
Yuli sedang mamanjakan diri di kamar mandi hotel, berendam di bathtub dengan aromaterapi yang menenangkan hati, ia menyandarkan kepalanya di bathtub sambil memejamkan mata, sebuah tangan dengan kuku-kuku yang panjang menyentuh pundaknya, sehingga membuat Yuli terkaget dan membuka mata
apa itu tadi? apa tadi aku tertidur dan bermimpi?
Yuli merasa tidak nyaman dan segera menyelesaikan mandinya
tadi itu apa? apa mungkin kerena aku kelelahan? melewati malam yang luar biasa bersama Vendi rupanya telah menguras tenagaku, sepertinya aku butuh istirahat, tidur siang beberapa jam mungkin sudah cukup untuk menghilangkan lelahku
setelah berpakaian, Yuli langsung merebahkan diri di kasur, ia memejamkan mata dan tertidur
...----------------...
Sepulang kerja Riko menelepon Rina mencari beribu alasan bahwa dia akan pulang terlambat, seperti biasa tanpa curiga Rina mengiyakan dan Riko segera menuju hotel tempat Yuli menginap
tok tok tok
Yuli membukakan pintu
"boleh aku masuk?" tanya Riko memastikan Yuli masih marah padanya atau tidak
"masuklah" ekspresi Yuli datar
"kau masih marah?"
"menurutmu?"
Riko memeluk Yuli
"sayang, maafkan aku, aku tidak kuat jika kau terus begini"
"lalu aku harus bagaimana? apakah aku harus bersenang-senang mengadakan pesta bersatunya kau dan Rina?" ucap Yuli sinis
"Aku bisa saja meninggalkan Rina, tapi bagaimana dengan anak-anakku?"
"kau menyindirku karena belum bisa memberimu anak?"
"bukan begitu maksudku, aku tidak perduli kau bisa memberiku anak atau tidak, aku hanya ingin bersamamu" pelukan Riko semakin kuat
Yuli menghela nafas
"ya sudah terserah kau saja, aku sudah tidak perduli"
toh aku juga sudah ada Vendi
"jadi kau akan tetap bersamaku kan? kau tidak akan meninggalkan aku kan?" Riko terlihat senang tapi masih tersirat khawatir di wajahnya
"iya iya iya" jawab Yuli malas
Riko mencium bibir Yuli, menarik baju Yuli hingga pundaknya terlihat, Yuli melepaskan ciumannya dan merapikan kembali pakaiannya
"kenapa?" tanya Riko bingung
"pulanglah, Rina dan anak-anakmu pasti sedang menunggumu"
__ADS_1
"kau masih marah padaku?"
Yuli tersenyum sinis
"kau itu sungguh lucu, datang kemari tanpa membawa penyelesaian masalah, kau hanya memikirkan diri sendiri, kau takut untuk memilih, kau tidak ingin terluka sehingga kau mengorbankan diriku untuk menerima keadaan bahwa kau memang suami orang tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaanku"
Riko terdiam merasa perkataan Yuli benar-benar telak mengenainya
"aku tahu dari awal memang jalanku salah mencintaimu yang sudah berkeluarga, tapi aku berani melanjutkan jalanku walaupun aku tahu itu salah, karena apa? karena kau berjanji akan bersamaku, kau berjanji akan memilihku"
"aku akan meninggalkan Rina, tapi aku butuh waktu" Riko berusaha meyakinkan Yuli
"kalau begitu, untuk bersamamu aku juga butuh waktu" sindir Yuli
Riko terdiam ia tidak tahu lagi bagaimana caranya meluluhkan hati Yuli
"semua akan baik kembali ketika Rina sudah tidak di sini lagi, aku berjanji" janji Riko
"terserah, urus saja istrimu sana"
"baiklah aku akan pulang, aku tahu kau butuh waktu untuk menenangkan diri, aku berjanji Rina akan pergi dari sini secepatnya, kau tetaplah di sini jangan pergi lagi seperti kemarin, aku benar-benar khawatir"
dengan langkah pelan Riko pergi meninggalkan Yuli
malam semakin larut, sambil menonton TV Yuli menanti kedatangan Vendi dengan tidak sabar
Vendi kemana sih? kenapa belum datang juga, aku lupa meminta nomor teleponnya tadi pagi
kkkhhhkk kkhhheeekkk kkkhhheeekkh
kkkhhhkk kkhhheeekkk kkkhhheeekkh
perlahan tapi pasti suara itu semakin mendekat, Yuli mencari asal suara tersebut, terdengar semakin jelas ketika di bawah kursi, dengan rasa penasaran bercampur takut pelan-pelan Yuli menengok ke bawah kursi, ia menutup matanya dan membukanya perlahan
