
Adi tengah menikmati kenyamanan tubuhnya yang terileksasi dibawah kucuran air hangat yang mengalir dari shower
wanita itu, kenapa aku tak bisa melupakannya, tak mungkin aku jatuh cinta kepadanya, dia sama sekali bukan tipeku, bahkan amat sangat jauh dari seleraku
Adi memejamkan mata dan menghela nafas panjang
'krieeeeeet' terdengar suara pintu terbuka
Adi langsung membuka matanya dan melihat ke arah pintu
pintunya tertutup, padahal tadi Adi sangat yakin mendengar suara pintu terbuka
Adi mematikan air shower dan terdiam sejenak
apa mungkin aku salah dengar
Adi menyalakan air kembali dan melanjutkan mandi, ia mengusapkan shampo di rambutnya hingga berbusa, saat akan akan membilas rambutnya tiba-tiba air shower mati
sial kenapa airnya mati ah mataku jadi perih
kkkhhheeekkh kkkhhheeekkh kkkhhheeekkh
"siapa itu?" Adi merasa tidak sedang sendirian di kamar mandi
tiba-tiba air menyala kembali, Adi langsung membasuh wajahnya, setelah tidak merasakan perih lagi pada matanya, Adi langsung mengelilingkan pandangannya
aku yakin sepertinya tadi di sini ada seseorang
Adi bergegas menyelesaikan mandinya, setelah selesai ia berniat segera memanggil Jody, tapi langkahnya terhenti ketika tiba-tiba terdengar ketukan di jendela, Adi melihat ke arah jendela dengan gorden yang tertutup
Tuk.. tuk..
Adi mendekati jendela dengan perlahan
tuk.. tuk..
untuk sesaat Adi menghentikan langkahnya, sebersit rasa takut muncul di hatinya
tuk.. tuk..
Ada celah di antara dua buah gorden, Adi melihat sebuah gerakan
tuk.. tuk..
Adi menyipitkan mata untuk memastikan apa yang sebenarnya ada dibalik gorden
tuk.. tuk..
tidak terlalu jelas terlihat, Adi melangkah lebih mendekat untuk memperjelas apa yang ia lihat
tuk.. tuk..
tuk.. tuk..
krrrriiiiiiiitttt
mata Adi terbelalak sebuah tangan berkuku panjang dan hitam menggaruk jendela sampai berbunyi terlihat dari celah gorden sebuah wajah tanpa bola mata tepat mengarah padanya
Adi langsung membalikkan badannya berusaha untuk lari tetapi apa daya kakinya tersangkut di karpet dan membuatnya jatuh tersungkur
BRAAKK
jendela terbuka membuat gorden tersingkap di tiup angin, sosok berambut putih dan berkebaya hitam tengah berdiri di belakang jendela, dengan wajah yang menyeramkan dan mata yang mengeluarkan darah Nyi Awuntah merangkak masuk dari jendela
__ADS_1
kkhhheeekkk kkkhhheeekkh kkkhhheeekkh
Nyi Awuntah merangkak semakin dekat, Adi merasa sangat ketakutan ia ingin berteriak tapi tidak bisa tenggorokan Adi terasa tercekat, seluruh tubuh Adi gemetaran ingin rasanya ia berlari dan kabur dari kamar itu tapi kaki adi terlalu lemas karena takut, jaraknya dan Nyi Awuntah semakin dekat, wajah Nyi Awuntah semakin dekat dan semakin jelas terlihat wajahnya yang hitam membusuk serta rongga mata tanpa bola mata yang terus mengalirkan darah, menebarkan aroma anyir yang menyengat hidung
"aaaaaakkkkkhhhhhh" Adi berteriak ketakutan
Adi semakin tidak kuat menahan rasa takutnya ia berteriak-teriak seperti orang gila tapi seakan-akan tidak ada yang dapat mendengarnya, padahal ada beberapa bodyguard yang ia tempatkan di depan kamarnya, tapi tak ada satupun yang bereaksi ketika Adi berteriak
kkkhhheeekkh kkkhhheeekkh kkkhhheeekkh
wajah Nyi Awuntah dan Adi sekarang saling berhadapan, jarak mereka sangat dekat dan ketika Nyi Awuntah membuka mulutnya dengan sangat lebar cairan hitam menyembur dari mulut Nyi Awuntah tepat mengenai wajah Adi, rasa takut dan syok yang teramat sangat membuat Adi tak bisa lagi mempertahankan kesadarannya, Adi pun pingsan
...----------------...
Yuli terbangun ketika samar-samar mendengar ketukan, ia melihat Vendi tertidur pulas di sampingnya
tuk... tuk..
siap yang tengah malam mengetuk pintu? apakah penjaga cottage?
Yuli turun dari tempat tidur dan merapihkan pakaiannya
Yuli berjalan perlahan menuju pintu, Yuli mengintip dari jendela untuk memastikan siapa yang mengetuk pintu, tapi tak terlihat ada seorang pun
Yuli mengurungkan niatnya dan kembali ketempat tidur
tuk.. tuk..
ketukan itu terdengar lagi, tapi sepertinya ketukan itu bukan berasal dari pintu luar
Yuli berusaha menajamkan pendengarannya dan mencari arah ketukan itu berasal
tuk.. tuk..
tuk.. tuk..
tuk.. tuk..
tuk.. tuk
jantung Yuli berdegup kencang, baru ia sadari suara itu berasal dari bawah ranjang
tuk.. tuk..
