
Malam hari Riko menepati janji untuk untuk bertemu paman dan bibi Yuli, mereka duduk bersama di ruang tamu
"mungkin paman dan bibi sudah tahu maksud kedatanganku kemari, langsung saja, Lusa aku akan pergi keluar kota karena pindah kerja, aku ingin mengajak Yuli ikut denganku, jadi sebelum berangkat aku ingin menikahi Yuli"
Paman dan bibi mengerutkan dahi
"Kenapa mendadak sekali?"
"aku tahu ini mendadak, tapi diriku benar-benar serius dan tidak main-main, aku benar-benar ingin menikahi Yuli dan hidup bersama Yuli, paman dan bibi tidak usah khawatir, aku akan jadi suami yang bertanggung jawab untuk Yuli"
"paman dan bibi sebenarnya masih ragu, tetapi kalian sudah dewasa, biar Yuli yang memutuskan, kami hanya bisa memberi restu saja" ujar Paman
"bagaimana Yuli, apa kau sudah memikirkannya matang-matang?" tanya bibi
"iya paman bibi, aku mau, aku memohon restu pada kalian"
"baiklah kalau begitu, besok kalian akan menikah, paman tidak bisa memberikan pesta yang mewah karena ini sangat mendadak"
"tidak apa-apa paman, aku memang menginginkan pernikahan yang sederhana saja, cukup ada paman dan bibi, aku tidak keberatan"
......................
Keesokan harinya pernikahanpun dilaksanakan dirumah paman dan bibi Yuli, pernikahan yang cukup sederhana dan berjalan penuh haru, Yuli memeluk paman dan bibinya dengan tangis bahagia, Yuli merasa wanita paling bahagia, apalagi ketika Riko menyematkan cincin dijari manisnya dan mencium keningnya, sungguh ia benar-benar tidak percaya, kini ia telah menjadi istri Riko, berkat ilmu turun temurun keluarganya, ia mendapatkan kebahagiaan tak terkira, Yuli bersyukur memiliki ilmu itu.
Malam hari dikamar pengantin, Riko duduk dikasur sambil bersandar dikepala tempat tidur, dan Yuli bersandar pada dada Riko mereka sangat bahagia
"mas, terimakasih telah menjadikanku istrimu"
"kenapa kau berterimakasih? akulah yang seharusnya bersyukur bisa menikah denganmu" Riko mencium kening Yuli
"Oya kau sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk besok?" Riko mengingatkan Yuli
"Sudah mas, hanya beberapa pakaian saja, barang-barangku hanya sedikit"
"tidak apa-apa, nanti juga akan banyak, kau bisa membeli apa yang kau mau jika kita sudah tiba disana"
"Yang ku mau hanya dirimu mas" Yuli memeluk erat tubuh Riko
Riko dan Yuli saling berciuman, tubuh Yuli kembali panas, wajahnya memerah dan napasnya cepat, sensasi itu datang lagi, tubuhnya semakin memanas dan bergetar, Yuli menjatuhkan Riko dikasur, mulai membuka pakaian Riko satu persatu
"Woow, sabar sayang" Riko tertawa kecil
"apa sih mas? untuk yang seperti ini tidak perlu sabar tau" Yuli menciumi Riko dengan penuh gairah
"ok,, ok,, tapi matikan dulu lampunya"
"kenapa harus dimatikan?" tanya Yuli kesal
"agar sensasinya berbeda sayang" Riko membelai rambut Yuli
"aku gak ngerti, iya deh kau sudah pengalaman sih" dengan malas Yuli beranjak dari tempat tidur menuju saklar lampu yang agak jauh dari tempat tidur dan mematikannya
"aaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkhhhhhhh"
terdengar suara teriakan Riko
"mas, ada apa? kenapa kau berteriak?" Yuli kebingungan ia tidak bisa melihat dengan jelas karena kondisi kamar yang gelap
saat itu yang terjadi pada Riko, sosok berambut putih panjang terurai tengah menduduki perutnya, makhluk itu datang lagi, ia menyeringai dan menjulurkan lidahnya yang sangat panjang, Riko teriak semakin kencang, lidah makhluk itu basah penuh dengan cairan hitam, makhluk itu menjulurkan lidahnya dan memainkan lidahnya diwajah Riko dan memasukannya dengan cepat ke mulut Riko, Riko sesak nafas karena lidah makhluk itu menusuk hingga tenggorokannya membuatnya kesulitan bernafas, Riko mulai lemas, ia tidak bisa bernafas, sampai lampu tiba-tiba menyala dan makhluk itu menghilang.
