
"Gua mohon, Dan."
Dengan menjatuhkan semua harga dirinya, Beni memohon dengan berurai air mata, keputusasaan kini telah benar-benar membuatnya lemah tak berdaya, namun melihat Beni kini dalam kondisi seperti itu justru malah membuat Danu tertawa puas, semua keangkuhan dan kesombongannya kini telah hilang begitu saja, berganti dengan sebuah penyesalan yang sepertinya akan menjadi sia-sia.
"Loe gak denger apa yang tadi gua bilang, hah? Loe bisa bebas, dan cewek loe juga, tapi...setelah kalian mati hahahahhaa."
Tawa Danu menyeringai yang sudah seperti kehilangan sisi kemanusiaannya membuatnya menjadi terlihat mengerikan, entah apa yang ada di benak Danu saat ini, akal sehatnya kini telah benar-benar hilang. Beni semakin putus asa, sepertinya mereka tak memiliki harapan lagi, satu-satunya yang mungkin bisa menyelamatkan mereka hanyalah sebuah keajaibnan, tapi...tiba-tiba terlintas dalam benak Beni tentang kemana perginya kakek yang sebelumnya telah menolongnya itu.
"Gimana Dan?"
Tanya seseorang yang baru saja datang dari balik pintu ruangan tersebut. Beni yang mendengar suara itu kaget, dia sudah sangat mengenali suara itu, orang yang selama ini dia anggap tak berguna, tak salah lagi itu adalah dia. Sedikit tak percaya mengetahui sebuah kenyataan, kembali amarahnya terpancing namun tak seperti sebelumnya, karena untuk saat ini dia telah merasa lemah.
"Kenapa pengecut kaya lo bisa kaya gini anjixx?"
Beni berteriak, ingin menunjukan bahwa saat ini dia benar-benar marah dan kecewa atas semua yang telah terjadi dan penyebab semua kejadian yang terjadi pada mereka adalah orang-orang yang berada di dekat mereka sendiri, terlebih lagi yang melakukan semua itu adalah orang yang begitu dikenalnya.
"Karena gua pengecut, dan kalian menganggap gua pecundang makanya gua buktiin kalau gua bisa lebih kejam dari apa yang selama ini kalian lakuin ke gua, apa yang udah kalian lakuin pasti gua balas."
Balasnya datar dan begitu tenang, benar-benar berbeda dari orang yang Beni kenal sebelumnya, bahkan kini wajahnya pun begitu dingin tanpa ekspresi. Sekilas Beni menatap tangan orang yang kini berada di hadapannya bersama Danu, yang di balut kain dengan bercak darah merembes dari luka yang ditutupinya.
"Jadi, waktu itu?"
__ADS_1
Belum selesai kalimat yang akan ducapkan Beni, dia lebih dulu memotongnya karena tau apa yang akan diucapkannya.
"Ya, gua yang nyerang loe, dan gua juga yang udah ngebunuh Randy."
Lagi, Ucapnya masih dengan wajah datar tanpa ada rasa takut, bersalah ataupun sedih telah melakukan perbuatan yang tak pernah Beni kira.
Beni yang mengetahui itu langsung lemas, seakan tulang dari tubuhnya seperti melunak mengetahui ke dua temannya adalah iblis. Dia tak menyangka Arie yang penakut sebenarnya adalah iblis yang bersembunyi di balik wajah polos dan bodohnya itu.
"Cewek-cewek itu udah siap!"
Ucap Arie pada Danu, yang juga di dengar oleh Beni.
Arie tak henti-hentinya kembali emosi karena firasatnya mengtakan bahwa perempuan yang mereka maksud adalah Anita.
"Sekali loe macem-macem sama Anita, gua bunuh kalian!"
Ancaman Beni sama sekali tak membuat mereka takut, tapi justru malah membuat mereka tertawa karena Posisi mereka saat ini sedang tak pas untuk di ancam.
"Loe mau ngebunuh kita? Gak salah? Gimana caranya? Mau nyuruh malaikat maut? Hah."
Danu tersenyum sinis. Beni hanya terdiam tak menanggapi apa yang Danu katakan, dia sadar dia tak bisa melakukan apapun, hanya rasa benci yang mampu ia tunjukkan. Setelah itu Danu pergi meninggalkan Beni bersama Arie di ruangan itu.
__ADS_1
"Rie, gua gak nyangka loe bisa jadi kaya gini."
Ucap Beni lirih seraya menundukan kepalanya penuh penyesalan.
"Gua kaya gini gara gara kalian."
Balas Arie datar.
"Maafin gua Rie, loe boleh bunuh gua, sebagai balasan apa yang udah gua lakuin sama loe, tapi...gua mohon sama loe Rie, jangan sakitin Anita, dia cewek baik, gua sayang sama dia."
Pinta Beni memelas, berharap ada sedikit rasa kemanusiaan di hati sahabatnya itu, namun sayang Arie hanya diam tak menanggapinya.
Arie berlalu pergi meninggalkan Beni sendiri di ruangan itu, ruangan yang hanya di bekali temaram lampu tanpa adanya jendela, dinding kusam yang sebagian telah berlumut, kotor dan berbau tak sedap. Tanpa sadar Beni kembali menangis, menyesal dengan semua sikapnya yang dulu pernah dilakukannya hingga kini membuat dirinya dan yang lainnya celaka.
Kini semua penyesalan telah terlambat dan akan segera berakhir tragis dengan kematiannya. Hari yang entah sekarang ini dalam keadaan siang atau malam, karena di ruangan itu gelap menutupi semuanya, hanya temaram lampu saja yang sedikit merenanginya tapi bunyi jangkrik menandakan bahwa sekarang adalah malam hari.
Derit bunyi pintu yang di buka perlahan membuat jantung Beni berdegup kencang, menanti yang datang walaupun dia tau itu adalah ketakutan dan bahkan kematian.
Namun Beni kaget dan semakin ketakutan melihat orang tersebut masuk dengan membawa sebilah golok yang dari kilauannya menandakan bahwa golok tersebut sudah terasah sangat tajam shingga bisa menebas dengan menimbulkan luka yang sangat dalam, tanpa basa basi golok tersebut di ayunkan dengan cepat ke arah Beni, lalu kemudian...
Craasssss...
__ADS_1