
Beberapa bulan telah berlalu, Yuli merasakan kehidupan rumah tangga yang bahagia, kasih sayang dan perhatian Riko setiap hari membuatnya selalu berbunga-bunga, tetapi kebahagiaannya agak terganggu dengan adanya telepon dari istri dan anak-anak Riko disela-sela harinya, seperti saat ini, ketika sedang asik bersenda gurau dan bermesraan sambil menonton televisi handphone Riko berbunyi dan Riko langsung menjauh untuk mengangkat telepon, tentu saja Yuli merasa kesal, ia tidak bisa lagi menahan cemburu setiap kali Riko menerima telepon dari istrinya.
Riko kembali mendekati Yuli setelah menutup telepon
"mas, sebaiknya kau segera menyelesaikan hubunganmu dengan Rina, kau tak tahu betapa cemburu dan terbakarnya hatiku setiap kau menerima telepon dari Rina" Yuli menyilangkan tangannya sambil cemberut
"iya, aku minta waktu, kau tahu aku disini belum satu tahun, tidak enak kalau harus meminta cuti"
"aku harap itu bukan hanya alasanmu saja"
"tentu saja, untuk apa aku membuat alasan? kau seharusnya lebih tahu bahwa aku sangat mencintaimu, kau tak usah khawatir" Riko memeluk dari belakang mencium kepala Yuli
"tapi jika aku bercerai nanti, aku pasti masih akan bertelepon dengan Rina, untuk mengetahui kabar anak-anak dan aku juga tidak bisa lepas tangan atas segala kebutuhan anak-anak" sambung Riko
"aku tahu aku belum bisa memberimu anak, itukah yang membuatmu selalu mementingkan anak-anakmu disana?" Yuli terilihat sedih
"tidak, bukan seperti itu, perasaan sayang terhadap anak berbeda dengan perasaan sayang terhadap istri, tidak bisa disamakan, kau tidak usah berpikir macam-macam, untuk masalah anak pun aku tidak menuntut secepatnya, kita baru beberapa bulan, kita nikmati saja kebersemaan kita seperti ini, bukankah setiap hari kita terasa seperti pengantin baru?" Riko tersenyum dan mencium leher Yuli, tubuh Yuli bergetar dan memanas
benar apa yang dikatakan oleh Bi Anah tentang pelet penakluk ini, setiap hari Yuli merasakan gairah yang menggebu-gebu, setiap hari ia menyalurkan hasratnya bersama Riko, seperti candu yang memabukkan, tak bisa seharipun ia lewatkan
Tubuh Yuli semakin memanas, ia tak bisa lagi menahannya, ia menarik Riko dan mencium bibirnya, Riko membalas mesra
"ayo mas" Yuli menarik Riko ke kamar
"jangan sekarang, sebentar lagi sepupuku akan datang" Riko tersenyum melihat tingkah istrinya
Yuli cemberut
"terserah, pokoknya aku mau sekarang, ayo mas, sebelum sepupumu datang" Yuli merengek sambil menarik Riko ke kamar
Riko tertawa kecil melihat keteguhan istrinya
"ok, baiklah" Riko mengangkat tubuh Yuli, menggendongnya menuju tempat tidur
dengan tak sabar Yuli segera melampiaskan hasratnya
20 menit kemudian terdengar suara pintu diketuk
"Riko.. permisi.. Riko.. " terdengar suara seorang pria memanggil dari luar
"sepertinya itu sepupuku" Riko bergegas memakai pakaiannya
"untung sudah selesai ya mas" Yuli tertawa kecil
"dasar kamu ini" Riko mencubit hidung Yuli
Riko keluar dari kamar dan membukakan pintu
"hei vijay" sapa Riko pada sepupunya sambil memeluknya
"kau ini selalu saja mengganti nama orang seenaknya" vendi manyun mendengar gurauan sepupunya
"ih ngambekan ah" Riko tertawa geli melihat sepupunya cemberut
__ADS_1
Riko memang senang memanggil sepupunya dengan sebutan vijay daripada vendi, karena menurutnya lebih cocok dengan perawakan sepupunya yang tinggi berkulit coklat dengan berewok tipis yang menghiasi wajahnya, persis bintang film india
"lama sekali buka pintunya, kupikir tidak ada orang" vendi mengomel sambil duduk di kursi teras
"iya maaf, tadi tidak begitu kedengaran, oya mau minum apa?"
"ada air dingin? cuaca hari ini panas, aku kehausan"
vendi mengerutkan keningnya sambil sedikit menyipitkan mata memperhatikan baju yang dipakai Riko, vendi memegang baju Riko
"pakai baju terbalik? trend mode baru ya?"