"kau tidak apa-apa mas?" tanya Yuli sambil menghampiri Riko.
Riko terlihat pucat dan seluruh badannya bercucuran keringat
terdengar pintu kamar diketuk
"Yuli, kau tidak apa-apa? apa yang terjadi? tadi bibi mendengar teriakkan" terdengar suara panik bibi dari balik pintu
Yuli membukakan pintu
"ada apa? apa yang terjadi?" paman memastikan lagi
__ADS_1
"mas Riko, entah kenapa ketika aku mematikan lampu, ia berteriak seperti itu"
paman, bibi dan Yuli menghampiri Riko yang tengah terduduk dikasur
"ada apa Riko? kau mimpi buruk?" tanya paman
melihat Riko tak kunjung menjawab Yuli berinisiatif menjawab pertanyaan bibinya
"kami bahkan belum tidur, bagaimana bisa Riko bermimpi buruk"
"bibi ambilkan minum dulu untuk Riko, kau tenangkanlah dia"
"terimakasih bi"
Yuli menghampiri Riko, menepuk-nepuk punggungnya dan memeluknya, Riko terlihat masih sangat syok, Yuli memeluknya agar sedikit tenang
"mas, apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Bibi kembali dengan membawa segelas teh
"ini minumlah, mumpung hangat" bibi menyodorkan gelas
"terimakasih bi" Yuli mengambil gelas dari bibinya dan membantu Riko untuk minum
nafas Riko perlahan mulai teratur
"ta,, tadi,, ada,, ma,, makhluk,, menyeramkan"
Yuli dan bibi saling bertatapan
"ia menduduki perutku, wajahnya menyeramkan, menyeringai dan menjulurkan lidah"
"kau tadi tertidur? kemudian bermimpi?" tanya Yuli
"tidak, aku tidak tertidur, aku yakin aku tidak bermimpi"
tentu saja memang bukan mimpi karena yuli tahu ketika beranjak dari tempat tidur untuk mematikan lampu, Riko masih memperhatikannya sambil tersenyum
"mas,," Yuli khawatir dan mengusap-usap punggung Riko dengan lembut untuk menenangkannya
"Ra,, rambutnya putih panjang, wajahnya,, wa,, wajahnya hancur dan da,, dari mulutnya keluar cairan hitam"
Yuli kaget kenapa makhluk yang diceritakan Riko sama persis dengan makhluk yang ada dimimpinya
tampaknya bukan hanya Yuli yang kaget, Bibi juga terlihat kaget dan gelisah
"Yuli, sebaiknya biarkan Riko Istirahat, kau ikutlah dengan bibi, ada yang ingin bibi bicarakan"
Yuli membantu Riko merebahkan diri dikasur
"mas, aku tinggal sebentar ya"
Riko nampak enggan ditinggalkan
"kau tidak usah khawatir, paman akan menemanimu sampai kau tenang" paman seperti mengerti kekhawatiran Riko
Diruang tamu bibi nampak serius berbicara dengan Yuli
"kau,, sudah memakainya?" tanya bibi
"apa yang bibi maksud? memakai apa?" Yuli kebingungan
"ilmu pengasihan Nyi Awuntah PELET PENAKLUK"
"apakah yang bibi maksud itu ilmu turun temurun keluarga kita?"
"Rupanya benar" bibi terdiam sejenak
"Nyi Awuntah telah menampakan wujudnya, itu berarti kau telah memakainya, apa kau gunakan pada Riko?"
