PELET PENAKLUK

PELET PENAKLUK
Rindu


__ADS_3

sore hari sepulang kerja Riko disambut hangat oleh Rina, Rina menyiapkan segelas kopi dengan didampingi gorengan pisang yang masih hangat, Rina mengambil sebaskom air hangat dicampur garam untuk merendam kaki Riko, dengan lembut ia memijat pundak Riko


"bagaimana pekerjaan hari ini mas? lancar?" tanya Rina sambil terus memijat pundak Riko


Riko sangat menikmati pijatan Rina, kemampuan memijat Rina sungguh baik


"sedikit masalah saja tadi, tapi sudah beres semuanya" kata Riko sambil menyeruput kopi


"Syukurlah, semoga segala pekerjaanmu selalu dilancarkan ya mas, mas ingin segera mandi atau makan dulu?"


"aku mandi dulu saja badanku sudah lengket rasanya"


"kalau begitu aku siapkan air hangat dulu ya mas"


Riko mengangguk sambil terus menikmati pisang goreng


tak berapa lama Rina kembali dari arah kamar mandi


"mas air mandinya sudah siap"


"baiklah aku mandi dulu, terimakasih ya" Riko mengecup kening Rina, kebiasaan yang selalu dilakukannya selama ini, wujud rasa terima kasih Riko atas pelayanan istrinya.


Riko beranjak menuju kamar mandi


saat Riko tengah berada di kamar mandi, Rina bergegas mencari handphone milik Riko, ia mencari diberbagai tempat, tak berapa lama ia menemukannya di dalam laci kamar, ia segera mengecek kotak pesan, dari daftar nama kontak dipesan masuk tidak ada yang mencurigakan, ia mencoba membuka satu persatu pesan-pesan tersebut, semua membahas tentang pekerjaan, Rina menyerah, mungkin memang hanya prasangkanya saja yang berlebihan, tiba-tiba handphone bergetar tanda pesan masuk, sebuah nomor telepon tanpa nama, Rina memberanikan diri membukanya


mas uangku sudah habis, kapan kau kemari? kalau kau tidak sempat karena anak istrimu, kau titipkan saja pada Vendi


Rina merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat, tapi ia tidak ingin amarah menguasainya, ia tidak ingin bertindak gegabah sebelum benar-benar ada bukti, Rina menghapus pesan masuk dan mengembalikan handphone ke tempat semula tak berselang lama Riko masuk ke kamar setelah selesai mandi, Rina kaget beruntung handphone Riko sudah dikembalikay ketempatnya, Rina bergegas menuju lemari mengambilkan baju untuk Riko


"ini pakaiannya mas, kalau sudah selesai aku tunggu di meja makan ya"


setelah meletakan pakaian untuk Riko Rina bergegas keluar kamar


setelah selesai menyusun makanan di meja makan, Rina duduk menunggu Riko, pikirannya melayang kemana-mana, ia memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika apa yang dipikirkannya ternyata terbukti benar


"Bunda" Amel dan Rio berlarian masuk ke rumah


"sudah selesai mainnya?" Rina tersenyum dan mencium kening anak-anaknya satu persatu


"bunda, Amel senang deh di sini Amel punya banyak teman" kata Amel antusias


"iya Rio juga senang, teman-teman di sini semuanya baik"


"bunda kita tinggal disini terus ya, Amel suka di sini" rengek Amel


"tidak bisa" Riko yang baru saja datang langsung menimpali


"kenapa? Amel senang di sini ada ayah dan bunda ada teman-teman yang baik, Amel tidak ingin hanya tinggal berdua dengan bunda, Amel ingin Ayah dan Bunda, lagipula di sana Amel tidak punya teman, Amel suka di sini" mata Amel berkaca-kaca


"iya Sama Rio juga" Rio lebih sedikit berbicara karena apa yang ingin dia utarakannya sudah terwakili oleh adiknya


"kaliankan kan harus sekolah, lagipula ayah juga tidak menetap di sini, suatu saat ayah pasti akan pindah kerja lagi, akan repot jika kalian ikut pindah dan harus berpindah-pindah sekolah"


Amel dan Rio nampak murung

__ADS_1


"Mas sepertinya besok aku dan anak-anak harus pulang"


"yaaah kenapa bunda? Rio masih ingin di sini"


"iya bunda, Amel juga tidak ingin pulang"


"anak-anak, sebentar lagi kan waktu liburan kalian selesai, jadi kita tidak bisa berlama-lama di sini" Rina mencoba memberi pengertian kepada dua buah hatinya, dan nampaknya Rio dan Amel dapat menerima


bagus, Rina pulang lebih cepat dari dugaanku, dan Yuli bisa segera kembali ke sini


tanpa sadar seulas senyum terselip diwajah Riko, Rina memperhatikan dengan hati hancur


sebahagia itu kah mas jika aku tak ada di sampingmu?


"aku akan membantumu berkemas, jam berapa besok kau akan berangkat?" Riko terdengar antusias


"besok pagi" jawab Rina singkat


...----------------...


