak bisa menceraikan Rina, maka ceraikanlah aku" suara Yuli terdengar bergetar
Riko memeluk Yuli
"aku tidak mau, mari kita bicarakan ini pelan-pelan, jangan seperti ini"
"tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, kau masih ada hati untuk Rina, memang aku yang bodoh mencintai lelaki yang sudah bersuami" Yuli melepaskan pelukan Riko
"sekarang pergilah.. tinggalkan aku" teriak Yuli sambil menangis
Riko merapihkan kembali pakaiannya, ia tahu tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat, sedangkan banyak pekerjaan dikantor yang belum ia selesaikan
"aku harus kembali ke kantor, sepulang kerja aku akan kemari lagi, kita akan bicarakan ini nanti"
Riko pergi meninggalkan Yuli yang masih menangis
...---------------...
sepulang kerja Riko bergegas menuju ke hotel, ia kaget karena tidak menemukan Yuli di sana, Riko panik, Riko segera mencari ke sekitaran hotel, tetapi sia-sia, Yuli tidak ada di mana pun
kemana kau Yuli? aku mohon jangan tinggalkan aku, ke mana aku harus mencarimu?
Riko memperlias pencariannya agak jauh dari hotel tetapi tetap saja sia-sia, ia menelepon Yuli, handphonenya tidak aktif
__ADS_1
"aaaagggghhhh" Riko berteriak kesal
Riko menelepon Vendi
"Vend, tolong gw" Pinta Riko
"ada apa lagi sih?"
"Yuli hilang"
"hilang?" Vendi nampak bingung
"iya tadi siang kami bertengkar, dan sore hari ketika aku kembali ke hotel, dia sudah tidak ada, aku sudah mencari di sekitaran hotel tetapi tidak menemukannya"
"aah hidupmu itu banyak masalah sekali, baiklah aku akan bantu mencari"
Sudah 5 jam Riko dan Vendi mencari Yuli, tetapi masih belum ada tanda-tanda keberadaan Yuli
Riko dan Vendi beristirahat di depan kursi minimarket sambil meminum kopi
"kita harus cari ke mana lagi? sudah dari tadi kita berkeliling, malam juga semakin larut" Vendi nampak menyerah
"aku akan tetap mencarinya" Riko masih belum menyerah
suara handphone berbunyi, Vendi dan Riko melihat handphone secara bersama, ternyata handphone Riko yang berbunyi
"halo Ayah, kapan pulang?" suara Amel terdengar manja dari balik telepon
"ayah masih ada kerjaan, Amel kok belum tidur?"
"Amel mau tungguin ayah, ayah pulang jam berapa? ayah pulang dong sekarang" Amel merengek manja
"tapi Ayah masih ada kerjaan sayang"
Riko belum bisa pulang karena harus mencari Yuli
"enggak mau, pokoknya ayah pulang sekarang huweeeeeee" terdengar Amel menangis dari balik telepon
"lho kok nangis? Amel jangan cengeng dong"
"Ayah" berganti suara Rina
"Amel dari sore agak demam, makanya ia rewel, dari tadi bertanya terus kapan ayah pulang"
"sekarang masih demam?" Riko nampak cemas
"sudah lumayan turun, tadi sudah bunda beri Paracetamol, tapi entah kenapa masih rewel"
"baiklah, Ayah akan segera pulang"
Riko menutup telepon
Riko menghela nafas berat
"Vend, aku harus pulang, Amel sedang sakit, aku mohon kau teruskan mencari Yuli, aku khawatir karena malam semakin larut, dia tidak begitu tahu kota ini, aku khawatir terjadi apa-apa padanya"
"baiklah, kau tidak usah khawatir"
Riko pergi meninggalkan Vendi yang masih duduk menikmati kopinya
...----------------...
Vendi memacu motor sportnya membelah gelapnya malam, walaupun baru sebulan ia di kota ini, tapi kemampuannya mengenali sudut kota sangat baik karena hobinya yang suka jalan-jalan keliling kota
kira-kira kalau aku jadi wanita yang sedang marah, dan ingin menyembunyikan diri, tapi tidak terlalu tahu kota ini, aku akan ke mana ya?
Vendi berusaha membaca pikiran Yuli
sepertinya terlintas sebuah tempat di pikiran Vendi
"baiklah semoga ia di sana"
Vendi memacu motornya menuju taman kota
__ADS_1