
Yuli turun dari taksi, Yuli masih terdiam di samping taksi menunggu apakah akan ada sepatah kata yang terucap dari Asih
"jalan pak" kata Asih tanpa menoleh sedikitpun pada Yuli
salahkah aku berharap sedikit saja ada sentuhan seorang ibu darinya walau hanya basa basi ucapan perpisahan selamat malam
Yuli menghela nafas, Yuli berjalan menuju rumah ia kaget melihat Vendi tengah duduk di bangku teras rumah
Vendi berdiri menyambut Yuli
"kau dari mana selarut ini baru pulang? telepon mu juga tidak bisa aku hubungi" kata Vendi khawatir
"aku tadi pergi dengan ibuku, kenapa kau ada di sini?" segudang pertanyaan bertumpuk di benak Yuli
"mau keluar denganku? ada banyak yang ingin aku bicarakan"
Yuli hanya mengangguk
Vendi segera menuju motornya dikuti Yuli dari belakang
"pakai ini supaya kau tidak kedinginan" Vendi memakaikan jaketnya pada Yuli, harum tubuh Vendi menyelimuti Yuli, harum yang Yuli rindukan wangi dari parfum dan aroma tubuh Vendi sangat lembut dan secara bersamaan terasa sangat maskulin Yuli merasa tengah di peluk oleh Vendi, Yuli mengingat kembali saat-saat kebersamaannya dengan Vendi, wajahnya memerah, tubuhnya memanas
"kau sakit?" Vendi menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi Yuli
Yuli hanya menggeleng
"kau yakin? jika tak enak badan aku akan kembali besok untuk bicara"
lagi-lagi Yuli hanya menggeleng tanpa berkata apa-apa
Yuli menarik kerah Vendi hingga telinga Vendi dekat dengan bibir Yuli, Yuli membisikan sesuatu, Vendi nampak kaget namun kemudian tersenyum dan mengusap kepala Yuli
"kau ini" kata Vendi
Vendi segera menaiki motornya diikuti Yuli yang kemudian memeluknya sangat erat, Vendi memacu motornya menembus kesunyian malam
Vendi mengendarai motor dengan dada yang berdebar-debar dan tersenyum kembali mengingat yang tadi Yuli bisikkan
aku merindukanmu
di tengah perjalanan titik-titik gerimis mulai turun, Yuli duduk lebih mendekat dan memeluk Vendi lebih erat, sebelah tangan Vendi memegangi tangan Yuli yang memeluknya
tak berapa lama hujan sudah mulai reda Vendi menghentikan motornya tepat disebuah penginapan berbentuk cottage, mereka menuju resepsionis dan seorang bellboy datang untuk mengantarkan mereka ke salah satu cottage, cottagenya terlihat sangat asri dengan beberapa tanaman di depannya ditambah pemandangan pantai yang tak jauh dari cottage, deburan ombak terdengar sangat jelas di malam hari
"tempat yang indah" Yuli bergelayut manja di lengan Vendi
__ADS_1
"apa kau mau jalan-jalan di pantai?"
"tentu saja, kita sudah di sini, akan sayang jika melewatkannya begitu saja" kata Yuli antusias
mereka berjalan menyusuri pantai dengan bertelanjang kaki, Yuli masih bergelayut mesra di lengan Vendi
"bukankah kau akan menikah?" Yuli membuka percakapan
"kau mau jadi istriku?" tembak Vendi
"apa yang kau pikirkan? kau dan Riko kan bersaudara, bagaimana mungkin kita menikah?"
"kalau begitu tinggalkan Riko, lusa kita akan menikah" Vendi berharap kepada Yuli
"itu tidak mungkin" jawab Yuli tegas
"kalau begitu kau mau aku menikah dengan orang lain? orang yang tidak aku cintai?"
