PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)

PENDAKIAN TERAKHIR (EPS.1)
13. Pahlawan dan Pengkhianat


__ADS_3

Golok tersebut dengan tepat menebas sasarannya, tak ada luka, jerit suara dan darah yang mengalir, semua begitu sempurna dan sangat tepat mengenai sasarannya, tali pada kaki Beni seketika terputus setelah golok itu menebasnya,  Beni yang tak merasakan sakit pada daerah yang di tebas golok tersebut perlahan membuka matanya, tubuhnya masih menegang dan bergetar cukup hebat membayangkan kematian yang ada di depan mata.


"Cepet, kita gak ada waktu lagi."


Ucap penyelamat tersebut, Beni yang  sudah terbebas dari tali yang membelenggunya hanya bisa mengikuti perintah sang penyelamat itu, mengikutinya berjalan mengendap-endap tanpa suara agar tak ketahuan, tak sempat terfikir olehnya untuk tak percaya pada orang yang telah menyelamatkannya saat ini walaupun sebelumnya dia pernah berkhianat, karena kali ini dia telah menyelamatkan nyawanya dan menjadi seorang pahlawan serta sahabat. Tak berapa lama mereka sudah berada di depan sebuah pintu, Beni belum mengerti untuk apa dia membawanya ke sini namun dia tak memprotesnya dan akan tetap mengikutinya. Dengan Perlahan orang itu membuka pintu dihadapannya dengan perlahan agar tak menimbulkan suara yang bisa saja memancing Danu untuk datang.


"Anita Aini."


Sejenak Beni terperangah melihat kekasih dan temannya masih hidup, ada rasa bahagia saat dia melihatnya masih ada walaupun dalam kondisi yang kurang begitu baik, namun tak ada waktu menikmati kebahagiaan itu, mereka harus segera dibebaskan dan secepatnya meninggalkan tempat itu.


"Cepet bebasin mereka, gua jaga di sini."


Perintah orang itu langsung di laksanakan Beni, dengan cepat dia membuka tali yang mengikat Anita dan Aini. Setelah bebas Beni segera memapah Aini yang tampkak jelas terlihat lemah, Aini lebih dulu ditangkap dan disekap oleh mereka jadi sangat wajar kalau kondisinya saat ini cukup memprihatinkan. Kembali mereka mengendap-endap mengikuti orang tersebut yang menuntun mereka ke jalan keluar, ternyata di tempat di mana mereka disekap memiliki banyak ruangan-ruangan seperti kamar namun tanpa jendela, karena hanya ada pintu saja sebagai akses satu-satunya ruangan tersebut. Sebelum mereka melangkah lebih jauh, terdengar suara langkah kaki  bergema perlahan terdengar samar dari kejauhan, mereka segera masuk ke salah satu ruangan yang tak terkunci untuk bersembunyi, langkah kaki itu semakin lama semakin mendekat, Beni dan Anita bernafas tertahan seiring detak jantung yang berdetak semakin cepat, beruntung orang itu tak curiga ataupun mengetahui keberadaan mereka, setelah orang tersebut lewat mereka segera keluar menuju pintu keluar dengan sebelumnya menaiki tangga menuju pintu di ujungnya yang ternyata adalah sebuah gubuk kecil di tengah kegelapan hutan.


"Mulai dari sini, kalian harus pergi cari jalan keluar sendiri, biar di sini gua yang beresin, anggap ini sebagai permintaan maaf gua."

__ADS_1


Ucap orang tersebut dengan mantap untuk menyelesaikan apa yang sebelumnya telah ia perbuat.


"Tapi Rie..."


Belum selesai Beni berbicara, Arie sudah membentaknya secara halus. Seandainya Beni bisa melihat dengan jelas raut wajah Arie saat ini yang berada dikegelapan, pastinya dia akan kaget melihat mata melototnya.


"Cepat pergi..."


Tanpa banyak kata-kata mereka pun segera pergi meninggalkan tempat itu walaupun mereka tak tau ke arah mana yang harus mereka tuju. Di tengah kegelapan malam tanpa tujuan, mereka pergi dengan perlahan namun sedikit berjalan dengan cepat agar segera menjauh dari tempat itu, semak belukar yang tak begitu tinggi memudahkan mereka meraba jalan yang mereka tuju.


Gumam Beni dalam hati. Setelah berjalan cukup jauh meninggalkan gubuk itu, Dari kejauhan mereka melihat setitik cahaya yang bergerak tak beraturan seirama dengan jalan yang tak rata yang dilaluinya, segera mereka bersembunyi di balik semak-semak karena khawatir itu adalah salah satu dari musuh, cahaya tersebut bergerak perlahan ke arah mereka, perlahan tapi pasti menampakan wajah yang penuh keriput yang begitu dikenal Beni dan Anita, orang tersebut adalah juru kunci gunung ini, yang beberapa waktu lalu menyelamatkan Beni dan Anita.


"Kakek."


Merasa tak terancam dengan kehadiran kakek tersebut, tiba-tiba Beni berdiri memanggil kakek tersebut. Beni menatapnya heran, begitu juga dengan kakek tersebut yang sama herannya melihat mereka berada di sini. Beni dan Anita senang melihat kakek tersebut, karena artinya mereka akan selamat dengan bantuannya, tapi Aini justru ketakutan, Beni yang menyadari keanehan Aini heran dengan tingkah Aini saat ini.

__ADS_1


"Dia salah satu dari mereka."


Ucapan Aini membuat Beni dan Anita terperangah, segera Beni menatap kakek tersebut yang kini telah berubah, dia tersenyum menyeringai, senyum dari wajah yang sebelumnya begitu teduh menenangkan kini telah hilang, berganti dengan sifat asli yang baru saja dibongkar oleh Aini.


"Hahahahaha, kalian ini anak-anak bodoh."


Ucap kakek tersebut dengan terbahak, seolah sangat puas telah mempermainkan mereka semua, Beni yang merasa tertipu langsung menatap kakek tersebut dengan penuh amarah dan kebencian, ingin rasanya dia mematahkan tulang belulang yang hanya tinghal di balut oleh kulit keriput itu. Beni beranjak maju menghampiri kakek tersebut, berharap dapat segera menghajarnya dengan kepalan tangan yang kini telah mengepal kuat, namun kakek itu sedikitpun tak merasa gentar menghadapi anak muda seperti Beni.


Bugh...


Pukulan itu telak mengenai pipinya, yang membuatnya tersungkur, terhuyung, badannya yang lemah belum siap untuk bertarung saat ini.


Beni terkapar di atas dedaunan yang menyelimuti tanah area tersebut.


"Sialan, berani-beraninya loe kabur."

__ADS_1


Danu geram dan langsung menghajar Beni ketika dia melihat dari jauh Beni akan menyerang kakek, Anita dan Aini menghampiri Beni yang masih terkapar, mereka pasrah dengan apa yang terjadi saat ini, lalu kemudian Danu dan kakek tersebut kembali membawa mereka kembali kedalam gubuk itu tanpa perlawanan.


__ADS_2