Keesokan pagi Riko melambaikan tangan pada Rina yang memandangnya dari jendela bis


akan segera kupastikan kebenaran firasatku ini tentang penghianatnmu mas


Rina memandang dengan tatapan sedih pada kedua buah hatinya yang tengah berebut melambai pada ayahnya melalui jendela


senyum lega terpancar di wajah Riko, ia tidak sabar untuk menjemput Yuli pulang ke rumah


bis melaju perlahan lambaian Amel dan Rio mulai menghilang seiring menjauhnya bis


sepulang kerja aku akan menjemputmu, kita pulang ke rumah


senyum Riko semakin merekah ketika tanda pesan sudah terkirim


...----------------...


Di hotel Vendi terbangun mendengar handphone berbunyi, ia melihat ada pesan masuk di handphone Yuli, Vendi membukanya dan merasa kesal, ia mengarahkan pandangannya kepada Yuli yang tengah tertidur di sampingnya


oh tuhan sejak kapan aku jadi begitu mencintainya, aku tak ingin kehilangannya, tak ingin jauh darinya


Vendi membelai lembut rambut Yuli dan mencium keningnya, Yuli terbangun dari tidurnya


"mas sudah bangun?" Yuli memeluk Vendi


"tadi Riko mengirim pesan, ia bilang akan menjemputmu sepulang kerja nanti, sepertinya Rina sudah pergi"


Yuli kaget


"kenapa mendadak sekali, aku masih ingin terus begini denganmu" Yuli mempererat pelukannya


"Yah mau bagaimana lagi, bagaimanapun kau istrinya, kau harus bersama suamimu" Vendi mengepalkan tangannya menahan kesal


"aku ingin tetap seperti ini, apa kau mau melepaskanku?" Yuli bergelayut manja


"aku tidak akan pernah melepaskanmu, tapi aku juga tidak mungkin terang-terangan mengambilmu dari Riko, dia saudaraku, dia juga sudah banyak membantuku, apa kau tidak keberatan kita tetap seperti ini?"

__ADS_1


"aku tidak keberatan, asal kau tetap mencintaku seorang"


"tentu saja, kau satu-satunya wanita yang aku sayangi, tidak ada yang lain"


Vendi mengecup lembut bibir Yuli, Yuli menyambut dengan penuh cinta


...----------------...


Sore hari Riko menjemput Yuli ke hotel, Riko mengetuk pelan pintu kamar tempat Yuli menginap, tak berselang lama Yuli keluar dengan sebuah tas besar, Riko mengernyitkan dahi


"belum dua minggu tapi barang bawaanmu sudah bertambah banyak"


"bukan urusanmu, selama Rina di rumah aku juga tidak pernah mencampuri urusanmu"


semenjak bersama Vendi, Yuli selalu mendapatkan kejutan setiap Vendi datang, hadiah-hadiah manis selalu dibawakan oleh Vendi, mulai dari boneka, bunga, coklat, tas mewah, bahkan baju tidur seksi


"kau masih marah?" Tanya Riko


"menurutmu?" jawab Yuli singkat


"aku sedang tidak ingin bertengkar, kemarikan tasmu, biar aku yang bawa"


Riko membawa tas Yuli dan berjalan di depannya


selama perjalanan menuju rumah, Yuli terlihat diam dan lebih memilih menatap ke luar jendela


"kau sudah makan?" tanya Riko memancing obrolan


"sudah" jawab Yuli singkat tak berniat melanjutkan percakapan


sesampainya di rumah, Yuli masih diam dan memilih merapihkan barang bawaannya


Riko menghampiri dan memeluknya dari belakang, Yuli berusaha melepaskannya, tetapi pelukan Riko sangat kuat


"kau tidak lihat aku sedang beres-beres?" Yuli nampak kesal


"kau tidak rindu padaku?" Riko mendekatkan bibirnya pada leher Yuli, dada Yuli mulai berdesir


perlahan bibir Riko mulai turun ke pundak Yuli


"mmhhh mas" suara Yuli bergetar


Riko membalikan tubuh Yuli, sekarang wajah mereka begitu dekat, kecupan lembut penuh rindu di daratkan Riko pada bibir Yuli, tak bisa dipungkiri jika Yuli pun sebenarnya rindu kepada Riko, nampaknya kecupan lembut dari Riko sudah menghilangkan amarah Yuli dan menggantinya dengan sebuah kerinduan


"aku benci kamu mas" suara Yuli bergetar menahan tangis


Riko menyentuh kedua pipi Yuli dan mendekatkan kembali bibirnya, sambil tersenyum melihat tingkah Yuli Riko tak berhenti menghujani Yuli dengan ciuman


"aku benci hu hu hu" Yuli menangis sesenggukan


Riko tertawa kecil melihat tingkah istrinya


"iya aku tahu" Riko mendaratkan lagi ciuman mesra ke bibir Yuli


Riko menggendong Yuli ke atas tempat tidur, menidurkannya dengan lembut, dan kembali menghujaninya dengan ciuman, seluruh tubuh Yuli tak ada yang luput dari jangkauan Riko

__ADS_1


perasaan Yuli bercampur aduk, kesal, tetapi rindu, benci tetapi cinta, Yuli tak bisa menolak sentuhan-sentuhan Riko, mereka berdua berlanjut melepas kerinduan semalaman suntuk


__ADS_2