PELET PENAKLUK

PELET PENAKLUK
Perlahan pergi


__ADS_3

Di taman kota Yuli dan Vendi tengah duduk disebuah bangku yang menghadap ke air mancur


"apa ya keputusan mas Riko?" Yuli khawatir


"apapun keputusan Riko aku akan selalu ada untukmu, jadi kau tidak perlu khawatir" Vendi menggenggam tangan Yuli dan mengusapnya lembut


terdengar suara handphone berdering, Vendi segera mengeluarkan handphone dari sakunya


"sebentar ya orang tuaku menelepon"


Vendi sedikit menjauh untuk menerima telepon


Yuli masih sibuk dengan pikirannya sendiri ia masih tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan pernikahannya kedepannya


selesai menelepon Fendi kembali kepada Yuli, Vendi kembali dengan wajah yang kurang baik ia terlihat agak murung


"ada apa?" tanya Yuli


"belakangan ini ibuku sering sakit-sakitan, tadi ayah menelepon sekarang kondisinya sedang turun, aku disuruh pulang"


"ah aku turut bersedih, semoga ibumu lekas sembuh"


handphone Vendi berbunyi lagi, sebuah pesan masuk dari Riko


'Rina sudah pergi, kau bisa antarkan Yuli ke rumah, aku tunggu kau di kantor' bunyi pesan Riko


"Sepertinya urusan Rina dan Riko sudah selesai, Rina sudah pergi, ayo kita kembali kerumah" kata Vendi menyampaikan isi pesan Riko


Yuli hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa


Vendi segera menyalakan mesin motornya, Yuli menyusulnya duduk di belakang Vendi, Vendi memacu motor dengan sangat cepat


sepanjang perjalanan Vendi hanya diam, tak seperti biasanya


sepertinya ia masih kepikiran dengan kondisi ibunya, bagaimana ya agar aku bisa sedikit mengurangi kesedihannya


Yuli merasa selama ini Vendi sudah banyak membantunya ketika perasaannya sedang kacau, ia merasa berkewajiban membalasnya


Vendi menghentikan motornya tepat di depan rumah Yuli


"terimakasih" kata Yuli


"aku harus segera ke kantor"


"kau tidak mampir dulu?" sebenarnya Yuli ingin bersama Vendi untuk menenangkan hatinya

__ADS_1


"aku harus segera mengurus izin agar bisa pulang ke tempat orang tuaku, jika ada apa-apa kau kabari aku ya, apapun yang terjadi, kau tidak sendirian, aku akan selalu ada untukmu"


Yuli mengangguk


betapa baiknya Vendi, ketika dia ada masalah pun ia masih memikirkan aku


Vendi melesatkan motornya dengan cepat, sebentar saja sosoknya sudah tak terlihat


Yuli masuk ke dalam rumah dengan berbagai pikiran yang berkecamuk


Yuli merebahkan badannya di kasur sambil menghela nafas


aku harus siap dengan segala keputusan mas Riko, aku merasa sedikit tenang karena Vendi, aku beruntung mempunyai Vendi di dalam hidupku


...----------------...


sore telah menjelang, susana mendung di langit bagai mengisyaratkan kondisi hati Yuli


tok tok tok


terdengar ketukan di pintu depan, Yuli segera membukakan pintu


"sudah pulang mas?'


Riko hanya mengangguk


"aku ingin bicara sebentar"


wajah Riko terlihat serius


entah kenapa hati Yuli merasa gelisah, mereka berdua pun duduk di ruang tamu


"sebelumnya kau jangan salah paham dulu, aku hanya ingin menyelesaikan semua masalah ini, aku akan pulang untuk menyelesaikan urusan dengan keluargaku dan keluarga Rina, tampaknya mereka sudah tahu tentang masalah ini"


"kau pilih dia mas?" air mata Yuli mengalir


"Hei, apa yang kau pikirkan? aku tidak akan meninggalkanmu, aku hanya ingin menyelesaikan masalah ini" Riko mengusap lembut air mata Yuli


"aku ikut denganmu" isak Yuli


"jika kau ikut, ini akan semakin memperumit masalah, aku tidak akan bisa fokus"


"bilang saja kau mau meninggalkan aku, tidak usah banyak alasan, aku tahu tidak ada yang kau beratkan dariku, aku tidak mempunyai anak, jadi kau bisa membuangku kapan saja" Yuli terlihat sangat Emosional


