PELET PENAKLUK

PELET PENAKLUK
Mulai terkuak


__ADS_3

Vendi menyentuh cairan hitam yang tadi jatuh ke tangannya


apa ini? lengket sekali? dan baunya pun sangat busuk


Vendi menuju wastafel cuci piring untuk meletakkan gelas dan mencuci tangannya, kemudian ia mengambil gelas baru, kejadian terulang kembali, ketika Vendi hendak menuangkan air, cairan hitam tersebut jatuh lagi, kali ini bercampur dengan darah, Vendi kaget dan dengan cepat melihat ke arah atas


aneh sama sekali tidak ada apa-apa, lalu apa ini? darah?


rasa bingung berkecamuk di benak Vendi, ia kembali mencuci tangan dan mengganti gelas dengan yang baru, kali ini ia menuang air sambil selalu menatap ke arah atas sampai ia tak sadar jika gelas yang ia pegang sudah terisi penuh dan air bertumpahan ke lantai, Vendi terkejut


sial jadi basah semua


ketika pandangan Vendi beralih ke lantai yang basah, cairan hitam bercampur darah yang entah dari mana asalnya sudah menggenang di lantai, Vendi terkejut dan menjatuhkan gelas yang ia pegang, ia mulai merasa takut dan mundur secara perlahan, ia memilih kembali ke tempat Yuli duduk, tapi seketika langkah kaki Vendi terhenti, melihat sosok yang sedang duduk membelakanginya tidaklah tampak seperti Yuli, terlihat sangat berbeda, Yuli berambut hitam, sedangkan yang duduk membelakanginya itu berambut putih panjang kusut tak terawat


astaga, siapa itu? dimana Yuli?


Vendi mengelilingkan pandangannya mencari sosok Yuli tapi sia-sia, pandangan nya kembali terarah ke sosok berambut putih yang tengah duduk membelakanginya, dengan rasa takut bercampur penasaran Vendi menghampiri sosok berambut putih tersebut, dengan langkah yang berat Vendi semakin mendekat, tiba-tiba vendi terkejut hingga jatuh ketika kepala sosok berambut putih itu berputar 180 derajat menyeringai dan menjulurkan lidahnya yang panjang


kkkhhkk kkhheeekkk kkkhheekeek


makhluk menyeramkan itu berjalan menggunakan kaki dan tangannya merangkak mendekati Vendi, Vendi berusaha untuk lari tapi karena rasa takut yang sudah menjalar hingga tulang membuat kakinya terlalu lemas untuk bergerak, dan dengan cepat makhluk itu sudah berada tepat dihadapan Vendi, wajah menyeramkannya jadi terlihat jelas, wajah kehitaman seperti luka bakar yang setengah kering membuat Vendi mual, dan juga bau busuk dari cairan hitam yang menetes dari mulutnya membuat Vendi tak kuat lagi menahan ketakutannya hingga ia pingsan


...----------------...


Vendi mulai membuka mata, ia terbaring di kasur, Vendi memegani kepalanya yang terasa sangat berat


aaahhh kepalaku sakit sekali, sebenarnya apa yang terjadi, aku tidak bisa mengingat apa-apa


ia mulai mengingat apa yang sedang terjadi padanya, ia perlahan mengumpulkan kepingan-kepingan memori yang hilang karena syok yang sangat hebat, perlahan ingatannya mulai terkumpul, dan ia teringat dengan kejadian menyeramkan yang ia alami sebelum ia tak sadarkan diri, Vendi langsung terduduk dan berteriak, keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya


"ada apa mas?"


Yuli yag tertidur di samping Vendi nampak kaget mendengar teriakan Vendi


"makhluk itu..... semalam... makhluk menyeramkan itu" dengan panik dan terbata-bata Vendi menjelaskan pada Yuli


Yuli mengerutkan dahi


"makhluk apa?" Yuli bingung

__ADS_1


"semalam.... setelah aku masuk ke sini karena mendengar kau teriak, tiba-tiba makhluk itu muncul, makhluk menyeramkan itu muncul di hadapanku, wajahnya... wajahnya sangat mengerikan... apa jangan-jangan kau juga bertemu makhluk itu, karena itukah kau berteriak histeris pada saat itu?"


Yuli memasang wajah bingung


"makhluk apa? aku teriak? kapan?"


