
Sesampainya di rumah, Haris belum juga sadar. Bahkan sekedar tubuh nya sudah mulai dingin dan membiru. Risa tak sanggup membendung air mata nya. Ia menangis sejadi-jadi nya.
"Mama.. papa kenapa.? "
Tanya Fyza saat melihat papa nya tidak kunjung sadar.
"Mama juga ngak tau nak. "
"Kita harus banyak berdoa yah buat kesembuhan papa. "
Ujar Risa sambil mencium dan memeluk kedua anak nya itu.
"Nak.. mama titip papa dulu yah. Mama mau ke rumah kepala desa. "
Ucap Risa kepada anak nya. Fyza dan Right hanya bisa menganggukan Kepala. Risa langsung bergegas menuju rumah Kepala desa. Tidak butuh waktu lama buat Risa buat sampai di rumah pak kepala desa.
"tok... tok... tok... "
"Permisi pak. "
Risa mengetuk pintu rumah kepala desa. Tidak berapa lama dari dalam rumah muncul lah seorang pria paruh bayah. Dia adalah pak Nino kepala desa di tempat itu.
"Eh bu Risa... "
"Silahkan masuk bu. "
Sambut pak Nino saat mengetahui tamu nya itu.
"Baik Pak terima kasih. "
Jawab Risa sambil menyusul pak kepala desa masuk ke rumah nya.
Setelah duduk kepala desa pun mulai menanyakan maksud kedatangan bu Risa ke rumah nya.
"Ngomong-ngomong ada keperluan apa bu Risa datang kemari? "
Tanya kepala desa.
"Begini Pak Rt tadi siang suami saya memancing ikan di sungai x. Jadi suami saya mendapat ikan gabus kurang lebih berat nya 5 kg gtu pak. Pada awal nya saya sempat takut soalnya ikan gabus nya itu sangat seram sekali. Ukuran kepala nya itu 3 x lebih besar dari tubuh nya.Di tambah mata nya itu berwarna hitam besar sekali pak. "
"Awal nya saya tidak mau memasak nya. Tapi kata suami saya itu ngak apa-apa. Makanya saya masak.
" Setelah saya masak, suami saya lahap sekali makan nya pak, sampai nambah 3 x. Suami saya itu tidak pernah sampai selatan itu makan nya pak. Pertama saya hanya berpikir kalau suami saya itu hanya karena kelaparan dan kebetulan lauk nya juga enak makanya makan nya banyak begitu.
Namun belum lama dia makan, dia berteriak memanggil nama saya pak. Pas saya jumpai suami saya sudah jatuh pingsan.
Saya dan anak -anak langsung membawa nya ke klinik. Tapi sampai di sana, dokter bilang suami saya tidak sakit dok. Hanya saya detak an jantung nya semakin lemah.
Itu sebab nya saya di saran kan dokter untuk datang ke rumah bapak untuk menanyakan hal ini.
Ucap Risa sambil menceritakan kejadian sebenarnya.
"Begini bu,, soal sungai itu memang mulai zaman dulu jarang orang memancing di sana. Karena kalau pun ada orang memancing di sana tidak akan mendapat ikan.
Dan saya juga pernah dengar cerita bahwa sungai itu ada penghuni nya. Apalagi dari cerita itu , suami ibu dapat ikan yang sedikit aneh.
Jadi bisa jadi ikan yang di makan oleh suami ibu itu adalah penunggu dari sungai itu. Tapi untuk memastikan lagi ibu bisa tanya kan pada orang pintar bagaimana solusi nya.
__ADS_1
Usul kepala desa. Akhirnya sore itu juga Risa di temani oleh kepala desa pergi ke sebuah rumah tempat orang pintar yang mengetahui tentang seluk beluk desa itu.
Sesampainya di sana Risa langsung menceritakan kejadian hari ini kepada orang pintar itu yang mana orang sering menyebut nya dengan sebutan satu (dukun)
Satu (dukun) itu manggut-manggut mendengar cerita Risa. Setelah Risa selesai bercerita Datu (Dukun ) menggeleng-geleng kan kepala. Risa dan kepala desa saling pandang sebab mereka tidak mengerti kenapa Datu (dukun itu menggeleng-geleng kan kepala "
"Bah... bah.. bah... nungga maol on. "
(Aduh... h.. h ini sudah sangat sulit)
"Sunge i adong di panjaga ni, dang boi
(Sungai itu ada penghuni nya itu, ngak bisa
sambarangan jolma haluar tusi"
(sembarangan orang keluar masuk ke situ.)
