PELET PENAKLUK

PELET PENAKLUK
Tuan berhati dingin


__ADS_3

"Riko ayo masuk" ibu Riko menarik lengan Riko yang masih terpaku menatap pohon besar yang bergemerisik


"ah iya" Riko mengikuti langkah ibunya


di depan pintu rumah yang terbuka lebar terlihatlah seorang pria sedang duduk di ruang tamu, ia terlihat sedang menunggu, sepertinya ia sudah mengetahui akan kedatangan kami, ia tersenyum penuh wibawa


"permisi" ibu menganggukkan kepalanya


"silahkan masuk" jawab pria itu dengan sangat tenang


"ah iya baik pak"


Riko buru-buru di tarik oleh ibunya untuk masuk


"duduklah" bapak itu mempersilahkan Riko dan ibunya untuk duduk


"iya terima kasih pak" jawab ibunda Riko sambil duduk


"hmmm begini, saya tahu tentang Pak karto dari teman saya" kata ibunda Riko mengawali pembicaraan


"oh begitu, siapa teman ibu?" tanya pak Karto sambil menyeruput kopi hitamnya


"Bu Elina yang memberitahu saya"


"oh bu Elina, iya dulu dia sering kemari, kalau sekarang hanya sesekali saja" pak Karto menghisap rokoknya dalam-dalam


"jadi ini anak saya pak namanya Riko" Ibunda Riko memperkenalkan Riko yang duduk di sampingnya


pak Karto diam menatap Riko sambil menghisap rokoknya


"anak satu-satunya ya" kata pak Karto sambil menghembuskan rokoknya


"ah iya benar pak, bagaimana bapak bisa tahu?"


ibunda Riko terlihat kagum dengan tebakan pak Karto yang sangat tepat


pak Karto hanya tersenyum tanpa menjawab


"boleh kami ngobrol berdua? saya dan Riko" pak Karto meminta persetujuan ibunda Riko


"ah tentu pak silahkan, biar saya tunggu di luar saja" ibunda Riko segera beranjak dari duduknya ia keluar meninggalkan pak Karto dan Riko di dalam


sudah 1 jam Riko dan pak Karto di dalam, ibunda Riko menanti di luar dengan penuh rasa penasaran, sesekali ia mengintip ke dalam, tapi pak Karto dan Riko hanya berbincang saja


mereka sedang membicarakan apa ya? aku belum menceritakan maksudku kemari tapi sudah harus menunggu di luar

__ADS_1


"bu" tiba-tiba Riko keluar


dengan cepat ia menghampiri Riko


"bagaimana? apa yang kalian bicarakan?" ibunda Riko penasaran setengah mati


"hanya mengobrol biasa, oya ibu diminta masuk oleh pak Karto"


ibunda Riko buru-buru masuk ke dalam, ia langsung duduk di hadapan pak Karto tanpa dipersilahkan lagi


"anu pak jadi.."


"iya memang ada yang tidak wajar dengan anak ibu" sebelum ibunda Riko bicara pada intinya pak Karto sepertinya sudah tahu permasalahannya


"ah benarkan dugaanku, lalu bagaimana pak agar anak saya bisa kembali ke anak dan istrinya dan meninggalkan wanita simpanannya itu?"


"pelan-pelan saja, ibu dan keluarga harus sabar, aku akan membantu sebisanya"


"lalu bagaimana caranya pak? kita mulai dari mana?"


"selama seminggu rutinlah kemari, mungkin Riko akan menolak kemari lagi karena pengaruh ilmu hitam yang menempel padanya, tapi ibu berusahalah membawanya kemari sebisa mungkin"


"baik pak saya pastikan anak saya akan kemari lagi"


"untuk hari ini cukup, sekarang ibu bisa pulang"


ibunda Riko membatin meragukan pak Karto, pak Karto seakan tahu apa yang di pikirkan ibunda Riko, ia tersenyum


"aku sudah melakukan pembersihan sedikit-sedikit, tapi tdak bisa sekaligus, jika sekaligus maka anak ibu bisa menjadi gila, makanya ibu harus membawa anak ibu kemari rutin selama satu minggu, pembersihan yang aku lakukan metodenya sambil mengobrol, jadi si pasien tidak merasa terintimidasi bahwa mereka sedang sakit, biasanya orang yang kena ilmu hitam itu merasa diri mereka baik-baik saja, jika kita memaksa benar-benar melakukan pengobatan yang mencolok, mereka cenderung menolak"


"ah iya pak, terima kasih penjelasannya, kalau begitu saya pamit dulu" ibunda Riko segera pamit, ia merasa malu karena pak Karto seolah tahu pikirannya yang tadi sempat ragu


ibunda Riko segera keluar menghampiri Riko yang sedang duduk di teras


"ayo Riko kita pulang"


Riko seger bangkit dari duduknya, ia dan ibunya beranjak menuju mobil


...----------------...