Riko langsung melihat bajunya dan benar saja ia memakainya terbalik
"astaga, aku tadi terburu-buru memakainya"
terburu-buru? dalam hati vendi
"Sayang, tolong ambilkan minuman dingin untuk Vendi"
vendi menengok kedalam rumah melihat Yuli yang baru keluar dari kamar, vendi melihat Yuli sedang merapihkan pakaian dan rambutnya yang sedikit berantakan, vendi kemudian mengalihkan pandangannya pada Riko kemudian tertawa
"kau kenapa?" tanya Riko bingung
"Riko,, Riko,, cuaca terik begini, kau masih saja bernafsu, kedatanganku tidak tepat rupanya"
Riko tersipu malu
"makanya kau nikah, supaya kau tahu cuaca itu tak mempengaruhi" Riko berusaha menutupi rasa malunya
"aku juga dulu menikah ketika seusiamu, aku ingin ketika mempunyai anak, aku masih dalam masa produktif dalam bekerja, dan sekarang diumur 35 aku sudah mempunyai dua orang anak"
"juga dua orang istri, apakah itu yang mau kau contohkan?" Vendi menggoda Riko
"kau ini, jangan contoh aku, satu istri seumur hidup itu lebih baik"
"kalau satu istri lebih baik, kenapa kau punya dua?" jawab Vendi penasaran
"entahlah, aku sendiri tidak mengerti"
Yuli datang dengan membawakan minuman
"silahkan diminum" Yuli tersenyum ramah
"iya terima kasih" Vendi membalas senyum
setelah mengantarkan minuman Yuli kembali masuk kedalam, Vendi terus memperhatikan sampai Yuli tak terlihat lagi
"istrimu terlihat masih muda"
"iya, bulan depan usianya 18 tahun"
Vendi terkejut
__ADS_1
"gila kau, anak 18 tahun kau nikahi, jangan-jangan kau pelet ya?" Vendi tertawa
"mana mungkin, kau kan tahu betul aku seperti apa, jd tidak mungkin aku menggunakan pelet"
"ya, ya, hebat kau, dia tahu kau sudah beristri?"
Riko mengangguk sambil meneguk minuman
"sepertinya aku harus belajar banyak darimu" Vendi tersenyum menggoda
"Ya kau memang harus banyak belajar, tapi dalam hal pekerjaan, sudah jangan banyak bicara, mana pekerjaan yang tadi ingin kau tanyakan padaku"
"iya, iya pak manajer, aku akan belajar sangat banyak darimu, terutama cara merayu gadis muda" vendi tersenyum menggoda Riko
"kau ini, sudah cepat buka laptopmu, banyak yang perlu aku ajarkan padamu"
"tenang saja, aku akan jadi murid yang baik"
...----------------...
Suatu pagi ketika Riko hendak berangkat bekerja, Yuli bertanya tentang Vendi yang beberapa hari belakangan tidak pernah terlihat, padahal biasanya hampir setiap hari Vendi selalu datang kerumah
"tumben, sudah beberapa hari Vendi tidak terlihat kemari?"
"iya, dia sedang banyak pekerjaan, nanti juga ketika senggang dia pasti kemari lagi, aku berangkat dulu ya" kecupan hangat mendarat di kening Yuli, Ritual pagi yang selalu dilakukan Riko sebelum berangkat kerja
"iya, hati-hati ya mas" Yuli mencium tangan Riko
sore mulai beranjak Yuli sedang didapur tengah mempersiapkan teh hangat dan cemilan untuk Riko, karena sebentar lagi ini jam pulang kerja Riko, ketika sedang menata gelas dan piring diatas meja makan, Yuli sepintas mendengar suara dari teras, Yuli penasaran dan mencari tahu, Yuli menyingkap gorden dan mengintip dari balik jendela, terlihat ada dua orang anak tengah bermain dan belarian, dan ada seorang wanita yang tengah mengawasi anak-anak itu bermain, tapi Yuli tidak bisa melihatnya dengan jelas karena wanita itu duduk membelakangi
"bunda, Ayah masih lama ya? Amel kangen nih sama ayah" rengek anak kecil itu
Amel? sepertinya aku pernah dengar, seperti nama salah satu anak mas Riko
Yuli terkejut, jantungnya berdegup kencang
jika benar itu anak mas Riko, berarti wanita itu adalah Rina istri mas Riko
Yuli mulai panik dan bingung
tunggu.. tidak mungkin itu istri mas Riko, mungkin aku saja yang terlalu panik, bukankah ada banyak nama Amel didunia ini
Yuli berusaha untuk menenangkan hatinya
"Bunda, ayah masih lama ya? kenapa ayah tidak ditelepon saja sih? bosan nih" rengek anak yang satunya lagi
"sabar dong, kita kan mau buat kejutan untuk ayah, Amel dan Rio harus sabar, kalian mau kan bikin ayah senang? sebentar lagi ayah pulang, jadi kalian sabar ya"
jantung Yuli semakin berdegup kencang, keringat dingin mulai mengalir
Amel dan Rio, tidak salah lagi, mereka adalah anak-anak dan istri mas Riko, oh tuhan bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?
"Ayaaaaaaahhhhhh"
__ADS_1
Amel dan Rio berlari kegirangan melihat kedatangan ayahnya, Riko sangat kaget sampai tak bisa berkata apa-apa, Riko bingung dan panik, ia sadar cepat atau lambat Rina pasti akan tahu tetapi Riko tidak menyangka akan semendadak ini, Riko panik, ia mulai berpikir bagaimana mengatasi masalah ini.