
Dipagi hari Riko sudah bergelut dengan pekerjaannya, tanpa meninggalkan pandangan dari laptopnya, ia menyeruput kopi yang tersedia di meja
"lho belum berangkat mas?"
"iya sebentar lagi, aku sedang menunggu Vendi"
"apa? Vendi akan kemari?"
Riko mengangguk sambil menyeruput kopi
aku harus bersikap bagaimana ya, akan beda suasananya bertemu Vendi dan Riko secara bersamaan setelah aku mempunyai hubungan dengan Vendi
"selamat pagi" Vendi menyapa tepat di depan pintu ruang tamu yang terbuka
"hei ven masuk, sayang tolong buatkan kopi untuk vendi"
Yuli melihat ke arah Vendi, Vendi nampak tidak senang mendengar panggilan mesra Riko kepada Yuli, Yuli bergegas ke dapur menghindari kecemburuan Vendi
"aku ingin ke kamar mandi" Vendi mencari alasan untuk mengikuti Yuli ke belakang
"ya kau tahu kan di mana kamar mandinya?" Riko masih fokus dengan laptopnya
"iya aku tahu" Vendi segera menuju ke dapur
Di dapur Yuli tengah membuat secangkir kopi, ia kaget ketika tiba-tiba Vendi muncul dan memeluknya dari belakang
"apa yang kau lakukan? nanti mas Riko melihat" Dengan panik Yuli melepaskan pelukan Vendi
"aku benar-benar rindu padamu, saat aku bangun tidur pagi ini tanpa melihatmu rasanya ada yang kosong di sudut hatiku" Vendi kembali memeluk Yuli
"aku mohon jangan seperti ini di sini" Yuli melepaskan kembali pelukan Vendi
Vendi melepaskan pelukannya dengan wajah yang kesal
ia memilih kembali ke tempat Riko tanpa berkata sepatah kata pun
"ayo kita berangkat, sepertinya sudah siang, kita lanjutkan di luar saja" nampaknya Vendi enggan berlama-lama di Rumah Riko
"ah baiklah" Riko merapihkan pekerjaannya menutup laptopnya
"sayang aku berngkat dulu ya" Riko sedikit mengeraskan suaranya agar Yuli yang sedang di dapur dapat mendengar
tak lama Yuli keluar membawa kopi
"loh kok sudah mau berangkat? ini kopinya belum di minum"
Vendi memilih diam
__ADS_1
"kami buru-buru, maaf ya sayang"
Terlihat Vendi benar-benar tidak suka mendengar panggilan Riko untuk Yuli
Yuli merasa serba salah
Yuli mengantar Riko sampai di deo6an pintu rumah
"aku berangkat ya" kecupan manis diberikan Riko di kening Yuli
Vendi memilih membuang muka
Yuli tidak bisa berbuat apa-apa karena memang sudah menjadi kebiasaan jika Riko akan berangkat bekerja Riko selalu memberikan kecupan manis untuk Yuli
baru beberapa langkah dari rumah tiba-tiba Riko menghentikan langkahnya, ia kaget melihat ada Rina di depannya
"Rina, sejak kapan?"
"sekarang sudah jelas, apa yang kupikirkan ternyata benar" suara Rina bergetar menahan amarah
"a aku, i ini tidak seperti yang kau kira" Riko tergagap mencari alasan
"tinggal bersama, panggilan sayang dan kecupan di kening sebelum berangkat ke kantor, apa yang bisa kau jelaskan untuk itu?" ucap Rina sinis
Riko terdiam tak ada lagi alasan yang bisa ia gunakan
Vendi tersenyum sinis menyaksikan kehancuran Riko, ia berharap Riko akan meninggalkan Yuli agar ia bisa bersama Yuli
bagaimana ini, apa mas Riko akan meninggalkan aku? atau sebaliknya? apa yang mereka bicarakan? dari jarakku sekarang percakapan mereka tidak terdengar jelas, jika aku mendekat aku takut akan terjadi keributan
Riko berusaha mencari jalan keluar
"Vendi boleh aku minta tolong? tolong kau bawa Yuli, dan aku akan terlambat ke kantor kau kerjakan saja dulu yang kau bisa, aku harus menyelesaikan urusanku dulu dengan istriku"
Vendi tak banyak bicara, ia segera berbalik menghampiri Yuli dan mengajak Yuli pergi
"Ayo kita masuk, kita bicarakan di dalam rumah saja"
Rina hanya diam dan mengikuti langkah Riko masuk ke dalam rumah
...----------------...
