
Setelah urusan prosesi pemakaman jenazah muridnya yang tewas telah selesai hingga di makamkan, Ki Idir segera menemui mereka bertiga kembali untuk menyusun rencana mereka malam ini agar semuanya segera selesai, dan berharap semoga semuanya belum terlambat serta jangan sampai ada korban selanjutnya.
Raut kegetiran tersirat di wajah orang tua itu, karena bagaimana tidak, dia harus tega mengebumikan muridnya di tanah asing, bukan karena tak ada rasa iba dalam hatinya, karena rasa sayangnya pada murid-muridnya sudah seperti keluarga, namun prioritasnya kali ini lebih kepada "Harus ada yang menyelamatkan mereka."
*****
"Kamu sudah kami kuasai, jadi bagaimanapun mereka menyelamatkan mu, itu mustahil."
Suara itu menggema dengan penuh kepuasan melihat Aini yang kembali dengan sendirinya pada mereka, tanpa perlu mereka ambil kembali, Aini hanya berdiri mematung dengan tatapan kosong, dia telah di kuasai sepenuhnya sehingga sekarang sudah seperti robot yang menjalankan apa saja perintah dari programernya.
"Malam ini semuanya harus sempurna, dan aku akan menjadi penguasa..."
Tawanya kian pecah membayangkan dirinya sendiri menjadi seorang yang luar biasa dengan tercapainya kesempurnaan persekutuan dengan iblis.
Rencana telah tersusun, sekitar jam tujuh malam Ki Idir dan para muridnya mempersiapkan diri dan membawa perlengkapan yang mereka perlukan untuk melawan para pemuja iblis itu.
Beni, Anita dan Arie tak ikut serta dalam rencana Ki Kdir tersebut, bukan karena mereka tak ingin ikut menolong Aini, tapi Ki Idir dengan tegas melarang mereka untuk ikut, dengan alasan demi keselamatan mereka semua, tapi mereka bertiga mempunyai rencana sendiri demi menyelamatkan Aini. Setelah Ki Idir dan para muridnya berangkat, mereka juga akan berangkat, namun akan menempuh jalur yang berbeda dengan apa yang Ki Idir dan muridnya akan lewati. Arie yang mulai pulih sepertinya tau dengan jalan yang akan mereka tempuh.
"Lo yakin Rie?"
__ADS_1
Beni meragukan keadaan Arie yang belum pulih sepenuhnya, tapi tekad Arie sudah bulat, dia akan menyelamatkan orang yang dia sayangi sekalipun dia harus kehilangan nyawanya sendiri.
"Ya!"
Arie dengan mantap mengangguk, pertanda dia siap dengan segala resiko yang akan dia hadapi, sekalipun harus mati. Sadar akan situasi ini, Beni dan Anita tak bisa melarang ataupun mencegahnya karena sebenarnya mereka pun sama-sama ingin menolong sahabat mereka, Aini, dan jalan satu-satunya adalah mereka harus pergi bersama agar bisa saling menjaga.
Setelah rombongan Ki Idir berangkat dengan segala persiapan yang matang, mereka bertiga Dengan tanpa membawa apapun selain air untuk persediaan minum, mereka siap untuk pergi menyelamatkan Aini, walaupun kondisi Arie dan Beni masih jauh dari kata sehat, mereka sudah sangat siap bermodal nekad, namun belum selangkah mereka keluar dari gubug berdinding anyaman bambu tersebut langkah mereka terhenti melihat seseorang berdiri tepat di depan gubug tersebut, mereka tau siapa orang itu. Rupanya Ki Idir menyuruh salah satu muridnya mengawasi mereka bertiga agar tak meninggalkan gubug itu, dan tak berbuat yang membahayakan nyawa mereka sendiri.
"Gimana nih?"
Mereka bertiga harus mengalihkan perhatian orang itu atau melumpuhkannya agar mereka bisa kabur dan bergegas menyelamatkan Aini.
"Lebih baik kita lumpuhin aja!"
"Tolong..."
Anita sedikit menjerit, ketakutan, beberapa kali teriakannya terdengar oleh murid Ki Idir yang langsung dengan sigap dia masuk untuk memeriksa keadaan karena khawatir terjadi sesuatu yang buruk, namun...
Bugh...
__ADS_1
Benda keras itu tepat menghantam bagian punggung dan belakang leher murid Ki Idir yang seketika saja membuatnya kehilangan keseimbangan lalu seketika gak sadarkan diri.
Beni melemparkan balok kayu yang baru saja ia gunakan untuk melumpuhkan murid Ki Idir, kemudian dengan bersusah payah mengangkat tubuhnya ke atas alas yang sebelumnya di gunakan untuk mengobati Arie.
"Maaf Ki, terpaksa kita lakuin ini, kami gak akan pernah ninggalin sahabat kami sendiri." Gumam Beni dalam hati dan sepertinya Anita pun sedang memikirkan hal yang sama, namun berbeda dengan Arie yang memikirkan hal lain.
"Kita langsung berangkat."
Mereka bergegas pergi meninggalkan gubug itu dengan murid Ki Idir yang tergeletak pingsan di dalamnya, Arie yang mengetahui jalur lain menuju ke tempat pemujaan iblis tersebut berjalan paling depan dengan tertatih menahan sakit pada sekujur tubuhnya, berjalan dengan di bantu oleh tongkat sebagai penopang karena salah satu kakinya terluka.
Beni berjalan paling belakang Anita yang berjalan di depannya, mereka berjalan hanya di bekali satu cahaya lampu senter yang tersisa dari perlengkapan yang mereka bawa saja, itu pun tak sering mereka nyalakan, karena khawatir akan ada yang melihat keberadaan mereka, terutama para pemuja iblis itu.
Berjalan di kegelapan bukan lah ide yang bagus, karena terbukti mereka harus beberapa kali menahan sakit karena tersandung akar pohon yang beberapa kali hampir saja membuat mereka tersungkur tapi tak ada pilihan lain yang lebih baik, resiko ini mereka ambil demi menyelamatkan sahabat mereka.
"Rie, lebih baik kita istirahat dulu sebentar!"
Sebenarnya Beni belum terlalu lelah, tapi melihat kondisi Arie yang harus bersusah payah seperti itu, dia merasa iba dan tak tega.
"Gak perlu Ben, gua masih kuat."
__ADS_1
Arie menolaknya walaupun sebenarnya keringat di wajahnya menunjukan bahwa dia sangat kelelahan dengan berjalan dalam kondisi seperti itu, dan sandainya suasana saat itu terang pastilah wajah Arie yang telah begitu pucat itu akan jelas menggambarkan keadaannya saat ini, tapi demi sebuah perasaan itu Arie akan tetap berjuang dan berusaha menyelamatkannya, sekalipun dia harus mengorbankan semua yang dia miliki, termasuk nyawanya sendiri.
Tiga jam telah berlalu, namun mereka belum juga sampai pada tujuan mereka,karena dengan kondisi mereka sekarang ini, sangat mustahil mereka akan sampai dengan cepat, sedangkan di tempat yang lain Ki Idir dan beberapa orang muridnya telah bersiap akan menyerang mereka, hanya tinggal menunggu kesempatan dan waktu yang tepat saja untuk melakukan apa yang telah mereka rencanakan sebelumnya, tapi sesuatu telah mengetahui mereka lebih dulu, sepasang mata menatap tajam dari kegelapan mengawasi pergerakan mereka hingga siap untuk menumbangkan mereka satu persatu, dan akhirnya senyum itu menyeringai menampakkan barisan gigi yang bergemeretuk menahan kesenangan akan membunuh mangsa yang bersembunyi di sekitarnya.