PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)

PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)
10. Memburu


__ADS_3

Setelah Beni menganalisa semua kejadian yang mungkin saja saling berhubungan dengan kemungkinan-kemungkinan yang dia asumsikan hingga menjadi sebuah cerita yang berujung pada sebuah kesimpulan yang dia ambil, dugaan Beni mengarah pada satu orang, ya, orang tersebut sangat masuk akal menjadi tersangka dan mempunyai motif untuk melakukan semuanya, tapi tetap saja Beni butuh bukti yang lebih kuat untuk menjeratnya ke dalam penjara dari pada hanya sekedar saksi bahwa orang itu adalah pelakunya.


"Dari awal saya ketemu kalian, saya sudah tau dari Randy bahwa diantara kalian ada yang menganut aliran sesat, tapi kita masih tak punya bukti apa-apa untuk menangkapnya, beberapa tahun terakhir ini, hampir setiap tahun selalu terjadi korban pembunuhan di sini, dan jumlah korbannya selalu sama, yaitu tiga orang, setiap tahun mereka selalu menyelidiki keadaan di sini, tapi sayang mereka tak pernah berhasil, mereka selalu terlambat, karena ketika mereka bertindak mereka sudah lebih dulu mengeksekusi korbannya dan melakukan ritual pemujaan mereka, tahun ini mereka tak mau mengulangi kesalahan yang sama, untuk itu mereka sudah menyiapkan beberapa orang pilihan yang terlatih untuk mengawasi tempat ini, termasuk kalian."


Kakek tua itu menceritakan beberapa kejadian yang pernah terjadi di gunung ini, yang semuanya belum terpecahkan hingga saat ini, apa yang selalu direncanakan oleh kakek dan para penduduk tak pernah berhasil, semuanya harus berakhir dengan kegagalan serta jatuhnya korban.


"Jadi waktu kita ketemu kakek di bawah, kita udah di awasi?"


Beni memastikan apa yang dimaksudkan kakek itu memang benar. Dan ya, kakek itu membenarkannya dengan mengangguk tersenyum teduh di wajah ramahnya.


"Sekarang kalian beristirahatlah, saya dan yang lainnya akan mengintai tempat itu lagi, sampai saatnya tiba, kalian akan tetap di sini, saya akan menjemput kalian setelah semuanya selesai."


Kakek tersebut pergi dengan sebelumnya menasihati Beni dan Anita untuk tetap di dalam goa itu sampai semuanya aman dan dia kembali untuk menjemput mereka.


Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin Beni tanyakan padanya, namun kali ini Beni tak berani menanyakan apa-apa, dia jauh lebih mementingkan keselamatan kekasihnya, Anita. Dengan tak ikut campur masalah yang terjadi di gunung ini, memperbesar kemungkinan untuknya menyelamatkan Anita.


"Arie? Apa mungkin orang penakut seperti dia pemuja iblis? Gak mungkin, Danu? Bisa saja tapi Randy dan Beni bilang dia udah mati, walaupun gua belum ngeliat sendiri jasadnya, Apa dia masih hidup dan sebenarnya pemuja iblis?, Rasanya bukan, tapi...Aini? Apa dia juga selamat? Dia seperti hilang tanpa jejak, tapi bisa saja dia pelakunya, walaupun dia perempuan tapi bukan berarti dia tak bisa menjadi pemuja iblis, Sebenarnya apa yang terjadi? ada apa dengan mereka semua?"

__ADS_1


Begitu banyak pertanyaan di benaknya yang membuatnya menjadi lebih pusing dari sebelumnya, semua masih seperti puzzle yang kepingan-kepingannya harus mereka temukan lebih dulu hingga tersusun menjadi sebuah gambar yang utuh hingga menjadi jelas siapa yang berada dibaliknya, tapi kali ini misteri itu tak harus dia pecahkan sendirian, setidaknya untuk malam ini, atau mungkin seterunya.


"Ben."


Anita merajuk dengan wajah memelas, Beni yang memahami dengan keadaan Anita saat ini hanya bisa memeluknya, mengusap rambutnya lembut berharap beban kekasihnya bisa sedikit berkurang, dia rela walaupun beban yang di tanggungnya saat ini jauh lebih berat.


Anita kembali tertidur dalam dekapan Beni, sementara Beni sendiri masih terjaga, dalam fikiran Beni kini selalu terbayang bagaimana kalau seandainya Anita tak selamat, rasa bersalahnya pada kedua orang tua Anita mungkin akan dia tanggung seumur hidup.


*****


"Bangun nak."


"Makan dulu."


Kakek tersebut kemudian memberikan Beni dan Anita dua bungkus nasi beserta lauknya, Beni menerimanya lalu melahapnya.


"Terimakasih kek, gimana perkembangan pengintaiannya kek?"

__ADS_1


Tanya Beni seraya menikmati sarapan paginya.


"Mereka masih di sana, masih menunggu apa yang menjadi tujuan utama mereka."


Ucapan kakek memancing rasa penasaran Beni dan Anita.


"Maksud kakek mereka di sana itu di mana? Apa yang mereka tunggu?"


"Di tengah hutan ini ada sebuah gubuk kecil, yang sudah entah beberapa lama ada di sana, dan beberapa kali mereka pernah melihat orang masuk ke gubuk itu namun tak pernah keluar lagi."


"Apa kakek dan yang lainnya pernah masuk ke gubuk itu?"


Kakek tersebut menggelengkan kepalanya tanpa tersenyum sedikitpun, kali ini wajahnya serius menceritakan kejadian yang pernah dilihat oleh orang-orang yang mengintai tempat itu.


"Pernah ada salah satu dari mereka yang masuk ke sana, tapi..."


Kakek tersebut menggantungkan kalimatnya, seolah ada beban yang dia pendam tentang kejadian itu.

__ADS_1


"Dia tak pernah kembali...dia seperti lenyap di telan bumi, padahal waktu itu sangat jelas sekali tak ada orang ditempat itu, sejak saat itu mereka hanya mengawasi gubuk itu dari jauh saja, tak pernah sekali pun berani mendekatinya." terangnya lagi.


__ADS_2