PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)

PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)
7. Masih


__ADS_3

Kini matahari mulai menampakan dirinya, sinarnya yang mampu menembus kabut tipis di pagi itu sedikit memberi ketenangan untuk mereka setelah selama semalam penuh tak satupun dari mereka yang bisa memejamkan mata, lelah dan dingin tak mampu mengalahkan rasa takut dalam diri mereka, hingga membuat mereka tetap terjaga.


"Sekarang kita gimana?"


Arie bertanya setengah putus asa namun tak berharap jawaban dari yang lainnya, karena dia yakin tak ada jawaban yang membuatnya bersemangat kembali untuk melanjutkan pendakian terakhirnya bersama mereka, sejak awal seharusnya mereka tak mengabaikan peringatan itu dan menghentikan ambisi yang hanya untuk kepuasan diri sendiri, namun kini sudah sangat terlambat untuk menyesali semua yang telah terjadi hingga mereka tak dapat kembali. Danu menghilang dan kemungkinan telah mati, Randy terbujur kaku dengan kondisi mengenaskan, tak perlu bukti lebih untuk dikatakan bahwa kondisi mereka saat ini sangat buruk.


Tanpa fikir panjang mereka membungkus jasad Randy dengan sisa kain tenda yang telah rusak, kemudian mengikatnya dengan tali seadanya, tak ada pilihan dan hanya ini yang bisa mereka lakukan untuk sementara.


"Terus kita mau bawa jasad Randy atau gimana? Apa kita biarin dulu?" Tanya Anita pada Beni.


"Gak tau, gua juga bingung."


Beni tak tau apa yang harus dilakukannya, otaknya belum mampu berfikir jernih setelah semua kejadian buruk yang harus dia alami.


"Mending kita biarin aja dulu, kita cari jalan keluar, biar kalo kita udah keluar kita bisa minta bantuan tim SAR buat evakuasi jasad Randy secepatnya."


Arie memberikan usul yang bisa langsung diterima oleh yang lainnya, mereka juga tak mempunyai pilihan lain yang menjadi jalan keluar pada situasi sulit seperti ini, dan membawa jasad Randy turun bukanlah ide yang bagus karena akan lebih banyak memakan waktu dan tenaga mereka yang saat ini bisa dibilang terbatas, sedangkan laki-laki kini hanya tersisa mereka Benie dan Arie saja, dan yang paling penting kini mereka pun tak tau keberadaan mereka sendiri, sepertinya mereka tersesat cukup jauh dari jalur pendakian yang seharusnya.


"Ya udah, sekarang kita berkemas dan bawa barang seadanya yang kita perluin, kita juga cukup bawa satu tenda, biar perjalanan kita lebih cepat dan biar kita bisa ngehemat tenaga, semoga kita gak tersesat jauh dari jalur pendakian yang seharusnya."


Setelah selesai berkemas mereka langsung berangkat mencari jalan keluar memilih menelusuri jalan yang datar, berharap jalan tersebut terhubung pada jalur utama pendakian yang tak jauh dari sana, mereka berjalan tanpa saling bicara satu sama lain bukan saja karena sibuk dengan fikiran mereka masing-masing, namun seiring berjalannya waktu yang tak terasa sudah cukup jauh mereka menempuh perjalanan rasa lelah yang teramat sangat juga semakin mereka rasakan, namun tiba-tiba...


Brukkk.


Aini terjatuh tak sadarkan diri, Anita yang berada paling dekat dengannya, langsung menolongnya dan membalikan badannya yang jatuh dalam posisi tertelungkup, wajahnya kotor terkena rumput dan tanah, beruntung duri disekitar semak jaruhnya Aini tak menembus jaket yang dikenakannya. Segera Anita memberikan minyak kayu putih pada hidung Aini agar ia bisa segera sadarkan diri kembali, kemudian Arie dan Beni mengangkatnya ke tenda yang mereka jadikan alas untuk membaringkan Aini disana.

__ADS_1


"Gua kenapa Ta?"


Beruntung Aini tak pingsan begitu lama, hanya selang beberapa menit saja dia sudah kembali sadarkan diri namun dengan kondisi badan yang sangat lemah.


"Loe pingsan tadi, udah loe tiduran dulu aja, biar badan loe gak lemes lagi."


Mereka kemudian beristirahat, karena dalam kondisi seperti ini rasanya tak mungkin melanjutkan perjalanan, dan juga tenaga mereka semakin terkuras habis, mungkin dengan beristirahat bisa menambah sedikit tenaga untuk melanjutkan perjalanan mencari jalur pendakian untuk kembali pada pos pendaftaran dan melaporkan semua kejadian yang mereka alami.


