PELET PENAKLUK

PELET PENAKLUK
Harga diri


__ADS_3

Vendi mengantar Yuli sampai di depan rumahnya


" apa benar kau tidak apa-apa? kau terlihat pucat, apa kau tidak tidur semalaman?" tanya Vendi khawatir


"aku tidak apa-apa" Yuli mengusahakan untuk tersenyum


"aku tidak tahu apa yang terjadi kau terlihat aneh semenjak aku bangun tidur"


"iya aku tidak apa-apa, kau tidak usah khawatir, calon pengantin tidak boleh banyak pikiran loh" goda Yuli


"aku tidak suka bercandaanmu kali ini" Vendi nampak cemberut


Yuli tersenyum dan menggenggam tangan Vendi


"aku kan sudah bilang kalau aku baik-baik saja, tidak usah memikirkanku, kau fokus saja dengan keinginan orang tuamu, kau ingat kan janjimu? cukup jadi penguat ketika aku lemah, itu sudah sangat membahagiakanku" ucap Yuli sambil tersenyum


Vendi mencium tangan Yuli


"aku berjanji, jika kau butuh aku, aku pasti akan selalu ada untukmu"


"terimakasih"


Yuli tahu ini adalah keputusan terbaik, walaupun hatinya merasa berat ia berusaha untuk tegar


Vendi berpamitan pergi dan memacu motornya diiringi lambaian tangan Yuli


Yuli menuju pintu rumahnya dan mengeluarkan kunci, belum sempat Yuli membuka pintu, terdengar suara seorang lelaki memanggilnya


"ibu Yuli"


Yuli menoleh ke arah suara itu berasal dan mengernyitkan dahi, ia tidak mengenal pria di hadapannya, pakaiannya rapih dengan setelan jas berwarna serba hitam


"ya, siapa ya?" jawab Yuli ragu-ragu


"ah biar aku perkenalkan diri terlebih dahulu, aku adalah Andi, asisten dari pak Adijaya gunawan"


Yuli kembali mengernyitkan dahi


"pak Adijaya gunawan? ada perlu apa sampai pak Andi kemari?"


"pak Adijaya ingin bertemu dengan ibu Yuli, jadi ibu bisa ikut denganku sekarang" Andi tersenyum


"mengapa pak Adi ingin bertemu denganku?"


"ibu akan segera tahu jika ibu bersedia ikut"


apa pelet itu sudah mulai bekerja? aku harus memastikannya


"baiklah" kata Yuli


"mari ikuti saya"


Andi berjalan terlebih dahulu di ikuti Yuli di belakangnya, mereka menuju sebuah mobil mewah berwarna hitam


Andi membukakan pintu mobil untuk Yuli


"kita akan ke mana?" tanya Yuli sebelum masuk ke dalam mobil


"pak Adijaya sudah menunggu di hotel"

__ADS_1


"hotel?" Yuli nampak kaget


Andi tertawa kecil


"ibu Yuli tidak usah khawatir, kebetulan pak Adijaya sedang ada rapat di hotel, jadi selesai rapat beliau akan menemui ibu"


"biaklah" kata Yuli sambil masuk ke dalam mobil


tidak berapa lama sampailah Yuli di hotel mewah tempat pertama kali ia bertemu Adijaya, dimana ketika itu itu Asih memaksanya merapalkan pelet kepada Adijaya


jika Adijaya benar sudah terkena pelet penakluk, selanjutnya apa yang harus aku lakukan? aku benar-benar tidak ada perasaan apapun padanya, sebenarnya apa yang ibu inginkan?


Andi membukakan pintu mobil untuk Yuli, Yuli terhenyak dari sekelumit pertanyaan dipikirannya, ia segera turun dari mobil dan segera mengikuti Andi yang berjalan masuk ke hotel


Andi membawa Yuli ke salah satu kamar hotel, kamar yang mewah sama seperti kamar Adijaya ketika ia menjadi pelayan hotel


"tunggulah di sini, selesai rapat pak Adijaya akan menemuimu"


"ah tapi,, " belum sempat Yuli melontarkan kata Andi sudah bergegas pergi


"kenapa dia seenaknya saja begitu sih, aku kan paling malas menunggu, apalagi yang tidak pasti"


Yuli menghela nafas panjang


ia memilih menunggu sambil duduk dan menyandarkan tubuhnya ke kursi, Yuli menengadahkan pandangannya ke langit-langit


"mas Riko" gumam Yuli


"kapan kau pulang mas? keputusan apa yang kau buat di sana? apa kau akan meninggalkanku?"


