
Beni dan Anita telah berjalan cukup jauh dari tempat sebelumnya, tak disangka kini mereka berada di dekat sebuah goa kecil yang gelap namun itu berarti keberuntungan sedikit memihak pada mereka berdua, tanpa pikir panjang mereka memutuskan untuk beristirahat dan bersembunyi pada mulut goa, ditempat itu setidaknya mungkin sedikit lebih aman dari pada mereka harus berada ditempat terbuka dalam waktu yang lama. Setelah sebelumnya mereka mencari Arie dan Aini namun hingga kejadian penyerangan oleh orang bertopeng itu, Aini dan Arie tak juga mereka temukan, bahkan tak ada sedikitpun jejak atau tanda-tanda mereka yang tertinggal yang menunjukan bahwa mereka selamat atau telah tewas.
Beni dan Anita terdiam dimulut goa, mereka tak berbicara satu sama lain, namun tangan Beni tetap menggenggam erat tangan Anita untuk menenangkannya, hanya itu yang mampu dia lakukan untuk saat ini.
"Mungkin mereka tersesat."
Ujar Beni, sengaja dia berkata seperti itu agar Anita bisa berfikir positif, walaupun dia sendiri tak yakin Arie dan Aini saat ini selamat dan masih hidup. Di tempat seperti ini terpisah dari teman yang lainnya adalah sesuatu yang buruk.
"Ben, kalo gua mati di sini, tolong sampein sama orang tua gua, kalau gua sayang mereka."
Terdengar dari kalimatnya, dapat dipastikan kalau Anita mulai putus asa dengan apa yang mereka alami saat ini.
"Loe gak boleh ngomong gitu Ta, gua bakal jagain loe, gimanapun caranya lo harus selamat, karena...gua sayang loe Ta."
Beni memeluk kekasihnya itu dengan erat, berusaha memberi kekuatan dan keyakinan untuk bisa melewati apa yang terjadi saat ini.
"Gua bakal ngelindungin loe sampai mati Ta." Ucapnya lagi.
Hari telah sore, bahkan menjelang malam kembali, mereka memutuskan untuk bermalam di goa itu, dengan berbekal pencahayaan dari sebuah senter yang Beni bawa. Rasa lapar tak mereka hiraukan karena memikirkan jalan keluar dari hutan itu, padahal tenaga mereka telah terkuras karena dalam waktu seharian ini mereka hanya mengkonsumsi roti dan cemilan yang tentu saja takkan cukup mengganti tenaga mereka.
Beni menyandarkan tubuhnya pada dinding goa berusaha berbaring senyaman mungkin, sedangkan Anita berada di pelukan Beni, hingga tak terasa rasa lelah membuat keduanya terlelap.
Setelah cukup lama tertidur, pendengaran Beni merasa terganggu oleh suara dari dalam goa, Beni membuka mata lalu mengedarkan pandangannya pada sekeliling goa yang tak terlalu gelap, perlahan dia menemukan apa yang membuatnya terbangun dan setelah samar melihat apa yang berdiri tak begitu jauh darinya, Beni tersentak.
"Siapa loe?"
Ujar Beni yang tak percaya melihat orang di kegelapan tersebut berdiri menatapnya, suara Beni yang terlalu keras membuat Anita terbangun dan melihat apa yang Beni lihat, Anita bergegas bersembunyi di balik badan Beni.
"Tenanglah, aku akan menyelamatkan kalian."
Ucapnya dengan suara tenang. Sejenak Beni berfikir tentang sesuatu yang belum lama dia dan teman-temannya lakukan sebelum pendakian.
"Siapa kakek ini?"
__ADS_1
Beni telah melihat sosok tua renta dibalik kegelapan itu, penasaran dengan sosok kakek tua yang sekarang berada di hadapannya ini, seketika lampu yang di bawa kakek tersebut dinyalakan.
"Kakek ini," Beni berfikir sesaat dengan keraguan bahwa mana mungkin orang tua itu bisa sampai ditempat ini. "Mbah kuncen itu kan?" Kakek itu tersenyum dan mengangguk pelan membenarkan dugaan Beni.
"Kenapa kakek ada di sini?"
Kali ini Beni mulai mencurigai kakek tersebut, pertemuan mereka ditempat seperti ini begitu tak masuk akal, dengan waspada Beni menggenggam batu seukuran kepalan tangan agar kalau tiba-tiba saja kakek dihadapannya ini menyerangnya setidaknya Beni bisa sedikit melakukan perlawanan.