"sayang, aku sungguh sangat mencintaimu, itu sudah cukup untuk menjadi alasan bagiku untuk tak mungkin meninggalkanmu, kau jangan berpikir macam-macam, tunggulah aku di sini, percaya padaku" Riko mendaratkan kecupan lembut di bibir Yuli untuk meyakinkannya

__ADS_1


"malam ini aku akan berangkat, tunggulah aku di sini, jangan kau ragukan perasaanku, aku mencintaimu"


Yuli berusaha percaya, namun ada sebersit ragu di hatinya, mengingat anak-anak Riko, pasti akan berat juga bagi Riko untuk meninggalkan Rina, air mata Yuli mengalir, ia pasrah


malam telah tiba Yuli harus melepas Riko dengan berat hati, sebuah pelukan hangat mewarnai perpisahan mereka


...----------------...


Di sebuah rumah nampak tengah terjadi pertemuan keluarga, mereka sedang duduk di sebuah ruang tamu dengan wajah yag serius


"apa kau sudah menghubungi Riko?" tanya ayah Rina


"sudah pak, mas Riko sedang di jalan"


"aku masih belum bisa percaya, anakku bukanlah orang yang bisa berbuat seperti ini" kata ibu Riko


"aku juga awalnya tidak percaya bu, tapi aku melihatnya sendiri, wanita itu tinggal bersama mas Riko" Rina menjelaskan sambil menahan rasa sakit di hatinya


"pasti wanita itu sudah mengguna-gunai anakku, aku tahu betul bagaimana Riko dari kecil, dia sangat membenci perselingkuhan karena ia trauma dengan ayahnya yang tukang selingkuh dan memilih pergi meninggalkan kami, jadi tidak mungkin Riko melakukan hal yang ia benci"


"masuk akal juga, sepertinya kita harus cari orang pintar untuk memastikan apakah Riko benar terkena guna-guna atau tidak" timpal ibu Rina


"sudahlah bu, bagaimana sebuah perselingkuhan di lakukan dengan tidak sadar, hati dan perasaan itu milik kita masing-masing bagaimana bisa ada orang yang bisa mengendalikan hati kita, jadi pasti mas Riko melakukannya dengan sadar, tidak usah bawa-bawa hal mistik seperti itu, aku tidak suka" Rina nampak tidak setuju dengan ide ibunya


"anak jaman sekarang memang susah untuk percaya hal-hal semacam ini, tapi percayalah kami hanya ingin mengupayakan keselamatan rumah tanggamu dan Riko, biarkanlah kami melakukan sebisa kami, aku akan tetap mencari orang pintar" kata ibu Riko


"terserah ibu saja bagaimana baiknya" sebenarnya Rina masih tidak setuju tapi ia menghargai niat baik mertuanya


...----------------...


malam semakin larut Yuli masih tak bisa memejamkan matanya, tiba-tiba handphone berbunyi, panggilan masuk dari Vendi


"ya hallo"


"kau belum tidur?" tanya Vendi khawatir


"sebenarnya aku ingin tidur untuk melupakan semua masalah, tapi mataku enggan terpejam"


"aku ingin memberitahumu, aku tahu sebenarnya ini tidak tepat, aku takut akan menambah beban pikiranmu, tapi aku lebih takut lagi dengan perasaan bersalah yang akan aku tanggung jika aku tak memberitahumu"


"katakanlah tidak apa-apa, aku akan mendengarkan" sebenarnya hati Yuli sangat gelisah tapi ia berusaha untuk tenang


"kondisi ibuku semakin menurun, ibuku merasa khawatir jika ia tidak berumur panjang, siapa yang akan mengurusku dan memperhatikanku..." Vendi menjeda sejenak kata-katanya


"lalu..." tanya Yuli penasaran dengan kelanjutan ceritanya

__ADS_1


"ibuku memberi aku waktu tiga hari untuk menikah, jika aku mempunyai seorang wanita dalam hatiku, ibuku meminta aku segera menikahinya, tapi jika aku tidak punya seseorang seperti yang ibu maksud, maka ibuku sudah menyiapkan calon istri pilihannya untukku"


Yuli benar-benar terguncang, laki-laki di dalam hidupnya semua seakan pergi meninggalkannya, Yuli menangis tanpa bisa ia tahan lagi


__ADS_2