PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)

PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)
14. Putus Asa


__ADS_3

Bruk...


Danu melemparkan tubuh lemah Beni kembali pada ruangan yang sama di mana sebelumnya mereka disekap, namun kali ini Aini dan Anita juga dikurung dalam ruangan tersebut, tapi sebelum mereka rupanya telah ada yang lebih dulu berada di sini. Tangannya terikat ke belakang berbeda dengan Beni dan yang lainnya yang diikat dengan posisi tangan tetap di depan, dengan posisi tubuh tertelungkup serta kaki terikat dalam kondisi sepertinya tak sadarkan diri karena tak bereaksi dengan suara berisik oleh kedatangan Beni dan yang lainnya. Wajahnya menghadap pada salah satu dinding, tanpa pakaian utuh, di tubuhnya yang kotor samar terlihat banyak luka dari bekas pukulan benda tumpul, dengan kondisi seperti sekarang ini tak ada sedikitpun waktu untuk mereka berempati dengan penderitaan orang tersebut.


"Ben."


Anita memelas kemudian menangis lirih, tak tega melihat kekasihnya yang tak berdaya saat ini, walaupun keadaan Beni masih lebih baik dari orang yang tergeletak pingsan di sampingnya itu.


"Gua baik-baik aja Ta."


Beni berusaha tersenyum tak ingin melihat orang yang di sayanginya bersedih melihatnya menderita dengan kondisi seperti sekarang.


Obrolan Beni dan Anita barusan sepertinya didengar oleh orang yang sedang tergeletak di samping mereka, karena tiba-tiba orang itu tersadar lalu bergeliat berusaha menggulingkan badannya yang telungkup, hingga pada akhirnya terlihatlah dengan jelas siapa orang tersebut.


"Arie?"


Ucap Beni dan yang lainnya, sedikit terperangah tak percaya dengan apa yang ada di hadapan mereka, melihat orang yang tersiksa itu ternyata adalah orang yang menyelamatkan mereka sebelumnya. Arie yang baru tersadar juga tak menyangka orang yang berusaha di selamatkannya justru tertangkap kembali dan saat ini dikurung bersamanya di ruangan yang sama. Beni dan Anita membantu Arie untuk duduk walaupun mereka sama-sama dalam posisi tangan terikat.

__ADS_1


"Kenapa kalian bisa ketangkep lagi?"


Tanya Arie masih dalam kondisi lemah setelah sebelumnya tak saarkan diri. Terlihat darah mengering dari ujung bibirnya menandakan luka yang sudah cukup lama.


"Kakek sialan itu udah nipu kita Rie..."


Balas Beni dengan suara lirih, merasa kecewa dengan kenyataan bahwa dia telah ditipu oleh kakek tua itu.


"Kenapa loe bisa ketangkep sama mereka Rie?"


Beni balas bertanya.


Setelah mendengarkan penjelasan dari Arie, sepertinya takkan ada harapan lagi untuk mereka selamat dari kejadian ini, semuanya akan berakhir tragis, mereka telah pasrah dengan semua yang akan mereka alami, dan terpaksa siap menghadapi sisa hidup mereka kini.


Derit pintu yang baru saja di buka terdengar seperti peringatan tentang iblis yang akan datang menemui mereka di balik pintu itu.


Senyum sinis seseorang di sana begitu menyebalkan karena sosok iblis bersembunyi di balik wujudnya yang memang cukup menawan.

__ADS_1


"Sudah siap?"


Tanya nya dengan penuh percaya diri untuk melaksanakan semua rencana yang disusunnya selama ini secara rapi.


"Jangan khawatir, kalian akan gua buat mati perlahan, biar kalian bisa menikmati pedihnya ketika kalian di kuliti, dan enaknya ketika perlahan daging dari tubuh kalian terpotong menjadi beberapa bagian untuk persembahan hahahahaha."


Kata-kata Danu yang seperti itu seolah sedikit membangkitkan tenaga yang tadi sempat hilang sekaligus rasa jijik membayangkan tingkah Danu barusan. Beni menatapnya, begitu membencinya, namun Danu berlalu pergi dari hadapan mereka tanpa sedikitpun sempat menyentuh mereka, ia segera pergi untuk mempersiapkan ritual persembahan pemujaan iblis yang selama ini ia rencanakan dan persiapkan dengan matang, karena tengah malam purnama Ini adalah waktunya.


Perlahan Arie bergerak, tangannya yang tanpa tenaga berusaha meraih sesuatu di balik celananya, susah payah Arie meraih benda tersebut dan tak berapa lama sebuah pisau kecil di dapatkannya, dengan perlahan Arie mencoba memotong ikatan tangannya, setelah bersusah payah akhirnya ikatannya berhasil lepas. Beni terheran melihat tangan Arie terlepas begitu saja, padahal sebelumnya mereka dengan jelas melihat tangannya terikat kuat kebelakang.


Tanpa membung banyak waktu, dengan tenaga tersiaa Arie memotong ikatan tali pada yang lainnya dengan hati-hati agar tak menimbulkan kegaduhan. Setelah yang lainnya bebas Arie menyuruh mereka pergi ke luar dan segera kabur, karena tengah malam hanya tinggal sebentar lagi, namun mereka menolaknya mereka tak bisa meninggalkan Arie begitu saja, walaupun Arie sebelumnya pernah berniat membunuh mereka, namun mereka memaafkannya karena kini Arie justru berkorban menyelamatkan mereka serta sepertinya rela berkorban mempertaruhkan nyawa agar Beni dan yang lainnya selamat. Dan pada akhirnya mereka pun akan pergi bersama, ketika mereka sudah berdiri dan akan segera keluar dari tempat itu, mereka harus kecewa karena kali ini sepertinya Danu mengunci pintu ruangan itu dari luar, dia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama untuk ke dua kalinya.


"Sial, gimana nih?"


Beni berdecak kesal karena kali ini dia dan yang lainnya tak bisa lolos dengan mudah seperti sebelumnya, namun sedikit keberuntungan menghampiri mereka, terdengar langkah kaki yang membuat mereka terdiam dan menahan nafas seolah khawatir hembusan nafaspun akan terdengar oleh mereka, perlahan suara pintu terdengar sedang membuka sebuah kunci dan...


bugh...

__ADS_1


Arie menghajar Danu yang membuat Danu tersungkur menghadapi serangan mendadak dari Arie, namun Danu segera bangkit tapi kemudian Beni menerjangnya dengan sebuah tendangan yang tepat mengenai ulu hati Danu yang membuatnya terhuyung beberapa saat, seolah tak ingin kehilangan moment terbaik tersebut, segera Beni dan Arie menyerang Danu bertubi-tubi dengan tenaga mereka yang masih tersisa, karena ini adalah harapan mereka satu-satunya, berjuang bertahan hidup atau mati saat ini.


__ADS_2