Sudah dua hari semenjak kepergian Riko dan Vendi, Yuli merasa sangat tersiksa, efek samping pelet yang membuatnya selalu bergairah membuat batinnya sangat lelah karena menahannya


aku tak bisa menahannya lagi, aku bisa gila jika terus begini


nafas Yuli begitu memburu, badannya terasa panas, badannya bergetar menahan gejolak birahi yang membuncah

__ADS_1


a aku haarus memindahkan fokus pikiranku, tidak bisa begini terus, aku bisa mati tersiksa


Yuli bangun dari tidurnya, ia segera berganti pakaian dan memilih berolahraga, ia menuju ke taman kota tempat biasa orang-orang berjogging di pagi hari, meski sekarang sudah siang hari yang terik tak mengurungkan niat Yuli, ia berlari seperti tak kenal lelah, ia telah mengitari taman beberapa kali, tapi tak sekalipun ia berhenti untuk istirahat


tak terasa sudah lebih dari satu jam Yuli berlari mengitari taman, ia sangat kelelahan dan mulai kehabisan tenaga


aku rasa ini sudah cukup, jika tubuhku kelelahan, aku pasti tidak merasa bergairah lagi


Yuli memutuskan untuk pulang, sesampainya di rumah ia segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, selesai mandi Yuli merebahkan tubuhnya di kasur, ia benar-benar merasa sangat lelah tanpa sadar ia pun terlelap


waktu beranjak, tak terasa matahari mulai terbenam, Yuli terbangun karena suara ketukan di pintu depan, ia kaget ternyata hari sudah gelap, ia menyalakan lampu satu persatu dan bergegas membuka pintu, awalnya wajah Yuli terlihat kaget tapi sepertinya ia cepat mengendalikan ekspresinya


"ibu"


"segeralah berganti pakaian, aku ingin kau ikut denganku" kata Asih tanpa basa basi


"kau ingin mengajakku ke mana?" Yuli terlihat enggan


"tidak usah banyak bicara, kau ikuti saja apa kataku jika kau tidak ingin mempermalukan nenekmu, cepat sana ganti pakaianmu" Ancam asih pada Yuli


tak berapa lama Yuli telah selesai berganti pakaian, ia berjalan mengikuti Asih dari belakang menuju sebuah taksi yang sudah terparkir di pinggir jalan tampaknya Asih sudah memesannya, sebenarnya Yuli sangat penasaran akan di bawa kemana ia oleh ibunya tetapi bertanyapun percuma ia pasti tidak akan mendapatkan jawabannya, ia hanya bisa diam dengan segudang rasa cemas di hatinya


setelah satu jam perjalanan sampailah mereka di sebuah hotel mewah, Yuli terkagum-kagum melihat bangunan megah yang baru pertamakali ia lihat seumur hidupnya, matanya tak berhenti berkeliling melihat betapa megahnya bangunan itu, ia memang pernah menginap di hotel, tapi ini sungguh berbeda, hotel yang ia tempati tidaklah mewah, hanya hotel kecil yang kamarnya lebih mirip kos-kosan


"hei Asih, sudah lama sekali" seorang pria menghampiri Asih dan Yuli


"hai beny apa kabar?" Asih dan beny saling berjabat tangan


"sudah lama sekali kau tidak ada kabar, tapi tiba-tiba menghubungiku meminta sesuatu yang aneh" kata beny


"hanya kau yang bisa ku mintai tolong, tak ku sangka kau juga sungguh konsisten, masih hidup seperti ini" ejek Asih


"sialan kau, masih saja mulutmu itu tajam, baiklah ikutlah denganku"


mereka berjalan melewati lobby hotel yang mewah, menuju sebuah lift, lift pun terbuka, beny masuk terlebih dahulu, di susul oleh Asih, tapi Yuli tidak beranjak sedikitpun karena merasa takut, baru pertama kali ia melihat lift, ia takut melihat pintu yang otomatis terbuka dan tertutup


ba bagaimana jika aku belum benar-benar sampai di dalam kotak itu tapi pintu itu menutup sendiri? jika tercepit bagaimana?


tanpa sadar Yuli mundur perlahan-lahan dan menabrak seseorang di belakangnya


seorang pria dengan tatapan dingin terlihat tidak suka karena di tabrak oleh Yuli


"sedang apa kau di sini? orang lusuh sepertimu pasti bukan tamu di hotel ini" kata pria itu dingin


Yuli benar-benar kaget mendengar perkataan pria itu, ia benar-benar sakit hati dan malu mendengar penghinaan seperti itu, ia tertunduk dan melihat sepatunya yang lusuh dengan beberapa bagian yang sudah terkelupas, ia tertawa miris

__ADS_1


yah memang tidak salah pria itu berkata demikian, memang kenyataannya seperti itu, aku memang tidak pernah memikirkan apa yang aku pakai, aku tidak pernah meminta macam-macam pada mas Riko, karena aku tidak mau membebani mas Riko, aku tahu banyak yang harus ia tanggung, Rina dan anak-anaknya, belum lagi ibunya


Yuli hanya bisa tersenyum kecut mengasihani dirinya sendiri


__ADS_2