"Makan dulu nih, biar ada tenaga."


Arie memberikan roti, sisa perbekalan dari yang mereka bawa kemarin, yang masih bisa terselamatkan walaupun dengan kondisi sedikit basah namun masih cukup layak dikonsumsi dalam kondisi seperti ini.


"Makasih."


Ucap Aini singkat, dengan kulit pucat yang sudah sangat jelas terlihat diwajahnya.


"Sekarang gimana? Apa kita mau lanjut atau mau nunggu dulu sampe kabutnya hilang?"


Tanya Beni pada yang lainnya. Sejak Randy terbunuh, Beni yang punya sedikit jiwa kepemimpinan memegang kendali semuanya, karena tak mungkin dia dan yang lainnya mengandalkan Arie yang penakut dan sering di bully ketika disekolah. Ya, Arie memang penakut, untuk itu terkadang dia sering di bully teman-temannya, bahkan termasuk Randy, Beni dan Danu sendiri, tapi Arie tak pernah membalas bullyan tersebut serta hanya diam tak menanggapi segala bentuk ejekkan mereka.


"Mungkin sebaiknya kita berangkat sekarang juga."


Ajak Aini pada yang lain.


"Emang loe udah mendingan Ni?"

__ADS_1


"Lumayan, gua udah kuat jalan ko."


Anita tau kalau Aini berbohong, hanya saja dia tak mengatakan apapun pada yang lainnya, dan yang lain pun sepertinya tak percaya dengan apa yang Aini katakan tadi, mereka bukan anak kecil yang tak mengerti dan tak bisa melihat situasi namun tak ada satupun dari mereka yang menolak ajakan Aini.


Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan, berharap secepatnya mereka keluar dari tempat mengerikan ini, tapi semakin lama dan jauh mereka berjalan justru tempat yang mereka tuju semakin gelap di kelilingi pohon tinggi besar yang menghalangi sinar matahari yang berusaha menerangi mereka.


"Ben, kayanya kita salah jalan deh."


Anita mengingatkan Beni kekasihnya, dia merasa jalan yang mereka lalui justru semakin menjauhkan mereka dari jalur utama pendakian.


"Gua juga gak tau Ta, tapi arah ke sini yang arahnya turun, kalo ke sebelah sana justru kita malah naik ke atas lagi."


Sebenarnya Beni pun tak terlalu yakin kalau jalan yang ia pilih adalah jalan yang benar, namun logikanya mengatakan bahwa jalan yang menurun akan membawa mereka menuju ke kaki gunung, yang artinya memungkinkan mereka bisa kembali tanpa melewati jalur utama pendakian.


Mereka tak bisa membantah lagi apa yang Beni katakan, mereka akan tetap mengikuti Beni walaupun mereka ragu dengan jalan yang mereka pilih, hingga akhirnya mereka pun tak bisa melangkah lagi karena perjalanan mereka dihentikan oleh jurang yang sangat dalam, yang mau tak mau membuat mereka harus kembali lagi dan mencari jalan lain.


"Sial, kenapa loe bawa kita ke sini sih Ben?"


Arie geram, rasa frustasi dan takutnya semakin menjadi manakala kini jalan yang mereka lalui adalah jalan buntu yang berujung pada jurang.


"Loe fikir gua tau kalo kita bakal nyampe ke tepi jurang? Kalo gua tau jalan gua udah balik duluan bego."


Beni pun tak kalah gertak oleh Arie, emosinya langsung naik ketika Arie dengan santainya menyalahkan dia karena memilih jalan yang berujung pada jurang.


"Udah udah kalau kalian berantem, kita malah gak akan nemu jalan pulang."

__ADS_1


Anita melerai dan mengakhiri pertengkaran tak berguna antara Beni dan Arie. Suasana masih terasa tegang sebelum akhirnya mereka tiba-tiba saja dikagetkan oleh sesuatu disekitar semak-semak disekeliling mereka.


Seperti ada yang mengikuti mereka, dari semak-semak terdengar bunyi langkah kaki, entah itu hewan atau makhluk buas sebelumnya telah membunuh Danu dan Randy. Keadaan semakin menjadi menegangkan, mereka tak bisa lari dari tempat itu, karena di depan mereka didalam semak-semak yang berisi makhluk misterius yang kemungkinan makhluk buas yang menyerang mereka sebelumnya dan di belakang mereka jurang yang sangat dalam.


__ADS_2