"i,, iya"
__ADS_1
"tak kusangka ibu menurunkan ilmu itu padamu, padahal kau masih sangat muda, apa saja yang kau ketahui tentang ilmu itu?" bibi tampak khawatir
"aku hanya tahu jika ilmu itu bisa membuat orang yang kita tuju jatuh hati dan bertekuk lutut"
"itu saja?" bibi penasaran
"iya nenek hanya menjelaskan seperti itu"
bibi menghela nafas
"bibi juga tidak terlalu tahu banyak, ada beberapa yang bibi tahu dari ibumu"
"ibu?" Yuli kaget
"iya pemilik ilmu itu sebelumnya adalah ibumu"
"ibu juga memiliki ilmu ini?" tanya Yuli penasaran
bibi terdiam sejenak
"mungkin sekarang tidak lagi, karena Nyi Awuntah sudah bersamamu"
Yuli masih belum mengerti
" jadi ilmu ini hanya bisa diturunkan dengan cara dipindahkan" bibi menjelaskan pelan-pelan
"Pemilik ilmu ini adalah Nyi Awuntah, sosok makhluk yang tadi mewujud di hadapan Riko, kau juga pernah bertemu dngannya kan?"
"iya pernah, ketika aku sakit kemarin, tubuhku lemas setelah bermimpi dengannya"
"Nyi Awuntah akan mendampingi orang yang memiliki ilmunya, dia akan menunjukkan wujudnya setiap kali kau menggunakan pelet penakluk itu"
Yuli mulai mengingat-ingat
"iya, dia menunjukan wujudnya setelah aku menggunakan ilmu itu pada mas Riko"
bibi kembali meneruskan penjelasannya
"Nyi a juga akan menunjukkan wujudnya pada pria yang terkena ilmunya, ia ingin menunjukan bahwa yang membuatnya jatuh cinta bukanlah pengguna ilmu ini, tapi pemilik ilmu ini yaitu Nyi Awuntah"
Yuli sedikit khawatir
"memangnya seberapa sering ia akan menampakkan diri?"
"tergantung seberapa sering kau menggunakan ilmu itu, itu yang kutahu dari ibumu"
"kalau begitu bibi tidak usah khawatir, karena aku hanya menggunakannya sekali, hanya untuk mas Riko saja" Yuli merasa sedikit lega
"kau yakin? dulu juga ibumu berkata seperti itu, tapi kenyataannya berbanding terbalik" perkataan bibi terdengar agak sinis
"tentu saja, aku sudah punya mas Riko, apalagi yang aku inginkan?" Yuli berusaha meyakinkan
"kau yakin bisa menahan efek samping pelet itu?" tanya bibi tegas
"me,, memang apa efek sampingnya?" Yuli mulai takut
"bibi tidak begitu tahu, tapi sepintas bibi pernah dengar dari ibumu, bahwa gairahnya selalu menggebu-gebu"
"aku kan punya suami bi, itu tidak perlu dikhawatirkan"
"semoga saja begitu, bibi berharap kau tidak seperti ibumu"
bibi terdiam sejenak dan menarik nafas dalam
"dia tak bisa mengendalikan gairahnya dan ia juga dibutakan oleh harta, ia memilih meninggalkan kau dan ayahmu untuk menjadi pelacur sukses di negeri orang, menikmati banyak pria dan kemewahan yang disediakan pria-pria itu"
"itu tidak mungkin, bibi berkata bohong kan?"
Yuli berusaha menampik kenyataan yang bibi sampaikan
"untuk apa bibi berbohong, bibi sayang padamu, jadi bibi memberi tahumu, agar kau tidak terjerumus kedalam kesalahan yang sama, seperti ibumu"
__ADS_1
Yuli sangat sedih mendengar kenyataan tentang ibunya, ia hanya tahu ibunya menjadi TKW setelah bercerai dengan ayahnya, ia berpikir ibunya melakukan itu untuk membiayai kehidupannya dan neneknya. Tapi ia baru ingat, ibunya memang tak pernah mengirimkan kabar, dan biaya hidup ia dan neneknya selama ini bibinyalah yang mencukupinya. Yuli menangis berusaha untuk tidak percaya.