"tadi malam kau teriak-teriak histeris pasti karena makhluk itu kan?"


"aku tidak pernah teriak histeris mas" Yuli masih terlihat bingung


"aku melihat sendiri ketika aku mendobrak masuk ke sini karena mendengar suara teriakan"


"kau bermimpi mas? apa kau sakit? semalam kau datang ke sini biasa saja, kau ketuk pintu, kau bawakan aku makanan, dan kita makan bersama, setelah itu kita semalaman.. masa kau lupa" wajah Yuli bersemu merah


apa benar aku bermimpi? tapi itu cukup nyata, lalu semalam kenapa aku tidak mengingat apapun yang dikatakan Yuli? sebenarnya apa yang terjadi?


"mungkin kau kelelahan mas, kau sedang banyak kerjaan ya di kantor?" Yuli mengusap lembut punggung Vendi


"mungkin, sepertinya aku memang kelelahan"


akhir-akhir ini pekerjaan Vendi memang agak lebih sibuk dari biasanya, itulah yang membuat hati Vendi sedikit yakin bahwa ia memang kelelahan dan menutupi segala kebingungan yang berkecamuk di pikirannya tentang kejadian semalam


...----------------...


"sayur" teriak tukang sayur itu


"mama anin, bu hj, mbak Yuli sayur" tampak ia tengah mengabsen para pelanggannya


dan tidak berselang lama rupanya panggilannya membuahkan hasil para ibu-ibu mulai mendekati tukang sayur tersebut termasuk Rina


"dari mana aja nih si teteh udah 1 minggu baru keliatan jualan sayur lagi?" tanya salah seorang ibu-ibu


"iya bikin repot ibu-ibu sini, kan kita-kita jadi harus ke pasar belanja sayurannya" seru ibu yang satu lagi


"kan enak klo belanja kepasar, bisa beli macem-macem, beli daster baru juga tuh kaya mama anin dasternya baru" canda tukang sayur


"ini sih beli baru karena daster lama emang udah bolong" sahut ibu satunya lagi


"teteh Yuli mana ini?" tukang sayur nampak mencari-cari salah satu langganannya yang belum nampak juga

__ADS_1


para ibu-ibu yang tadinya berisik mulai hening, si tukang sayur ingat sepertinya tadi Rina berjalan dari arah rumah Yuli langganannya


"teh Yuli kemana? ibu SodaraY teteh Yuli?"


"Yuli?" Rina nampak bingung


"iya, si teteh tadi dari situ kan, tinggal disitu? bukan sodaranya teh Yuli? ah apa teh Yuli udah pindah ya?"


"yang tinggal di situ?" tanya Rina


"iya, ih si teh Yuli pindah kok mendadak banget, baru satu minggu tidak jualan sudah menghilang"


ibu-ibu yang tadi hening nampak buru-buru membayar sayuran belanjaan mereka


Yuli? seminggu yang lalu? mas Riko sudah beberapa bulan tinggal disini, tidak mungkin, berarti...


"Yang tadi Yuli itu memang tinggal di sini?" Rina berusaha mencari tahu lebih banyak


"iya, langganan saya juga"


"oh, mbaknya sudah lama jualan sayur?"


"wah jangan ditanya, sudah 5 tahun di sini makanya ibu-ibu di sini sudah pada langganan"


"kalau Yuli sudah lama di sini?"


"belum lama sih sekitar 8 bulan yang lalu, dia pindahan dari kota XX ikut suaminya di sini"


8 bulan yang lalu? tepat ketika mas Riko pindah kerja, kota XX jg tempat kita tinggal, oh tuhan semoga pikiranku ini salah


"sudah belanjaannya tolong ditotal" Rina menyodorkan beberapa sayuran dan ikan


"semuanya 45.000, bakal jadi langganan baru ni teh" si tukang sayur tersenyum


Rina membalas senyum dengan sedikit anggukan


sambil berjalan ke arah rumah, hati Rina begitu resah ia tidak ingin berpikiran buruk terhadap suaminya, tapi ia juga perlu mencari tahu kebenarannya secara perlahan, hatinya mulai sakit memikirkan kemungkinan yang terburuk, tak terasa air mata Rina perlahan mengalir


oh tuhan semoga apa yang aku pikirkan tidak seperti kenyataannya

__ADS_1


hati kecil Rina masih berharap ini adalah sebuah kesalahpahaman


__ADS_2