"Jala ihan na di pangan ni amatta mi"
(Jadi ikan yang di makan oleh suami mu itu)
"Ima panjaga ni sunge i. "
(Adalah penunggu sungai itu)
"Nungga muruk pangisi ni sunge i"
(Penunggu sungai itu sudah marah)
"Ai di tiket so peak dope naikin amatta mi
" Sahira na adong margelloki di siubeon na"
(Seperti ada yang menggekitik di perut nya)
"Ima ihan na di pangan nai"
(Itu lah ikan yang di makan nya itu.)
"Maol do on bah. Alana nungga masssai muruk pangisi ni sunge i"
(Ini adalah hal yang sulit, sebab penghuni sungai itu sudah sangat marah. "
Ucap Datu (Dukun) itu sambil mengatupkan tangan nya ke depan seperti layak nya sedang bertapa. Ia menutup kedua matanya.
"Jadi aha do solusi na Datu"
(Lalu bagaimana Solusi nya ini Dukun)
Tanya Risa lagi.
"Adong do sada solusi na, alai dang boi Hu jamin berhasil manang daong"
(Ada 1 solusi nya, tapi aku ngak tau ini bakal berhasil atau tidak )
"Alana on dope hea pangisi ni sunge apala muruk. "
__ADS_1
(Karena baru kali ini penghuni sungai itu sangat marah. "
Jawab Datu(dukun) itu masih dalam posisi menutup mata.
"Aha ma i Datu"
(Apakah itu dukun)
"Lao ma hamu tu sunge i, buan ma Sada manuk jantan na birong. "
(Pergilah kalian ke sungai itu, bawa seekor ayam jantan hitam)
"Pelehon hamu ma i tu pangisi ni sunge i, anggiat boi malum amatta mi"
(Kalian berikan ke penghuni sungai itu, semoga bisa menyembuhkan suami mu. "
"Alai ingot, cara on belum tentu hanya. "
(Tapi ingat cara ini belum tentu berhasil)
"Alana nungga apala muruk pangisi ni sunge i"
(Sebab penghuni sungai itu sudah sangat marah.)
"Molo cara on dang hanya, Mar loas au nama amatta mi"
(Kalau cara ini tidak berhasil, ucapan selamat tinggal lah yang akan di ucap kan oleh suami mu"
Jawab Dukun itu lagi.
Akhirnya setelah mendapat jawaban yang belum pasti bisa berhasil, Risa dan kepala desa pamit pulang kepala Dukun itu.
Risa pulang ke rumah dengan rasa yang sangat sedih. Dia begitu takut kalau cara ini akan gagal. Dia belum bisa menerima resiko yang akan di Terima nya nanti.
Sesampainya di rumah, Risa melihat Haris masih saja seperti saat dia meninggalkan nya tadi. Tergeletak lemah, dengan detak jantung yang semakin lemah.
"Ma... bagaimana ma, papa pasti akan sembuh kan. "
Tanya Ridho saat melihat mama nya sudah sampai di rumah.
"Kita banyak berdoa saja yah nak. Semoga ada mujizat buat papa. "
Jawab Risa sambil memeluk kedua anak nya itu.
Keesokan hari nya meski hari masih subuh, Risa sudah bangun dari tempat tidur nya. Dia segera bergegas meninggalkan rumah untuk mencari ayam jantan hitam.
Risa mulai mencari ke rumah-rumah tetangga. Risa agak sulit menemukan nya karena ayam jantan hitam itu sangat lah langka di desa itu. Namun Risa tak putus asa, dia terus berusaha mencari nya.
Hingga dia pun berhasil menemukan ayam jantan hitam itu dari kampung sebelah. Setelah ia mendapatkan nya, Risa langsung buru-buru pulang ke rumah. Karena ia akan mengantarkan ayam jantan itu ke sungai tempat suami nya memancing.
**Bersambung
§êlålµ еkµñg 嵆hðr Ðêñgåñ ¢årå lïkê, ¢ðmêñ†, vð†ê Ðåñ rå†ê ɏåh rêåÐêr§.
Ðåñ jåñgåñ lµþå klïk †ðmßðl £åvðrï† ågår Ðï §åå† åµ†hðr µþÐå†ê êþï§ðÐê †êrßårµ, rêåÐêr§ †ïÐåk åkåñ kê†ïñggålåñ.
1 lågï, jåñgåñ lµþå måmþïr Ðåñ †ïñggålkåñ jêjåk Ðï kårɏå 嵆hðr ɏåñg ßêrjµÐµl 🄰🄺🅄 🄶🄰🄳🄸🅂 🄿🄴🄽🄴🄱🅄🅂 🅄🅃🄰🄽🄶. Ðåñ †µñggµ £êêÐ ßå¢k Ðårï åkµ.
__ADS_1
†êrïmå kå§ïh
ï lðvê ɏðµ