
Diterminal Yuli berpamitan dengan paman dan bibinya, dipeluknya satu persatu menandakan rasa yang berat dihati Yuli untuk meninggalkan mereka. Yuli melepas mereka dengan lambaian sambil menuju mobil bis.
Setelah 4 jam perjalanan, akhirnya sampailah Yuli dan Riko dikota yang dituju. bis memberhentikan mereka dipinggir jalan.
"nah sudah sampai, lihat itu rumah kita" Riko menunjuk sebuah rumah disebrang jalan
"yang mana mas?"
"itu rumah dibaris ketiga" Riko memfokuskan telunjuknya ke sebuah rumah minimalis bercat abu-abu
Yuli tersenyum dan bergelayut mesra dilengan Riko
"kalau begitu tunggu apa lagi? ayo!" Yuli terlihat tidak sabar
sampai didepan rumah Riko mengeluarkan kunci dan membuka pintu
"maaf ya kalau agak kecil, aku mempersiapkan rumah ini sebelum denganmu, jadi aku hanya memprkirakan untuk tempat tinggal satu orang"
"tidak apa-apa mas, ini sudah lebih dari cukup bagiku"
Riko Mengecup kening Yuli, Yuli membalas dengan pelukan
Yuli masih belum percaya bahwa sekarang ia sudah menjadi seorang istri, tinggal bersama orang yang ia cintai, hidupnya sempurna
"mas, aku sangat menyayangimu" Yuli mempererat pelukannya
"iya sayang, mas juga sangat sayang padamu" riko menarik dagu Yuli dan mengecup bibir Yuli dengan lembut
"sudah ah mas, beres-beres dulu" Yuli melepaskan pelukannya sambil tersenyum
"ok,, aku keluar dulu cari makanan, kau ingin titip apa?"
"makanan instan saja dulu, dan beberapa kue ya mas, aku ingin memberikannya kepada tetangga sebagai perkenalan"
"ok,, aku tinggal sebentar ya, kau tidak apa-apa kan?"
Yuli tersenyum
"iyaaaa, aku bukan anak kecil mas, sudah sana"
Riko tersenyum dan beranjak pergi
...----------------...
__ADS_1
Disebuah rumah tepatnya diruang tamu seorang wanita tengah duduk sambil memegangi handphone, ia terlihat cemas, tak lama kemudian ia bangkit dan berjalan beberapa langkah, ia terdiam nampak bingung, ia memutuskan kembali lagi menuju kursi, ia duduk dengan tak tenang, ia kembali berdiri karena merasa tidak nyaman, dua orang anak kecil berumur 8 dan 10 tahun bingung memperhatikan tingkah ibunya, dan memutuskan untuk bertanya
"bunda kenapa?" tanya sang anak lelaki
si ibu terkejut mendengar suara anaknya
"ah bunda sedang menunggu telpon dari ayah, bunda hanya ingin tahu apa ayah sudah berangkat atau belum, sudah sampai atau belum, bunda hanya sedikit khawatir saja" ibu berusaha menjelaskannya pada sang anak
"kalau begitu kenapa tidak ditelpon saja bun?"
"iya bunda sedang berfikir seperti itu, tetapi bunda takut mengganggu, bunda khawatir kalau ayah sedang ada pekerjaan, tidak apa-apa biar bunda tunggu sebentar lagi saja"
"bunda, kapan ayah pulang? ayah janji kalau pulang nanti akan bawakan Amel dan kakak Rio mainan, Amel sudah tidak sabar menunggu ayah pulang"
"iya sayang, sabar ya, mungkin kali ini ayah agak lama diluar kota, tapi ayah pasti akan membelikan mainan yang bagus untuk Amel dan kak Rio" si ibu mengusap lembut kepala anaknya
...----------------...
