PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)

PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)
27. Pulang.


__ADS_3

Dari jauh, samar terlihat beberapa titik cahaya memanjang mengarah ke kanan dan ke kiri secara bergantian, seperti sedang terombang-ambing mengikuti gelombang arus yang tak tenang, suara teriakan perlahan terdengar samar di telinga mereka, hingga akhirnya tiba saatnya bagi mereka untuk berpisah.


Ki Idir dan para muridnya segera pergi meninggalkan tempat itu, dengan membawa jasad Mbah Kuncen untuk di makamkan secara layak, walaupun telah tersesat dia akan tetap layak mendapatkan tempat terakhirnya dengan layak, kemudian mereka juga membawa beberapa tawanan untuk mereka bimbing agar mau kembali pada jalan yang benar, dan terakhir sebelum pergi, Ki Idir berpesan bahwa kejadian ini tak perlu diceritakan secara gamblang pada siapapun, karena ini adalah sebuah aib dari keluarganya. Beni dan yang lainnya pun sepakat takkan menceritakan apa yang mereka alami pada siapapun, kenangan buruk tentang kehilangan sahabat karena orang yang mereka anggap sahabat akan lebih baik untuk tak mengingatnya demi pengorbanan dan nama baik sahabat mereka. Arie sebelumnya memang telah tersesat namun dia berhasil kembali dan telah membayar semuanya sebagai seorang sahabat.


"Terimakasih atas pertolongannya Ki."


Beni berterimakasih karena dia, Anita dan Aini bisa selamat dari kejadian ini, walaupun Randy dan Arie harus menjadi korban kesesatan mereka. Namun Ki Idir menggeleng dengan kharisma senyum di wajahnya yang tak pernah hilang.


"Tak perlu berterima kasih, harusnya saya yang minta maaf, karena saudara sayalah yang menjadi penyebab semua kejadian ini."


Ki Idir dengan sungkan meminta maaf pada ketiga remaja tersebut dengan tatapan sedih karena kehilangan dan rasa bersalah, namun Beni, Anita dan Aini tak menyalahkan Ki Idir sedikitpun justru mereka sangat berterimakasih dengan bantuan yang telah Ki Idir dan murid-muridnya berikan. Setelah itu ki Idir pamit dengan memberikan senyum getir terakhirnya sebelum mereka pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Hei, mereka di sini."


Suara teriakan tersebut terdengar semakin dekat seiring dengan langkah yang semakin cepat menghampiri Beni, Anita dan Aini.

__ADS_1


"Kalian baik-baik saja?"


Dengan nafas yang masih terengah salah satu dari pendaki yang menemukan mereka langsung menanyakan keadaan mereka dan apa yang terjadi dengan mereka.


Para pendaki itu terdiri dari enam orang tim SAR dan empat orang penduduk lokal di kaki gunung, mereka sengaja mencari Beni dan yang lainnya ke gunung ini, karena setelah waktu yang di tentukan selama pendaftaran yaitu selama empat hari pendakian, mereka tak kunjung turun melapor ke pos pendaftaran, bahkan hingga satu minggu tak ada laporan bahwa mereka telah kembali, untuk itu di bentuk tim pencari untuk memastikan keadaan Beni dan yang lainnya.


"Kemana teman kalian yang lain? Bukankah kalian berenam?"


Tim SAR bersama dengan penduduk lokal tersebut bingung bercampur senang karena mereka selamat namun dengan jumlah yang tak sesuai dengan ketika mereka berangkat.


Beni menceritakan kejadian selama mereka berenam melakukan pendakian, namun cerita itu bukanlah cerita yang sebenarnya mereka alami, demi Ki Idir yang telah menyelamatkan mereka, mereka berjanji akan selamanya diam dengan semua yang mereka alami selama melakukan Pendakian Terakhir mereka.


Setelah menjelaskan kejadian di gunung ini, rupanya mereka mengerti, karena sedikit banyak merekapun mendengar tentang isu yang berkembang tentang keadaan di gunung ini, namun merekapun lebih memilih tutup mulut agar reputasi tempat ini tak tercemar hingga dapat melumpuhkan ekonomi bagi para penduduk yang mengais rezeki dari keberadaan tempat itu.


"Ya sudah, sekarang kalian bersama para penduduk kembali ke bawah, kami berenam akan menelusuri jurang itu untuk mencari dan mengevakuasi jasad ke dua teman kalian."

__ADS_1


Setelah itu mereka pun berpisah dengan ke enam tim SAR itu mereka menuruni gunung bersama empat orang penduduk, sedangkan tim SAR langsung menelusuri jalan ke jurang untuk mengevakuasi Arie dan Danu.


Setelah beberapa jam mereka berjalan menuruni gunung, akhirnya mereka pun tiba di pos pendaftaran tepat sesaat sebelum fajar menyingsing, penduduk yang tadi menolong mereka langsung menyuruh mereka beristirahat di dalam rumah yang tak lain adalah pos pendaftaran tersebut.


Disore hari setelah hampir dua belas jam melakukan pencarian, tim SAR yang menelusuri jurang untuk mengevakuasi jasad Danu dan Arie telah kembali, namun mereka kembali dengan hanya membawa satu jasad saja yang sudah di bungkus dengan kantung jenazah, mereka mengaku hanya menemukan satu jasad walaupun sudah menelusuri hampir setiap sisi jurang dan sekitar tempat di temukannya jasad Arie, karena kalau memang mereka jatuh bersama seharusnya kedua jasad itu takkan jatuh terlalu jauh, namun hasilnya tetap nihil.


Beni yang penasaran, perlahan menghampiri jenazah yang terbungkus kantung itu, kemudian membukanya dan melihat jasad tersebut dan benar dugaanya, itu adalah jasad Arie.


Sementara itu, tim lain yang diberangkatkan untuk mengevakuasi jasad Randy pun telah kembali dengan membawa serta jasad tersebut, mereka berangkat saat Beni menceritakan tentang jasad Randy yang terpaksa ia tinggalkan dalam kondisi mengenaskan. Setelah menemukan jasad itu merekapun mengerti apa yang Beni maksud dan lagi-lagi mereka sepakat untuk tak menceritakan semuanya.


Di tempat lain, seseorang telah berlari cukup jauh menelusuri hutan dengan nafas tersengal dan beberapa luka di bagian tubuhnya, luka di bagian punggung yang cukup dalam sama sekali tak di hiraukannya, dengan tenaga yang tersisa dia berusaha untuk sampai di sisi bagian lain dari gunung itu, yang sangat jarang sekali terjamah oleh manusia.


"Aku harus bisa, semua belum berakhir, aku akan kembali hahahahhaa."


Dengan sebuah tawa yangmengerikan di tengah keheningan hutan, dia menatap menerawang jauh, memikirkan dan membayangkan semua ambisinya yang belum berakhir dan pasti akan diteruskannya.

__ADS_1


__ADS_2