Yuli segera bersembunyi dibalik selimut, ia memejamkan mata seolah ia tak mendengar apa-apa
tuk.. tuk..
mata Yuli terpejam semakin kuat
a aku tau Nyi Awuntah pasti akan menemuiku karena aku sudah menggunakan pelet itu, tapi tetap saja hatiku tidak siap, aku tidak akan pernah bisa jika harus berhadapan dengan Nyi Awuntah
tuk.. tuk..
kkhhheeekkk kkkhhheeekkh kkkhhheeekkh
suara itu terdengar samar
kkhhheeekkk kkkhhheeekkh kkkhhheeekkh
tapi perlahan-lahan terdengar semakin mendekat
Yuli sudah berkeringat dingin jantungnya berdegup sangat kencang
__ADS_1
tiba-tiba selimut terbuka dan Yuli pin berteriak histeris
"aaaaaaakkkkhhh" Yuli berteriak ketakutan tanpa berani membuka matanya
"hei ada apa? apa kau mimpi buruk?" tanya Vendi khawatir
Yuli membuka mata perlahan dan melihat sosok Vendi, ia langsung memeluk Vendi sambil menangis ketakutan
"sudah tenanglah itu hanya mimpi" Vendi menenangkan Yuli dengan mengusap lembut rambut Yuli
Yuli masih tak bisa berkata-kata ia hanya menangis
"sudah kembalilah tidur, ada aku di sini, tak usah khawatir"
Vendi merebahkan Yuli dan menyelimutinya, Vendi tidur di samping Yuli sambil terus menggenggam tangan Yuli dengan lembut, hati Yuli merasa sedikit tenang, ia memandangi Vendi yang sudah memejamkan mata
cepat sekali ia tidur
Yuli tertawa kecil
Yuli membalikkan badan tidur dengan menghadap langit-langit kamar
Brugh
entah bagaimana sosok Nyi Awuntah dengan cepat terjatuh tepat di atas perut Yuli
kkhhheeekkk kkkhhheeekkh kkkhhheeekkh
gerakan bibir Yuli seperti berteriak tapi entah kenapa tidak ada suara yang keluar
kkhhheeekkk kkkhhheeekkh kkkhhheeekkh
cairan hitam menetes dari mulut Nyi Awuntah yang terbuka lebar membasahi tubuh Yuli, kuku-kuku Nyi Awuntah yang hitam dan panjang tepat berada di wajah Yuli
kkhhheeekkk kkkhhheeekkh kkkhhheeekkh
Yuli tidak bisa menggerakkan tubuhnya, bahjan untuk berteriak pun ia tak bisa, ingin sekali rasanya ia pingsan saat dihadapkan dalam keadaan seperti ini, ia lebih memilih pingsan dan yerbangun di pagi hari dan semuanya sudah baik-baik saja, tapi itu semua tidak terjadi, Yuli harus menghadapi ketakutannya semalaman karena Nyi Awuntah terus berada di atas tubuh Yuli sampai subuh menjelang
...----------------...
Riko nampak tengah menangis di hadapan pak karto dan ibunya, sudah beberapa hari semenjak awal kedatangannya ke rumah pak karto nampak Riko mulai menyesali perbuatannya
"iya setiap manusia pasti pernah berbuat salah, sekarang tinggal nak Riko memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah mas Riko perbuat" kata pak Karto
"iya Rina pasti mengerti, kau harus memperbaiki semuanya, minta maaflah kepada Rina" kata ibunda Riko
"iya bu, sepulang dari sini Aku akan meminta maaf kepada Rina, aku tak ingin kehilangan keluargaku, kenapa aku sangat bodoh melakukan hal yang pernah ayah lakukan kepada kita, aku benar-benar merasa bodoh" Riko merasa begitu menyesal
"ya sudah ayo kita pulang, kita temui Rina, selama kau tinggal di rumah ibu kan kalian belum pernah bertemu, ini saatnya kau menemuinya"
Riko hanya mengangguk, ibunda Riko segera berpamitan kepada pak Karto
"bu saya ingin bicara sebentar" kata pak Karto
"ah iya pak, Riko kau tunggu di mobil ya sebentar"
Riko mengangguk dan peegi setelah berpamitan dengan pak Karto
"begini bu, kalau bisa jangan sampai Riko bertemu lagi dengan wanita yang sudah menempelkan ilmu hitam itu kepada Riko, karena akan besar kemungkinannya Riko bisa terkena kembali, akan lebih sulit menyembuhkannya jika sampai Riko terkena lagi"
"begitu kah pak? kalau begitu Riko akan aku suruh pindah kerja saja, agar tak bertemu wanita itu lagi" kata ibunda Riko
"iya karena ini sebenarnya ilmu hitam yang sangat langka, agak sulit mengalahkannya, makanya jika diibaratkan aku hanya memutuskan talinya saja agar Riko bisa terlepas, ibarat seekor anjing yang sudah terlepas dari majikannya, jika ia melihat majikannya lagi, tetap ia akan kembali tunduk pada majikannya"
__ADS_1
"iya pak, saya akan mengingat kata-kata pak Karto, sekali lagi terimakasih atas segala bantuannya pak"