"Sebelum aku menceritakan semuanya, lebih baik kalian makan dulu."
Ucap kakek tersebut seraya memberikan bungkusan makanan menggunakan daun yang berisi nasi serta lauk pauknya yang sangat menggoda cacing dalam perut mereka, untuk sesaat Beni menatap Anita seolah betkata "bagaimana ini?" Namun ia tak mengerti dengan balasan tatapan Anita padanya Beni memperhatikan kakek tua dihadapannya dan mencari kebenaran yang mungkin bisa ia temukan, namun keraguannnya sedikit dikalahkan oleh rasa lapar yang teramat sangat.
"Jangan takut, saya tak berniat jahat."
Ucapnya lagi seolah mengerti apa yang Beni fikirkan, lalu Beni pun mengambil dengan tetap waspada, setelah berada ditangannya makanan itu ia berikan pada Anita yang berada dibelakngnya tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya dari kakek tua itu. Setelah menurutnya dirasa aman, mereka berdua pun mulai menyantap makanan tersebut, pada awalnya mereka menikmati makanan pemberian kakek tua itu dengan perlahan dan hati-hati namun seiring rasa takutnya yang mulai hilang maka hilang pula makanan yang berada dihadapan mereka sebelumnya yang kini telah berpindah kedalam perut mereka.
"Di mana teman-teman kalian?"
"Dua Teman kami mati kek, dan dua orang lagi kami belum menemukannya, mereka hilang."
Ucapan Beni justru membuat kakek itu tersenyum penuh arti, dan Beni yang melihat itu kembali menjadi curiga namun dia hanya diam saja memperhatikan gerak gerik kakek tersebut, dia tetap tak percaya sepenuhnya pada kakek tersebut.
"Lalu tadi sore ada yang menyerang kek." Ucapnya lagi.
"Sepertinya sudah dimulai."
Senyum yang sebelumnya menghiasi wajah kakek tersebut kini mulai hilang dan berubah menjadi tatapan serius setelah kata-kata terakhirnya tadi. Beni penasaran dengan apa yang dikatakan kakek tua itu.
"Sebenarnya apa yang kakek tau?"
Beni menatapnya tajam, dia merasa ada sesuatu yang mengerikan yang sesaat lagi akan ia dengar. Kakek itu menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan, seperti ada sebuab beban berat yang akan di ceritakannya.
"Di sekitar tempat ini, ada sekelompok orang yang memuja bukan pada Tuhan, tapi mereka memuja iblis, teman kalian yang mati itu adalah cucu kakek, dia mati karena berusha mencari tau tentang para pemuja iblis tersebut, dan berusaha menghentikannya."
__ADS_1
Pupil mata Beni membesar mendengar apa yang dikatakan kakek tua itu, dalam fikirannya kini terbayang tentang Randy dan Danu yang telah tewas.
"Jadi Danu dan Randy itu..."
Belum sempat Beni meneruskan kata katanya, kakek tersebut memotongnya dengan gelengan kepala.
"Cucu saya hanya Randy saja..."
Ucapnya dengan tersenyum getir menerima kenyataan, namun bangga atas perjuangan cucunya itu.
"Apa kalian yakin teman kalian yang lainnya telah mati?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, Beni dan Anita belum mengerti apa yang kakek itu maksud.
"Maksud kakek?" Tanya Beni singkat.
"Teman kalian itu adalah pemuja iblis."
Deg...ucapan kakek itu Bagai petir yang menyambar mereka, bagaimana tidak, mereka yang sudah Beni anggap seperti saudara sendiri itu adalah orang sesat yang selama ini berpura-pura baik.
"Gak mungkin kek, mereka udah mati."
Beni menyangkal dengan rasa kesal mendengar ucapan kakek tadi, dan tak menerimanya meski hati kecilnya bertanya "apa itu benar?".
"Apa kalian menemukan jasad teman kalian itu?"
Pertanyaan kakek kali ini tepat membungkam Beni, dia tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Tapi saya belum tau siapa diantara ke tiga teman kalian itu yang pemuja iblis, bisa salah satu, atau dua orang, dan bahkan mungkin bisa ke tiga-tiganya."
Ucapan kakek membuat Beni berfikir dan mencoba menganalisa setiap kejadian yang mereka alami yang mungkin saja membuatnya menemukan petunjuk tentang siapa yang kakek itu maksud.
"Jadi siapa sebenarnya mereka?"
__ADS_1