Vendi memacu motornya dengan wajah sumringah ia mengendarai motor sambil sebelah tangannya memegangi tangan Yuli , berpegangan memeluk pinggangnya
"kau tidak usah khawatir, jika Riko memilih istrinya, aku akan bersamamu" Vendi tersenyum
Yuli hanya terdiam, perasaannya tak menentu, walaupun sudah ada Vendi, tak akan semudah itu melepas Riko, Riko adalah aki-laki pertama dalam hidupnya
__ADS_1
...----------------...
Rina dan Riko duduk di ruang tamu dengan saling diam, mereka menunggu lawan bicaranya yang memulai percakapan, ketika salah satu dari mereka akan memulai percakapan, maka yang satu lain pun juga memulai percakapan hingga akhirnya mereka terdiam kembali
Rina menghela napas
"kau pilih siapa? aku tidak butuh banyak alasan bagaimana penghianatan itu bisa terjadi, jika kau memilih melanjutkan pernikahan kita, kita akan saling mengintropeksi diri kita masing-masing" Rina tidak kuat jika harus mendengarkan bagaimana kisah Riko dan Yuli terjadi, ia sedang berusaha kuat menahan kehancuran hatinya demi anak-anaknya
Riko terdiam dia masih belum tahu apa yang harus ia lakukan
"apa kau bisa meninggalkan wanita itu mas?" tanya Rina dengan suara bergetar, ia menahan sakit yang mendalam di hatinya
Riko masih terdiam, tak bisa ia membayangkan kehilangan salah satu wanita yang ada dalam hidupnya, Rina dan Yuli walaupun rasa cinta untuk mereka berbeda tetapi Riko tetap tak bisa kehilangan salah satunya
"tak bisakah kita menjalaninya bersama? banyak di luar sana yang melakukan poligami, tetapi keluarga mereka tetap bahagia, aku akan berusaha adil"
"ha ha ha" Rina tertawa kecewa
"kau pilih AKU atau DIA?" Rina memberi penekanan pada kata 'aku' dan 'dia', agar Riko mengerti bahwa ia tidak pernah setuju dengan poligami
"aku tidak bisa, kalian sama berartinya untukku, kita coba jalani ini bersama, aku berjanji aku tidak akan membeda-bedakan kalian, aku akan adil"
"apa kau mengerti tentang kata 'adil'? itu yang dipakai para lelaki untuk menjadi alasan berpoligami, tapi kenyataannya tidak ada yang pernah perhasil dengan kata 'adil' itu" Rina berusaha menahan air matanya
"bagaimana kau bisa menemui salah satu dari kami tanpa menyakiti hatiku ataupun wanitamu itu?" air mata Rina tak terbendung lagi, ia menarik nafas dalam berusaha menghentikannya
"kalau kau tidak bisa memilih, biar aku yang memilih" Rina terdiam sejenak
Riko mengerutkan kening mencoba memahami perkataan Rina
"aku ingin berpisah, ceraikan aku"
"tidak, apa yang kau pikirkan? apa kau tidak memikirkan anak-anak?"
"harusnya kau yang memikirkan anak-anak sebelum kau selingkuh" ucap Rina sinis
"kita bisa bicarakan ini baik-baik"
"memangnya kau pikir sekarang kita tidak sedang bicara dengan baik-baik? Aku tidak menggerebek perselingkuhanmu bersama orang sekampung, aku memilih berbicara berdua denganmu? jika kau berpikir ini bukan berbicara baik-baik maka pembicaraan seperti apalagi yang kau harapkan?" Rina merasa lelah dengan sikap Riko yang bertele-tele
Riko mulai kebingungan, ia benar-benar tidak bisa berfikir
"ku beri waktu satu minggu, jika tidak ada keputusan, aku anggap kau setuju untuk mengakhiri pernikahan kita dengan perceraian"
Rina beranjak pergi meninggalkan Riko yang masih kebingungan
Riko mengacak-acak rambutnya dan berteriak kesal
__ADS_1
"aaaaarrrghhh"
bagaimana ini? aku harus bagaimana