"tentu aku juga tidak mau seperti itu, kau menikahlah, tapi harus dengan orang yang kau cintai"
"yang kucintai itu hanya kau Yuli, harus bagaimana lagi aku mengungkapkan supaya kau mengerti" Vendi menarik Yuli hingga mereka saling berhadapan
"menikahlah, jangan kecewakan orang tuamu, kasihan ibumu, aku sungguh ingin merasakan punya seorang ibu, kau beruntung punya ibu yang selalu menghawatirkanmu, jadi bahagiakanlah dia" Yuli menyentuh pipi Vendi
"bolehkah aku tetap mencintaimu seperti ini? bolehkah kita tetap seperti ini meskipun aku sudah menikah?" Vendi meraih tangan Yuli dan menciumnya
"tentu saja aku sangat yakin"
Yuli memeluk Vendi dan berbisik di telinga Vendi
"aku tak berharap banyak, jika kau bisa jadi penguat dan penopang di saat aku jatuh, itu saja sudah menjadi sebuah kebahagiaan bagiku"
hati Vendi bergetar mendengar perkataan Yuli ia memeluk erat tubuh Yuli dan hujan pun turun kembali dengan derasnya, selama beberapa lama mereka tak saling melepaskan pelukannya meski tubuh keduanya telah basah oleh hujan, Yuli kemudian melepaskan pelukannya terlebih dahulu
"kau pasti kedinginan, ayo kita masuk" kata Vendi
mereka jalan beriringan menuju cottage, Vendi memeluknya dari samping, mereka berjalan dengan saling diam, sampai didalam cottage mereka masih saling diam, Vendi memandangi wajah Yuli, terlihat tetesan air jatuh dari rambutnya perlahan mengalir menuju pipi dan terus berjalan menuju leher dan terus turun membuat Vendi tak bisa mengendalikan pikirannya lagi, Vendi mencium bibir Yuli, terasa dingin namun ada rasa hangat menjalar secara bersamaan, Yuli membalas dengan lembut, dinginnya cuaca karena hujan dan angin pantai tak menyurutkan kehangatan yang terjadi antara Yuli dan Vendi, mereka terus terbuai dalam romantisme malam yang panjang
...----------------...
Adijaya Gunawan tengah terduduk diam di samping ranjang kamarnya, hati dan logikanya sedang berperang, perlahan ia mulai merebahkan tubuhnya di kasur sambil menghela napas panjang
apa-apaan ini? kenapa rasanya aku ingin bertemu lagi dengan pelayan hotel itu? apa yang sebenarnya terjadi denganku? sudah lama aku tak merasakan hal seperti ini
"aaarrrggghhhh" Adi mengacak-acak rambutnya
__ADS_1
tidak mungkin kan aku menyukainya? dia benar-benar bukan tipeku, tidak ada satupun yang ada padanya yang bisa membuatku suka padanya, seharusnya sih seperti itu, tapi kenapa hatiku gelisah seperti ini, aku harus meyakinkan hatiku
Adi langsung menelepon asistennya
"halo, Andi tolong kau cari informasi tentang pelayan hotel yang aku marahi tadi, usahakan besok kau bawa dia bertemu denganku"
"baik pak" jawab Andi dari seberang telepon
setelah menutup telepon Adi merasa sedikit tenang, asistennya tidak pernah gagal dalam melaksanakan perintahnya, setelah merasa sedikit tenang Adi memutuskan merelaksasikan tubuhnya dengan mandi
ketika sedang membuka pakaiannya terdengar suara jendela yang berderit terbuka dan tertutup terbawa angin
bukannya tadi jendela itu tertutup apa ada penyusup? tapi ini kan lantai dua
"Jody" Adi memanggil salah satu bodyguardnya
dengan sigap Jody yang sedaritadi memang berjaga di depan pintu kamar langsung masuk
"iya pak"
"coba kau cek kamar ini, tadi aku melihat jendela terbuka, aku khawatir ada penyusup"
"baik pak" Jody memanggil beberapa bodyguard yang berjaga di depan kamar untuk membantunya menyisir tiap sisi kamar tanpa celah sedikitpun
"Aman pak"
"kau yakin?" Adi masih ragu
"kalau begitu saya akan mengecek setiap sisi rumah pak supaya bapak merasa lebih tenang"
"ok kalau begitu, ku percayakan padamu"
kkkheekkkh kkhhheeekkk kkkhhheeekkh
"apa kau dengar suara tadi?" tanya Adi pada Jody
"suara apa pak? maaf tapi saya tidak mendengar apa-apa"
"sebelum kau berkeliling rumah sebaiknya kau cek kamar ini sekali lagi"
"baik pak"
ada kekhawatiran di hati Adi, sebagai seorang pebisnis ia mempunyai banyak musuh, bisa saja diantara para musuhnya ada yang menginginkan nyawanya
"Aman pak, sudah saya cek semua" kata Jody setelah selesai menelusuri tiap sudut kamar
__ADS_1
"baiklah, kau cek sekeliling rumah, jangan ada yang terlewat, alarm anti penyusup kau cek juga, rusak atau tidak"
"baik pak"