
Enam tahun telah berlalu, Yuli telah tumbuh menjadi gadis yang manis, kesehariannya dilalui dengan membantu nenek dirumah dan diladang.
Suatu hari ketika yuli sedang membantu nenek memasak didapur terdengar suara seseorang dari luar rumah.
"Permisi, ibu, Yuli" panggil suara seorang wanita sambil mengetuk pintu
tak lama Yuli membukakan pintu.
"Eh bi Anah" Yuli sedikit teriak kegirangan
"masuk bi, wah ada apa ni, tumben, rasanya sudah lama sekali bibi tidak kemari"
"Iya, bibi minta maaf jarang menjengukmu, karena dari kota kesini kan cukup jauh, kebetulan bibi sedang ada urusan, makanya bibi mampir kesini"
Bi Anah tampak celingukan
"Nenek ada didapur, sebentar ya Yuli panggilkan, Bibi masuk lah dulu" Yuli tampaknya paham apa yang membuat bibinya celingukan
tak lama nenek dan Yuli keluar dari dapur
"bagaimana keadaanmu, sudah lama sekali kau tidak kemari, betah kau tinggal dikota?" tanya nenek pada Bi Anah
"ya betah ga betah bu, namanya usahaku dikota, aku tidak bisa sering-sering menjenguk ibu karena jarak kota kemari kan cukup jauh, bagaimana kalau ibu ikut aku saja ke kota"
"apa yang akan dilakukan orangtua sepertiku dikota? kalau disini banyak yang bisa aku lakukan" Nenek tampak enggan mengikuti kemauan Bi anah
"Kau ajak saja Yuli ke kota, ajari dia cara agar sukses dikota" tiba-tiba kata-kata nenek mengagetkan Yuli dan Bi Anah
"Aku tidak mau! kalau aku ke kota, siapa yang akan menjaga nenek?" Yuli menolak tegas
"Bagaimana kalau ibu dan Yuli ikut saja ke kota, aku tidak keberatan" Bi Anah mencoba mencari jalan keluar
"Aku sudah bilang tadi, orang tua sepertiku tidak akan cocok tinggal diperkotaan, lagi pula masih ada kakakmu Jamal yang sering kemari, kau tidak usah khawatir"
"tapi uwak Jamal kan tidak setiap hari ke sini nek, aku tetap khawatir" Yuli masih tidak rela meninggalkan neneknya sendiri
"Yuli kau masih muda, jika kau tetap tinggal didesa, nasibmu akan sama dengan gadis-gadis dikampung ini, menikah mengurus anak dan berladang, nenek ingin hidupmu lebih baik, ikutlah bibimu dan jangan membantah lagi"
Yuli hanya terdiam, selama ini dia tidak pernah membantah perkataan neneknya, walau hatinya berat, yuli harus tetap mematuhinya.
"kapan kau kembali ke kota?" tanya nenek pada Bi Anah
__ADS_1
"sore ini bu"
"Yuli, kau kemasilah pakaianmu dan ikutlah bibi ke kota" kata nenek dengan tegas
Yuli hanya menunduk dan langsung masuk kedalam kamar
"baiklah bu, aku pergi dulu masih ada urusan, nanti sore aku akan kemari lagi menjemput Yuli" Bi Anah pun berpamitan dengan nenek
dikamar, Yuli sedang membereskan pakaian, hatinya masih berat untuk meninggalkan nenek, sejak kecil neneklah yang menjadi orang tua baginya, Yuli menyeka air matanya yang menetes dengan lengannya, tiba-tiba nenek masuk kedalam kamar.
