
Menjelang subuh Riko telah sampai di depan gerbang rumah Rina, timbul keraguan untuk masuk ke dalam rumah, ia memutuskan memutar arah menuju rumah ibunya, sesampainya Riko di depan rumah ibunya, ia memarkir mobilnya di halaman, tapi ia tak langsung turun, ada rasa takut untuk bertemu ibunya, ibunya sangat membenci perselingkuhan, tapi Riko melakukan hal yang paling dibenci oleh ibunya, ia mulai menebak-nebak reaksi ibunya
pintu rumah terbuka, ibu Riko keluar dan berdiri di depan pintu menatap ke arah mobil Riko terparkir
ibu sudah mengetahui kedatanganku, mau tidak mau aku harus turun menemuinya
Riko membuka pintu mobil dan turun, ia mendekati ibunya dan mencium tangannya, tetapi ibunya hanya diam, setelah melepas tangan Riko ibunya berbalik masuk kerumah tanpa sepatah kata pun
" ibu sudah bangun? tadi aku tidak langsung masuk karena takut membangunkan ibu"
"kau takut menemuiku karena telah melakukan kesalahan" jawab ibunya sinis
Riko terdiam, tebakan ibunya sangat tepat
mereka menuju ruang tamu dan duduk saling berhadapan
"jadi benar apa yang dikatakan Rina?"
Riko diam tak berani menjawab
"sebenarnya apa yang kau pikirkan? bukankah kau sangat membenci ayahmu karena ia berselingkuh dan meninggalkan kita? kenapa kau malah melakukannya" nada bicara ibu Riko mulai meninggi
"maafkan aku bu" Riko hanya menunduk
"siap yang akan kau pilih?"
Riko masih diam
"jawab ibu Riko" ibu Riko mempertegas suaranya
"aku tidak tahu bu, kenapa aku bisa melakukan ini, ini terjadi begitu saja, aku tiba-tiba begitu sangat mencintai Yuli, aku juga berat untuk meninggalkan Rina, aku tidak tahu bu"
" tidak ada wanita manapun yang mau di madu, berkacalah pada dirimu sendiri, bagaimana perasaanmu ketika ayahmu memilih wanita simpanannya, dan bagaimana kau melihat ibu yang ditinggalkan ayahmu, bagaimana kerasnya perjuangan ibu membesarkan anak tanpa suami, itu akan terjadi pada anak-anak dan istrimu jika kau mengambil jalan yang sama dengan ayahmu"
"aku tidak akan menterlantarkan anak-anakku seperti ayah"
"anakmu kelak akan dewasa, ia akan tumbuh dengan memperhatikan bagaimana ibunya tersakiti oleh ayahnya, apa nanti anak-anakmu masih akan sepenuhnya menyayangimu?"
__ADS_1
Riko terdiam apa yang dikatakan ibunya sangatlah benar, tetapi sungguh sulit baginya untuk memilih antara Yuli dan Rina
"nanti agak siang kau ikut ibu, ibu akan mengajakmu bertemu kenalan ibu, ia orang yang bisa kau ajak berdiskusi tentang masalahmu"
"baiklah" jawab Riko patuh
"beristirahatlah dulu, kau pasti lelah setelah perjalanan jauh"
ibu Riko beranjak masuk ke dalam kamar meniggalkan Riko yang masih terdiam di ruang tamu
...----------------...