Yuli sedang sibuk membongkar tas bawaannya, merapihkan satu persatu pakaian kedalam lemari tiba-tiba Riko memeluknya dari belakang
"aduh mas bikin jantungku copot saja, aku kira,,,," Yuli tak meneruskan perkataannya
Riko tersenyum
"apaan sih mas, aku kan takut pencuri atau apa, tidak usah berpikir macam-macam deh"
"ayo kita makan, aku sudah belikan nasi" riko menunjukan bungkusan plastik yang ia bawa
tiba-tiba terdengar suara handphone berbunyi, Riko melihat layar handphone, Riko terlihat ragu untuk mengangkatnya, Yuli penasaran dan melihat layar handphone Riko disitu tertulis "istriku", hatinya jadi tak menentu melihat nama yang tertera dilayar handphone, Riko dan yuli saling berpandangan, Yuli mengangguk sebagai isyarat persetujuan agar Riko mengangkat telepon, Riko menjauh dari Yuli untuk menerima telepon
"hallo, ayah" terdengar suara anak kecil disebrang telepon
"hallo, Amel sayang" Riko menjawab dengan lembut sambil tersenyum
dari jauh Yuli memperhatikan dengan raut wajah sedih
Amel? apakah itu nama istrinya? dia begitu lembut sekali menjawab telepon itu? kenapa hatiku sakit, padahal sebelumnya aku sudah tau kalau mas Riko sudah berkeluarga
Yuli memegangi dadanya
"ayah, kapan pulang? ayah janji akan bawakan Amel mainan" rengek Amel yang kemudian beralih pada suara anak laki-laki
"ayah bawakan Rio mainan yang bagus ya mobil remote control yang besar"
__ADS_1
"Amel juga rumah barbie yang besar" teriak si adik dari belakang kakaknya
"iya, nanti kalau ayah pulang pasti ayah bawakan, tapi kalian janji harus rajin belajar, jangan nakal, dan harus selalu mendengarkan bunda"
"iya ayah" sahut Amel dan Rio kompak
"jangan buat bunda kesusahan selama ayah tidak ada"
"ayah, aku tidak pernah merasakan kesusahan karena anak-anak, aku bersyukur karena anak-anak, sejenak aku bisa melupakan kerinduanku padamu" terdengar suara wanita yang lembut dibalik telepon
"ah Rina" hati Riko bergetar mendengar suara dibalik telepon
"ayah kapan berangkat? atau malah sudah sampai? tumben ayah tidak mengabari bunda, bunda cemas takut terjadi apa-apa pada ayah" suara Rina benar-benar menunjukan kecemasan
"ah i itu a ayah buru-buru, karena ada pekerjaan penting yang harus segera dikerjakan jadi ayah tidak sempat mengabari bunda" Riko terdengar gugup
"ayah sudah makan belum? jaga kesehatan ayah, jangan lupa makan, vitamin yang bunda siapkan juga jangan lupa diminum, kalau ayah sakit bunda khawatir karena ayah jauh dari bunda, maaf ya ayah, bunda tidak bisa menemani ayah, karena sekolah anak-anak tidak bisa ditinggalkan" terdengar penyesalan dari Rina
"tidak apa-apa bunda, do'a bunda sudah cukup untuk ayah disini" suara Riko terdengar agak sedih, ada penyesalan dihatinya, Rina adalah istri yang baik entah kenapa ia tega membohonginya, ini semua karena cinta yang datang tiba-tiba kepada Yuli, Riko menyayangi Rina, Tapi cinta Riko terhadap Yuli sungguh berbeda, ia merasa Yuli adalah kehidupannya, hela napasnya
Riko melihat ke arah Yuli yang sedang memperhatikannya dengan raut wajah yang sedih, Riko sadar itu pasti karena ia menerima telepon dari Rina
"bun, ayah masih banyak kerjaan, ayah tutup dulu ya teleponnya" Riko buru-buru menutup telepon dan langsung menghampiri Yuli, Riko memeluk Yuli
"istrimu kah itu mas?" air mata menetes di pipi Yuli, Riko mempererat pelukannya
"iya" jawab Riko pelan
"apakah namanya Amel?"
"bukan, Amel itu anakku, aku mempunyai dua orang anak, namanya Amel dan Rio"
kalau dipikir-pikir aku memang tidak begitu tahu banyak tentang mas Riko, aku mengetahui ia memiliki anak dan istri juga belum lama ini, tapi aku tak menyangka ketika aku benar-benar dihadapkan dengan keadaan seperti tadi, hatiku benar-benar sakit memikirkan ia adalah suami orang dan juga ayah dari dua orang anak, bagaimana jika ia meninggalkanku dan memilih keluarganya
air mata terus menetes membasahi pipi Yuli, Riko mengusap lembut air mata di pipi Yuli
"sayang, maafkan aku jika menyakiti hatimu, tapi ini adalah kenyataan, aku harap kau bisa menerima keberadaan anak-anakku"
"aku bisa menerima anakmu, tapi tidak dengan istrimu, kau sudah berjanji untuk meninggalkannya"
Riko memang pernah berjanji seperti itu, tapi hatinya resah, ia tak menyangka Yuli meminta secepat itu
"iya aku akan menceraikannya, tapi tidak sekarang, aku akan menemuinya secara langsung nanti ketika aku mendapatkan cuti, aku akan pulang untuk menyelesaikan semuanya, kau tidak usah khawatir, yang terpentingkan saat ini aku ada disampingmu"
__ADS_1
Yuli mengangguk lemah berusaha percaya