
Tikaman Aini tepat mengenai punggung Danu yang langsung mengeluarkan banyak darah. namun ada yang aneh dari darah yang keluar dari punggung Danu tersebut, darah itu tidak berwarna merah seperti darah orang pada umumnya, melainkan berwarna hitam pekat, sepekat kegelapan hati dan malam yang menyelimuti. Aini tertegun melihat hasil dari apa yang baru saja ia lakukan pada Danu, namun sayang ia tertegun pada situasi yang salah.
Danu berbalik dengan pisau yang masih menancap pada punggungnya, dia kaget bercampur marah, tak menyangka bahwa Aini yang berada di bawah kendalinya kini sudah tersadar dan menikamnya dari belakang. Rupanya pengobatan yang dilakukan oleh murid-murid Ki Idir kini telah menunjukkan hasil.
"Sialan."
Teriak Danu menunjukan kemarahannya yang semakin memuncak, namun belum sempat ia melangkah menghampiri Aini yang mundur perlahan menghindar darinya. Namun apa yang akan dilakukan Danu harus terhenti.
Bugh...
Kembali, sebuah benda keras menghantam pundak Danu, ternyata Anita menghantamkan kayu dengan sangat keras, sehingga Danu terhuyung dengan pandangan yang kabur kemudian kehilangan kesadaran, Beni dan Arie yang sudah kembali mempunyai tenaga untuk berdiri tak menyia-nyiakan kesempatan itu, langsung menendang Danu yang dalam kondisi tak sadarkan diri.
"Sudah, cukup, lebih baik kita pergi!"
Arie menghentikan Beni yang masih bernafsu menghajar Danu yang terkapar bersimbah darah, darah hitam yang tak biasa.
"Lo gak apa-apa kan?"
Arie begitu mengkhawatirkan keadaan Aini yang baru tersadar dari pengaruh kendali Mbah Kuncen, tanpa berkata apapun Aini refleks memeluk Arie, hingga tak terasa bulir Bening itu kini turun membasahi pipinya. Arie bahagia walaupun bukan karena sebuah pelukan dari Aini, namun karena dia bisa melihat orang yang di sayanginya selamat dan telah kembali seperti semula.
__ADS_1
"Lebih baik sekarang kita ke tempat Ki Idir dulu."
Tanpa berkata apapun lagi akhirnya mereka pergi ke tempat Ki Idir yang masih berhadapan dengan Mbah Kuncen, pertarungan antara mereka berdua takkan berjalan mudah, sama-sama memiliki ilmu tinggi walaupun berbeda jalan layaknya hitam dan putih, namun bisa dipastikan salah satu dari mereka akan terluka parah.
Ki Idir dan Mbah Kuncen masih saling berhadapan, sama sekali belum terlihat salah satu dari mereka kelelahan, keduanya masih berdiri tegak, sulit di percaya bahwa wujud yang telah renta pada usia senja itu memiliki tenaga yang tangguh, namun tentu saja akan lebih sulit di percaya lagi karena mereka bertarung tak menggunakan fisik mereka.
Ilmu yang kedua orang itu pelajari sangatlah tinggi, akal manusia takkan sanggup menjelaskan apa yang mereka miliki saat ini.
Namun tiba-tiba tanpa ada terlihat sesuatu apapun yang menyerangnya, Ki Idir ambruk dengan mengeluarkan muntahan darah dari mulutnya, sepertinya serangan tak kasat mata dari Mbah Kuncen itu tak mampu di tepis oleh Ki Idir, tapi di luar dugaan, setelah memuntahkan darah, Ki Idir kembali berdiri seperti tak merasakan akibat apapun dari serangan yang tadi mengenainya, namun kali ini Ki Idir berdiri menatap Mbah Kuncen dengan ekspresi yang serius setelah sebelumnya dia menghadapi Mbah Kuncen itu masih dengan santai, Ki Idir terdiam sambil memejamkan mata, hingga akhirnya...
Duarrrrr...
"Sepertinya Ki Idir memanggil sesuatu."
Arie yang melihat dan mendengar itu dari jauh langsung menghentikan langkahnya, yang membuat Aini yang memapahnya ikut berhenti, begitu juga dengan Beni dan Anita, yang berjalan di belakang mereka.
"Tadi suara apa Rie?"
Beni menghampiri Arie yang berdiri di depannya, dengan heran dan sedikit ketakutan, Beni dan Anita memperhatikan sekeliling mereka, karena khawatir kembali terjadi sesuatu yang buruk pada mereka.
__ADS_1
"Gua juga gak tau, tapi kayanya itu dari arah mereka." Ucap Arie dengan jari telunjuk menunjuk ke arah dua orang tua yang sedang berdiri berhadapan, belum sempat mereka memperhatikan lebih lama, tiba-tiba saja gemuruh angin datang dengan sangat kencang membuat suasana kegelapan semakin menyeramkan, di tambah suara jeritan dan auman yang samar terdengar membuat mereka panik sambil mengedarkan pandangan ke segala arah, berharap tak ada sesuatu yang bisa tiba-tiba saja menyerang mereka.
Di depan sana, Ki Idir yang diterpa angin yang jauh lebih kencang masih kokoh berdiri, sedangkan Mbah kuncen tersenyum sinis melihat lawannya masih berdiri dengan memejamkan mata, dan ketika mata itu terbuka.
Bruak...
Mbah Kuncen terpental jauh hingga menghantam gubug di belakangnya hingga hancur berantakan, mulutnya mengeluarkan darah, karena luka dalam yang dialaminya sepertinya cukup parah akibat serangan tadi, seketika angin kencang itu pun sirna tak berbekas. Merasa situasi kini telah aman Arie, Aini, Beni dan Anita dari jauh perlahan menghampiri Ki Idir yang masih memperhatikan gubug di depannya yang hancur akibat tertimpa Mbah Kuncen, dia tau bahwa kakaknya tak bisa di kalahkan semudah itu.
"Apa yang terjadi Ki?"
Beni yang tak melihat apapun terjadi menjadi kebingungan, karena yang dia lihat mereka berdua hanya berdiam diri saling berhadapan saja tanpa melakukan apapun, Ki Idir tersenyum namun tak menjawab pertanyaan Beni.
"Kurang ajar!"
Mbah Kuncen kembali berdiri di atas puing gubug yang hancur tertimpa olehnya, Beni dan yang lainnya tersentak karena mereka fikir semua telah berakhir, namun ternyata pertarungan kasat mata baru saja dimulai.
"Rupanya aku salah telah meremehkanmu."
Dengan serangan seperti tadi, sepertinya tak terlalu berefek pada mbah kuncen, terbukti dari apa yang mereka lihat sekarang. Belum selesai keterkejutan yang mereka alami saat ini, mereka dikejutkan kembali oleh sesuatu yang lainnya.
__ADS_1
Aaaaaahhhhhh...