Yuli terbangun dengan mata yang bengkak setelah semalaman menangis, ia memeriksa handphone, tak ada satupun pesan masuk atau panggilan masuk, dia tertawa seperti orang gila
*sepertinya aku benar-benar sendiri, semua pergi meninggalkanku
tok tok tok
terdengar suara ketukan pintu di depan rumah, Yuli berlari kecil berharap itu adalah Riko atau Vendi, tapi harapannya pupus setelah ia membuka pintu, ternyata seorang wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya, penampilannya sungguh modis, ia memakai sebuah kacamata besar perpaduan dua warna dalam kacanya, seperti seorang sosialita, dengan rambut yang berwarna coklat keemasan, makeup yang sempurna juga high heels yang ia pakai, ia terlihat sangat cantik seperti wanita berkelas
"aku pikir setelah mendapatkan pelet penakluk itu kau sudah hidup mewah, tak kusangka kau malah tinggal di tempat sempit seperti ini, dan apa-apaan itu wajahmu, kau masih menangis padahal kau bisa mendapatkan apa saja yang kau mau dengan pelet itu" ucap wanita itu sinis
"ibu?" tebak Yuli
"dasar bocah sialan, jika memang pelet itu tak berguna untukmu kenapa kau ambil dariku?" ucap Asih terdengar sinis
"kenapa ibu berkata seperti itu? setelah sekian lama tidak bertemu, tak bisakah kau bersikap sedikit saja layaknya seorang ibu?" Yuli sungguh kecewa dengan sikap ibunya
"tahu apa kau tenang bersikap sebagai seorang ibu? kau saja tak punya anak, bagaimana kau bisa mengkritikku tentang sikap seorang ibu?" Asih tersenyum sinis
Hati Yuli benar-benar sakit, sosok ibu yang selama ini ia dambakan datang dengan tiba-tiba dan bersikap seperti ini
"apa yang ibu inginkan dengan menemuiku bukankah kau sudah nyaman hidup di luar negeri dengan melupakan aku dan nenek lalu kenapa tiba-tiba kau datang mencariku?" kata Yuli dengan tatapan benci
Asih mendekati Yuli dan mencengkeram pipi Yuli dengan keras
"aku tidak akan kemari jika pelet penakluk itu tidak kau ambil"
__ADS_1
"apa maksud ibu? aku tak mengerti" Yuli merasa ngeri melihat sorot amarah di mata ibunya
"semua uang dan pria-pria kaya yang ada di sampingku menghilang begitu saja ketika kusadari pelet itu sudah di ambil dariku, ternyata kau yang sudah mengambilnya, anak sialan"
"aku tak mengambilnya dari ibu" Yuli menangis merasakan kuku ibunya menusuk dalam ke pipinya
"kau pasti tahu jika pelet itu banya bisa di pindahkan kepemilikannya, bukan di ajarkan turun temurun, seharusnya kau tahu jika kau memilik pelet itu, berarti aku harus kehilangan pelet itu"
"aku tidak mengambilnya, nenek yang memberikannya padaku tanpa sepengetahuanku"
"jadi ibu ya biang kerok masalah ini" Asih melepaskan cengkramannya dari pipi Yuli
"apa sebenarnya maunya? aku tidak mengerti jalan pikirannya, berkat pelet itu aku hidup mapan, kehidupan dia dapat terangkat menjadi terhormat jika mau menerima uang dariku, tapi ia menolak, dan sekarang malah mengambil peletku dan memberikannya pada bocah ingusan macam kau"
Asih memperhatikan Yuli dari atas sampai bawah, kemudian tersenyum licik
"aku bisa memanfaatkanmu"
"apa maksud ibu?" tanya Yuli khawatir
"aku sudah mengawasimu selama satu bulan, aku tahu betul kehidupanmu, jika kau tidak mau busukmu aku sebarkan di kampung dan mempermalukan nenekmu, kau harus ikuti perkataanku"
"bagaimana seorang ibu bisa mengancam anaknya seperti ini"
"kau tidak usah banyak bicara, jika aku kemari lagi, kau harus ikut denganku"
Asih pergi meninggalkan Yuli yang masih memegangi pipinya yang terluka
Yuli terduduk gemetaran
apa yang ia rencanakan? kenapa firasatku tak enak? kenapa ia sungguh menakutkan, tidak ada sosok ibu yang aku tangkap darinya
...----------------...
Riko tengah bersiap mengantar ibunya, ia membukakan pintu mobil untuk ibunya, ia pun memacu mobil sesuai arahan dari ibunya
"berhenti di depan, di halaman rumah bercat hijau itu" kata ibu Riko sambil menunjuk sebuah rumah dengan pepohonan yang cukup besar di depan rumahnya
__ADS_1
"baik bu"
Riko mencari posisi yang tepat untuk memarkir mobil, ketika turun dari mobil tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, dedaunan di pohon-pohon besar bergemerisik terbawa angin, Riko terpaku menatap seolah pepohonan itu menyambut kedatangannya