PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)

PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)
11. Salah Paham


__ADS_3

"Setelah ini, kalian harus ikut saya untuk menyelesaikan misi kami, dan juga mungkin untuk menyelamatkan teman kalian yang bisa saja masih ada yang selamat."


Ucap kakek tersebut dengan serius, menegaskan bahwa apa yang dikatakannya tak main-main.


"Apa menurut kakek teman kami masih ada yang selamat?"


Tersisa sedikit keraguan dalam diri Beni, dengan melihat sendiri kondisi jasad Randy yang tewas terkoyak, dia sama sekali tak begitu yakin bahwa salah satu dari temannya yang lain masih ada yang selamat.


"Bisa saja, kemungkinan memang selalu ada tapi saya sendiri tidak tau, tapi mungkin tak ada salahnya mencoba dan berharap ada sebuah keajaiban yang menyelamatkan mereka, harapan sekecil apapun bisa saja menjadi sebuah kenyataan."


yang dikatakan kakek memang ada benarnya, bisa saja salah satu diantara mereka ada yang masih hidup, kecuali Randy yang memang dia melihat sendiri telah tewas.


Cukup beberapa saat Beni berusaha meyakinkan dirinya sendiri dan meneguhkan hati serta berfikir optimis tentang keadaan teman-temannya saat ini. Dan setelah merasa yakin akhirnya mereka memutuskan ikut dengan kakek tersebut, namun bukan untuk misi membongkar kelompok aliran sesat itu, melainkan lebih kepada menyelamatkan teman-teman mereka yang mungkin saja masih hidup, kemudian akan mereka pastikan kalau memang benar salah satu diantara mereka telah tersesat.


Setelah keluar dari goa tempat mereka bersembunyi, Beni dan Anita berjalan mengikuti kakek yang lebih dulu telah berjalan di depan mereka, cukup lama mereka berjalan mengikuti kakek itu. Usia kakek memang sudah renta tapi cara berjalan si kakek itu sangat cepat untuk ukuran orang seusianya sehingga Beni dan Anita kesulitan mengimbangi kecepatan berjalannya.


Bugh...


Sebuah benda tumpul keluar dari semak-semak yang mereka lewati, benda itu menghantam pundak mereka berdua, Beni dan Anita tersungkur seketika, pandangan mereka mulai kabur, kemudian perlahan menjadi gelap dan akhirnya tak sadarkan diri ketika dua orang berpakaian hitam berdiri tepat dihadapan mereka dengan masing-masing memegang balok kayu besar yang membuat mereka tak sadarkan diri.


"............"


Perlahan Beni mulai membuka mata dan sadarkan diri sepenuhnya dengan kepala masih terasa berat, matanya melirik ke kiri dan ke kanan untuk memperhatikan keadaan disekelilingnya, dia berada di sebuah tempat yang asing baginya. Namun berbeda dengan Beni, orang yang menatapnya yang saat ini tersenyum penuh kemenangan, orang itu begitu dikenalnya.


"Sudah sadar rupanya."

__ADS_1


Ucap orang tersebut di sertai dengan senyuman dan tatapan sinis padanya, tatapan yang belum pernah Beni kira sebelumnya. Mata Beni yang sebelumnya terlihat lelah kini mulai menatap tajam orang tersebut dengan penuh amarah dan kebencian.


"Anjixx, lepasin gua, kalo berani lawan gua secara jantan, pengecut."


Beni berteriak dengan sekencang-kencangnya penuh amarah karena mengetahui kenyataan bahwa orang yang di kenalnya ternyata adalah iblis yang hanya berraga manusia. Orang dihadapannya hanya tersenyum, dia tak mengerti ucapan, pujian atau umpatan yang keluar dari mulut Beni yang tersumpal kain, namun satu hal yang pasti untuknya, sahabatnya itu kini sedang dalam kondisi marah, namun dia sama sekali tak merasa heran dengan sikap Beni yang seperti itu, karena pada dasarnya Beni memang orang yang tempramental.


"Hahahahahaha."


Tawa orang tersebut semakin membuat Beni murka ingin segera membunuhnya, mencabiknya dengan kejam lalu memberikan potongan dagingnya pada anjing yang kelaparan. Namun apa daya, itu semua takkan bisa dia lakukan dalam kondisi kaki dan tangan terikat.


"Gak usah buru-buru Ben, santai aja, sebentar lagi juga gua lepasin, tapi setelah loe mati hahahahahaha."


Tawanya kian membuat amarah Beni semakin memuncak yang ia tunjukkan lewat pemberontakan untuk melepaskan diri serta ketajaman tatapan matanya. Urat-uratnya semakin menegang, sekuat tenaga berusaha melepaskan ikatan yang membelenggu kedua tangannya.


Bugh...


"Bagus, akhirnya satu pukulan bisa bikin loe sadar, sadar kalau loe gak bisa berbuat apa-apa lagi, karena dari dulu loe emang tolol." ucapnya sinis.


"Randy yang lebih kuat dan pinter dari loe aja gak bisa lawan gua, apa lagi loe yang tolol kaya gini."


Ucapnya lagi membuat Beni menatapnya lagi, namun kali ini dengan penasaran. Orang tersebut seakan tau apa yang Beni fikirkan saat ini.


"Kenapa? Loe kaget? Randy udah tau tentang kita dari dulu Ben, tapi dia gak banyak omong, yang justru mempemudah dia buat mati hahaha."


Ucapan orang tersebut membuat Beni merasa menjadi orang yang tak tau apa-apa dan merasa paling bodoh. Beni tertunduk, tenaganya kembali melemah, banyak penyesalan di dalam hatinya namun sepertinya sekarang sudah terlambat menyesali semua yang telah menjadi seperti ini.

__ADS_1


Setelah Beni terlihat lebih tenang, orang itu membukakan kain yang menyumpal mulut Beni.


Beni bisa sedikit bernafas lega, namun kini dia tak bisa berkata apa-apa, jangankan untuk mengumpat, berbisik saja sepertinya dia sudah tak sanggup, kenyataan yang diketahuinya saat ini terlalu sulit untuk dia terima.


"Kenapa loe lakuin ini sama kita?"


Dengan pasrah, Beni melontarkan sebuah pertanyaan yang jawabannya mungkin akan lebih membuatnya terluka.


"Karena gua butuh korban persembahan, terlebih gua juga benci kalian semua."


Ujarnya yang kali ini menatap Beni dengan penuh dendam.


Perlahan amarah Beni muncul kembali.


"Apa arti dari persahabatan kita buat loe anjixx?"


Bugh...


Satu pukulan lagi tepat mengenai sebelah pipi Beni yang membuatnya terhuyung kembali. Dengan kondisi seperti ini sepertinya perlawanan yang Beni lakukan sama sekali tak berguna.


"Sahabat? Sahabat macam apa kalian yang suka ngerendahin sahabat sendiri? Gua gak pernah menganggap kalian sahabat, gua cuma manfaatin kalian aja, demi tujuan gua dan satu lagi... Orang sombong kaya kalian memang pantas mati..."


Ucapnya seraya tersenyum menyeringai bagai iblis yang puas melihat manusia tersiksa.


"Lo boleh bunuh gua...tapi tolong...bebasin Anita..."

__ADS_1


Beni sudah terlihat pasrah dan putus asa, dia meminta dengan memelas pada Danu yang kini terlihat seperti iblis baginya, berharap masih ada sisi manusia di hati yang kini terasa gelap untuknya.


__ADS_2