
Arie terkapar dengan sebuah pisau menancap dari belakang menembus hingga keperutnya, rupanya Danu yang tadi tak sadarkan diri kini telah kembali dan menikamkan pisau yang sebelumnya di gunakan Aini untuk menikamnya, luka di tubuh Danu sepertinya tak berarti apa-apa, tak sedikitpun menghilangknan keganasan dan kekejamannya.
"Anjixx."
Melihat Arie di serang tiba-tiba dari belakang, Beni langsung berusaha menyerang Danu kembali, serangan Beni tepat mengenai Danu tapi sayang Danu tak bergeming sedikitpun, dia masih berdiri tegak menatap Beni dengan senyum mengerikan, entah itu hanya perasaan mereka saja atau memang kini Danu lebih kuat dari sebelumnya dan sepertinya kesadaran sebagai manusianya pun telah hilang.
Bugh.
Danu dengan mudah membanting kemudian melemparkan Beni hingga menghantam pohon besar di sampingnya, entah dari mana datangnya kekuatan Danu hingga dia menjadi seperti itu, padahal sebelumnya Danu sudah tak sadarkan diri. Aini dan Anita tak bisa berbuat apa-apa karena rasa takut mereka kini semakin menjadi seiring air mata yang berderai bersma darah dibalik punggung Arie, hanya Ki Idir lah yang masih tenang meskipun kini mereka berada diantara para pengikut iblis tersebut.
Dengan sekali serangan dari Danu yang cepat dan tepat mengenai Ki Idir, seketika saja membuatnya terlempar hingga ke tanah miring yang mengarah ke jurang, benteng kokoh tak terlihat melindungi Ki Idir dari serangan Danu, namun dengan segera Danu kembali naik untuk menyerangnya kembali.
"Dia bukan lawanmu."
__ADS_1
Suara itu menghentikan Danu yang sudah berada cukup dekat dengan Ki Idir, namun Danu tak bisa membantah perintah Mbah Kuncen, dia mundur perlahan namun tetap waspada lalu kemudian menghampiri Mbah Kuncen yang telah siap kembali bertarung dengan adiknya tersebut.
"Kali ini aku takkan menahan diri lagi, kalau memang kau harus mati ditanganku, maka akan kulakukan."
Aura yang terlihat oleh Ki Idir pada kakaknya itu lebih gelap lagi dari sebelumnya, sangat kelam, membuat siapapun yang di dekatnya akan merasa merinding dan ketakutan yang luar biasa walaupun orang yang tak memiliki ilmu sekalipun, mereka akan merasakannya.
KI Idir bersiap dengan serangan itu, dia tau bahwa yang di katakan kakaknya bukan lah gertakan belaka.
Mata itu memerah menyala, seakan ada lampu di dalamnya, nafasnya semakin memburu menandakan nafsu amarah yang tak terbendung lagi, gemeretuk gigi beradu menahan gemetar di sekujur tubuh yang kini tak terkendali lagi, sama halnya seperti Danu, ia telah kehilangan kesadarannya sebagai manusia.
"Sepertinya tak ada pilihan lain."
Gumam Ki Idir seraya mengeluarkan sebuah kain putih dari dalam jubahnya, kemudian melilitkannya pada kepalan tangan kanannya, kain itu adalah sorban pemberian dari sang kyai yang sangat dia hormati yang tak lain adalah gurunya sendiri, kemudian setelah itu sebuah benda berbentuk bulatan kecil dari kayu yang di susun menjadi sebuah tasbih di keluarkanya, tasbih itu juga adalah pemberian sang kyai sewaktu Ki Idir masih kecil, tasbih itu Ki Idir lilitkan pada lengan bagian kirinya, dan dengan ke dua pusaka itu, Ki Idir siap menghadapi Mbah Kuncen.
__ADS_1
Kembali Mbah Kuncen menyerang Ki Idir dengan gerakan yang sangat cepat, dengan hanya sekejap mata, dia telah berada di belakang Ki Idir dan menikam Ki Idir dari belakang, namun kali ini Ki Idir berhasil menghindarinya lalu kemudian...
Bugh...
Sebuah pukulan dari tangan kanan Ki Idir yang telah di liliti sebuah sorban putih itu tepat mengenai dada Mbah Kuncen dan membuatnya mundur terpental hingga membuatnya terluka kembali, nampak terlihat darah hitam itu menetes dari sudut bibir keriputnya yang berarti bahwa satu pukulan Ki Idir akan berbahaya bila terus menerus mengenainya.
Di saat Mbah Kuncen dan Ki Idir bertarung, Danu mendekati Aini untuk membawanya sebagai persembahan pemujaan iblis itu, namun belum sampai dia mendekatinya, seseorang dengan pisau menancap di belakang perutnya telah menerkamnya terlebih dulu hingga mereka berdua berguling di tanah miring lalu kemudian masuk ke dalam jurang.
"Arie."
Aini menjerit histeris melihat Arie dan Danu jatuh ke dalam jurang tersebut, hingga dengan refleks dia pun akan menuruni tanah miring yang berujung pada jurang itu untuk mencari Arie, namun beruntung Anita berhasil mencegahnya, kemudian memeluk Aini agar dia tenang, Beni yang terduduk di bawah pohon berusaha berdiri dan menghmpiri Aini dan Anita.
Sementara itu, kini giliran Mbah Kuncen yang terpojok, lukanya semakin parah karena menerima begitu banyak pukulan dari Ki Idir, Mbah Kuncen sama sekali tak sanggup menghindari serangan-serang yang dilakukan oleh adiknya, namun walaupun dalam kondisi seperti itu sepertinya tak ada tanda-tanda akan menyerah dari Mbah Kuncen hingga Ki Idir terpaksa harus mengakhiri semuanya dengan kematian.
__ADS_1
Ki Idir berdiri tepat di depan Mbah Kuncen yang terkapar menahan sakit, lalu dia melepaskan tasbih yang melilit di tangan kirinya yang kemudian di pakaikan pada leher Mbah Kuncen, seketika saja Mbah Kuncen menjerit kesakitan, seperti ada sebuah rantai yang menjerat lehernya secara kuat, dia berguling, tangannya berusaha melepaskan tasbih itu hingga akhirnya tubuhnya terkulai lemas dengan lidah menjulur dan mata yang melotot, Mbah Kuncen telah tewas di tangan adiknya sendiri namun itu adalah pilihannya karena sebelumnya Ki Idir menawarkannya untuk menyerah dan kembali bersama namun hingga akhir kematiannya ia tetap tak mau untuk melakukannya, namun itu adalah pilihannya karena dia tak mau kembali pada jalan yang benar, air mata yang menetes pada pipi Ki Idir segera di bersihkannya, dia tak ingin ada orang lain yang tau akan kesedihan yang ia rasakan, cukup dirinya sendiri saja yang tau kalau dia sangat menyayangi kakaknya itu.