Yuli mengambil ponsel dan memandangi cukup lama sebuah kontak nama


Yuli menekan tombol panggilan, cukup lama ia menunggu sampai suara operator menyambutnya


nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan


Yuli menatap sedih ponselnya


tiba-tiba pintu kamar terbuka, Adijaya masuk dengan dua orang bodyguardnya, tanpa basa-basi ia langsung duduk di kursi sambil menatap Yuli tajam


"kalian boleh keluar" kata Adijaya kepada bodyguardnya


setelah para bodyguard Adijaya keluar, untuk beberapa saat hanya ada keheningan diantar mereka


sampai kapan kami hanya diam saja


gumam Yuli dalam hati


"bediri" Suara Adijaya mengagetkan Yuli


tanpa banyak bertanya Yuli mengikuti perkataan adijaya


Adijaya menatap Yuli tajam dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, ia menyandarkan tubuhnya dikursi sambil menengadahkan kepalanya ke atas dan menutupi matanya dengan lengannya


Astagaaaaa apa aku gila?? perempuan ini sungguh kampungan, kumal dan lusuh, aku benar-benar sudah tidak waras, apa lebih baik aku ke psikolog saja, mungkin ada sedikit gangguan dengan pikiranku


"apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" Yuli memberanikan diri untuk bersuara


"apa?" Adijaya terkejut

__ADS_1


pikirannya terburaikan oleh pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan oleh Yuli


"Anda ingin bertemu denganku bukan hanya untuk mendiamkanku seperti ini kan?" wajah Yuli berkerut heran


"berapa?" sepatah kata dari Adijaya yang sulit diartikan oleh Yuli


"apa?" tanya Yuli tidak mengerti


"berapa tarifmu untuk semalam?"


ya ini hanya ketertarikan sesaat, mungkin jika aku menghabiskan semalam dengannya rasa aneh ini akan segera hilang


logika Adijaya meyakinkan bahwa hatinya salah


"apa aku pernah bilang kalau aku menjual diri?" ucap Yuli sinis


"50jt? 100jt? berapa?" tanya Adijaya seolah tak mendengar ucapan Yuli


Yuli mengepalkan tangannya mencoba menahan emosi


"apa otakmu berjalan lamban karena tidak memahami apa yang aku ucapkan?" tanya Yuli ketus


"aku tegaskan sekali lagi kalau aku tidak menjual diri, kau cari saja wanita lain untuk memuaskan hasratmu itu" Yuli segera melangkah pergi meninggalkan Adijaya


tetapi langkahnya terhenti tepat di depan pintu


terlihat Asih berdiri dihadapannya dengan tatapan tajam penuh amarah


plak


sebuah tamparan keras mendarat di pipi Yuli


"ibu?" wajah Yuli nampak kaget dan bingung, ia tidak mengerti kenapa ia bisa mendapatkan tamparan dari ibunya


Asih menarik rambut Yuli dan mendekatkan mulutnya ke telinga Yuli


"anak kurang ajar, kau pikir untuk apa aku menyuruhmu menggunakan pelet itu?"


mata Yuli terbelalak seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar


"ibu" ucap Yuli lirih


"ibu menjualku?" tanya Yuli memastikan maksud ibunya, ia berharap ada jawaban lain dari mulut ibunya


Asih hanya diam


Beny yang sedari tadi di belakang Asih maju menarik tangan Yuli dan membawa Yuli keluar


"tunggu, aku belum selesai bicara" Yuli berusaha melepaskan tangannya dari genggaman beny, tapi genggaman tangan Beny terlalu kuat, ia hanya bisa pasrah dan mengikuti Beny


Beny mambawa Yuli ke ruangan ganti karyawan


"duduk tenanglah di sini, Asih akan menemuimu setelah ia selesai bicara dengan pak Adijaya"


Yuki mencoba menahan tangis, amarah yang ia rasakan sungguh menyesakkan dada


"kenapa masalah datang bertubi-tubi kepadaku??" Yuli menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya


"aku hanya ingin hidup bahagia, tidak berhak kah ah aku bahagia?" lirih Yuli

__ADS_1


tetesan air mata yang ia tahan selama ini mulai mengalir, hatinya yang selama ini berusaha kuat seakan tak mampu lagi menahan beban


__ADS_2