tidak ada apa-apa
kkkhhhkk kkhhheeekkk kkkhhheeekkh
suara itu terdengar semakin jelas, semakin dekat dan semakin menyeramkan
Yuli melihat kanan dan kiri mencari asal suara tersebut, Yuli merasa ketakutan, keringat mulai mengalir di dahinya, Yuli menyekanya dengan lengan dan merapihkan rambutnya, tapi ia merasa rambutnya masih mengganggu karena menempel di wajahnya, ia menyingkirkan nya kebelakang tapi kembali menempel di wajahnya, Yuli kembali merapihkannya lagi dan selalu kembali menempel di wajahnya, Yuli mulai kesal
ada apa dengan rambut ini? apa tidak tahu jika aku sedang panik, kenapa mengganggu sekali mau dibotak rupanya
Yuli melirik ke arah rambutnya
tu tunggu, i ini bukan rambutku, rambut putih ini.... rambut putih ini mi milik
pandangan Yuli mengikuti arah rambut yang terjuntai dari atas, tepat di atas kepala Yuli Nyi Awuntah sedang bergelantung dengan posisi terbalik, Rambutnya menjuntai panjang menempel ke wajah Yuli, Yuli yang ketakutan sama sekali tidak bergerak, Nyi Awuntah semakin turun dan mendekatkan wajahnya pada wajah Yuli, terlihat sangat jelas Rongga mata yang tak memiliki bola mata, Yuli semakin ketakutan, apalagi ketika wajah hancur kehitaman dengan mulut yang terbuka lebar itu semakin mendekat, lidahnya menjulur mendekati wajah Yuli
kkhhhkkkkk kkhhheeekkk kkkhhheeekkh
tiba-tiba Nyi Awuntah menyemburkan cairan hitam dan lengket ke wajah Yuli
__ADS_1
"aaaaaaaaakkkkkkkkhhhhhhh" Yuli berteriak histeris
Vendi yang berada di luar kamar terkejut dan langsung memaksa masuk, ia melihat Yuli tengah terduduk di lantai dan berteriak histeris sambil menutupi wajahnya, Vendi segera menghampirinya
"Yuli, Ada apa?" Vendi terlihat panik
"aaaaaaakkkkhhh aaaaaaaaakkkkkhhh" Yuli berteriak histeris sambil menangis, ia terus menutupi wajahnya
"hei, ada apa denganmu? kau baik-baik saja? ada apa? hei tenangkan dirimu" Vendi memeluk Yuli berusaha menenangkannya
"huuuu huuuuu huuu" Yuli masih menangis
Vendi mengusap-usap punggung Yuli dengan lembut
"sudah, tenanglah ada aku disini, tenanglah"
perlahan Yuli membuka tangan yang sedari tadi menutupi wajahnya, melihat wajah Vendi terbersit rasa lega dihatinya, Yuli kembali menangis sambil memeluk Vendi dengan erat
"sudah, sudah tidak apa-apa, tenanglah, ada apa sebenarnya? kau bisa pelan-pelan ceritakan padaku"
Yuli baru ingat perkataan bibinya bahwa Nyi Awuntah akan menampakkan dirinya setiap kali Yuli menggunakan pelet penakluk, ternyata itu benar-benar terjadi
"Yuli, kau baik-baik saja?" tanya Vendi membuyarkan pikiran Yuli
"i iya, tidak apa-apa, aku baik-baik saja, sepertinya hanya mimpi buruk, tadi aku ketiduran ketika menonton TV" jawab Yuli dengan wajah yang masih pucat
"kau bermimpi apa? sepertinya mimpimu begitu buruk sampai kau sehisteris itu?" tanya Vendi khawatir
"tidak, tidak apa-apa, sudah jangan dibahas lagi, aku masih takut" Yuli memeluk Vendi
Vendi tersenyum dan membelai lembut rambut Yuli
"Ya sudah kau tidak usah takut lagi, kan ada aku yang akan menemanimu, oya kau sudah makan belum? aku bawakan makanan"
Yuli menggeleng
"bagus, kalau begitu kita makan bersama ya"
Vendi membantu Yuli berdiri memapahnya menuju kursi
"kau mau minum?"
Yuli mengangguk
"baiklah aku ambilkan sebentar" Vendi bergegas menuju lemari es menuangkan sebotol air dingin ke dalam gelas, ia kaget ketika ada cairan hitam lengket terjatuh ditangan dan gelas yang ia pegang
apa ini?
Vendi mendongakkan kepalanya mencari asal cairan hitam tersebut
tidak ada apa-apa, apa ini sebenarnya?
Vendi memperhatikan dengan seksama cairan hitam yang tadi jatuh ditangannya
__ADS_1
kkhhhkkkkk kkhhheeekkk kkkhhheeekkh