
"Halo, perkenalkan nama saya Danu, saya pindahan dari salah satu kota Sunda di Jawab Barat, yang terkenal sama nama makanannya, yaitu tahu, salam kenal."
Danu memperkenalkan dirinya di depan teman-teman barunya di kelas XI ips 3, karena dia adalah siswa pindahan dari salah satu kota yang berada di daerah Jawa Barat, Danu adalah orang yang ramah, karena keramahannya itulah dia mudah bergaul dengan teman barunya dan tentunya bisa menjadi cepat untuk akrab dengan mereka. Arie adalah teman sebangkunya karena Arie waktu itu hanya duduk seorang diri, dan sepertinya Arie sedikit di kucilkan oleh yang lainnya entah karena dia anak yang biasa saja atau memang orang tak begitu terlalu menyukainya. Arie lebih banyak terlihat sendiri setidaknya ketika di dalam kelas itu, dia lebih banyak diam seperti tak peduli dengan yang lainnya, dan begitu juga sebaliknya, yang lain pun sepertinya tak terlalu peduli juga padanya. Bahkan Arie pernah tak masuk sekolah selama hampir satu minggu dikarenakan sakit, namun selama itu tak ada seorangpun teman sekelasnya yang datang untuk melihat keadaannya.
"Gua Danu."
Danu mengajak Arie berkenalan dengan mengulurkan tangan. Sekilas Arie melirik namun tak begitu peduli pada anak baru itu, dalam bayangannya Danu akan bersikap sama saja seperti teman sekelasnya yang lain.
"Arie."
Jawab Arie singkat seraya menerima jabatan tangan Danu.
Arie yang duduk sendiri selalu terlihat murung, entah apa masalah yang sedang di hadapinya, namun bagi Danu dia adalah seseorang yang pas untuk di jadikan teman, tapi Danu tetap saja harus berhati-hati pada orang baru, karena dia tak tau latar belakang dari orang yang baru saja dikenalnya, untuk itu Danu berencana akan menyelidiki Arie terlebih dulu, setelah itu baru akan menentukan langkah selanjutnya.
Pelajaran pada hari itu begitu membosankan, tak ada yang masuk sedikitpun pada ingatan Danu dan Arie, mereka sangat terlihat begitu malas-malasan mengikutinya, hinngga akhirnya jam istirahat pun tiba, Arie bergegas menuju ke kantin, karena di sana lah dia selalu berkumpul dengan yang lainnya, yang menganggapnya benar-benar sebagai seorang teman.
"Rie, mau kemana?"
Tanya Danu ketika melihat Arie akan beranjak keluar kelas, setelah membereskan buku dan alat tulis lainnya ke dalam tas lalu dimasukan ke dalam laci mejabelajarnya.
"Kantin."
Arie menjawab pertanyaan Danu singkat lalu kemudian melangkahkan kakinya dengan sedikit cepat.
"Eeh tunggu Rie, gua ikut!"
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan Arie, Danu langsung sedikit berlari mengejar Arie yang berjalan cukup cepat hingga telah melewati ruang kelas sebelahnya.
Hanya butuh waktu beberapa menit hingga mereka sampai di kantin sekolah yang berada di daerah paling belakang komplek sekolahan tersebut. Setelah di kantin, Beni dan Randy melambaikan tangannya pada Arie memberi kode kalau mereka sudah ada di sana.
"Ah lama loe."
Ucap Beni, sedikit mendengus kesal karena kebiasaan Arie yang terkadang memang suka terlambat.
"Sory, tadi pelajaran pak Iwan."
Arie berusaha menjelaskan alasan kenapa dia bisa datang terlambat, namun bagi Beni itu hanya sebuah pembenaran dan pembelaan diri sendiri saja, tak begitu terlalu di anggap oleh Beni.
"Oya, kenalin, murid baru sekolah kita."
Arie memperkenalkan Danu pada Randy dan Beni, mereka pun berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri masing-masing, dan sepertinya Danu pun mudah bergaul dengan teman dari Arie tersebut, karena setelah berbincang-bincang rupanya mereka memiliki hobi yang sama, yaitu berpetualang, hobi yang sering di lakukan para laki-laki yang menyukai adrenalin dan tantangan.
"Iya, kita udah beberapa kali lakuin pendakian, tapi ke gunung yang gak terlalu tinggi sih."
Randy menceritakan pengalaman mereka bertiga ketika melakukan pendakian ke beberapa gunung yang berada di daerah Jawa Barat, namun dari cerita yang Randy ceritakan sama sekali tak ada pengalaman yang begitu terlalu menantang.
"Gimana kalau kita setelah lulus nanti taklukin Jayawijaya? Gunung tertinggi di Indonesia, pasti keren tuh, buat moment terakhir kita."
Tiba-tiba saja Beni memberi usul pada yang lain, yang ternyata mereka pun sedang memikirkan hal yang sama, yaitu melakukan pendakian terakhir sebelum mereka disibukan dengan urusan masing-masing.
"Boleh, bagus kayanya di puncak sana."
__ADS_1
Randy menyetujui usulan Beni.
"Gimana rie?"
"Gua terserah kalian aja."
Arie hanya pasrah menerima keputusan mereka berdua, karena dia tau, pendapatnya terkadang lebih sering tak di dengar, terutama oleh Beni.
"Alah, gak usah nanyain penakut kaya Arie Ran, cemen kaya gitu mana berani naik gunung tinggi kaya Jayawijaya."
Ucapan Beni memang selalu terkesan meremehkan orang lain, tapi memang sudah tak aneh lagi bagi Randy dan Arie karena mereka sudah kenal cukup lama, dan Arie sepertinya tak mempermasalahkan ketika di perlakukan seperti itu oleh Beni.
"Kalau lo gimana dan? Mau ikut gak?"
Tanya Randy yang sejak tadi melihat Danu diam saja tak memberikan pendapatnya tentang rencana mereka untuk momen perpisahan.
Danu yang tiba-tiba saja di tanya menjadi sedikit canggung.
"Gua? Jadi gua juga di ajak nih?"
"Iya, itu juga kalau loe pengen ikut bareng kita. Iya gak?"
Arie dan Beni mengangguk membenarkan ucapan Randy membuat Danu senang, bukan karena niat tulus dari mereka bertiga, tapi karena Danu sendiri sudah mempunyai tujuan dan rencana pribadi, dan sepertinya tujuannya itu sudah di permudah oleh mereka bertiga, dan kini dia hanya perlu menyusun sebuah rencana baru agar semuanya menjadi semakin mudah.
"Akhirnya tujuan ku kali ini akan tercapai, kegagalan tahun sebelumnya takkan terulang lagi, perempuan dengan ciri khusus pun sepertinya memang ada di sini, aku hanya tinggal bersabar mencarinya, sepertinya masih cukup waktu sampai aku menemukan gadis tersebut."
__ADS_1
Danu tersenyum, fikirannya sudah sangat jauh menerawang dan perlahan menjalankan niatnya yang sudah terencana dengan sangat matang. Hanya tinggal menunggu saatnya tiba hingga dia bisa memetik hasil kerja kerasnya selama ini.