nenek mendekat dan mengusap lembut rambut Yuli
"nenek tidak apa-apa, apa yang kau khawatirkan?" nenek berusaha meyakinkan Yuli
Yuli masih diam sambil menahan tangisnya
"nanti kalau Yuli sudah sukses, Yuli akan kembali kesini" kata Yuli sambil sesenggukan
nenek hanya tersenyum
"jaga dirimu baik-baik, belajarlah cara hidup dikota kepada bibimu"
"sepertinya sudah waktunya nenek memberitahumu" ucap nenek pelan
Yuli terdiam memandang wajah nenek
"pakailah jika kau membutuhkannya, kau yang harus menguasainya, bukan kau yang dikuasainya"
Yuli mengerutkan dahi masih tidak mengerti apa yang dikatakan neneknya
"ingatlah bacaan ini baik-baik"
nenek kemudian membacakan sebuah bahasa yang tidak dimengerti oleh Yuli, tetapi ketika mendengarnya terdapat getaran mistis yang menyergap dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"sudah kau ingat?" tanya nenek
"su sudah nek, ta tapi untuk apa? dan tadi itu bahasa apa?" tanya Yuli bingung
"jika kau membaca bacaan yang tadi sudah aku ajarkan sambil menatap mata seseorang, maka orang itu akan bertekuk lutut padamu, dia akan mengasihimu apapun yang kau katakan dia akan tunduk padamu, dia akan rela menyerahkan segalanya untukmu, harta, raga bahkan jiwanya"
Yuli kaget dan hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan neneknya
__ADS_1
"pakailah jika memang kau memerlukannya, ingat berhati-hatilah menggunakannya" nenek memberikan peringatan kepada Yuli
"Tapi kenapa nenek memberikan hal ini padaku?" Yuli masih bingung
"ini ilmu turun temurun yang harus diturunkan kepada anak cucu keluarga kita, kaupun kelak harus menurunkannya pada anak cucumu, seperti yang aku lakukan padamu, ingat ketika aku memandikanmu dipancuran ditengah hutan? saat itulah aku menurunkannya padamu, mau tidak mau itu sudah kewajiban keluarga kita, jika tidak dilaksanakan, maka akan ada bencana yang menimpa keluarga kita"
Yuli masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, ia baru tahu bahwa dikeluarganya ada hal turun temurun seperti itu.
Sore haripun tiba, seperti yang sudah dijanjikan, Bi Anah datang menjemput Yuli. Yuli berpamitan kepada nenek dan memeluk nenek dengan erat, seolah belum rela meninggalkan neneknya. Nenek mengelus lembut rambut Yuli.
Dengan berat, Yuli melangkah meninggalkan rumah menuju mobil Bi Anah yang terparkir tak jauh dari rumah, Yuli masuk ke mobil tetapi matanya tetap tertuju pada neneknya yang berdiri didepan rumah mengantarkan kepergiannya. Mobil pun melaju meninggalkan desa menuju kota.
Siang hari Yuli mulai memasuki kota, dikota Yuli takjub melihat gedung-gedung tinggi dan bangunan-bangunan mewah, sesampainya Yuli dirumah bibinya, Yuli dibuat kagum melihat rumah bibinya, rumah dengan gerbang yang besar, berlantai dua, dengan halaman yang cukup luas. Ah Yuli berharap kelak ia juga akan bisa sukses seperti bibinya. mobilpun berhenti tepat didepan pintu rumah.
"Yuli, kita sudah sampai, ayo turunkan barang bawaanmu, nanti bibi bantu" suara Bi Anah memecahkan lamunan Yuli
"ah tidak usah dibantu Bi, barang bawaanku hanya sedikit kok"
Setelah menurunkan barang bawaannya dari bagasi mobil, Yuli mulai memasuki rumah, Yuli menatap sekeliling rumah dengan perasaan kagum, sungguh berbeda sekali dengan rumahnya yang didesa
"Bibi bukannya tidak perhatian kepada nenekmu, tapi ibu itu orangnya keras kepala, bibi pernah menawarkan merenovasi rumah ibu didesa, tapi ibu bersikeras tidak mau, bibi terkadang malu, orang-orang bilang bibi tidak perhatian sama orang tua, tapi ya mau bagaimana lagi"
"iya bi, aku mengerti, tapi kan semua kebutuhan kami sudah dari bibi dan beberapa tanah didesa sudah bibi belikan untuk nenek, biarkan saja orang lain berbicara, ya tahu baiknya bibi kan kami" Yuli tersenyum pada bibinya
"Yuli, bibi akan menjelaskan padamu usaha bibi, jadi bibi punya beberapa cabang rumah makan di kota dan pinggiran kota, kamu akan bibi percayakan salah satu rumah makan bibi, sebelum kamu benar-benar bibi lepas, kamu bisa belajar dulu dengan orang-orang yang sudah lama disana"
"iya bi, jadi kapan aku mulai bekerja? mulai besok? jam berapa?" tanya Yuli antusias
bibi tersenyum
"istirahatlah dulu, lusa juga tidak apa-apa, kamu kan habis perjalanan jauh"
"tidak apa-apa Bi, besok saja, aku sudah tidak sabar"
lagi-lagi bibi tersenyum melihat keponakannya yang bersemangat
"baiklah, yang penting sekarang kau istirahat dulu, itu kamarmu disebelah sana, beristirahatlah"
"kalau begitu aku ke kamar dulu ya bi"
Yuli langsung menuju kamar yang ditunjukan bibinya. Kamar yang luas dengan desain minimalis, kasur yang mewah dan terlihat empuk, Yuli langsung merebahkan tubuhnya dikasur. Ia menatap langit-langit kamar. tersenyum dan memejamkan mata, Ia tidak sabar dan membayangkan hal apa yang akan ia jumpai besok.
__ADS_1